Beriman Secara Kreatif di Tengah Budaya Pop (Daniel 1:1–20) – Pdt. John Famaney

Foto: Tarian Pado’a di Sabu/Sinode GMIT

www.sinodegmit.or.id, Salah satu dampak dari era teknologi informasi saat ini adalah maraknya perkembangan budaya popular atau pop. Menurut KBBI budaya popular adalah budaya yang dikenal dan digemari masyarakat pada umumnya, yang relevan dengan kebutuhan masyarakat pada masa sekarang, serta yang mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Singkatnya, budaya populer adalah suatu budaya yang telah berkembang dan kemudian menjadi kebiasaan yang digemari oleh masyarakat.

Budaya populer bermula dari budaya barat atau budaya asing. Namun mengalami berbagai perubahan dan berkembang pesat karena peran media massa. Ia hadir melalui televisi, film, iklan, surat kabar, buku cerita, musik, dan juga kini media sosial. Kehadirannya sangat memengaruhi pola atau gaya hidup banyak orang. Pengaruhnya mulai dari hal yang sederhana, seperti dalam memilih pakaian, memilih makanan, memilih jenis musik dan hiburan, hingga pada hal yang serius seperti mengikuti arus pemikiran atau ideologi tertentu, bahkan mungkin mengikuti arus pemikiran teologi tertentu, dan seterusnya.

Di satu pihak ada dampak positif dari budaya popular, seperti, terbukanya sekat-sekat pemisah antar individu, antar masyarakat serta antar bangsa dan negara. Terbukanya peluang informasi bagi semua orang. Dan adanya peluang pengembangan diri dan kehidupan diberbagai bidang kehidupan, seperti ekonomi, sosial dan budaya bagi banyak orang.  Namun budaya populer juga menghadirkan dampak negatif seperti meningkatnya gaya hidup individualisme, liberalisme, materialisme, konsumerisme dan hedonisme.

Dampak positif dari budaya populer ini sangat kita syukuri karena berguna bagi kehidupan. Namun berbagai dampak negative yang juga dihadirkan oleh budaya populer menjadi tantangan bagi gereja atau orang Kristen, baik di masa kini dan di masa depan. Dampak negatif budaya populer ini bila tidak disikapi secara serius maka akan menjadi ancaman bagi kehidupan Kristen, yang mana bercirikan, hidup dalam persekutuan, saling mengasihi, bertanggung jawab dan lain sebagainya.

Bagaimana agar setiap orang Kristen mampu menghadapi dampak negatif budaya popular? Atau bagaimana agar setiap orang Kristen tetap beriman di tengah gempuran budaya populer? Cara Daniel bersama Zadrak, Mesakh dan Obednego dalam menghadapi budaya asing, dalam hal ini budaya Babel, yang bertentangan iman kepada Tuhan, dapat kita renungkan.

Kisah Daniel bersama ketiga rekannya terjadi saat mereka bersama orang Yahudi lainnya mengalami pembuangan di Babel. Di mana karena dosa-dosa Yehuda dan ketidaksetiaan mereka kepada Tuhan, maka dimasa pemerintahan raja Yoyakim, Tuhan menghukum mereka, melalui penaklukkan Nebukatnezer, raja Babel dan dibuang ke Babel.

Walaupun ditaklukkan dan dibuang namun tidak berarti orang-orang buangan, seperti orang Yehuda, tidak berarti dimata bangsa Babel. Kisah Daniel dan rekan-rekannya menunjukan bahwa orang-orang bangsa jajahan pun berarti bagi raja Babel. Di mana mereka dapat membantu mengurus Kerajaan Babel yang luas, termasuk berbagai wilayah jajahan. Demikian pula mereka dapat membantu mengatur rakyat yang banyak, termasuk para tawanan dari berbagai bangsa taklukan. Karena itu raja Nebukadnezet membutuhkan banyak pegawai untuk bekerja di istana Raja dan membutuhkan orang-orang berhikmat dan berpengetahuan untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan dalam mengambil berbagai keputusan.

Namun untuk bekerja di istana raja serta menjadi anggota dewan pertimbangan atau penasihat kerajaan ada kriterianya. Yaitu para calon adalah orang-orang yang berasal dari keturunan raja dan dari kaum bangsawan yang tentu telah memiliki pendidikan yang cukup. Dan, terutama mereka haruslah orang-orang muda yang sehat serta yang memahami berbagai hikmat dan pengetahuan. Daniel, Hanaya, Misael dan Azarya adalah orang-orang muda Yahudi yang terpilih dari antara orang-orang muda Yahudi lainnya dan juga dari antara orang-orang muda bangsa lain.

Namun untuk menjadi pegawai istana raja dan anggota dewan pertimbangan raja, para pemuda itu harus diajarkan dengan berbagai budaya bangsa Babel selama tiga tahun. Budaya Babel yang diajarkan kepada mereka antara lain, budaya literasi, yakni tulisan dan bahasa Kasdim. Selain itu mereka juga diberi makan dari santapan raja. Makan dari santapan raja dimaksudkan selain untuk mendukung proses belajar yang sedang mereka tempuh tetapi juga untuk membiasakan mereka dengan budaya makanan istana Babel. Sementara itu agar kehadiran mereka dapat diterima dalam masyarakat dan budaya Babel maka nama keempat pemuda itu diganti dengan nama-nama Babel. Masing-masing dengan nama Beltsazar, Sadrak, Mesakh, dan Abednego.

Pengajaran budaya Babel, dalam bentuk pengenalan literasi, makanan santapan raja hingga pemberian nama Babel bagi para pemuda itu, selain agar kelak dapat melancarkan tugas-tugas mereka di istana raja dan agar ada penerimaan terhadap mereka oleh masyarakat Babel secara umum, namun juga merupakan upaya sistematis untuk memengaruhi para pemuda itu agar dapat hidup dengan budaya popular Babel.

Sadar akan upaya sistematis yang membahayakan iman mereka maka meskipun telah berada dinegeri Babel dan dididik dengan berbagai budaya Babel, keempat pemuda itu tidak memalingkan kesetiaan mereka dari Tuhan kepada budaya Babel. Itu terutama nampak dalam budaya makanan atau santapan raja yang disajikan kepada mereka. Dimana Daniel yang mewakili ketiga rekannya berketetapan untuk tidak menajiskan diri dengan santapan itu. Sebab santapan raja itu sangat mungkin telah dijadikan persembahan bagi para dewa Babel. Sikap yang ditunjukan Daniel membuatnya mendapat kasih sayang Tuhan. Karena itu Tuhan pun meluluhkan hati pegawai istana itu sehingga tidak memaksakan santapan raja kepada mereka.

Namun penolakan Daniel terhadap santapan raja mengkhawtirkan pegawai istana yang melayani mereka akan nasibnya di hadapan raja. Terhadap kekuatiran pagawai istana itu, Daniel menawarkan percobaan makan selama sepuluh hari. Dimana kepada Daniel dan ketiga rekannya hanya dihidangkan sayur-sayuran, sedangkan kepada yang lain diberikan santapan raja. Setelah sepuluh hari, Daniel dan ketiga rekannya terbukti lebih sehat dibanding orang-orang muda yang lain.

Demikian pula saat Daniel dan ketiga rekannya bersama orang-orang muda yang lain diperhadapkan kepada raja dan bercakap-cakap dengan raja ternyata tidak didapati yang setara dengan keempat pemuda Yahudi itu. Bahkan keempatnya sepuluh kali lebih cerdas dan lebih berhikmat dari semua orang berilmu dan semua ahli jampi di seantero kerajaan Babel.

Kisah Daniel dan ketiga rekannya yang tidak mudah dipengaruhi oleh budaya populer Babel tidak terlepas dari kesetian mereka kepada Allah yang mereka imani. Dengan kata lain mereka tetap teguh mempertahankan nilai-nilai iman di tengah gempuran budaya populer di Babel. Walaupun mereka diperlakukan secara istimewa, diberi kedudukan atau jabatan yang bagus, diberi kuasa untuk memengaruhi keputusan raja melalui pertimbangan-pertimbangan mereka, serta mungkin hanya sedikit dari mereka yang dipilih dan mendapatkan kedudukan dan pengaruh yang demikian besar, namun semua itu tidak membuat mereka mengingkari kesetiaan kepada Tuhan dengan berpaling kepada ragam budaya Babel, yang setiap hari mereka temui dan memengaruhi mereka apalagi menyembah dewa-dewa.

Memang ada hal-hal yang tidak dapat dihindari oleh keempat pemuda itu, seperti diberi nama baru dan dipekerjakan sebagai pegawai istana dan penasehat raja Nebukadnezer. Namun untuk hal-hal yang menyangkut ibadah dan mengancam iman mereka kepada Tuhan tidak mereka kompromikan, alias mereka tolak.

Berkat kesetiaan dan iman keempat pemuda Yahudi itu kepada Tuhan, yang tidak goyah, Tuhan pun setia kepada mereka. Di mana Tuhan terus menolong mereka menghadapi berbagai pencobaan – seperti di masa menempuh pendidikan di istana. Tuhan terus memberkati mereka dengan hikmat dan pengetahuan. Dan Tuhan membuka hati raja untuk mendengar nasihat dan pertimbangan mereka.

Seperti disampaikan terdahulu, pesatnya perkembangan teknologi informasi di masa kini, telah berdampak pada perkembangan budaya populer, yang tak hanya membawa dampak positif, seperti keterbukaan informasi, keterbukaan jaringan dan adanya berbagai peluang  pengembangan diri dan kehidupan, tetapi juga membawa dampak negatif berupa gaya hidup individualisme, liberalisme, materialisme, konsumerisme dan hedonisme. Bahkan dampak negatif dari budaya populer ini seakan terjadi secara sistematis sebab sangat besar pengaruhnya kepada banyak orang dengan berbagai dampak negatif ikutan yang ditimbulkannya.

Dampak negatif ini menjadi ancaman bagi semua kalangan usia namun terutama bagi orang-orang muda dan remaja, yang sedang dalam masa pencaharian identitas diri dan yang menjadi harapan gereja dan masyarakat. Untuk dampak positif dari budaya populer sangat kita syukuri karena berguna bagi kehidupan. Namun untuk dampak negatif dari budaya populer, tidak dapat kita biarkan, tetapi harus disikapi secara serius dan sistematis, sebagaimana datangnya juga yang seakan berlangsung secara sistematis. Untuk menghadapinya, kita belajar dari Daniel dan ketiga rekannya, yaitu setiap orang percaya harus tetap setia dan beriman teguh kepada Tuhan dan tidak mudah dipengaruhi oleh dampak negative budaya populer. Kesetian kepada Tuhan dan tetap beriman teguh dapat dilakukan dengan meningkatkan iman dan spiritual, melalui setia beribadah, mendengarkan firman dan membudayakan berbagai perbuatan kebaikan. Dengan itu Tuhan akan menolong setiap orang dalam meng-hadapi dampak negative budaya populer.

Sementara itu secara kelembagaan gereja juga berkewajiban untuk terus memperlengkapi setiap orang Kristen atau anggota jemaat; dengan berbagai pengajaran yang benar, dengan latihan-latihan pengembangan spiritualitas diri, serta dengan mengajak warga untuk hidup bersolider dengan sesama dan lingkungan. Dengan begitu, setiap anggota jemaat akan selalu memiliki tuntunan hidup yang teratur, memiliki pedoman hidup yang jelas serta memiliki panutan dalam terus mengembangkan kehidupan iman dan spiritualnya, sehingga mereka akan tetap memiliki iman yang teguh dalam menghadapi gempuran berbagai budaya populer. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *