Yesus Telah Mendoakan Kita (Yohanes 17: 1-26) Pdt. Gusti Menoh

www.sinodegmit.or.id, Doa merupakan salah satu aktivitas utama orang beragama. Selain bernyanyi, beribadah, membaca kitab suci, bersedekah, berderma, berbagi kasih, berdoa menjadi aspek penting dari kehidupan beriman. Sedemikian pentingnya doa, sehingga Luther mendefinisikannya sebagai nafas hidup orang percaya. Seolah tanpa doa, seseorang sudah dianggap mati. Orang yang tidak berdoa, sama halnya dengan orang yang sudah mati secara iman. Itu berarti doa begitu penting. Tetapi pertanyaannya, apa arti doa? Apa saja pokok-pokok doa kita? Bagaimana lazimnya kita berdoa? Pertanyaan-pertanyaan ini penting, sebab dari jawaban kita akan terukur iman kita. Â

Bagi orang beriman, doa dipahami sebagai bentuk komunikasi manusia dengan Allah. Bahkan doa menjadi semacam bentuk ketergantungan manusia pada Yang Maha Kuasa. Praktis, pokok-pokok doa orang beragama umumnya berisi berbagai permohonan/permintaan, keluhan, dan harapan kepada yang Maha Kuasa agar diberi pertolongan. Dengan kata lain, pokok-pokok doa manusia tidak lain hanyalah menyangkut dirinya. Manusia berdoa memohon pemeliharaan Tuhan dan berkat-berkat-Nya sehingga hidupnya berkelimpahan. Ia berdoa agar disembuhkan dari sakit-penyakitnya. Ia berdoa agar diberi pekerjaan, pasangan hidup, kekuasaan, harta benda, dan lain sebagainya. Sadar atau tidak, doa yang demikian menunjukkan iman yang egois. Sebab doa semacam itu menunjukkan bahwa iman orang yang bersangkutan semata-mata didasarkan pada kebutuhan/kepentingannya. Ia beribadah, dan berdoa hanya agar kebutuhannya terpenuhi oleh Tuhan. Konsekuensinya, Tuhan dibutuhkan sejauh kebutuhannya mendesak. Ketika kebutuhan sudah terpenuhi, Tuhan bisa dilupakan. Agar tidak tersesat, mari kita belajar dari doa Tuhan Yesus.

Penjelasan Teks

Dalam bacaan tadi, doa Tuhan Yesus dapat dikelompokan ke dalam tiga bagian. Pertama, Yesusberdoa demi kemuliaan Allah Bapak dan diri-Nya (ay 1-6). Yesus berdoa agar diri-Nya memuliakan sang Bapa, dan sang bapa mempermuliakan diri-Nya. Yesus berkata, “permuliakanlah Anak-Mu, supaya Anak-Mu mempermuliakan Engkau”. Dalam injil Yohanes, Yesus dipahami sebagai Mesias, sebagai Anak Allah. Kehadiran Yesus di dunia tidak lain adalah untuk menyatakan kasih Allah kepada manusia. Untuk mewujudkan kasih Allah Bapa, Yesus mengalami kematian, kebangkitan dan kenaikan ke Surga. Momen kematian dipahami sebagai momen kemuliaan Yesus, karena itu adalah fase peralihan dari maut kepada kehidupan kekal. Doa Yesus dalam pasal 17 ini adalah doa yang dinaikkan kepada Allah Bapa menjelang Ia hendak menjalani penderitaann-Nya. Yesus tahu bahwa Ia akan menderita dan mati, oleh karena itu Ia berdoa agar sang Bapa memuliakan Dia. Artinya Yesus berdoa agar sang Bapa tetap menyertai-Nya sehingga penderitaan dan maut tidak mengalahkan Dia, melainkan agar Ia menang supaya sang Bapa dimuliakan sebagai Allah yang hidup dan yang kekal. Sebaliknya,  Yesus pun dimuliakan sebagai benar-benar Mesias, Anak Allah.

Secara sederhana, dapat dikatakan bahwa karena Yesus adalah Anak Allah, maka ketika Ia memuliakan sang Bapak melalui kematian-Nya, dengan sendirinya Ia pun dimuliakan. Ilustrasinya begini: seorang ayah meminta anaknya belajar mati-matian untuk menjadi sukses dan termasyur. Lalu anak itu belajar sungguh-sungguh, rela mengorbankan jam tidurnya dan akhirnya ia sukses meraih cita-citanya. Ketika anak itu berhasil, dengan sendirinya sang ayah pun dipuji oleh masyarakat luas. Sebab orang lain akan mencari tahu siapa ayah anak itu sehingga mereka akan tahu sang ayah itu lalu mereka menaruh hormat padanya. Begitu pula anak itu. Ia akan disanjung karena keberhasilannya. Dengan kata lain, antara sang ayah dan sang anak terjadi saling memuliakan karena cita-cita bersama berhasil diwujudkan.

Dalam doa ini, terlihat Yesus tidak egois. Ia tidak berdoa demi kepentingan dirinya. Ia tidak berdoa agar dibebaskan dari penderitaan yang ada di depan mata, atau agar nyawa-Nya diselamatkan.  Ia menyerahkan seluruh hidupnya, dan meminta sang Bapa untuk memakai diri-Nya untuk kemuliaan sang Bapa maupun kemuliaan diri-Nya. Yesus tunduk pada semua ketetapan sang Bapa demi kemuliaan Allah.

Kedua, Yesus berdoa bagi para murid-Nya (ay 6-19). Ayat 11, Yesus meminta agar para murid dipelihara, karena mereka akan menghadapi dunia yang membenci mereka. Yesus tahu Ia akan meninggalkan para murid suatu kelak. Sebab Yesus akan mati, bangkit dan naik ke surga. Sementara para murid akan diutus ke dunia untuk memberitakan injil. Oleh karena itu, Yesus berdoa agar mereka tidak jatuh ke dalam pencobaan, lalu binasa. Yesus mau supaya mereka tetap dipelihara sang Bapa, supaya kelak nanti mereka dapat menjadi satu dengan sang Bapa maupun sang Anak dalam kemuliaan kekal. Menarik bahwa Tuhan Yesus tidak meminta supaya para murid ditarik dari dunia (ay 15), karena Yesus ingin agar mereka bersaksi tentang Kristus di dunia. Yesus minta agar para murid dilindungi dari berbagai tantangan. Yesus juga minta agar mereka dikuduskan, artinya supaya tetap menjadi milik Kristus. Artinya Yesus juga berdoa agar para murid tidak binasa, melainkan mereka selamat  agar kelak hidup bersama Dia maupun sang Bapa di surga.

Ketiga, Yesus berdoa bagisemua orang percaya di sepanjang abad, termasuk kita (ay 20). Yesus tidak hanya berdoa bagi para murid yang dijumpai-Nya, dan menjadi rekan sepelayanan-Nya. Yesus berdoa juga bagi mereka yang dikemudian hari menjadi percaya kepada-Nya. Apa isi doa-Nya?  Agar orang-orang percaya di masa depan pun menjadi satu dengan Kristus (ay 24). Artinya Yesus berdoa untuk kita juga, agar kita juga selamat dan akan hidup dalam kekekalan bersama Allah Bapak dan Allah Anak dan Roh Kudus.

Penutup

Dalam menjalani hidup dan panggilan sebagai Anak Allah di dunia, Yesus menyadari bahwa doa adalah sumber kekuatan diri-Nya. Oleh karena itu, Yesus sendiri berdoa sebelum memulai suatu pekerjaan. Tercatat, pertama, sebelum memulai seluruh pelayanan-Nya, Yesus berdoa dan berpuasa selama 40 hari di padang gurun. Melalui doa dan puasa, Yesus mendekatkan diri pada sang Bapa, menyandarkan diri sepenuh-Nya kepada sang Bapa, mau mendengar bisikan suara Ilahi, mencoba mengerti kehendak sang Bapa, sekali gus memohon kekuatan. Kedua, ketika di taman Getsemani, Yesus tahu bahwa penderitaan, via dolorosa sudah di depan mata. Ia menjadi takut dan gentar. Tetapi dalam situasi itu Ia berdoa. Setelah berdoa, Yesus memperoleh kekuatan besar, sehingga Ia mampu menghadapi jalan salib. Itu berarti, apapun situasi pergumulan kita, ingatlah bahwa Allah adalah sumber kekuatan kita. Oleh karena itu, berdoalah senantiasa sebagai tanda ketergantungan kita kepada Allah. Ingatlah bahwa doa merupakan kekuatan hidup orang percaya. Dengan merendahkan diri, bertekuk lutut, dan berdoa, maka Allah akan bertindak. Ia membangunkan kita, mengangkat tangan kita, dan membuat kaki kita kuat untuk sangggup berdiri dan melangkah.

Bacaan hari ini, adalah doa Yesus bagi para murid sebelum Ia menderita. Yesus mau mendoakan para murid dan gereja, agar semuanya tetap terjaga, terpelihara dan selamat agar kelak kita semua hidup bersama Kristus di surga. Maka belajar dari sikap Yesus, marilah kita saling mendoakan. Doakanlah teman, tetangga, masyarakat, bangsa, pemerintah, gereja-gereja di wilayah pelayanan GMIT, dan bahkan di seluruh dunia. Doakanlah mereka yang sakit, yang lapar, yang dilanda krisis, yang dalam pergumulan, agar Tuhan menolong mereka. Doakanlah mereka dalam doa pribadi kita di rumah, atau pun ketika doa syafaat. Doa syafaat bukan waktu untuk tidur, atau kesempatan untuk keluar dari gedung kebaktian, melainkan kesempatan untuk berdoa bagi sesama dan dunia, agar mereka pun diselamatkan untuk menjadi satu dengan kita di surga. Yesus mengajari kita agar tidak egois dalam iman, sehingga hanya sibuk mendoakan diri atau kepentingan kita semata, melainkan berdoa bagi kebaikan dan keselamatan sesama.

Belajar dari doa Yesus pula, kita mesti memahami bahwa tugas dan pelayanan kita semata-mata demi kemuliaan Allah, bukan untuk hormat dan kemuliaan diri. Seringkali kita berdoa bagi diri kita, tetapi isi doa kita hanya berkaitan dengan kebutuhan kita. Kita lupa berdoa memohon Tuhan memakai diri kita untuk menjadi sarana berkat-Nya bagi sesama. Selamat berdoa secara benar, agar Tuhan dimuliakan. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *