Datang dan Lihatlah: Gereja Hadir dan Terlibat dalam Penyembuhan Dunia (Catatan Sidang Majelis Pusat Dewan Gereja Sedunia Jenewa 2023)- Pdt. Mery Kolimon

Majelis Pusat Dewan Gereja Sedunia – yang berkumpul di Jenewa pada tanggal 21-27 Juni 2023 untuk pertemuan penuh pertamanya setelah Sidang Raya ke-11 DGD di Karlsruhe pada tahun 2022 – bergabung dengan para jemaat lokal di Katedral St Pierre di pusat kota Jenewa untuk merayakan hari jadi yang ke-75 sejak berdirinya DGD pada tahun 1948. Foto: Albin Hillert/WCC.

Jenewa, www.sinodegmit.or.id, Sepanjang 21-27 Juni 2023 berlangsung Sidang Majelis Pusat Dewan Gereja Sedunia/MP DGD (Central Committee of World Council of Churches) di Kantor DGD di Jenewa. Para peserta umumnya telah tiba tanggal 20 Juni dan pulang tanggal 28 Juni. Sebagai salah satu anggota MP DGD, saya berangkat dari Kupang tanggal 19 Juni dan tiba di Jenewa pada 20 Juni. Saya pulang tanggal 28, dan tiba kembali di Kupang tanggal 30 Juni. Dalam perjalanan pulang, saya menulis untuk membagikan sejumlah kesan dan pembelajaran dari sidang tersebut. Tulisan ini juga menjadi pertanggungjawaban iman atas kesempatan yang Tuhan berikan melalui gereja saya, GMIT, dan DGD untuk melayani sebagai anggota MP DGD di periode 2022-2030.

Sidang MP DGD Pertama Setelah Sidang Raya DGD Karlsruhe

Sidang MP 2023 ini merupakan Sidang pertama MP setelah SR DGD di Karlsruhe tahun 2022 yang lalu. Sidang ini dilaksanakan di aula Visser ‘t Hooft. Nama aula tersebut berasal dari nama sekretaris umum DGD pertama, Pdt. Willem Adolph Visser ‘t Hooft, berkebangsaan Belanda, yang melayani sejak DGD berdiri pada tahun 1948 sampai masa pensiunnya di tahun 1966.

Peserta sidang berjumlah sekitar 250 orang, terdiri dari anggota MP DGD yang berjumlah 150 orang, para peninjau, staf DGD, dan pandu sidang, yaitu orang muda dari berbagai negara. Persidangan setiap hari dimulai dengan ibadah pagi pada jam 8.30 dan selesai pada jam 7 malam.  Seluruh anggota MP DGD menginap di Hotel Crowne Plaza, yang jaraknya sekitar 5 menit dengan mobil dari bandara Jenewa dan kurang lebih 20 menit dari Kantor DGD. Sebagian peninjau dan pemandu sidang menginap di hotel lain yang dekat dengan Crowne Plaza.

Di Swiss dipakai empat bahasa resmi, yaitu bahasa Jerman, Perancis, Italia dan Romansh. Masing-masing dipakai di daerah yang berbeda. Kota Jenewa terletak di bagian negara Swiss yang memakai bahasa Perancis. Kota Swiss yang lain, seperti Basel, menggunakan bahasa Jerman. Sepanjang persidangan bahasa yang dipakai adalah bahasa Inggris, Spanyol, Perancis, dan Jerman. Untuk itu dipersiapkan penerjemah bahasa Jerman, Spanyol, dan Perancis bagi yang membutuhkan.

Kota Jenewa yang Indah

Kantor pusat DGD berada di Kota Jenewa, Swiss. Kota ini terletak di tepi danau Jenewa yang airnya sangat bersih, namun kencang arusnya. Kota ini dikelilingi pegunungan Alpen dan pegunungan Jura di masing-masing tepinya. Di musim dingin dan musim semi, puncak-puncak gunung tertutup salju. Saat kami tiba, Eropa sedang di musim panas (summer), tak terlihat salju di puncak gunung. Selama sidang kami tak butuh jaket, bahkan ruang tempat sidang cukup panas.

Kota Jenewa merupakan kota internasional, di sana terdapat kantor resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang terbesar kedua setelah markas besar PBB di New York. Dari Wikipedia, saya membaca bahwa beberapa badan PBB dan LSM internasional bermarkas di Jenewa, termasuk Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), Kantor Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), Persatuan Telekomunikasi Internasional (ITU), dan Organisasi Hak atas Kekayaan Intelektual Dunia  (WIPO). Selain badan-badan PBB, di Jenewa terdapat juga banyak organisasi antar-pemerintah, seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Forum Ekonomi Dunia (WEF), Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), dan Komite Internasional Palang Merah (ICRC).

Institut Ekumene Bossey.

Di hari Minggu, selepas kebaktian HUT DGD, kami beberapa dari delegasi Indonesia sempat berkunjung ke Komunitas Ekumenes Indonesia Lintas Gereja yang berlokasi di salah satu gedung Kedutaan Besar Indonesia untuk PBB di Jenewa. Di sana kami berjumpa dengan kawan-kawan pendeta dan pastor yang melayani di Swiss serta umat yang tinggal dan bekerja di Jenewa dan sekitarnya. Umumnya orang Indonesia yang tinggal di Swiss adalah mereka yang bekerja di badan-badan internasional maupun yang menikah dengan orang Swiss dan tinggal di sana. Kami sempat dijamu makanan Indonesia yang enak. Ada bakso, nasi goreng, sate ayam, gado-gado, dan sejumlah makanan khas Indonesia lain. Secara pribadi saya senang bisa berjumpa dengan Romo Stef dari Bajawa yang sekarang menjadi pastor paroki di Swiss. Saat pertukaran mahasiswa Fakultas Teologi UKAW dan STFK Ledalero (sekarang IFTK) di Tahun 1994, saya dan Romo Stef merupakan kawan seangkatan yang belajar bersama di STFK. Kami gembira bisa bertemu setelah hampir lebih dari 30 tahun. Sayang sekali kami tak sempat ikut beribadah bersama mereka sebab sudah ada jadwal perayaan HUT DGD di kantor DGD.   

Agenda Sidang

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Sidang MP DGD 2003 ini merupakan sidang pertama setelah Sidang Raya Agustus-September 2022 di Karlsruhe. Sebagai sidang perdana, maka sidang MP 2023 ini memiliki beberapa tugas penting. Tugas-tugas itu di antaranya menetapkan dokumen rencana strategis 2023-2030, pembentukan alat-alat kerja MP DGD, dan rekomendasi terkait sejumlah isu publik.

Sidang terdiri dari sidang pleno maupun komisi. Sesi sidang pleno meliputi di antaranya pendalaman teologis tema pelayanan 2023-2030, mendengar laporan ketua umum (moderator) dan sekretaris umum, laporan komite esksekutif, penjelasan draf rencana strategis, dan presentasi komisi-komisi serta wilayah. Sidang-sidang komisi termasuk perencanaan strategis DGD, isu-isu publik, pembentukan komisi-komisi sebagai alat kerja MP, dan urusan finansial. Selain itu ada pertemuan khusus kaum perempuan, pertemuan kelompok berbasis tradisi gereja (Lutheran, Reformasi, Ortodox, dll), serta pertemuan Kaum Afika dan Afrika Perantauan.

Suasana Sidang Majelis Pusat Dewan Gereja Sedunia. Foto: Mery Kolimon

Beberapa isu publik yang dibicarakan dengan serius adalah peran DGD dalam perdamaian Rusia dan Ukraina, konflik Palestina-Israel, kekerasan bersenjata di Sudan, serta ketegangan Korea Selatan dan Korea Utara. Khusus mengenai perang di Ukraina, Sidang mendukung inisiatif Sekjen untuk pertemuan meja bundar yang disampaikan dalam laporannya. Sidang merekomendasikan untuk dalam pertemuan tersebut Sekjen menyadari keragaman gereja di Rusia dan Ukraina dan mencari jalan untuk melibatkan gereja-gereja itu dalam upaya dialog tersebut. Diharapkan DGD tidak hanya melibatkan gereja-gereja Ortodox di sana. Yang juga direkomendasikan adalah pelibatan perempuan dan orang muda dalam proses dialog. Semua itu dimaksudkan untuk mencegah makin meluasnya kekerasan bersenjata dan menghentikan perang.

Selain itu salah satu topik sensitif yang dipercakapkan adalah mengenai seksualitas manusia, termasuk mengenai tanggapan terhadap orientasi seks dan identitas gender. Terkait hal ini sikap sidang terbelah antara apakah perlu ada program khusus mempercakapkan soal human sexuality ini atau cukup menjadi sebuah percakapan tak terprogram yang diurus oleh kantor DGD di Jenewa. Melalui percakapan yang panjang akhirnya disetujui bahwa akan diselenggarakan percakapan mengenai hal tersebut bagi anggota dan mitra DGD yang bersedia bercakap mengenainya. Bagi pihak di DGD yang merasa percakapan itu tidak perlu maka tidak perlu terlibat. Hasil percakapan bersama pihak-pihak yang bersedia terlibat akan dilaporkan oleh Sekretaris DGD kepada sidang MP berikutnya.

Salah satu unsur sidang yang paling saya sukai adalah ibadah. Setiap hari selalu ada ibadah pagi dengan unsur-unsur liturgi yang sederhana namun mendalam. Berbagai kekayaan tradisi liturgis gereja anggota DGD disertakan. Ada tradisi Orthodox, Lutheran, Reform, Presbyterian, dan Pentakostal. Juga nyanyian dan tarian dari berbagai negara dengan syair dan musik yang indah. Tim musik dari kantor DGD mempersiapkan liturgi dengan matang dan menjadi makanan bagi jiwa, mengenal dan merayakan tradisi liturgis yang berbeda, sekaligus menghantar peserta ibadah duduk dekat kaki Tuhan sebelum memulai semua sesi sidang.

Musyawarah untuk Mufakat

Hal lain yang terus saya pelajari dan hayati adalah penekanan yang kuat pada proses konsensus. Dalam pengambilan keputusan tidak ada kalah menang. Proses pengambilan keputusan dibantu dengan penggunaan dua kartu dengan warna berbeda, oranye dan biru. Oranye adalah tanda hati yang hangat dan gembira, yaitu tanda setuju atau mendukung satu pendapat. Kartu biru adalah tanda tidak sepakat atau masih butuh penjelasan tambahan.

Jika persidangan sulit mengambil keputusan, pimpinan sidang akan meminta semua peserta untuk berhening sejenak, salah satu peserta sidang memimpin doa meminta petunjuk Tuhan, kemudian kembali diminta menunjukkan kartu. Jika masih sulit mencapai kesepakatan, maka dibentuk tim kecil untuk merumuskan pemikiran yang bisa mencakup pemahaman semua pihak lalu ditawarkan kembali untuk mengambil keputusan bersama. Bagi yang tetap tidak setuju pendapat mereka tetap didengar dan dihargai. Ketidaksetujuan mereka akan tetap dicatat.

Saya sungguh belajar dari kedewasaan mengelola perbedaan pemahaman. Hal ini sekaligus merupakan perwujudan kode etik persidangan DGD. DGD berkomitmen untuk memastikan semua persidangannya merupakan ruang yang aman dan kudus yang memfasilitasi kesejahteraan mental, spiritual, fisik, dan emosional semua pesertanya. Pengembilan keputusan dipandang bukan sekedar untuk kebutuhan kelembagaan tetapi merupakan proses eklesiologis untuk membangun pemahaman teologis bersama (common mind) dan memperkuat koinonia gereja.

Perhatian kepada Kaum Muda

Satu aspek penting lain lagi yang saya rasa sangat penting bagi semua gereja adalah perhatian dan keberpihakan kepada kaum muda. Gereja-gereja di seluruh dunia perlu dengan sungguh-sungguh menciptakan ruang bagi keterlibatan dan kepemimpinan kaum muda dalam gereja dan masyarakat. DGD terus berupaya untuk melibatkan kaum muda (di bawah 30 tahun) di dalam semua aspek pelayanan DGD, termasuk dalam mengikuti persidangan dan di dalam hal menjadi pemimpin DGD. Khusus untuk persidangan MP DGD kali ini, diupayakan agar kaum muda terlibat sebagai peserta sidang, pengamat, maupun sebagai pemandu sidang. Sayang sekali beberapa orang muda tak berhasil mengikuti persidangan karena terkendala visa. Mereka tidak mendapatkan izin untuk masuk ke negeri Swiss. Salah satu rekomendasi sidang adalah mendorong Sekjen DGD melakukan lobby dengan pemerintah Swiss untuk memberikan izin masuk kepada orang-orang muda Kristen mengikuti kegiatan-kegiatan DGD.

Kita bersyukur salah satu orang muda Indonesia, Nona Karen Puimera, dari GPIB terpilih sebagai anggota Central Committee sekaligus anggota Executice Committee. Selain itu Karen terpilih sebagai Moderator Commission on Young People in the Ecumenical Movement. Ini merupakan sebuah kehormatan bagi seorang perempuan muda Indonesia untuk menjadi moderator komisi bagi semua orang muda Kristen sedunia.

Salah satu perwujudan lain komitmen DGD untuk pemberdayaan orang muda dan pembentukan kepemimpinan ekumenes masa depan adalah melalui Institut Ekumene Bossey. Institut ini terletak di daerah pedalaman yang sangat indah, sekitar 20 menit dengan bus dari Kantor DGD. Tempat ini sangat bersejarah karena merupakan tempat pembentukan para pemimpin ekumenes dunia. Selain itu kampus Bossey menjadi tempat pertemuan internasional untuk perdamaian berbagai pihak yang berkonflik. Pada hari Minggu, 25 Juni 2023 sore, setelah perayaan HUT DGD, kami peserta sidang berkunjung ke Bossey dan disambut oleh pimpinan Institut Bossey, Ibu Dr. Simone Sinn dan rekan-rekannya. Ibu Simone menjelaskan bahwa ada dua program utama yang sedang berjalan di Institut itu sekarang, yaitu program jangka pendek tiga bulan untuk kursus bahasa Inggris bagi orang-orang muda dari gereja-gereja yang melamar, serta program Magister Teologi Ekumenes bekerja sama dengan Universitas Jenewa. Beliau mendorong gereja-gereja sedunia mengutus orang-orang muda untuk belajar di tempat tersebut. Seluruh beasiswa dan biaya hidup dibiayai oleh WCC kecuali tiket harus disiapkan oleh gereja pengutus.

Perayaan 75 Tahun DGD

Bulan Agustus nanti DGD akan berusia 75 tahun. DGD lahir pada persidangan pertama di Amsterdam Belanda, tepatnya pada 22 Agustus 1947. Meskipun belum 22 Agustus, bertepatan dengan pertemuan MP DGD, HUT tersebut dirayakan bersama. Diharapkan gereja-gereja di Indonesia, khususnya anggota DGD, akan merayakan HUT DGD ke-75 di jemaat dan gerejanya masing-masing sebagai tanda syukur atas pemeliharaan Tuhan bagi DGD sekaligus sebagai tanda komitmen ekumenes.

Perayaan HUT dilaksanakan di Katedral St. Pierre di pusat kota Jenewa. Yohanis Calvin, tokoh reformasi asal Perancis pernah melayani di gereja tersebut. Saat terjadi peristiwa Reformasi, Calvin ditolak dari Perancis. Dia melarikan diri ke Basel, kemudian ke Jenewa. Cukup lama dia melayani di Jenewa untuk menyebarkan pengajaran Reformasi. Di samping gedung katedral besar St. Pierre di Jenewa itu, masih ada auditorium Calvin, yang merupakan tempat kerja Calvin saat dia berada di kota itu. Kursi tempat duduk Calvin diletakkan di samping mimbar besar yang juga pernah dipakai sebagai tempat Calvin berkotbah di dalam gereja tersebut.

Delegasi Indonesia di Sidang MP DGD Juni 2023. Foto: Mery Kolimon.

Ibadah perayaan HUT DGD berlangsung hikmat dan meriah. Unsur-unsur liturgi berasal dari berbagai tradisi gereja. Ibu Pdt. Dr. Henriete Lebang, salah satu presiden DGD yang mengatur pelayanan DGD region Asia membaca Alkitab dalam bahasa Indonesia. Pembacaan Alkitab terambil dari Yohanes 1: 35-51. Kotbah disampaikan oleh Ketua Umum DGD, Pdt. Dr. Heinrich Bedford-Strohm yang sekaligus bishop Gereja Lutheran Jerman, bertema Come and See.

Dalam kotbahnya, beliau menegaskan bahwa dalam dunia yang terluka oleh berbagai krisis, gereja tetap dipakai Tuhan untuk menjadi tanda keselamatan. Sepanjang 75 tahun DGD, banyak pengalaman iman telah menunjukkan bahwa DGD menjadi alat kebaikan dalam tangan Tuhan. Yang harus kita lakukan adalah melihat dari dekat karya Tuhan tersebut dan bersaksi tentangnya. Dalam berbagai kesulitan tetap ada harapan karena Tuhan sedang bekerja dalam dunia yang dikasihiNya.

Gereja yang Hadir dan Terlibat

Sidang dengan jadwal yang padat cukup melelahkan. Tujuh hari penuh kami bersidang. Jam 8 naik bis, mulai bersidang jam 8.30 dan pulang ke hotel sudah jam 8 malam untuk makan dan istirahat. Tidak ada waktu khusus untuk jalan-jalan dan belanja. Namun saya bersyukur untuk pengalaman yang sangat kaya. Dalam sidang kali ini, sebagai anggota MP yang baru, saya banyak belajar melihat dinamika persidangan. Saya kagum dengan saudari-saudari saya yang sangat artikulatif menyampaikan pendapat mereka. Saya mencermati ketekunan para patriakh pimpinan gereja Ortodox yang selalu memberi tanggapan dari pendasaran Biblis. Banyak hal menjadi kekayaan dinamika DGD yang saya pelajari secara lebih dekat agar saya mampu memberi kontribusi dari pemikiran dan pengalaman GMIT.

Moderator Majelis Pusat WCC, Uskup Dr. Heinrich Bedford Strohm menyampaikan khotbah. Foto: Albin Hillert/WCC.

Saya pulang ke Tanah Timor dengan banyak hal berharga. Termasuk pidato pembukaan dan kotbah Ketua Umum DGD yang menjadi motivasi iman, harapan, dan kasih bagi gereja-gereja seluruh dunia. Situasi dunia hari ini penuh kesulitan. Dalam situasi seperti itu gereja memiliki tanggung jawab iman untuk terlibat dalam mewartakan dan menunjukkan karya keselamatan Allah. Seperti jawaban Filipus kepada Natanel, come and see, datang dan lihatlah! (Yohanes 1:39) Gereja perlu datang dan berjumpa Allah yang sedang bekerja dalam dunia. Dalam berbagai kesulitan hidup hari ini, gereja sendiri bergumul dengan banyak kesulitan, termasuk secara finansial yang dihadapi DGD. Namun kita tak boleh putus asa. Come and see, datang dan lihatlah, datanglah dan berjumpa Kristus yang sedang berkarya untuk kebaikan hidup. Datang dan melayani bersama sang Mesias. Gereja mesti menjadi bagian dari karya-karya penebusan itu.

Seringkali karena beratnya tantangan, gereja bisa menjadi kewalahan dan tidak tahu harus memulai dari mana. Ada krisis spiritual, politik, ekonomi, dan ekologis yang berkelindan. Seperti halnya 75 tahun yang lalu, setelah perang dunia kedua yang menghancurkan kehidupan, DGD berdiri dan dengan lantang bersaksi mengenai Allah yang menghendaki keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan. Sampai hari ini gereja-gereja harus terus tegak berdiri dalam pimpinan Roh Kudus untuk bersaksi bersama dan menjadi tanda kehadiran Allah di dalam dunia. Untuk itu gereja-gereja mesti bekerja sama. Berhentilah saling mencela dan merendahkan. Bagaimana gereja-gereja bisa terlibat dalam perdamaian bangsa-bangsa jika gereja-gereja sendiri tidak bersatu dan bersedia saling menghargai? Untuk menjadi gereja yang hadir dan terlibat dalam penyembuhan dunia, jangan takut terluka, bersedialah saling menopang dan bekerja untuk pemulihan dunia yang Tuhan kasihi.

Dalam badai topan dunia, kapal ekumenes bisa terancam karam. Korupsi, kolusi, nepotisme, dan kekerasan dapat menampar persekutuan milik Tuhan. Dalam semua kebisingan itu jangan sampai kehilangan visi Ilahi. Gereja milik Tuhan: come and see. Visi gereja mesti terhubung dengan visi Tuhan sendiri. Jadilah persekutuan yang melayani kehendak Tuhan di dunia. Gereja-gereja sedunia berjalanlah bersama menuju cahaya terang kasih Tuhan, jadilah garam dan terang.

Saya menutup tulisan ini dengan penggalan dari pidato pembukaan Ketua Umum DGD, demikian:

“Saya percaya bahwa Tuhan dapat dan akan mendatangkan kebaikan dari segala sesuatu, bahkan dari yang paling jahat [sekalipun]. Untuk ini, Tuhan membutuhkan orang-orang membiarkan segala sesuatu dipakai untuk melayani dengan sebaik-baiknya… Saya percaya bahwa Tuhan ingin memberi kita ketahanan sebanyak yang kita butuhkan dalam setiap kesulitan. Tapi Dia tidak memberikannya terlebih dahulu, agar kita tidak mengandalkan diri kita sendiri, tapi hanya mengandalkan-Nya. Dengan keyakinan seperti itu, semua ketakutan akan masa depan harus diatasi.”

Mari terus melangkah sebagai gereja melayani sebagai persekutuan yang telah melihat kebaikan Tuhan dan mewartakan kebaikan itu di dalam dunia.

Emirates Airline dan Lion Air, Jenewa-Dubai-Denpasar-Kupang

Dalam perjalalan pulang ke Tanah Air Tercinta, Timor Lelebo

29-30 Juni 2023.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *