Beri Diri Untuk Diproses Tuhan (Yeremia 18:1-12) – Pdt. Melkisedek Sni’ut

www.sinodegmit.or.id, Nas ini cukup familiar bagi banyak orang Kristen. Barangkali memang belum semua orang Kristen pernah membacanya. Namun inspirasi yang diperoleh darinya telah menjadi berkat bagi banyak orang. Salah satunya ada di dalam lirik lagu “Bagaikan Bejana”. Lagu ini diciptakan oleh Djohan E. Handojo. Begini liriknya:

Bagaikan bejana siap dibentuk,

Demikian hidupku di tangan-Mu

Dengan urapan kuasa Roh-Mu

Ku dibaharui selalu

Jadikanku alat dalam rumah-Mu

Inilah hidupku di tangan-Mu

Bentuklah s’turut kehendak-Mu

Pakailah sesuai rencana-Mu

Ku mau s’perti-Mu Yesus

Disempurnakan s’lalu

Dalam segenap jalanku

Memuliakan nama-Mu

Pelajaran tentang tukang periuk merupakan gambaran tentang bagaimana Tuhan membentuk orang percaya. Tanah liat bisa rusak berkali-kali ketika hendak dibentuk. Namun di tangan tukang periuk, tanah liat itu dibentuk kembali menjadi bejana yang berbeda namun berkualitas.

Begitu juga dengan Tuhan. Anak Tuhan bisa saja jatuh ke dalam dosa berkali-kali. Hidupnya pun rusak berat. Dirinya menjadi orang yang hina di mata manusia. Namun ketika dia kembali kepada Tuhan dengan pertobatan yang sungguh-sungguh maka Tuhan akan mengampuninya. Tuhan juga akan membentuknya kembali menjadi ciptaan baru. Sungguh, sebuah tindakan dari Tuhan yang sangat menyentuh hati. Maknanya sangat dalam. Sebab melalui hal ini kita tahu bahwa selalu ada harapan bagi setiap orang yang menyesali dosa-dosanya dan bertobat sungguh-sungguh.

Bagaimana gambaran iman yang mendalam ini bisa kita peroleh dari Yeremia? Itu karena Yeremia mau belajar. Dia mau memberi diri diproses oleh Tuhan. Pengetahuan yang Tuhan berikan kepada Yeremia tidak instan. Tuhan bukanlah mesin pencari Google.Sama sekali bukan! Kalau Googleditanyai sesuatu, beberapa detik kemudian jawabannya sudah ada. Ketika Googledimintai satu informasi, beberapa detik kemudian, bukan hanya satu, tetapi banyak pilihan informasi yang sudah tersedia.

Tetapi Tuhan tidak begitu. Kalau Tuhan ditanyai sesuatu, jawabannya sering kali bukan datang langsung dari Tuhan. Jawaban Tuhan datang melalui sesama atau alam ini. Ketika Tuhan dimintai sesuatu pun, tidak selalu permintaan itu langsung dikabulkan. Ada kalanya malah tidak dikabulkan. Kenapa? Karena yang Tuhan berikan bukan keinginan melainkan kebutuhan kita.

Mesin pencari Googleakan memberikan jawaban kepada orang yang bertanya alamat situs judi online.Tetapi kalau Tuhan ditanya hari ini KP (Kupon Putih) keluar angka berapa, Dia tidak akan memberikan jawaban. Ini karena selain Tuhan tahu segala hal, Tuhan juga tahu apa yang terbaik bagi anak-anaknya.

Tuhan tahu segala sesuatu. Tetapi Tuhan tidak mau anak-anaknya menjadi manja. Itu sebabnya Dia menyediakan proses belajar. Ini yang Yeremia alami. Sewaktu berbicara dengan Yeremia, bisa saja Tuhan langsung menjelaskan apa pun. Tetapi Dia justru menyuruh Yeremia pergi ke tempat kerja tukang periuk. Alasan pergi ke sana pun Tuhan tidak beritahu. Tuhan hanya bilang, nanti sampai ke sana baru Dia sampaikan maksud-Nya. Lalu bagaimana respon Yeremia?

Dia tidak protes. Dia tidak mengeluh. Dia taat. Yang dia lakukan adalah turut kepada perintah Tuhan. Pertama-tama, apa yang Tuhan perintahkan dia simak baik-baik. Setelah disimak, dia lakukan. Dia juga tidak beranggapan bahwa dengan sekali mendengar perintah Tuhan, dia sudah tahu semuanya. Tidak! Setiap saat dia selalu siap mendengar apa pun kehendak Tuhan. Dengan pemberian diri yang sungguh-sungguh inilah Yeremia mendapatkan pemahaman yang sangat berharga dari tukang periuk.

Apa yang dapat kita jadikan pelajaran dari sikap Yeremia ini? Gambaran tentang bagaimana seharusnya orang Kristen menjalani pendidikan. Dari nas ini kita belajar tentang bagaimana seharusnya pendidikan dimulai, dijalani dan akhirnya diimplementasikan.

Pendidikan sendiri ada tiga bentuk yaitu pendidikan formal, nonformal dan informal. Pendidikan formal meliputi pendidikan yang dijalani melalui proses belajar di sekolah dan perguruan tinggi. Pendidikan nonformal meliputi proses belajar yang terjadi dalam lingkungan keluarga. Sedangkan pendidikan informal meliputi proses belajar melalui kegiatan masyarakat.

Apa yang Yeremia tunjukkan dalam nas ini dapat diaplikasikan dalam ketiga bentuk pendidikan tersebut. Namun oleh karena pada saat ini dunia pendidikan di Indonesia sedang ada dalam persiapan untuk memulai tahun ajaran atau tahun akademik yang baru maka pada kesempatan ini saya hanya akan memfokuskan perhatian pada proses belajar di lembaga pendidikan formal.

Nas ini menunjukkan bagaimana seharusnya seseorang menjalani proses belajar. Proses belajar mesti atas kehendak Tuhan dengan melibatkan aktivitas berjalan, melihat dan mendengar (ayat 1-2). Aktivitas melihat dalam proses belajar juga tidak sekedar melihat melainkan mengamati (ayat 3-4). Artinya melihat dengan teliti. Pengamatan itu kemudian membutuhkan penjelasan. Tetapi bukan penjelasan dari tukang periuk melainkan dari Tuhan. Sebab kalau tukang periuk yang memberikan penjelasan, Yeremia justru akan menjadi seorang tukang periuk. Tetapi tidak demikian. Yeremia mendapatkan penjelasan dari Tuhan untuk meningkatkan kualifikasinya sebagai seorang nabi (ayat 5-10). Lalu setelah penjelasan itu menjadi pemahaman, Yeremia mengajarkannya kepada umat Israel (ayat 11-12). Ini merupakan bagian dari tanggung jawab Yeremia setelah mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang dibutuhkan.

Proses belajar Yeremia mulai dengan pergi ke tempat tukang periuk. Untuk itu Yeremia harus berjalan. Nas ini tidak menyebutkan berapa jauh dia berjalan. Yang pasti, proses berjalan membutuhkan waktu. Proses berjalan juga berarti Yeremia berpindah ke tempat tukang periuk bekerja. Di sana Yeremia mesti mengamati cara tukang periuk membuat bejana dengan menggunakan peralatan dan bahan yang ada. Setelah itu barulah Tuhan memperdengarkan suaranya lagi.

Hal ini menunjukkan bahwa belajar di mana pun, apalagi di lembaga pendidikan formal, bukanlah proses yang instan. Prosesnya lama. Bahkan sangat lama. Orang yang tamat SD, belajar enam tahun. Yang tamat SMP, belajar sembilan tahun. Yang tamat SMA, belajar dua belas tahun. Yang tamat S-1-nya empat tahun, belajar enam belas tahun. Belum lagi kalau kuliah sampai S-2 dan S-3. Artinya dari sisi waktu, pendidikan formalbutuh waktu yang panjang.

Dari sisi tempat belajar pun sama dengan Yeremia. Untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih baik, seseorang tidak bolah diam di tempat. Dia mesti pergi ke tempat yang lain. Tempat lain di sini bisa dilihat dari segi tingkat maupun lokasi pendidikan. Dari segi tingkat pendidikan misalnya, awalnya bersekolah di SD. Dari SD ke SMP. Dari SMP ke SMA/SMK. Dari SMA ke bangku kuliah. Sedangkan dari segi lokasi misalnya, ketika bersekolah di SD dan SMP memilih sekolah yang ada di Pulau Solor. Masuk SMA bersekolah di Larantuka. Ketika kuliah S-1 memilih kampus yang ada di Kupang. S-2 pergi ke Jakarta. S-3 ke Amerika Serikat.

Lalu apa yang dilakukan ketika ada di lokasi pendidikan? Sama juga dengan Yeremia: mengamati dan mendengar. Yeremia mengamati peralatan tukang periuk, tanah liat dan cara tukang periuk bekerja. Orang yang hendak belajar pada masa kini pun mesti demikian. Di tempatnya belajar, dia mesti banyak mendengar dan mengamati. Bahkan dia mesti terlibat dalam banyak kegiatan yang berhubungan dengan bidang yang dipelajarinya. Sebab hanya dengan demikian dia bisa maksimal dalam memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan.

Apakah cukup demikian? Ternyata masih ada satu hal. Bahkan justru ini adalah hal yang paling penting. Apa itu? Yeremia pergi ke tukang periuk bukan karena kemauan hatinya sendiri. Di pergi karena diperintah Tuhan. Ini menunjukkan pilihan bidang yang diminati seseorang untuk dipelajari dan tempat untuk mempelajarinya mesti atas kehendak Tuhan. Jadi sebelum seseorang mendaftar anaknya untuk bersekolah atau kuliah di bidang atau tempat tertentu, dia mesti membuat pertimbangan yang matang.

Apakah pilihan itu sudah atas kehendak Tuhan? Ataukah itu hanya merupakan pilihan anak yang berstudi? Ataukah juga itu hanya merupakan pilihan orang tua? Ataukah lagi itu hanya merupakan ajakan guru atau teman? Apa pun yang mendorong seseorang memilih bidang ilmu dan lokasi belajar tertentu, semuanya harus atas kehendak Tuhan. Oleh karena itu sebelum memulai prosesnya, berdoalah sungguh-sungguh agar Tuhan menunjukkan pilihan yang paling tepat. Pilihan yang tepat ini termasuk bagaimana nanti pengetahuan yang diperoleh bisa diaplikasikan di tengah gereja dan masyarakat.

Ketika Yeremia menerima perintah Tuhan untuk belajar ke tempat tukang periuk bekerja, itu karena pengetahuan yang Yeremia peroleh akan berguna bagi umat Israel. Sebab sebagaimana tukang periuk memperlakukan tanah liat ketika membuat bejana, Tuhan pun akan memperlakukan umat Israel yang siap dibentuk Tuhan. Ini artinya proses belajar yang Yeremia jalani sangat bermanfaat bagi orang lain.

Hal inilah yang juga mesti diperhatikan ketika memilih tempat dan jurusan ilmu untuk mereka yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Salah satu hal penting yang mesti dipertimbangkan adalah setelah tamat, mau kerja apa? Atau setelah tamat, mau jadi apa?

Apabila tujuannya hanya untuk kepentingan diri sendiri, belum tentu Tuhan merestuinya. Tetapi apabila tujuannya untuk kebaikan sesama dan kemuliaan Tuhan, saya jamin Tuhan pasti akan memberkatinya. Apabila Tuhan sudah memberkati niat dan usaha seseorang maka jalan keluar akan disediakan. Oleh karena itu kebutuhan akan biaya, kemampuan akademik maupun dukungan dari keluarga atau lingkungan dan sebagainya akan Tuhan berikan. Dengan demikian pada akhirnya keberhasilan akan diraih. Keberhasilan itu pun akan bermanfaat bagi sesama. Tuhan memberkati kita semua. Amin. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *