Kekristenan: Agama Dengan Buku Terbuka (Yesaya 29:9-24) – Pdt. Jahja A. Millu

Pendidikan terletak persis di jantung kekristenan. Setidaknya itulah pesan yang hendak disampaikan oleh nama kekristenan itu sendiri. Kisah 11:26 menunjukkan bahwa Kekristenan adalah agama yang lahir dari proses belajar mengajar. Selama setahun, Barnabas dan Paulus mengajar banyak orang di Antiokhia. “Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen.”

Injil menyebut Yesus sebagai “guru” dan melakukan tindakan “mengajar”. Markus menggunakannya sebanyak dua puluh sembilan kali, Matius dua puluh lima kali dan tiga puluh dalam Lukas. Pengajaran Yesus tidak hanya membawa informasi atau pengetahuan, bukan pula seperti guru moral yang memberikan informasi tentang benar atau salah. Sebaliknya, Yesus mengajar sebagai guru hikmat. yang tidak hanya mengajarkan kebijaksanaan konvensional, tetapi juga melakukan koreksi terhadap ajaran dan etika yang salah.

PL juga memberi perhatian pada pendidikan. Kata “Taurat” yang menunjuk pada lima buku pertama dari Kitab Suci Alkitab, memiliki akar kata yang sama dengan kata moreh(bahasa Ibrani untuk guru) dan hora’ah (kata Ibrani untuk instruksi). Oleh karena itu, tidaklah mengejutkan untuk menemukan kata-kata seperti “mengajar”, “pengajar”, “belajar”, atau “pengetahuan” di seluruh Alkitab, kurang lebih sebanyak 665 kali.

Ketika Yesaya menyampaikan firman Tuhan dalam teks ini, kehidupan Yehuda jauh dari kenyataan tercerahkan. Dosa membutakan mata mereka sehingga tidak dapat melihat kebenaran. Suasana kemerosotan Yerusalem ini digambarkan dalam bahasa literasi, yakni ketidakmampuan membaca buku (ay. 11–12). Orang pandai tak sanggup membaca karena buku termeterai, sementara sebagian lainnya tidak dapat membaca karena kemampuan literasi yang rendah. Buku menjadi sebuah misteri bagi umat Tuhan. Mereka semua tidak mampu membaca sehingga kehilangan pengertian. Ini adalah model beragama dengan buku tertutup.

Model buku tertutup ini menyebabkan kelumpuhan spiritual dan masalah hukum dalam ayat selanjutnya. Kebutaan melanda kaum terpelajar dan yang tidak terpelajar (ay. 11–12). Pemimpin dan rakyat biasa semuanya mengalami kebutaan literasi dan kehilangan visi. Bila visi lenyap dari suatu negara, tentu “menjadi liarlah rakyat” (Amsal 29:18).

Agama buku tertutup ini, menurut ayat 13, juga memiliki  ciri “eksternalisme” (hanya melibatkan mulut dan bibir, tanpa hati) dan “tradisionalisme” (berupa hafalan dan rutinitas). Eksternalisme dicirikan oleh cara beragama Yehuda yang kelihatannya terus mendekat dan memuliakan Tuhan dengan semua doktrin yang benar, tetapi tanpa realitas hati. Tuhan Yesus mengutip ayat 13 dalam Matius 15:9 untuk melawan ciri kaum tradisionalis, sehubungan dengan orang Farisi. Bagi Yesus, tradisi yang bersekutu dengan teologi yang buruk, yang hanya berdasarkan perintah manusia semata, merupakan pemberontakan fundamental melawan Tuhan. Agama tetap ada, tetapi kenyataannya telah musnah.

Yesaya juga menyajikan perbedaan antara hikmat duniawi dan hikmat ilahi. Aliansi Yehuda dengan Mesir untuk  melawan Asyur dilakukan raja Yehuda secara rahasia (ay. 15). Para negosiator menganggap tindakan mereka begitu rahasia sehingga Tuhan pun tidak diberi akses. Dua pertanyaan (“Siapakah yang melihat kita?” dan “Siapakah yang mengenal kita?”) mencerminkan niat hati untuk menjadi tuan atas diri mereka sendiri, tanpa campur tangan Tuhan.  Dalam ayat 16, mereka tak segan untuk mengingkari keistimewaan Tuhan (tanah liat ingin sama dengan tukang periuk), kedaulatan-Nya (bukan Dia yang membuat aku) dan kebijaksanaan-Nya (Ia tidak tahu apa-apa).

Itu sebabnya Tuhan memutuskan penghancuran kebijaksanaan dan kecerdasan manusia (14). Yang dihancurkan adalah hikmat (chokmah), mencakup seluruh ‘pikiran’ yang dengannya seseorang memandang kehidupan dan membuat rencana. Juga ikut dihancurkan kearifan (biynah), yakni kemampuan untuk ‘membedakan’ inti suatu masalah. Kebijaksanaan manusia akan binasa dan menghilang, sehingga tidak lagi menjadi faktor penentu kehidupan manusia.

Memasuki fase kedua dari bacaan ini (ayat 17-24), Yesaya mencirikan model beragama dengan buku terbuka. Ciri pertama dari model beragama ini ialah terciptanya masa depan baru. Cakupan transformasi-Nya luas, mencakup baik kondisi ciptaan (padang tandus Libanon akan menjadi kebun buah-buahan, ay. 17), tetapi juga tatanan masyarakat (ayat 18-24). Transformasi masyarakat dimulai dari empat golongan orang terpinggirkan yang sedang tertekan. Mereka adalah orang tuli, orang buta, orang sengsara; dan orang miskin (ay. 18-19). Pasangan pertama tuli dan buta mengacu pada orang dengan kekurangan fisik. Pasangan istilah kedua sengsara dan miskin lebih berkaitan dengan ekonomi yang eksploitatif. Kelompok yang memangsa mereka yang rentan ini adalah orang sombong (tirani), pencemooh (pengejek), berniat jahat (pelaku kejahatan). Para penindas ini bukanlah ‘orang asing’, tetapi menunjuk pada eksploitasi internal dalam masyarakat Yehuda sendiri.

Bahasa ayat 21 menggemakan pesan kitab Ulangan dan para nabi awal tentang pengadilan. Justru di pengadilanlah, kaum yang berkuasa mengeksploitasi kelompok kecil dengan kejam. Dalam pengadilan yang berlangsung di pintu gerbang, kelompok yang kuat memutarbalikkan kebenaran, sehingga kaum lemah tidak memiliki kesempatan untuk membela diri. Ciri kedua yang hendak Yesaya tegaskan di sini ialah pembaharun terhadap institusi publik yang korup, agar masyarakat dapat menikmati kehidupan yang benar dan adil. Bagi Tuhan, transformasi akan berdampak besar jika disertai dengan pemulihan lembaga publik yang menjamin kehidupan komunal.

Ciri ketiga dari agama dengan buku terbuka ini ialah transformasi terhadap dua aspek kehidupan, yakni sesat pikiran dan bersungut-sungut (23). Sesat pikiran identik dengan sesat Roh. Roh adalah energi (bahkan ‘nafsu’) di mana kehidupan dijalani. Bila Allah memulihkan, mereka yang sesat pikir akan menunjukkan kemantapan hidup. Mereka akan menjadi makhluk rasional. Roh membuat mereka bernafas dalam semangat, termasuk dalam bidang kekuasaan eksekutif dan administratif. Roh memberi inspirasi. Ini penting sebab berpikir adalah tanda dan lambang kehidupan. Mereka juga akan datang untuk ‘mengetahui kearifan’ dan memiliki wawasan yang benar tentang makna hidup yang sebenarnya. Juga akan ada sifat dapat diajar, keterbukaan terhadap kebenaran. Orang-orang seperti itu akan menerima pengajaran, untuk menukar kekeraskepalaan mereka dengan instruksi yang benar. Mereka ‘memahami’ kebenaran.

Kita sedang merayakan Bulan Pendidikan saat ini. Perayaan ini hendak menegaskan bahwa Kekristenan bukanlah agama dengan buku tertutup. Bukan pula agama dari orang-orang yang tak dapat membaca. Allah memberi perhatian yang sangat serius terhadap ketidakmampuan membaca suatu bangsa, baik karena buta huruf maupun buta hati. Buku tidak boleh menjadi sebuah misteri bagi umat Tuhan. Dulu, kita memang sulit membaca karena kesulitan memperoleh buku dan harganya mahal. Kini dengan bantuan internet, buku dan informasi tersedia dengan melimpah. Teknologi menolong kita membuka tabir misteri dari buku yang pernah terjadi di masa lampau. Kemudahan ini diharapkan dapat memperbaiki kemampuan literasi kita.

Perayaan ini harus mampu membangkitkan kesadaran kita semua bahwa masyarakat yang tidak memiliki hikmat dan kearifan akan mengalami berbagai situasi buruk. Orang berpengetahuan akan menindas orang bodoh, orang kecil sulit mendapatkan keadilan, kaum disabilitas akan dieksploitasi. Institusi publik seperti pengadilan tidak akan berfungsi dengan baik, dan justru menimbulkan keresahan dalam masyarakat. Bagi Allah, akar dari semua persoalan ini ialah kesesatan berpikir dan kehidupan yang tidak bersyukur (bersungut-sungut). Yesaya menegaskan bahwa Tuhan akan melakukan pembaharun agar masyarakat dapat menikmati kehidupan yang benar dan adil. Transformasi ilahi itu ditempuh dengan pendidikan, yakni mengembangkan  pengertian dan pengajaran (ay. 24).

Pustaka Rujukan

Brueggemann, Walter. Isaiah. e-Pub edition (Kentucky: Westminster John Knox Press, 1998), 237-239.

Burke, Kevin J. and Segall, Avner. Christian Privilege in U.S. Education: Legacies and Current Issues (New York: Routledge, 2017), 51.

Grogan, Geoffrey W. Isaiah: The expositor’s Bible commentary. e-Pub edition (Michigan: Zondervan, 2008), 329-334.

Hershman, Evan. Jesus as Teacher in the Gospel of Mark: The Function of a Motif (London: T&T Clark, 2021), 1.

Motyer, J. Alec. The Propechy of Isaiah: An Introduction and Commentary. e-Pub edition (Downers Grove, Illinois: InterVarsity Press, 1993), 23-28.

Rule, P. N. 2017, ‘The pedagogy of Jesus in the parable of the Good Samaritan: A diacognitive analysis’, HTS Teologiese Studies/Theological Studies 73(3), a3886. https://doi.org/10.4102/hts.v73i3.3886)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *