Pasca Permukiman Digusur, Jemaat Agape Tangki Seribu Batam Butuh Bantuan

Gedung gereja Jemaat Agape Tangki Seribu, Batam, pasca penggusuran.

BATAM, www.sinodegmit.or.id, 44 dari 83 Kepala Keluarga yang merupakan anggota GMIT Jemaat Agape Tangki Seribu, Kota Batam, Kepulauan Riau, saat ini membutuhkan uluran tangan pasca permukiman mereka digusur oleh otoritas setempat.

Penggusuran yang berlangsung pada Rabu, (5/7), sempat mendapat perlawanan warga namun dapat dikendalikan oleh aparat keamanan.

Pasca penggusuran, Majelis Sinode (MS) GMIT menugaskan Wakil Sekretaris MS GMIT Pdt. Elisa Maplani, Ketua Majelis Klasis (KMK) Kota Kupang, Pdt. Jacky Adam, dan Ketua UPP Personil MS GMIT, Pdt. Dina Penpada, untuk mengunjungi jemaat tersebut dan mengadakan pertemuan dengan para pihak.

Pertemuan tersebut melibatkan PT Batam Mas, Kapolsek Batu Ampar, Kompol. Dwihatmoko Wiroseno, dan Kepala Satpol PP Batam, Imam Tohari. Dalam pertemuan yang berlangsung pada (11/7), yang dilakukan terpisah, para pihak memberikan klarifikasi kepada MS GMIT mengenai status kepemilikan tanah bahwa permukiman yang digusur tersebut merupakan lahan milik PT Batam Mas. Prosedur penggusuran juga sudah sesuai protap yakni sosialisasi sejak 2022 dan surat peringatan sebanyak tiga kali.

Suasana kebaktian Minggu, (9/7), yang hanya dihadiri sebagian anggota jemaat.

Jainal, perwakilan pemilik lahan PT Batam Mas mengatakan bahwa berbeda dengan kepemilikan lahan di tempat lain, seluruh lahan di Batam dimiliki oleh perusahaan-perusahaan sehingga tidak ada lahan kosong milik warga.

Sedangkan terkait gedung gereja yang belum digusur,  PT Batam Mas memberikan waktu dan menyerahkan proses pembongkaran kepada jemaat setempat agar bisa menyelamatkan barang-barang yang masih dibutuhkan.  

Pihak perusahaan juga telah menyediakan lahan pengganti sekaligus bersedia mendukung pembangunan gedung gereja yang baru yang berlokasi di Punggur.  

Atas pengertian baik dari pemeritah otorita Batam dan perusahaan yang menyediakan lokasi baru serta dukungan pembangunan gedung gereja, MS GMIT menyampaikan terima kasih yang tulus serta permohonan maaf atas konflik yang terjadi serta mengharapkan kerja sama pendampingan bagi para korban penggusuran termasuk sejumlah warga yang ditahan pihak kepolisian atas dugaan melawan petugas saat penggusuran berlangsung.   

Dari 44 rumah yang digusur, dua di antaranya merupakan rumah pastori (rumah tinggal pendeta) milik Jemaat Agape Tangki Seribu. Pdt. Romana Tju yang melayani jemaat ini mengatakan pasca penggusuran, anggota jemaat yang menjadi korban, sementara tinggal di keluarga atau kos-kosan. Ia sendiri sementara mengungsi di rumah diakonia Jemaat Batam Center.

Menurut Pdt. Romana, pasca penggusuran pihaknya telah menerima bantuan uang dan sembako dari Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB), dan juga dari Majelis Sinode GMIT.

“Kami membutuhkan bantuan uang dan atau sembako untuk membantu anggota jemaat yang menjadi korban. Karena rumah pastori juga digusur jadi saat ini saya tinggal di rumah diakonia Jemaat Batam Center, sekitar 8 kilometer dari lokasi penggusuran,” kata Pdt. Romana.

(Dari kanan ke kiri): Pdt. Jacky Adam, Pdt. Elisa Maplani, Pdt. Romana Tju, Pdt. Dina Penpada dan Pdt. Guntur Yusuf di depan gedung gereja Agape Tangki Seribu-Batam.

Ditambahkan, besok, Minggu, (16/7), Majelis Jemaat akan mengadakan rapat untuk menyewa ruko sebagai alternatif tempat tinggal sementara, sambil menunggu pembangunan pastori dan gedung gereja yang baru.  

“Kami butuh tempat untuk menyimpan barang-barang inventaris gereja dan pastori pasca penggusuran sehingga kami rencana sewa ruko. Harganya sekitar 30 juta per tahun. Jadi kami mohon bantuan dari jemaat-jemaat GMIT yang lain,” harap Pdt. Romana.

Terkait permohonan bantuan tersebut, KMK Kota Kupang, Pdt. Jacky Adam menjelaskan bahwa sejak menerima berita penggusuran itu, pihaknya telah melakukan penggalangan bantuan yang jumlahnya saat ini sekitar 70 juta rupiah.

“Rencananya bulan Agustus mendatang, dana yang terkumpul segera kami kirim,” ucap Pdt. Jacky, Sabtu, (15/7).

Selanjutnya untuk menyiasati pelayanan ibadah hari minggu pasca pembongkaran gedung gereja nanti, anggota Jemaat Tangki seribu bisa menggunakan gedung ibadah Jemaat Eklesia Batam dengan jadwal yang diatur bergiliran.

Untuk diketahui anggota Jemaat Agape Tangki Seribu umumnya adalah pendatang dari Alor-NTT yang rata-rata bekerja sebagai security atau Satpam, asisten rumah tangga, buruh pabrik, dan pemulung. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *