Agus Tower Minta Maaf Kepada Sinode GMIT

Petugas Basarnas dan polisi mengawal Agus Woro alias Agus Tower saat menjalani pemeriksaan kesehatan usai turun dari tower.

www.sinodegmit.or.id, Agustinus Woro pemanjat tower radio Suara Kasih 89,3 FM, akhirnya dievakuasi Tim Basarnas dan aparat Polresta Kupang Kota pada Senin, (14/8), pukul 10.00 wita.

Sebelumnya, tim Basarnas yang dibantu aparat keamanan berupaya menurunkan pria berusia 56 tahun ini namun tiga kali upaya negosiasi berujung gagal.

Aksi berbahaya yang dilakukan selama tujuh hari tersebut menyebabkan aktivitas siaran radio milik Sinode GMIT berhenti beroperasi.   

Agus diketahui memanjat dan menginap di atas tower radio setinggi 64 meter tersebut, pada Selasa, (8/8), pukul 16.00 wita.

Pria yang populer dengan sebutan Agus Tower ini, bersikeras tidak akan turun kecuali pimpinan sinode GMIT, Kapolda NTT, dan Danrem 161 Wirasakti Kupang, memenuhi permintaannya.

Ia meminta difasilitasi untuk bertemu Presiden Jokowi pada upacara memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus di Istana negara.

Menyadari permintaannya tidak ditanggapi, Minggu sore, (13/8), pria asal Flores ini menulis sebuah nota yang berisi kesediaannya untuk turun pada Senin, (14/8).

“Kalau polisi dan TNI tidak memperdulikan aksi demoku, tolong pimpinan sinode GMIT dan Basarnas bantu aku. Hari Senin 14 Agustus aku mau turun dari tower ini,” tulisnya.

Tim Basarnas dibantu aparat Polresta Kupang merespon permintaannya dengan menerjunkan tim evakuasi.

Sesaat sebelum dua orang anggota Basarnas mencapai puncak tower, Agus sempat naik mencapai tiang penangkal petir dan melambaikan tangan kepada ratusan warga yang menontonnya.

Dua orang anggota Basarnas yakni Cosmas Bria dan Thimotius Aprintinus, berhasil menurunkan Agus dengan selamat.

Proses evakuasi membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam yang dimulai pukul 8:30 wita dan baru berakhir pada pukul 10.00 wita.

“Pelaksanaan evakuasi berlangsung sukses, kondisinya masih sehat walafiat,” ujar Muhdar, Kepala Operasi dan Siaga Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Kupang.

Proses evakuasi Agus Woro dari tower disaksikan warga dengan kawalan aparat keamanan.

Meski terlihat pucat, suara Agus terdengar lantang saat menyampaikan tuntutannya kepada pemerintah untuk memberantas narkoba serta meminta masyarakat mewaspadai bahaya narkoba yang ia duga sudah terkontaminasi di dalam sejumlah produk makanan.

“Hati-hati narkoba!” serunya.

Saat diusung dengan tandu oleh tim Basarnas ke dalam ambulans, Agus Tower menyampaikan terima kasih kepada GMIT.

Basarnas menyerahkan pria kelahiran 23 Juni 1968 ini kepada aparat Polresta Kupang untuk menjalani pemeriksaan.

Menjawab pertayaan wartawan terkait dugaan tindak pidana oleh pelaku, Kapolresta Kupang Kota, Kombes Pol. Rishian Krisna Budhiaswanto mengatakan pihaknya perlu melakukan pendalaman termasuk pemeriksaan kesehatan jiwa kepada yang bersangkutan.

Majelis Sinode (MS) GMIT menyampaikan terima kasih yang tulus kepada pihak Polresta dan Basarnas Kupang, yang telah membantu mengevakuasi pelaku dengan selamat.   

Agus Tower Memohon Maaf

Sehari setelah peristiwa evakuasi, Agus Tower kembali lagi mendatangi kantor MS GMIT sekitar pukul 10.00 wita dengan maksud bertemu pimpinan Sinode.

Namun, pimpinan Sinode tidak berada di tempat sehingga ia menyampaikan permohonannya melalui Pdt. Yulian Widodo, Ketua Unit Pembantu Pelayanan (UPP) Umum dan Kerumahtanggaan MS GMIT.

Pada kesempatan ini ia menyampaikan dua hal yakni, meminta GMIT mendukung perjuangannya memerangi narkoba dan permohonan maaf karena telah mengganggu aktivitas siaran radio.

“Saya Agus Tower, saya pendemo tunggal selama 12 tahun. Saya minta maaf sudah mengganggu sinode GMIT di sini [melalui] aksi panjat antena [tower radio] selama tujuh hari. Saya minta maaf. Saya menganggap bahwa perjuangan kita melawan narkoba yang saat ini sudah di tahap genosida suku bangsa Indonesia, harus kita berjuang bersama-sama, bukan hanya pendemo tunggal Agustinus saja,” ungkapnya.

Kondisi tempat menginap Agus Woro selama tujuh hari di atas tower.

Ia juga mengaku, dari ratusan aksi demo tunggal melalui panjat tower, ini merupakan yang paling tinggi dan menantang.

“Ini tower paling tinggi yang pernah saya panjat, sekaligus menantang karena ukurannya kecil dibanding tower Telkomsel dan Sutet. Cape dan melelahkan,” kata pria beranak satu ini.

Menurutnya, ia memanjat tower Radio Suara Kasih pada hari Senin, (7/8), tengah malam. Ia membawa tiga bilah kayu usuk seukuran satu meter untuk tempat duduk, bendera merah putih dan spanduk.

Selama tujuh hari berada di atas tower ia hanya berbekal satu botol air mineral ukuran 1,5 liter, dua sisir pisang, tiga bungkus roti dan seutas tali rafia yang dipakai untuk menahan badannya agar tidak jatuh saat tertidur.

Sementara terkait dugaan kerusakan fasilitas tower akibat aksi tersebut, direktur Radio Suara Kasih 89,3 FM, Pdt. Irwan Matoneng mengatakan pihaknya sudah melakukan pemeriksaan perangkat pada hari ini, Selasa, (15/8), dan hasilnya tidak ditemukan kerusakan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *