Jemaat Kanaan Oesena Terima Satu Gedung Gereja Contoh Tangguh Bencana

Gedung gereja contoh tangguh bencana, Jemaat Kanaan Oesena.

www.sinodegmit.or.id, Majelis Sinode (MS) GMIT menyerahkan satu unit gedung gereja contoh tangguh bencana kepada Majelis Jemaat Kanaan Oesena, Klasis Amarasi Timur. Gedung senilai 500 juta rupiah ini merupakan hasil kerja sama MS GMIT, Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) NTT, dan Kerk in Actie (Badan Misi Gereja Belanda).

Gedung gereja Jemaat Kanaan Oesena sebelumnya mengalami rusak berat akibat siklon tropis Seroja pada April 2021.

Berkat dukungan para pihak tersebut di atas, jemaat membangun kembali gedung baru di kampung Huko’u yang berjarak dua kilometer dari lokasi sebelumnya. Pembangunan gedung baru tersebut dimulai sejak 7 November 2021 berukuran 36 X 12 meter dengan struktur atap menggunakan rangka baja.

Gedung gereja berkapasitas 300 orang ini didesain oleh Budhi Lily, ST., MT, dosen Fakultas Teknik Arsitektur Unwira dan Melky Dami, ST, anggota IAI NTT.

“Bangunan ini didesain dengan pertimbangan daya tahan terhadap angin dengan pemilihan bentuk segi enam memanjang dan menggunakan bentuk atap perahu terbalik. Bentuk ini dipilih agar angin tidak menabrak bangunan secara frontal namun dapat dibelokan,” kata Budi Lili.

Kebaktian serah terima berlangsung pada pekan lalu, Minggu, (3/9), dipimpin Pdt. Henderina Mbui Taka Logo, dihadiri Ketua MS GMIT, Pdt. Mery Kolimon, Sekcam Amarasi Timur, Janwar Modok, SE, Ketua Majelis Klasis Amarasi Timur, Pdt. Yapi Niap, Kapolsek Amarasi, Ipda Thomas Radiena, Deputi Ketua V IAI Nasional, Donatus Ara Kian, ST., MT., Dekan Fakuktas Teknik Unwira, Dr. Don Gaspar N. da Costa, MT., dan sejumlah dosen Fakultas Teknik Unwira serta jemaat setempat.

Suasana kebaktian serah terima di dalam gedung gereja.

Ketua MS GMIT menyampaikan terima kasih yang tulus kepada semua pihak khususnya anggota tim dari Unwira, IAI NTT, Kerk In Actie, dan tim Tanggap Siklon Seroja MS GMIT yang diketuai Glen Malelak dan koordinator Gabriel Natun.

“Kalau kita harus hitung kali-bagi untuk gambar, apalagi mendampingi sampai di lapangan, kita tidak bisa membayar. Tapi luar biasa anak-anak Tuhan ini. Mereka tidak berhitung untung rugi. Terpuji-puji nama Tuhan untuk kebaikan hati mereka,” ucap Pdt. Mery dalam suara gembala.

Ia juga mengapresiasi semangat gotong-royong seluruh anggota jemaat sejak peletakan batu pertama dan berharap pembangunan gedung ini dilanjutkan hingga selesai dan ditahbiskan.  

Untuk mengurangi dampak angin kencang sekaligus tanggungjawab terhadap pelestarian alam, Ketua MS GMIT juga meminta jemaat agar menanam pohon-pohon di sekitar halaman gereja.

Biaya pembangunan gedung gereja direncanakan sebesar 500 Juta Rupiah, dengan sumber dana berasal dari Kerk in Actie. Namun, mengingat kebutuhan di masa mendatang jemaat meminta ukuran gedung diperluas dengan komitmen bahwa kekurangan biaya pembangunan akan ditanggung oleh jemaat. Oleh sebab itu, kondisi fisik bangunan pada saat serah terima baru mencapai 70%.

Sehubungan dengan proses pembangunan masih menyisakan 30%, Deputi Ketua V IAI Nasional dan Dekan Fakuktas Teknik Unwira-Kupang dalam sambutannya menyatakan kesediaan untuk mendampingi proses pembangunan gedung hingga selesai.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Majelis Jemaat Kanaan Oesena, Pdt. Arlin Manoe, juga menyatakan rasa syukur kepada Tuhan yang membuka jalan sehingga Jemaat Kanaan Oesena bisa membangun kembali gedung gereja baru.

Foto bersama Ketua MS GMIT, Deputi Ketua V IAI Nasional, Dekan Fakuktas Teknik Unwira, sejumlah dosen Fakultas Teknik Unwira, para pendeta di Klasis Amarasi Timur, dll.

Gedung gereja lama, kata Pdt. Arlin, hampir rampung pembangunannya ketika diterjang badai siklon. Akibatnya, jemaat dengan segala keterbatasan harus membangun lagi gedung gereja baru. Namun di tengah beban berlapis tersebut, mereka sungguh-sungguh merasakan campur tangan Tuhan melalui dukungan MS GMIT, Kerk in Actie, Unwira, IAI, pemerintah kabupaten Kupang, dan lain-lain.

Ia menyampaikan terima kasih kepada keluarga Prokolus Rini dan Yoel Masneno yang masing-masing mempersembahkan tanah seluas 90 X 22,5 meter untuk pembangunan gedung gereja dan 15 X 24 meter untuk pembangunan rumah pastori.

Sebelumnya, MS GMIT melalui Tim Tanggap Siklon Seroja telah membangun enam gedung contoh tangguh bencana di lokasi-lokasi yang terdampak bencana paling berat.  Enam gedung tersebut terdiri dari dua gedung gereja masing-masing berlokasi di klasis Rote Barat Daya dan Amarasi Timur dan empat rumah pastori masing-masing di klasis Rote Timur, Sabu Barat, Sabu Timur, dan Alor Tengah Selatan. Lima dari enam gedung sudah diserahterimakan sedangkan rumah pastori di Kanaikai, Alor Tengah Selatan, akan dilaksanakan pada 9 september 2023 mendatang. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *