Persidangan Sinode ke-35:GMIT Serius Gumuli Konservasi Air

SABU, www.sinodegmit.or.id, Salah satu sesi dalam agenda Persidangan Sinode XXXV GMIT adalah study meetingdengan format lokakarya. Lokakarya ini dilakukan secara kontekstual dalam lokus Sabu Raijua dengan nama kehale. Kehale berasal dari frasa ammu kehale  yakni istilah orang Sabu untuk menyebutkan rumah sebagai tempat untuk mendiskusikan dan menyepakati berbagai hal. Orang Sabu mengenal beberapa istilah untuk menjelaskan bentuk dan fungsi rumah bagi orang Sabu; misalnya ammu kepue, ammu kelaga, dan lainnya.

Tema-tema yang dibahas secara mendalam dalam kehale tersebut adalah Konservasi Air dan Pengembangan Bambu, Pelayanan Anak, Pelayanan Kaum Muda dan Digital, Pencegahan Kekerasan dalam Gereja dan Masyarakat, Pengurangan Risiko Bencana,  Merawat Laut dan Pesisir, Pengembangan Ekonomi Berkeadilan, dan Relasi Antar Agama. Kehale ini diselenggarakan dengan melibatkan pembicara sebagai narasumber yang berasal dari berbagai disiplin ilmu dengan pengalaman praksis pada basis.

Kehale yang menjadi agenda persidangan hari kedua Kamis, (12/10), tersebut dilakukan dengan tujuan pertama, membangun pemahaman bersama tentang pergumulan GMIT terkait tema-tema yang diangkat dan kedua, melengkapi para peserta dengan sejumlah perspektif terkait isu-isu pelayanan untuk diimplementasikan dalam pelayanan jemaat dan klasis masing-masing.

Seluruh peserta persidangan yang berasal dari unsur Majelis Sinode Harian, Majelis Klasis Harian, utusan dari klasis se-GMIT, BPP Sinode GMIT dan UPP Majelis Sinode GMIT tersebut dikelompokkan secara merata berdasarkan kategori delapan isu prioritas yang didalami dalam kehale. Dalam sesi persiapan kehale, Ketua Sinode GMIT Pdt. Dr. Mery Kolimon mengungkapkankan kehale tersebut dapat menjadi wadah untuk mendalami konteks dan kebutuhan pelayanan GMIT. Hal ini kemudian membuat kehale tersebut dapat menghasilkan kajian dan rencana tindak lanjut yang kuat untuk memberi nuansa pada HKUP Periode 2024-2027 yang juga menjadi salah satu dokumen gerejawi GMIT yang dibahas dan diputuskan dalam Persidangan Sinode XXXV GMIT di Sabu Raijua.

Lokakarya dengan isu isu Konservasi Air dan Pengembangan Bambu, bertempat di gedung kebaktian Jemaat Pulau Patmos Tulaika Klasis Sabu Barat Raijua, dengan tiga narasumber utama yakni Lexy Damaledo, ST, M.Sc yang melakukan kajian khusus terhadap definisi dan manfaat konservasi air di NTT serta praktik di GMIT (Kampanye Tanam Air) yang harus dilakukan secara berkesinambungan. Narasumber kedua, Norman Riwu Kaho, ST, M.Sc mengkaji  perilaku mengelola lahan secara konvensional dan praktik lainnya yang kontra-produktif terhadap usaha konservasi air di NTT serta ancaman bagi keberlangsungan ekosistem dan ketersediaan pangan. Pemateri ketiga dari Yayasan Bambu Lestari,  Nurul Firmansyah, melakukan kajian khusus tentang pola intervensi penanaman bambu sebagai alternatif pengelolaan lahan kritis dalam upaya konservasi air. Kehale tersebut dimoderatori Pdt Frans A. Dillak.

“Upaya menaikkan debit air tanah dapat dilakukan melalui banyak cara. GMIT telah melakukannya melalui gerakan tanam air. Gerakan ini serupa dengan pola menggali sumur-sumur resapan agar dapat menampung air hujan. Di jemaat kami, hal ini dilakukan dengan melibatkan peserta katekisan untuk membuat sumur serapan sebelum ditahbis sidi”, ujar narasumber Lexy Damaledo.

Hal senada diungkapkan Norman Riwu Kaho terkait pentingnya konservasi air. “Saya memberi tema untuk lokakarya ini Dikelola bukan Dilarang. Hal ini terkait dengan praktik tebas bakar lahan yang dilakukan warga. Apakah bisa dihentikan? Saya kira sulit untuk dapat dihentikan. Namun yang dapat kita lakukan adalah mengelola praktik bakar tersebut dengan lebih baik”, ungkap Norman Riwu Kaho.

Praktik bakar lahan ini harus dikelola dengan baik dengan membentuk marka pembatas api agar kebakaran tidak terjadi secara massif.

Sementara itu, pemateri ketiga, Nurul Firmansyah mengungkapkan pentingnya menanam bambu sebagai salah satu pola alternatif dalam melakukan konservasi air.

“Dalam upaya untuk melakukan konservasi air, menanam bambu tidak saja bernilai secara ekologis, tetapi juga dapat bernilai ekonomis. Terkait hal tersebut dibutuhkan kerja sama dan kerja bersama para pihak untuk dapat berkolaborasi dalam upaya konservasi air,” ungkap Nurul.

Kehale Konservasi Air dan Pengembangan Bambu ini mendapatkan respons dan antusiasme yang sangat tinggi dari peserta. Dalam kegiatan yang berlangsung selama 4 jam tersebut, para peserta yang berjumlah 60 orang mengikutinya sampai selesai. Berbagai tanggapan dan apresiasi disampaikan oleh 17 orang peserta kehale yang dapat disimpulkan sebagai komitmen dari basis pelayanan (jemaat) GMIT untuk terlibat dalam upaya melakukan konservasi air serta harapan untuk dapat membangun jejaring dalam upaya tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *