Allah Bekerja Dalam Segala Perkara (Kisah Para Rasul 27:33-28:10) – Pdt. Leo Takubessi

Dari kecil semua anak Indonesia diajarkan lagu ini:

Nenek moyangku orang pelaut,

gemar mengarung luas samudra,

menerjang ombak tiada takut, 

menempuh badai sudah biasa.

Angin bertiup layar berkembang,

ombak berdebur di tepi pantai,

pemuda brani bangkit sekarang,

ke laut kita beramai-ramai.

Lagu yang mengisahkan betapa hebatnya bangsa kita, bangsa kepulauan yang dikepung samudra namun mampu menjadi bangsa yang besar.

Pelayaran di masa lampau ternyata bukan pelayaran yang tidak canggih, meskipun dengan alat sederhana bangsa kita mampu membaca tanda-tanda di langit saat melaut dan menempuh pelayaran.

Salah satu tantangan di tengah lautan adalah cuaca yang tidak dapat diperkirakan. Bisa saja saat mulai berlayar, angin dan suasana di pantai begitu teduh dan tenang, namun tidak demikian jika sudah di tengah lautan. Angin dapat berubah, gelombang bisa saja tiba-tiba datang, pusaran-pusaran  dan arus air dapat membawa perahu jauh dari tujuan dan pelabuhan. Tidak jarang kita mendengar kecelakaan di lautan masih tejadi, ada orang hilang, orang terjatuh dari kapal bahkan orang yang pergi menangkap hasil laut malah nyasar sampai Australia.

Tetapi bagaimanapun lautan adalah sahabat anak-anak pulau. Para penginjil yang dulu membawa injil sampai di Indonesia melakukan pelayaran berbulan-bulan di lautan. Bahkan semboyan Majapahit yang masih terkenal di masa kini, jalesveva jayamahe, di lautan kita jaya, artinya siapa bisa menaklukkan laut, dialah pemenang.

Di bulan lingkungan minggu ketiga ini kita akan belajar dari pelayaran ketiga Rasul Paulus menuju ke Roma untuk naik banding di hadapan Kaisar Romawi. Perjalanan Rasul Paulus dalam memberitakan injil selalu menempuh perjalanan laut. Pelayaran yang kita baca kali ini adalah pelayaran terakhir menuju ke Roma. Kali ini Rasul Paulus menjadi tertawan oleh karena injil.

Pelayaran itu dilakukan dari Pelabuhan Indah di Lasea, menumpang sebuah kapal dari Afrika (Aleksandria, Mesir) menuju perhentian selanjutnya yaitu Pelabuhan di Kota Feniks. Meskipun Rasul Paulus sudah memperingatkan supaya pelayaran itu dihentikan, namun perwira pengawal mereka bernama Yulius tetap bersikeras melanjutkan pelayaran. Ia lebih percaya kepada nahkoda dari pada pendapat seorang narapidana.

Oleh karena itu, pelayaran ini akhirnya mengalami tantangan hebat dari alam. 14 hari atau sekitar dua minggu mereka terombang-ambing di laut Adria, tentu kita bisa bayangkan bagaimana kondisi fisik dan mental orang yang ada dalam pelayaran yang sangat lama dan berbahaya itu.

Namun pada akhirnya kapal itu akhirnya karam di pulau Malta. Mereka dengan susah payah berenang menuju pantai. Namun persoalan tidak sampai di sana, di pantai juga Rasul Paulus disengat seekor ular berbisa. Syukurlah ia tidak mati. Sungguh kita melihat bagaimana Tuhan memelihara Rasul Paulus.

Kita tentu akan bertanya, mengapa dalam situasi itu Tuhan tidak membuat mujizat? Atau mengapa Rasul Paulus tidak berdiri dengan iman dan menghardik lautan ganas itu seperti Tuhan Yesus melakukannya di danau Galilea? Mengapa dalam situasi-situasi sulit justru pemeliharaan Allah selalu sangat berbeda dengan ekspektasi manusia?

Kita yang hidup di era modern ini selalu terobsesi dengan kata “mujizat”, seakan-akan segala situasi harus ada mujizatnya. Lagu-lagu rohani kontemporer juga selalu saja menyisipkan kata “mujizat” di dalamnya. Lalu orang kristen selalu menilai pemeliharaan Allah sama dengan mujizat. Kalau tidak ada mujizat Tuhan tidak ada Tuhan. Kalau tidak ada mujizat pelayanan tidak afdol, Kalau tidak ada mujizat artinya pendeta tidak ada iman, kalau tidak ada mujizat artinya gereja tidak ada Roh Kudus. Lalu gara-gara itu kita mulai mencela pelayanan dan pekerjaan Tuhan yang lain. Tapi, benarkah demikian? Apakah Allah harus memelihara dunia ini dengan cara membuat mujizat setiap hari?

Sebelum kita melanjutkan renungan ini, mari kita definisikan kembali apa itu Mujizat?

Norman Geissler, seorang Teologi, berkata, “mujizat bukanlah sihir, trick, sulap atau ilusi. Mujizat patut dibedakan dengan hal-hal ini. Karena itu perlu ada pengujian atas hal-hal tersebut.” Berbeda dengan trik yang harus dipelajari, atau sulap yang mengandalkan kekuatan tangan manusia, mujizat tidak bisa dipelajari atau bukan sebuah ilusi.

Ini artinya sebagai orang Kristen kita jangan terkecoh dengan hal-hal spektakuler dari apa yang kelihatan, sebab tidak semua hal spektakuler adalah mujizat.

Lalu apa itu Mujizat? Saya setuju dengan definisi seorang teolog bernama Richard R. Purtill dalam bukunya Defining Miracles. Ia menulis begini, “A miracle is an event in which God Temporarely makes an exception to the natural order of things to show God is acting  (Mujizat adalah sebuah peristiwa dimana Allah secara sementara membuat perkecualian terhadap aturan-aturan dari hal-hal secara alamiah untuk menunjukkan bahwa Allah sedang aktif bekerja).

Itu berarti tidak setiap hari harus ada mujizat, tidak semua doa diselesaikan dengan mujizat, tidak setiap tantangan iman harus diselesaikan dengan perkecualian-perkecualian tertentu bernama mujizat.

Jadi, bukan Allah memelihara dunia ini dengan mujizat setiap hari namun yang paling sering terjadi dalam hidup beriman kita adalah Pemeliharaan Allah atau Proveindensia Dei. Dan bacaan hari ini adalah contoh bagaimana Allah memelihara hamba-Nya Paulus dalam bahaya.

Dalam bacaan ini kita membaca bagaimana Allah memakai Rasul Paulus untuk memelihara iman semua orang di atas kapal itu. Rasul Paulus menyuruh mereka makan dan menjadi kuat, supaya ketika tiba saat menyelamatkan diri, 276 orang itu telah siap menghadapinya. Ia mencegah orang melarikan diri, ia menguatkan mereka dengan nasihat-nasihat dari Allah. Dalam situasi genting dan kritis tentu akan ada banyak tekanan mental, ada yang stress, nekad, putus asa, pasrah bahkan saling mempersalahkan. Namun penguatan dari Tuhan telah menjadikan mereka mengalami pemeliharaan dari Allah bagi semua orang di atas kapal itu.

Secara khusus disebutkan bahwa karena Paulus adalah pelayan Tuhan, maka Tuhan mau memelihara semua penumpang kapal. Betapa besarnya perhatian Tuhan bagi kita. Kita adalah sarana pemeliharaan Allah bagi sesama dan alam semesta. Allah memelihara dunia ini melalui orang-orang percaya. Seperti janji Tuhan kepada Abraham, bahwa melalui orang percaya orang-orang lain diberkati, demikian juga halnya pemeliharaan Allah terjadi bagi banyak orang melalui kehadiran orang percaya disekitar orang-orang putus asa, lemah, nekad, pasrah dan kehilangan rasas percaya diri.

Jadi dari nats hari ini kita dapat menarik kesimpulan:

Pertama. Percayalah pada pemeliharaan Allah. Dalam situasi apa pun Allah selalu memelihara kita. Pemeliharaan itu tidak selalu terjadi karena mujizat. Mujizat itu hak Allah menurut waktunya Allah juga. Kita percaya bahwa dunia yang rusak ini masih dipelihara Allah. Maka jangan kita menambah lagi kerusakan itu. Allah mau memelihara alam semesta melalui karya-karya kita yang berpihak kepada alam yang sekarat ini. Contohnya: mari kita jaga alam ini, mari kita jaga persekutuan kita, mari kita jaga kebersihan di musim hujan supaya jangan banjir, mari kita bersihkan selokan-selokan supaya bebas sampah, pelihara tanaman yang sudah tumbuh di musim hujan ini.

Kedua. Kita belajar untuk juga menjadi alat pemeliharaan Allah bagi sesama. Situasi buruk selalu terjadi di sekitar kita. Namun mari jadi alat pemeliharaan Tuhan bagi orang lain. Ada banyak orang yang menanti jamahan Tuhan melalui kehadiran orang-orang Kristen. Jadi jangan jadi orang Kristen yang hanya berdiam diri, rajin berdoa, rajin ibadah, tapi tidak berkarya apapun di tengah-tengah masyarakat. Sudah saatnya kita pergi kepada dunia ini jadi menjadi berkat bagi mereka semua. Caranya, jadilah orang yang memberikan sukacita, temanilah orang susah, peduli kepada saudara yang lemah, layani orang-orang berkebutuhan khusus di sekitar kita, peduli dan ramah kepada kelompok rentan. Tuhan Yesus memelihara kita semua. Amin. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *