Kelahiran Yesus dan KIA (Lukas 2:1-7) – Pdt. Melkisedek Sni’ut

www.sinodegmit.or.id, Sejak tahun 2015, sebelum isu stuntingmenjadi sorotan, pemerintah Propinsi NTT serius memperhatikan masalah KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Hal ini dilakukan untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak yang cukup tinggi. Saat yang paling rentan terhadap masalah kematian ibu dan anak adalah proses melahirkan. Itu sebabnya setiap ibu hamil diwajibkan untuk memeriksakan kandungannya sebulan sekali. Dengan demikian jika ada hal-hal yang berpotensi menjadi gangguan kesehatan bagi ibu maupun bayi dalam kandungan maka akan diantisipasi sebelumnya.

Lalu apabila telah datang saatnya untuk melahirkan, diwajibkan pula untuk melahirkan di fasilitas kesehatan yang ada dan ditangani oleh tenaga medis yang berpengalaman. Ibu hamil dilarang melahirkan di rumah sendiri. Apalagi kalau hanya ditangani oleh dukun-dukun yang tidak memenuhi standar kesehatan. Hal ini karena berpotensi mengakibatkan kematian yang tidak perlu pada ibu dan anak. Jadi pemerintah membuat aturan soal ibu yang mengandung, melahirkan dan menyusui untuk menekan angka kematian ibu dan anak.

Jika pada saat ini KIA sudah menjadi perhatian pemerintah, tidak demikian pada zaman Yesus lahir. Ketika Maria mengandung, belum ada kader Posyandu. Maria tidak punya KMS (Kartu Menuju Sehat). Tidak ada kewajiban bagi Maria agar setiap bulan memeriksakan kandungan ke Posyandu. Tidak ada kebutuhan untuk USG ke dokter kandungan.

Yang Maria lakukan ketika mengandung adalah berkunjung ke rumah Elisabet. Saat Maria baru mengandung, kandungan Elisabet sudah enam bulan (Luk. 1:36). Di rumah Elisabet, Maria tinggal tiga bulan lamanya (Luk. 1:56). Sebagai sesama ibu hamil, keadaan Maria dan Elisabet sangat berbeda. Jika Maria belum berharap untuk hamil, Elisabet justru sudah berhenti berharap. Tetapi baik yang belum maupun yang sudah berhenti berharap sama-sama diberikan harapan baru oleh Tuhan. Karena itu mereka bisa mengandung. Hal yang tidak mungkin pun Tuhan buat menjadi mungkin.

Jika di awal kehamilannya, Maria berkunjung ke rumah Elisabet, di akhir kehamilannya pun dia berkunjung lagi. Kali ini kunjungan dilakukan bersama Yusuf atas perintah Kaisar Agustus. Kaisar Agustus mengadakan sensus penduduk dalam wilayah kekaisarannya. Tujuannya untuk mengetahui potensi jumlah pajak, tenaga kerja dan laki-laki produktif yang bisa menjadi tentara ketika dibutuhkan. Akibat perintah tersebut, Maria dan Yusuf harus berangkat ke Betlehem untuk disensus di sana karena mereka orang Betlehem.

Apabila dibandingkan maka akan terlihat bahwa jika ibu-ibu hamil zaman sekarang rutin berkunjung ke posyandu maka ketika Maria mengandung, dia berkunjung ke Elisabet pada awal kehamilannya dan ke Betlehem pada akhir kehamilannya. Kunjungan ke Elisabet adalah kunjungan keluarga. Sedangkan kunjungan ke Betlehem adalah kunjungan karena kewajiban dari pemerintah.

Hal lain yang bisa dibandingkan yaitu pada saat melahirkan. Tidak ada bidan atau dokter yang membantu persalinan Maria. Hanya ada Yusuf, suaminya, yang menolongnya pada saat itu. Maria juga tidak melahirkan di fasilitas kesehatan seperti Polindes, Puskesmas, apalagi rumah sakit kelas VIP. Bahkan dia juga tidak melahirkan di dalam rumah. Maria melahirkan dalam kandang.

Saat itu pun tidak ada perlengkapan melahirkan yang tersedia. Tidak ada loyor, kain panas atau stagen untuk Maria. Untuk membungkus Bayi yang baru lahir, mereka menggunakan kain lampin.  Tidak ada juga boxbayi atau tempat tidur bayi yang nyaman. Untuk meninabobokan Bayi yang baru lahir, mereka membaringkannya di dalam palungan.

Apakah karena persiapan kelahiran dan fasilitas yang terbatas itu membuat Maria dan Bayi yang dilahirkannya mengalami gangguan kesehatan? Ternyata tidak! Setelah melahirkan, keadaan Maria baik-baik saja. Dia memang lelah, tetapi tidak lebih dari itu. Buktinya, ketika gembala-gembala datang, Maria bisa berpikir jernih sehingga menyimpan semua cerita gembala-gembala di dalam hati dan merenungkannya (Luk. 2:19). Keadaan Bayi yang baru dilahirkan pun baik-baik saja. Biarpun dibungkus dengan lampin dan dibaringkan di dalam palungan, Dia bisa tertidur lelap.

Pertanyaannya, mengapa dalam situasi kehamilan dan kelahiran yang serba terbatas, keadaan Maria dan bayi Yesus tidak mengalami gangguan KIA?

Banyak orang Kristen suka jawaban yang gampang yaitu karena Yesus adalah Anak Allah. Maria juga telah diurapi oleh Roh Kudus. Sebagai Anak Allah dan orang yang diurapi, pasti mereka dilindungi Allah sehingga jiwa mereka tidak terancam. Ini jawaban yang gampang karena tidak merangsang orang untuk berpikir. Akibatnya semua hal diserahkan ke dalam tanggung jawab Allah. Tidak ada partisipasi manusia. Padahal kita tahu bahwa Allah tidak mau bekerja sendiri. Dia selalu mengundang manusia untuk berpartisipasi dalam setiap karya-Nya.

Jika jawaban seperti ini tidak tepat, lalu yang tetapnya bagaimana? Kita bisa melihatnya dalam Lukas 2:1-7. Ada tiga alasan mengapa Maria dan Bayi yang dilahirkannya tidak mengalami gangguan KIA, padahal berada dalam situasi darurat pada saat melahirkan.

Pertama, Maria dan Yusuf menuruti apa yang pemerintah wajibkan (ayat 1-3). Terlepas dari sikap terpaksa atau tidak, Maria dan Yusuf menuruti perintah dari Kaisar Agustus. Sekali pun Maria hamil tua, namun karena diperintahkan untuk ikut sensus di kampung halaman, mereka pergi juga. Padahal kita tahu bahwa pada saat itu belum ada alat transportasi yang memadai. Ketika memberikan perintah sensus, Kaisar Agustus tidak tahu bahwa ada seorang ibu yang sedang hamil tua, istri dari tukang kayu, dan tinggal di Nazaret. Tetapi ketidaktahuan Kaisar Agustus itu dipakai Tuhan untuk menjalankan rencana-Nya. Dengan demikian Maria berangkat dari Nazaret ke Yerusalem.

Perjalanan yang panjang itu memberi andil bagi kelancaran Maria dalam melahirkan bayi Yesus. Di zaman sekarang, ibu-ibu yang hampir melahirkan diminta untuk banyak jalan kaki atau naik-turun tangga. Itulah yang Maria lakukan. Walaupun tidak ada Faskes (Fasilitas Kesehatan) dan Nakes (Tenaga Kesehatan), namun Tuhan pakai Kaisar Agustus untuk membuat Maria berjalan kaki dan naik-turun gunung. Hal itu membuat proses melahirkannya berjalan lancar.

Ini menunjukkan bahwa pemerintah dipakai Tuhan sebagai alat untuk membawa kebaikan bagi umat yang percaya kepada-Nya. Oleh karena itu apa yang pemerintah wajibkan mesti dituruti. Pemerintah bilang Bumil (Ibu Hamil) mesti rajin cek kehamilan di Posyandu, Bumil mesti melakukannya. Pemerintah bilang Bumil mesti makan makanan sehat dan bergizi maka mesti dituruti. Pemerintah bilang Bumil mesti melahirkan di Faskes dan dibantu oleh Nakes yang berkompeten maka mesti dituruti. Sebab semua itu dilakukan untuk kebaikan ibu dan anak itu sendiri.

Itu semua pemerintah lakukan untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak. Dengan begitu maka pemerintah menjadi alat di tangan Tuhan yang menolong ibu-ibu yang melahirkan agar ibu dan anaknya tidak mati sia-sia. Jadi, seperti Maria dan Yusuf yang taat pada Kaisar Agustus, keluarga dari Bumil pun mesti taat pada aturan pemerintah yang berhubungan dengan KIA.

Kedua,Yusuf menjadi pasangan SIAGA yaitu pasangan yang Siap Antar dan Jaga (ayat 4-5). Yusuf adalah pasangan dan ayah teladan. Sejak sebelum menikah pun Yusuf sudah menunjukkan keteladanannya. Sekali pun Maria hamil di luar nikah bukan dengan dia, namun dia tidak menceraikan Maria. Bahkan saat ke Betlehem pun, Yusuf dan Maria masih dalam status bertunangan. Tetapi hal itu tidak menghalangi Yusuf untuk melayani semua kebutuhan Maria yang ada dalam keadaan hamil tua. Maria dilindungi, dijaga dan dipenuhi semua kebutuhannya sepanjang perjalanan yang melelahkan itu. Dengan demikian pada akhirnya mereka berdua bisa tiba dengan selamat di Betlehem.

Apa yang Yusuf lakukan ini menjadi teladan bagi suami-suami yang punya istri yang sedang mengandung. Mereka mesti menjadi suami SIAGA. Kapan pun mereka mesti  siap untuk antar dan jaga istrinya agar semua kebutuhannya terpenuhi. Sebab ketika istri yang yang hamil dipenuhi kebutuhannya, maka kebutuhan anak dalam kandungan pun ikut terpenuhi. Anak-anak tidak hanya merasa dicintai oleh ayahnya hanya ketika sudah lahir saja. Perasaan dicintai itu mesti sudah diperoleh sejak dalam kandungan. Karena itu penting sekali para suami menjadi suami SIAGA sampai saatnya istrinya melahirkan. Sebab dengan demikian tindakan suami itu memberikan manfaat terhadap KIA.

Ketiga,Maria dan Yusuf tidak mengeluh sekalipun Maria melahirkan dalam situasi penuh keterbatasan (ayat 6-7). Mereka justru menjadi kreatif sehingga mengubah benda-benda tak terpakai agar bisa memberi manfaat. Kandang mereka ubah menjadi Polindes (Pondok Bersalin Desa). Kain lampin mereka ubah menjadi loyor untuk Bayi Yesus. Palungan mereka ubah menjadi box bayi. Selain tiga benda yang disebutkan dalam ayat-ayat ini, pasti ada benda-benda lain lagi yang diambil Yusuf dari sekitar kandang itu untuk memberi manfaat dalam proses kelahiran Yesus. Kreatifitas Yusuf dan Maria ini membuat Yesus yang dilahirkan dan Maria yang melahirkan sama-sama merasa nyaman. Manfaatnya ialah KIA dari Maria dan Bayi Yesus tidak terganggu.

Ini juga merupakan pelajaran yang ditunjukkan oleh Maria dan Yusuf. Memang, saat ini pemerintah sudah membuat banyak aturan supaya mengurangi gangguan kesehatan pada ibu dan anak. Tetapi sayangnya, pemerintah belum bisa menyediakan Faskes yang memadai dan Nakes yang cukup untuk semua golongan masyarakat.

Bagi anggota masyarakat yang tinggal di kota-kota besar, memang sudah ada Faskes dan Nakes yang siap membantu proses melahirkan. Tetapi di desa-desa dan kampung-kampung yang terpencil, hal itu sangat kurang. Bahkan masih banyak desa yang tidak memiliki Faskes sama sekali. Atau mungkin fasilitas kesehatan seperti Polindes, Puskesmas Pembantu (Pustu) sudah ada tetapi Nakesnya yang tidak ada. Mungkin juga pemerintah sudah menempatkan Nakes di tempat itu tetapi orangnya tidak mau ke situ karena berbagai alasan.

Jika keadaannya seperti ini, tidak usah mengeluh. Seperti Maria dan Yusuf, kita mesti menjadi orang yang kreatif sehingga mengubah sarana, fasilitas dan orang-orang di sekitar menjadi bermanfaat bagi ibu yang melahirkan. Dengan demikian angka kematian ibu melahirkan dan bayi akan dikurangi. Tetapi mesti diingat bahwa hanya jika Faskes dan Nakes tidak ada maka kita memakai apa yang ada. Sebaliknya, jika itu semua sudah tersedia, kita harus menggunakannya.

Ini pun kita lihat pada Maria dan Yusuf. Yusuf dan Maria memanfaatkan kandang, kain lampin dan palungan karena memang tidak ada penginapan, kain bersihdan boxbayi. Seandainya ada, mereka pasti menggunakannya. Hanya karena tidak ada makanya mereka pakai apa yang ada. Hal ini mengajarkan kita agar menggunakan apa pun yang tersedia di sekitar kita agar memanfaatkan setiap sarana dan fasilitas yang ada di sekitar kita dengan maksmial.

Cerita kelahiran Yesus memiliki banyak sisi. Salah satunya adalah dalam kaitannya dengan KIA. Semoga ini menyadarkan orang Kristen akan pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak. Tuhan memberkati. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *