Diutus Bersama untuk Memberitakan Damai Sejahtera (Lukas 10: 1-12 dan 10: 17-20) – Pdt. Frans Dillak, M.Th.

www.sinodegmit.or.id., Lukas 10 menempatkan para murid Kristus dalam rangkaian realita proses dipanggil, dipilih, diperlengkapi dan diutus. 70 orang murid yang dipilih tersebut diutus untuk mewujudkan visi pemberitaan Kerajaan Allah sudah dekat. Para murid diutus dalam konteks yang sarat tantangan. Ayat 3 mengibaratkan tugas perutusan tersebut bagaikan “domba yang diutus ke tengah-tengah serigala”. Berisiko dan berbahaya. Betapa tidak! Pada bagian sebelumnya, Pasal 9 memberi informasi kepada kita bahwa Herodes sementara berada dalam krisis kepemimpinan dan merasa cemas akan pergerakan para murid Kristus. Herodes berupaya untuk mencari tahu dan bertemu dengan Yesus, setelah sebelumnya ia telah membunuh Yohanes Pembaptis karena alasan yang sama. Tantangan ini menjadi konteks perutusan ke-70 murid.

Pada konteks demikian para murid diutus untuk mewujudkan visi pemberitaan damai sejahtera Allah dari satu tempat ke tempat yang lain. Visi pemberitaan ini dicapai melalui misi yang harus dilakukan oleh ke-70 murid yang diutus tersebut. Misi mereka adalah:

  1. Pergi ke tempat perutusan secara berpasang-pasangan. Berjalan dalam misi yang saling menopang. Satu tim yang terdiri dari dua orang mengisyaratkan “pundak” yang saling menopang dalam tugas perutusan.
  2. Pergi ke rumah-rumah warga. Para murid bukan diutus pergi ke sinagoge-sinagoge atau ke rumah ibadah, tetapi diutus ke rumah-rumah tinggal. Rumah tinggal mengandaikan suatu kondisi di mana seseorang hidup pada konteks hidup sehari-hari. Pada konteks yang demikian para murid diutus agar benar-benar bersentuhan dengan kondisi dan kebutuhan hidup keseharian.
  3. Tetap pergi sekalipun mungkin ditolak. Para murid yang diutus diingatkan bahwa sekalipun kabar baik yang mereka beritakan, tetapi kemungkinan untuk ditolak tetap ada. Jika mereka menghadapi penolakan maka mereka bertindak dengan sungguh-sungguh seperti yang diperintahkan Sang Pengutus.
  4. Setia berharap pada Kristus. Dalam tugas perutusan, para murid sejak awal telah diingatkan tentang tantangan dan kemungkinan penolakan. Ini pergumulan perutusan murid Kristus. Namun satu hal yang pasti adalah penyertaan Tuhan sebagai sumber kekuatan mereka. Sejak awal mereka telah diingatkan dalam ayat 4 agar jangan mengandalkan kemampuan diri (dalam perikop/ayat 4 diwakilkan dengan peringatan agar jangan membawa pundi-pundi, bekal atau kasut).
  5. Jangan “besar kepala” jika tugas perutusan berhasil dilaksanakan. Karakter pelayan yang tetap setia pada tugas perutusannya akan membuat ia tetap ada pada orientasi perutusan yang sebenarnya. Keberhasilan dalam melaksanakan tugas semata hanya merupakan anugerah dari Sang Pengutus.

Diutus Bersama: Bekerja Sama dan Kerja Bersama

Para murid diutus sebagai utusan yang missioner. Dalam melaksanakan misi tersebut para murid harus dapat untuk menunjukkan karakter mampu bekerja sama, tetapi juga kerja bersama-sama. Dua idiom ini penting dalam menjalankan tugas perutusan. Kerja bersama dan bekerja sama menjadi kekuatan dari para murid untuk mengatasi berbagai tantangan yang menjelma dalam bentuk penolakan, intimidasi, penindasan, dan lain sebagainya. Seorang utusan harus mengatasi persoalan-persoalan dalam konteks perutusannya melalui penguatan kapasitas dan kualitas karakter utusan yang setia serta taat kepada Sang Pengutus.

Terkait dengan konteks perikop yang memberi informasi tentang para murid yang diutus berpasang-pasangan memberi penekanan makna yang kuat bahwa mereka yang diutus harus saling “memberi pundak” dalam melaksanakan misi perutusannya. Selain itu, mereka yang diutus berpasang-pasangan membuka ruang untuk melakukan check and balance. Mereka tidak saja saling menopang, tetapi juga saling mengingatkan. Utusan yang berjalan bersama (sunhodos) berorientasi membentuk sebuah superteambukan bertindak sendiri-diri seperti superman.

Kerja dalam tim membutuhkan kolaborasi, bukan sebagai sebuah kompetisi, untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah dalam sebuah pemerintahan Kristus (Kristokrasi). Tim yang saling bekerja sama dan selalu kerja bersama memungkinkan panggilan perutusan tersebut dapat dilaksanakan dengan penuh ketaatan kepada Sang Pengutus.

Pemberita Damai Sejahtera: Berkarakter Loyal, Bertanggung jawab dan Mitigatif

Perikop kitab suci yang kita renungkan memberi pesan iman yang kuat bahwa murid yang diutus dengan misi khusus oleh Tuhan Yesus harus memiliki karakter loyal, bertanggung jawab dan mitigatif. Berkarakter loyal memberi pesan tentang siapa sebenarnya diri seorang utusan: ia hanyalah utusan yang mengerjakan tugas dari Sang Pengutus, tidak lebih dan tidak kurang.

Karakter bertanggung jawab dalam perikop ini memberi pesan melalui tugas yang diembankan pada pundak sang utusan dikerjakan hingga tuntas. Ketika ia diminta untuk pergi maka ia akan pergi dan melaksanakan perintah dari Sang Pengutus secara utuh. Ia akan menyelesaikan tugas tersebut. Perikop kedua dalam pembacaan ini memberi informasi tentang para murid yang diutus tersebut kemudian menyelesaikan tugasnya dan pulang melaporkan kepada Sang Pengutus.

Karakter yang ketiga adalah utusan yang mitigatif. Hal ini memiliki makna bahwa utusan tersebut memiliki mekanisme dalam dirinya untuk tetap tangguh saat ia menghadapi tantangan yang menghampiri. Seperti “domba yang diutus ke tengah-tengah serigala” mewajibkan seorang utusan untuk tetap mempertahankan karakter dombanya, tetapi juga memperjuangkan eksistensi perutusannya. Ia harus dapat mengantisipasi tantangan-tantangan yang mungkin muncul.

Utusan yang Tangguh Tantangan dan tak Besar Dibuai Angin Keberhasilan

Perikop perenungan yang terbagi dalam dua perikop utama memberi pesan tentang kedua hal ini: utusan yang tangguh tantangan dan tak besar dibuai angin keberhasilan. Utusan yang tetap tangguh menghadapi tantangan hanya dapat dimungkinkan jika sang utusan betul-betul mengandalkan wibawa Sang Pengutus dalam melaksanakan tugas perutusannya. Dalam konteks ke-70 murid yang diutus ke tengah-tengah konteks pelayanan yang penuh tantangan; mereka hanya akan dapat bertahan jika mereka mampu tetap terpaut kepada Sang Pengutus, Kristus itu sendiri.

Kristus menganugerahkan kuasa kepada sang utusan agar dapat “menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh” (ayat 19). Setiap utusan (yang telah dipanggil dan dipilih) diperlengkapi dengan kuasa oleh Kristus. Kuasa inilah yang harus digunakan untuk bertahan menghadapi tantangan; bukan disalahgunakan untuk membesarkan diri sendiri.

Hal inilah yang kemudian diingatkan oleh Kristus kepada para murid yang berhasil pulang setelah melaksanakan tugas perutusannya. “Namun demikian, janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di sorga” (ayat 20). Keberhasilan dalam melaksanakan tugas perutusan janganlah membuat seorang utusan kemudian kehilangan orientasi perutusannya. Keberhasilan dalam melaksanakan tugas perutusan hanyalah semata merupakan anugerah Allah yang telah memanggil, memilih, memperlengkapi dan mengutusnya. Hal inilah yang harus menjadi karakter seorang murid yang diutus: tantangan tidak akan melemahkan prinsip pengutusannya sementara keberhasilan tidak akan menghilangkan karakter setia dan rendah hati seorang utusan.

Penutup: GMITpun Adalah Murid yang Diutus

Sebuah pertanyaan muncul dalam refleksi terhadap perikop ini: Apakah GMIT juga adalah satu dari “70 murid yang diutus”? Pertanyaan ini patut dijawab dengan refleksi yang dalam. Siapakah GMIT? Ini menjadi pertanyaan yang perlu dijawab terlebih dahulu. GMIT pada dasarnya adalah organisme dan juga organisasi secara prinsipil juga merupakan murid Kristus yang sementara diutus ke tengah-tengah dunia dalam konteksnya. Tantangan juga sementara dan terus menerus dialami serta dihadapi GMIT dalam melaksanakan panggilan missionernya.

Dalam perihal demikian, tantangan tidak boleh memadamkan “api semangat” perutusan dan keberhasilan tidak boleh membuat seorang utusan kehilangan karakter perutusannya. Baik tantangan maupun keberhasilan harus ditatakelola secara baik agar tugas perutusan yang diemban dapat dilaksanakan dengan berintegritas; hingga Kristus berujar: “Aku melihat iblis jatuh seperti kilat dari langit”.

Belajar dari perikop perenungan ini, masing-masing stakeholders GMIT sebagai murid yang diutus juga harus mengembangkan pola perutusan yang harus mampu bekerja sama dan kerja bersama dengan mempertahankan karakter setia dan taat, bertanggung jawab dan mitigatif, dalam perjalanan bersama mewujudkan tanda-tanda Kerajaan Allah di tengah-tengah konteks pelayanannya sebagai visi GMIT. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *