Pesan Persidangan ke-52 Majelis Sinode GMIT

Foto bersama peserta Sidang Majelis Sinode ke-52 Tahun 2024
Foto bersama peserta Sidang Majelis Sinode ke-52 Tahun 2024

www.sinodegmit.or.id, Persidangan Majelis Sinode ke-52 ini berlangsung dalam ungkapan syukur kepada Tuhan yang terus menyertai gereja-Nya, Gereja Masehi Injili di Timor. Persidangan yang berlangsung dalam nuansa Perayaan Minggu Sengsara 4–8 Maret 2024 membawa kita dalam permenungan akan kesengsaraan Kristus. Penderitaan Kristus adalah kebenaran yang menginspirasi dan menjiwai persidangan ini untuk semakin memahami hakikat diri sebagai gereja.

Kita menyadari bahwa Gereja bukanlah institusi manusia, melainkan penciptaan oleh Firman Tuhan. Gereja ada karena panggilan dan inisiatif ilahi, bukan karena keinginan atau usaha kita. Ini mengajarkan kerendahan hati dan ketergantungan kita pada Tuhan dalam segala karya gerejawi kita. Persidangan ini sekaligus menjadi langkah awal bagi kepemimpinan GMIT periode 2024–2027, baik di lingkup sinodal, klasis maupun jemaat. Tuhan yang memilih, Ia jugalah yang akan memberikan hikmat dan kuasa dalam pelayanan kepemimpinan ke depan.

Persidangan berlangsung dalam suasana keprihatinan terhadap sejumlah persoalan yang akan menjadi agenda besar periode ini. Sekolah-sekolah GMIT yang berjumlah 596 sekolah sedang tidak baik-baik saja. Dana pendidikan 2% belum mampu menjawab persoalan pendidikan GMIT yang kompleks. Pada saat yang sama, kita berupaya mencari solusi dengan melirik pada aset yang kita miliki. Kita mesti menemukan cara yang tepat untuk memberdayakan aset-aset GMIT. Tantangan yang juga menguras energi ialah bagaimana menata ulang semua sumberdaya GMIT, termasuk yayasan-yayasan milik GMIT. Dalam rentang waktu yang panjang dan melelahkan, kita terbiasa melayani di sudutnya masing-masing. Sudah saatnya kita berkomitmen bersama agar semua sumberdaya ini berada dalam satu derap langkah. Demikian pula aspek manajemen dan organisasi sebagai penggerak roda pelayanan perlu ditata, terutama dengan menumbuhkan “karakter Kristus” di lingkup jemaat, klasis, dan sinodal. Selain itu, kita juga perlu memikirkan keberlanjutan GMIT Center serta pembangunan kantor sinode yang daya tahannya hanya 10 tahun ke depan.

Secara eksternal, kita baru saja usai melaksanakan pemilu. Kita bersyukur sebagai bangsa karena mampu melewati pesta rakyat ini. Proses ini akan menghasilkan para pemimpin bangsa ke depan. Sementara perubahan cuaca akibat El nino yang melanda beberapa wilayah NTT tidak hanya berdampak pada resiko gagal tanam dan gagal panen, namun juga berupa hujan ekstrim disertai angin kencang. Belum lagi harga bahan pokok yang merangkak naik seperti kenaikan harga beras. Semua persoalan di atas, bersama sejumlah persoalan lain membutuhkan perhatian dan kepedulian kita selaku gereja.

Bagaimana GMIT menjalani semua situasi itu? “Lakukan keadilan, cintai kesetiaan dan hidup rendah hati di hadapan Tuhan (Band. Mikha 6:8). Firman Tuhan yang digemakan Nabi Mikha ini merupakan tema periodik yang menjiwai seluruh karya pelayanan kita menghadapi konteks yang menghadang. Teks ini menunjukkan adanya krisis politik dan spiritual. Selain itu, sub tema: “Hormati Tuhan, berlaku adil, jaga keutuhan bangsa untuk damai sejahtera negeri (Mzm 85:9-14), memberi panduan operasional bagi perumusan pelayanan di tahun 2024. Sub tema ini menekankan pentingnya aktivitas dengan mengandalkan “talenta” yang kita miliki.

Melalui Persidangan Majelis Sinode ke-52 tahun 2024 ini, kami menyampaikan pesan sidang sebagai berikut:

  1. Iklim yang berubah, gagal tanam dan gagal panen hendaknya dijalani dengan berhikmat. Setiap jemaat mesti membangun kesadaran ketahanan pangan. Kita perlu menyiapkan lumbung pangan jemaat untuk menghadapi perubahan ini. Pengalaman kekeringan di masa lampau serta terjangan dua badai besar, yakni Covid-19 dan badai siklon Seroja, kiranya menolong kita menghadapi badai berikutnya bersama Tuhan.  
  2. Sebagai bagian dari pergumulan kebangsaan, kita bersyukur telah melewati Pemilu. Marilah menjaga perdamaian dan hindarilah keretakan pasca pemilu. Tetaplah fokus untuk terus memahami diri sebagai keluarga Allah. Kita juga mendoakan agar Tuhan memberi hikmat dan kemampuan bagi para pemimpin bangsa yang terpilih untuk menjalankan tugasnya dengan baik.
  3. Kami mengajak semua lingkup pelayanan untuk menggerakkan dan memberdayakan sumberdaya dan aset gereja guna menjawab persoalan pendidikan, pengembangan sumber daya manusia dan pergumulan sekolah-sekolah GMIT.

Demikian pesan persidangan ini. 

Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun (Mazmur 133:1).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *