Penyertaan Tuhan di Sepanjang Perjalanan*  – Pdt. Dr. Ira Mangililo

Pdt. Ira Mangililo memimpin kebaktian pembukaan rapat tahunan gereja-gereja pembina STFT INTIM.

Ulangan 31:7 Lalu Musa memanggil Yosua dan berkatakepadanya di depan seluruh orang Israel: “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan masuk bersama-sama dengan bangsa ini ke negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyang mereka untuk memberikannya kepada mereka, dan engkau akan memimpin mereka sampai mereka memilikinya. 31:8 Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertaiengkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau;janganlah takut dan janganlah patah hati.”

Ratapan3:22 Tak berkesudahan kasih setiaTUHAN,tak habis-habisnyarahmat-Nya, 3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya. 3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

Ibu, bapa, saudara/i yang terkasih, pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada panitia yang memberi kepercayaan kepada saya untuk memimpin ibadah pembukaan kegiatan Sidang Tahunan Pimpinan Gereja/Sinode Pendiri/Pembinadari Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Indonesia Timur di Makassar yang akan berlangsung selama 4 hari ke depan. Salam hangat saya berikan kepada Ibu Kepala Rektor STT INTIM, Pdt. Dr. Lidya K. Tandirerung, MA., M.Th, bersama dengan seluruh dosen yang merupakan mitra dan sahabat kami di Pascasarjana UKAW. Di tahun 2022, kami mendapat kesempatan untuk melakukan studi banding ke STT INTIM dan kami disambut sebagai saudara dan menikmati berbagai momen kebersamaan yang akan kami kenang seumur hidup. Mengingat STT INTIM berarti mengingat para sahabat yang penuh kasih dan keramahtamahan. Besarlah harapan kami bahwa kerjasama dan kebersamaan yang telah terawat dengan baik di antara STT INTIM dengan UKAW saat ini dapat terus berlanjut. Di hari ini, kita merasakan sukacita yang luar biasa karena Gereja Masehi Injili di Timor diperkenankan untuk menjadi tuan dan puan rumah menyambut kehadiran ibu, bapa, Pimpinan Gereja/Sinode Pendiri/Pembina.

Ibu, bapa, saya akan mengawali khotbah ini dengan mengajak kita untuk melihat kembali perjalanan kita selama ini sebagai lembaga pendidikan tinggi yang mendidik calon-calon pelayan Tuhan yang berkontribusi dalam berbagai konteks kehidupan. Apa artinya menjadi sekolah tinggi teologi di masa yang ditandai dengan perubahan-perubahan yang sangat cepat ini? Tantangan-tantangan apa saja yang kita hadapi sebagai sekolah tinggi teologi?

Saya melihat ada paling kurang ada empat tantangan terhadap pendidikan teologi saat ini di Indonesia khususnya di bagian Indonesia Timur. Pertama, saya akan memulai dengan menyoroti tantangan yang kita hadapi terkait dengan adanya tingkat kemajuan teknologi yang sangat besar di dunia. Pendidikan teologi di wilayah kita harus berkembang secara teknis agar dapat mengimbangi kemajuan pesat dalam teknik pengumpulan, pelestarian, dan pemanfaatan informasi. Kita hidup di dunia elektronik dan digital. Komputer telah menggantikan pena dan kertas; layar telah menggantikan papan tulis; dan buku serta majalah digital tersedia bagi kita dalam jumlah ribuan dan puluhan ribu—bahkan, seluruh perpustakaan didigitalkan dan disimpan dalam perangkat kecil. Kemudahan dan kecepatan mendapatkan informasi, buku, dan majalah sungguh menakjubkan. Komunikasi dan pertukaran informasi antara institusi dan individu tidak ada batasnya. Pembelajaran jarak jauh dan pembelajaran melalui komunikasi elektronik telah mengubah bentuk pendidikan tradisional berdasarkan keberadaan geografis dan fisik dalam satu tempat dan satu ruangan. Dan daftarnya terus bertambah.

Dunia sedang berada di tengah-tengah revolusi nyata dalam bidang teknologi informasi. Pendidikan teologi pun tidak dapat menghindari kemajuan dan perubahan besar-besaran di bidang teknologi, sehingga harus beradaptasi dan menyesuaikan diri serta mengambil manfaat yang sebesar-besarnya. Ini merupakan tantangan besar yang dihadapi pendidikan teologi pada abad kedua puluh satu, tidak hanya di konteks Indonesia Timur saja namun juga di dunia secara keseluruhan. Namun kita harus menyadari bahwa tantangan ini—yakni, mengimbangi kemajuan dan perubahan di bidang teknologi informasi—melibatkan bahaya lain yang sama pentingnya: kecenderungan untuk terkesan dan terobsesi oleh sejumlah besar orang, (YouTuber, influenser, dll), kecepatan, teknologi, gambar, dan informasi—dan tenggelam di dalamnya. Bahaya dalam pendidikan saat ini, dan tidak hanya dalam pendidikan teologi, adalah menjadi terlalu terkesan dan peduli dengan sarana elektronik seolah-olah itu adalah tujuan akhir.

Alister McGrath, seorang teolog kontemporer, mengatakan, “Kita merasa diliputi oleh tsunami fakta, yang tidak ada habis-habisnya bagi kita.” Di tengah kemajuan luar biasa di bidang teknologi informasi, kita harus mengingat dan menyadari, khususnya di bidang teologi bahwa informasi, betapapun melimpah dan beragamnya, bukanlah alternatif makna; bahwa pengetahuan, betapapun luasnya, bukanlah kebijaksanaan; dan bahwa semua kemajuan teknologi dan perubahan teknik tidak benar-benar memengaruhi cara kita berpikir tentang diri kita sendiri, cara kita memandang diri sendiri, dan cara kita berhubungan dengan orang lain dan Tuhan. Permasalahan mendasar ini, yang dihadapi oleh para pemikir dan teolog sebelum kita, tidak berubah seiring dengan perubahan dan perkembangan teknologi baru. Kita semua di bidang pendidikan teologi, dalam menghadapi hal-hal mendasar ini, masih menghadapi pertanyaan yang sama: “Bagaimana kita membaca sebuah teks, berpikir kritis, menulis dengan penuh pertimbangan.”

Tantangan kedua adalah tantangan lama dan baru—yaitu, bagaimana kita mengembangkan pendidikan teologi yang menggabungkan doa, intelektualitas, dan praksis. Doa yang saya maksud adalah apa yang kita sebut dengan pembinaan spiritualitas mahasiswa teologi. Seorang penulis patristik Timur, Evagrius Pontus, mendefinisikan seorang teolog sebagai berikut: “Seorang teolog adalah seseorang yang berdoa.” Mempelajari teologi pada dasarnya berbeda dengan studi lainnya karena ia mengasumsikan dan tentu melibatkan hubungan pribadi antara pelajar dan subjek kajian, antara pencari ilmu dan subjek pengetahuan—yakni, antara pelajar dan Tuhan, subjek dari teologi itu sendiri. Itu berarti bahwa pendidikan teologi tidak boleh mengabaikan unsur penguatan spiritualitas dari para pelayan yang dihasilkannya karena hanya dengan merawat kehidupan spiritualitas yang baik maka seorang pelayan mampu menghadapi berbagai tantangan perubahan jaman seperti yang telah saya ungkapkan di atas.

Di sini, menjadi seorang pelayanan yang berhati hamba adalah yang diperlukan di era ini. Namun, ibu, bapa, Komitmen kita terhadap Tuhan dalam tindakan kasih dan doa tidak berarti bahwa kita boleh membiarkan diri kita bermalas-malasan dalam keseriusan, ketajaman, dan profesionalisme keilmuan kita. Kita hendaknya tidak kalah kritisnya dengan peneliti atau pencari pengetahuan lain dalam disiplin akademis lainnya. Kami mencita-citakan pendidikan teologi yang tidak takut menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan dan berbahaya serta tidak mengasingkan diri untuk menghindari dialog dengan perkembangan terkini dalam teori atau gagasan pendidikan, sejarah, dan sosial. Pada saat yang sama, pendidikan teologi tidak boleh hanya dibatasi pada doa dan pengetahuan saja; lembaga ini harus berkomitmen pada praksis, yakni harus bertanggung jawab secara sosial.

Di NTT sendiri isu-isu mengemuka yang perlu ditanggapi secara serius adalah isu stunting, perdagangan orang, kemiskinan, keterbelakangan akibat kurangnya kesempatan pendidikan. Di sinilah sekolah-sekolah tinggi Teologi seperti STFT INTIM perlu bekerja keras mempersiapkan lulusan-lulusannya yang mampu bertindak secara bertanggung jawab untuk mencari solusi mengatasi isu-isu sosial tersebut. Upaya pemberdayaan ekonomi jemaat, pembenahan sekolah-sekolah Kristen baik dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah umum, dll perlu dipikirkan sebagai solusi. Untuk itulah pendidikan teologi harus secara sadar berusaha memperbarui dirinya sendiri, memperbaharui kurikulumnya. Inilah tantangan besar yang dihadapi pendidikan teologi hari ini yaitu harus menggabungkan doa, pemikiran, dan praksis.

Tantangan ketiga yang kita hadapi sebagai sekolah tinggi teologi di kawasan Indonesia Timur adalah keterlibatan kita dalam gerakan ekumenis, yang terdiri dari mereka yang yakin dan berkomitmen terhadap perlunya saling mendekatkan diri yang didasari oleh keterbukaan dan semangat persekutuan baik di antara sesama lembaga yang bergerak di dunia pendidikan teologi baik yang seasas maupun yang memiliki tradisi kekristenan yang berbeda maupun dengan rekan-rekan umat beragama lainnya. Ekumenisme sejati adalah rasa hormat, keterbukaan, dan penerimaan terhadap keberagaman dan keberagaman tanpa mengurangi integritas tradisi iman kita.

Dan ketantangan keempat yang tidak kalah penting bagi saya adalah isu ekologi, yang kini menjadi perhatian yang sangat-sangat penting bagi kita. Perubahan iklim yang menyebabkan cuaca yang tidak berubah, tahun ini sungguh-sungguh dialami oleh kami di NTT. Hujan yang biasanya 4 bulan sekarang kami hanya nikmati 2 bulan, sehingga kita terancam untuk tidak panen, kelaparan, dan lain sebagainya dan ini salah satu penyebabnya adalah karena perubahan iklim.

Terhadap semua tantangan tersebut, STFT INTIM telah berusaha sebaik-baiknya untuk terus berjalan dan terus menyatakan eksistensi dirinya. Perlu diakui bahwa perjalanan yang kita hadapi adalah perjalanan yang tidak mudah. Ibarat seperti bacaan kita di hari ini, Musa dan Yosua telah bersama bahu membahu memimpin bangsa Israel melewati berbagai tantangan guna membawa mereka ke tempat yang disediakan Tuhan bagi mereka.  Perjalanan kedua orang ini adalah perjalanan yang sulit. Dan perjalanan ini sebentar lagi akan terasa makin berat karena salah satu di antara mereka yaitu Musa akan segera menyelesaikan pekerjaannya dan meninggalkan Yosua yang akan berjuang seorang diri mengemban pekerjaan yang tidak ringan tersebut. Semua yang Musa sudah sudah ajarkan kepada Yosua merupakan modal penting baginya untuk terus berjalan tetapi setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Masing-masing pemimpin akan memikul bebannya sendiri-sendiri.  Dan tanpa dipungkiri Yosua juga pasti akan melewati perjalanan yang sulit itu. Jalannya panjang, banyak belokan yang berkelok-kelok. Kitapun saat ini memerlukan pengakuan jujur atas perjalanan berat kita, kesedihan kita, kelelahan kita, rasa sakit kita, luka kita, bekas luka kita, perjuangan kita. Dalam pelaksanaan program-program yang ada, ada yang kita berhasil selesaikan, namun ada juga yang belum berhasil kita tuntaskan. Mungkin ada yang menjadi program macet karena berbagai kendala seperti sumber daya manusia, keuangan, dll.

Di sinilah kita perlu bersyukur karena apapun itu sama seperti Musa dan Yosua kita tidak menyerah. Kita terus berjalan melangkah bersama. Musa yang senior tidak sungkan untuk berjalan dengan Yosua yang masih muda. Bahkan ia bermurah hati mengajarkan semua yang ia tahu karena ia tahu bahwa dirinya tidak akan ada selamanya untuk mengerjakan pekerjaan yang ada. Ia perlu mempersiapkan orang untuk menggantikannya di masa depan melanjutkan estafet kepemimpinannya. Dan bahkan, dalam perjalanan, ia menguatkan Yosua, memberi semangat dan pengharapan bahwa perjalanan yang dilakukan bersama Tuhan pasti berhasil. Untuk itu di hari ini saya ingin kita melihat muka-belakang, samping kiri dan kanan kita dan saling memberi apreasiasi karena kita semua masih ada di sini. Masih berdiri bersama, berjalan bersama. Dan di hari ini dengan penuh kebanggaan dan ucapan syukur menghargai semua pencapaian kita, program-program yang berhasil kita selesaikan, dan orang-orang yang bekerja keras untuk melaksanakannya. Tetapi di hari ini kita juga dengan penuh kerendahan hati mau mengakui bahwa ada yang belum terlaksana dan terkadang, hal terbaik yang bisa kami tawarkan adalah menempatkan satu kaki di depan kaki lainnya. Artinya bahwa kita membuat aba-aba untuk memulai langkah kita sebagai ikrar bahwa apapun yang terjadi kita tidak mundur. Kita sadar dan siap melanjutkan perjalanan. Dan semoga kita saling berpelukan dalam kasih karunia dan kebaikan di hari-hari sulit ini, meyakinkan satu sama lain akan kasih setia kita. Ini bukan berarti bahwa kita mencari-cari alasan untuk tidak memberikan yang terbaik sebagai pemimpin dan gereja, namun sebuah pengakuan bahwa kadang-kadang yang terbaik yang kita lakukan mungkin kurang dari yang kita inginkan, mengingat luka dan kelelahan yang kita alami. Kita dapat saling menawarkan kasih karunia ekstra atau hesed kepada satu sama lain.

Keyakinan iman ini ada karena kita percaya bahwa perjalanan sebagai sebuah lembaga tidak kita lakukan sendiri melainkan ada Yesus yang datang dan berjalan bersama kita. Yesus tidak menghindar ketika kita lelah, kesepian, bingung, berduka, terluka, terluka, kecewa, putus asa. Yesus menyertai kita di jalan. Kita mendengar suaranya yang mengobarkan kembali semangat kita dalam misi dan pelayanan, dalam penginjilan, dalam mempersiapkan calon-calon pelayan tangguh, dalam mencari sumber pendapatan untuk menopang semua kegiatan kita, dan sebagainya. Lebih lanjut, kehadiran Yesus bersama kita juga terus mengobarkan semangat kita untuk mencari keadilan, memperjuangkan komunitas yang damai dan sejahtera. Untuk itu melalui kegiatan yang akan diadakan beberapa hari ini kita sebagai komunitas iman akan bersama-sama lagi meletakkan kembali satu kaki kita di depan dan mengambil aba-aba untuk berjalan. Saya yakin bahwa setelah beberapa saat, langkah-langkah tentatif atau sementara kita akan menjadi sedikit lebih cepat, menjadi semakin kokok, mulai ada ritme, dan ketika hati kita membara, kaki kita mungkin mulai menari. Kita berada di jalan ini bersama Yesus yang menyertai kita dengan kasihNya yang selalu baru setiap pagi.

Hal ini sama seperti janji yang terdapat dalam Ratapan 3:22-23 bahwa, “Kasih setia Tuhan tidak pernah berhenti, belas kasihan-Nya tidak pernah berakhir; mereka baru setiap pagi; besarlah kesetiaanmu.” Baru setiap pagi. Itu berarti bahwa pekerjaan tetap berjalan meski ada kesulitan dan tantangan, karena yang baru setiap pagi adalah kasih Tuhan. Dan di dunia kita yang tegang dan penuh kekerasan, dengan tuntutan yang terus meningkat dengan cepat, di mana kata-kata kemarahan dan rasa frustrasi terlalu cepat berubah menjadi tindakan kekerasan, di mana rasa sakit hati berubah dengan mudah menjadi balas dendam yang kejam, kita percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang shalom, memanggil kita di dalam Yesus untuk menjadi pembawa damai, berlaku adil dan mencintai belas kasihan. Pekerjaan terus berjalan, dan kita ikut serta dalam pekerjaan itu, karena yang baru setiap pagi adalah kasih Tuhan. Selamat melanjutkan ziarah para pengembara Tuhan, selamat melakukan perjalanan yang penuh dengan rahasia di waktu yang akan datang. Yakinlah, bahwa Yesus berjalan bersama kita dan percaya, di lubuk hati, pikiran, dan jiwa yang paling dalam bahwa yang baru setiap pagi adalah kasih Tuhan. Dan kasih itu cukup untuk kita semua. Selamat bersidang ibu bapa para pemimpin yang dipilih dan diurapi Tuhan. Kasih dan rahmat Tuhan senantiasa memberkati dan menolong kita. Amin.

*Khotbah ini disampaikan pada kebaktian pembukaan rapat tahunan sinode/gereja-gereja pendiri/pembina Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Indonesia Timur (STFT INTIM) yang dilaksanakan di Jemaat Benyamin Oebufu-Kupang, 21 Maret 2024.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *