Gereja-Gereja Pembina/Pendiri Komitmen Dukung STFT INTIM Makasar

Peserta dan panitia rapat tahunan foto bersama MS GMIT di Gereja Benyamin Oebufu.

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Indonesia Timur (STFT INTIM) Makasar, menggelar rapat tahunan dengan gereja-gereja/sinode pendiri/pembina di Kupang, Kamis-Minggu, (21-24/3).

Rapat tahunan yang bersifat evaluasi tersebut, dihadiri oleh 12 dari 22 pimpinan sinode/gereja pendiri/pembina, antara lain: GMIST, GMIBM, GKPB, GKI Tanah Papua, GBKP, GKST, Gepsultra, GPM, Gereja Toraja, GMIT, GPIB, dan GKS.

Menurut Ketua STFT INTIM, Pdt. Dr. Lidya K. Tandirerung, semua peserta yang hadir menyatakan komitmen untuk mendukung lembaga pendidikan teologi tertua di Indonesia Timur tersebut.

Komitmen ini sangat dibutuhkan mengingat, kata Ketua STFT INTIM, di lingkup gereja-gereja pendiri/pembina juga telah berdiri lembaga pendidikan tinggi teologi. Oleh karena itu, diharapkan adanya rekomitmen dari ke-22 gereja pendiri/pembina untuk mendukung STFT INTIM dalam hal mengutus mahasiswa, tenaga pengajar, maupun dukungan finansial.

“Harapan kami gereja-gereja mensupport dosen dan mahasiswa. GMIT misalnya, kami catat bahwa dari 500an mahasiswa saat ini, sekitar 200an berasal dari GMIT, jadi hampir setengah,” ungkap Pdt. Lidya.

Menurut Ketua STFT INTIM, lembaga yang sebelumnya bernama Sekolah Tinggi Teologi INTIM ini, bisa dikatakan sebagai kampus Indonesia mini yang merepresentasikan sebuah laboratorium studi ekumenis. Latar belakang keragaman itu kemudian mendorong STFT INTIM untuk terus mempertahankan dan mengupayakan keunikan studi teologinya yang fokus pada studi kontekstual, interkultural, ekumenis, dan agama-agama.

Selaku tuan dan puan rumah kegiatan ini, Ketua Majelis Sinode (MS) GMIT, Pdt. Semuel Pandie, melalui suara gembala mengingatkan akan pentingnya penguatan kualitas pendidikan teologi guna mempertahankan relevansi teologi kristen di tengah masyarakat yang semakin pluralistik dan multikultur.

Menurutnya, para tamatan sekolah teologi bukan saja membawa serangkaian ilmu tetapi juga membawa pengalaman yang dapat memperkaya khasanah berteologi.

“Terima kasih untuk lulusan STFT INTIM Makasar yang berkarya luar biasa, yang memberi pengaruh dan perubahan positif dalam membentuk karakter Kristus di jemaat-jemaat GMIT,” kata Ketua MS GMIT pada kebaktian pembukaan yang berlangsung di Jemaat Benyamin Oebufu, Kamis, (21/3).

Kebaktian pembukaan dipimpin Pdt. Dr. Ira Mangililo.

Hal serupa juga ditegaskan oleh Pdt. Dr. Ira Mangililo, dalam khotbah pada kebaktian pembukaan tersebut. Menurut pengajar dari Pascasarjana UKAW Kupang ini, lembaga pendidikan teologi sangat membutuhkan penguatan spiritualitas dalam menghadapi tantangan iptek yang makin kompleks.  

Pdt. Ira mengajukan sebuah pertanyaan yang ia sebut sebagai tantangan lama sekaligus baru yakni: “Bagaimana  mengembangkan pendidikan teologi yang menggabungkan doa, intelektualitas, dan praksis?”  Mengutip penulis patriak timur Evagrius Pontus, yang mengatakan bahwa seorang teolog adalah seseorang yang berdoa, ia menegaskan, hanya dengan merawat kehidupan spiritualitas yang baik maka seorang pelayan mampu menghadapi berbagai tantangan perubahan jaman.

“Mempelajari teologi pada dasarnya berbeda dengan studi lainnya karena ia mengasumsikan dan tentu melibatkan hubungan pribadi antara pelajar dan subjek kajian, antara pencari ilmu dan subjek pengetahuan—yakni, antara pelajar dan Tuhan, subjek dari teologi itu sendiri. Itu berarti bahwa pendidikan teologi tidak boleh mengabaikan unsur penguatan spiritualitas dari para pelayan yang dihasilkannya karena hanya dengan merawat kehidupan spiritualitas yang baik maka seorang pelayan mampu menghadapi berbagai tantangan perubahan jaman.”

“Kami mencita-citakan pendidikan teologi yang tidak takut menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan dan berbahaya serta tidak mengasingkan diri untuk menghindari dialog dengan perkembangan terkini dalam teori atau gagasan pendidikan, sejarah, dan sosial. Pada saat yang sama, pendidikan teologi tidak boleh hanya dibatasi pada doa dan pengetahuan saja; lembaga ini harus berkomitmen pada praksis, yakni harus bertanggung jawab secara sosial,” ujarnya.

Foto bersama peserta dan panitia (alumni STFT INTIM) di taman Kantor MS GMIT.

Belajar dari kisah alih kepemimpinan Musa kepada Yosua, diakhir khotbahnya, Pdt. Ira mengajak 22 gereja pendukung serta civitas akademika STFT INTIM untuk mensyukuri dan terus percaya pada penyertaan Tuhan, saling menopang dan bekerja sama. (khotbah lengkap dapat dibaca di link:  https://sinodegmit.or.id/2024/03/26/penyertaan-tuhan-di-sepanjang-perjalanan-pdt-dr-ira-mangililo/).

STFT INTIM Makasar berdiri pada 13 September 1947. Sekolah ini memiliki akar historis dengan GMIT. Dalam buku sejarah GMIT, “Benih Yang Tumbuh 11”, disebutkan bahwa pada 1949-1952, GMIT membuka Sekolah Teologia I di So’E, yang menerima lulusan SMP atau SGB dengan masa studi empat tahun. Namun pada 1952, Sekolah Teologi So’E ditutup dan para siswa yang belum selesai dipindahkan ke STT INTIM Makasar. Pdt. Dr. Tom Therik, merupakan salah satu alumni dari sekolah ini.

Usai kebaktian penutupan pada Minggu, (24/3), seluruh peserta mengunjungi kantor MS GMIT. Rombongan diterima oleh Sekretaris MS GMIT, Pdt. Lay Abdi Wenyi.

Ketua Yayasan STFT INTIM Prof. Mathen Napang, menyampaikan terima kasih atas dukungan GMIT dalam pelaksanaan rapat tahunan ini, dan terutama dukungan dalam hal pengutusan dosen maupun mahasiswa. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *