Hidup Sebagai Alat Kebenaran-Nya (Roma 6:1-14) – Pdt. Melkisedek Sni’ut

www.sinodegmit.or.id, Tahun 2024 Paskah dirayakan dengan tema, “Hidup Sebagai Alat Kebenaran-Nya”. Ini tema nasional yang ditentukan oleh Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI). Memang, untuk setiap perayaan Natal dan Paskah, GMIT selalu mengikuti tema nasional yang ditentukan oleh PGI dan KWI (Konferensi Waligereja Indonesia).

Majelis Pekerja Harian PGI memberikan penjelasan tentang tema ini dalam Pesan Paskahnya. Pesan Paskah PGI menekankan kehidupan jemaat yang menjunjung tinggi etika kristiani. Kriterianya adalah kebenaran, kasih dan kebebasan untuk taat kepada perintah Allah. Sedangkan implementasinya yaitu hidup dalam kekudusan dan ketaatan kepada Allah. Itulah inti Pesan Paskah PGI. Selengkapnya dapat dibaca di website PGI (https://pgi.or.id).

Lalu bagaimana seharusnya tema ini dimaknai untuk menjawab pergumulan dalam konteks GMIT? Baiklah kita merefleksikannya sesuai nas ini.

Roma 6:1-14 dapat dibagi ke dalam dua bagian. Pertama,kematian dan kebangkitan kita bersama Kristus disimbolkan oleh baptisan (ayat 1-10). Baptisan bukan hanya suatu upacara penerimaan seseorang menjadi anggota gereja saja. Baptisan adalah sakaramen dengan makna yang sangat dalam.

Di liturgi Baptisan Kudus GMIT, pada bagian Berita Anugerah terdapat penjelasan begini, “…Dibaptiskan dengan nama Anak, memeteraikan bahwa Yesus Kristus menyucikan kita dari segala dosa kita; kita dikuburkan bersamanya ke dalam kematian-Nya, tetapi kemudian dibangkitkan dari antara orang mati dalam kebangkitan-Nya, supaya kita mempunyai suatu hidup yang baru…”. Jadi baptisan adalah simbol di mana orang yang dibaptis mengambil bagian dalam karya keselamatan Kristus.

Tetapi baptisan yang benar itu seperti apa? Apakah dengan cara percik atau selam? Bolehkah dibaptis ketika masih kanak-kanak atau hanya untuk orang dewasa saja? Apakah cukup satu kali atau bisa diulang?

Seharusnya semua pertanyaan ini tidak perlu diajukan oleh anggota GMIT. Mengapa? Karena setiap anggota GMIT yang setia pasti telah menyaksikan dan mengalami pelaksanaan sakraman Baptisan Kudus. GMIT melaksanakan pelayanan baptisan dengan cara percik, tetapi menerima cara siram dan selam. GMIT juga melayani baptisan di segala usia, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Karena menerima semua cara pembaptisan maka GMIT tidak menerima baptisan ulang. Jadi mereka yang telah dibaptis di gereja Katholik atau denomisasi lain dan hendak menjadi anggota GMIT tidak dibaptis lagi.

Sekalipun demikian, masih ada anggota GMIT yang mudah terpengaruh dengan ajaran dari luar GMIT tentang baptisan. Salah satu yang paling menghebohkan yaitu baptisan ulang dengan cara selam dalam KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) oleh pelayan GMS (Gereja Mawar Sharon) di Lapangan Polda NTT pada 16 Juni 2023. Hal ini terjadi karena kurangnya pemahaman tentang baptisan secara utuh. Untuk itu anggota GMIT perlu mengetahui asal usul baptisan.

Kata “baptisan” berasal dari kata “baptizo”(Bahasa Yunani) yang secara harfiah berarti menyelamkan, membenamkan ke dalam air, mencelup, atau membasuh. Dengan arti yang demikian, asal usul baptisan dapat ditelusuri dalam Perjanjian Lama. Di Keluaran 40:12-15, Musa diperintahkan Tuhan untuk membasuh Harun dan anak-anaknya agar mereka dan keturunannya menjadi imam bagi Israel. Di Imamat 16:4, 23-24, Harun juga diharuskan untuk membasuh diri sebelum dan sesudah mempersembahkan korban pada Hari Raya Pendamaian di Ruang Mahakudus dalam Kemah Pertemuan.

Para nabi juga memerintahkan umat untuk melakukan pembasuhan sebagai simbol pemurnian dan ketaatan kepada Allah. Salah satunya yaitu nabi Yesaya (Yes. 1:16-17). Perintah nabi-nabi diikuti oleh umat Israel. Mereka lalu membangun kolam-kolam pembasuhan di tempat ibadah.

Tradisi ini yang diteruskan oleh Yohanes Pembaptis. Dia mengajak orang Yahudi membasuh diri sebagai simbol pemurnian dari dosa dan ketaatan kepada Allah. Bedanya, jika sebelumnya pembasuhan dilaksanakan dalam kolam di tempat ibadah, Yohanes Pembaptis melakukannya di sungai Yordan (Luk. 3:1-22).

Yesus Kristus sendiri tidak pernah membasuh siapa pun (Yoh. 4:1-2). Biar pun begitu Yesus pernah menyuruh orang yang disembuhkan-Nya untuk membasuh diri. Hal ini dilakukan-Nya ketika menyuruh orang yang buta sejak lahirnya membasuh diri di kolam Siloam untuk menyempurnakan kesembuhannya (Yoh. 9:6-7).

Sesaat sebelum Yesus terangkat ke sorga, Dia memberi perintah kepada murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil dan membaptis orang-orang dari segala bangsa (Mat. 28:18-20). Sejak saat itu, murid-murid-Nya siap melaksanakan pembaptisan. Baptisan pertama terjadi pada hari Pentakosta. Pada saat itu ada kurang lebih tiga ribu orang yang dibaptis (Kis. 2:41). Pembaptisan dilaksanakan setelah orang banyak mendengar khotbah Petrus tentang Tuhan Yesus.

Mulai saat itu makna pembasuhan dalam Perjanjian Lama dengan pembaptisan sudah tidak sama lagi. Orang yang dibaptis pun tidak hanya orang dewasa saja. Anak-anak pun dibaptis. Memang, tidak ada ayat Alkitab yang secara langsung menunjukkan pembaptisan seorang anak. Tetapi ketika suatu keluarga menerima Yesus dan dibaptis, tidak ada yang dikecualikan. Itu berarti anak-anak dalam keluarga itu pun ikut dibaptis. Misalnya, baptisan terhadap keluarga Kornelius (Kis. 10:47-48).

Jadi orang-orang yang beranggapan bahwa baptisan harus dengan cara selam kepada orang dewasa setelah bertobat, sebenarnya masih memahami baptisan dengan cara pembasuhan seperti yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Karena itu mereka juga memelihara perintah Taurat seperti kewajiban sunat, makan makanan halal dan beribadah pada hari Sabat Yahudi (hari Sabtu). Padahal Tuhan Yesus sudah menggenapi semua yang tertulis dalam Perjanjian Lama.

Dengan penggenapan itu, baptisan menggantikan dan menyempurnakan sunat. Disebut menggantikan karena baptisan telah mengambil alih makna sunat sebagai meterai dan janji keselamatan untuk hidup kekal. Disebut menyempurnakan karena tradisi sunat terbatas. Hanya untuk anak laki-laki Yahudi saja. Sedangkan baptisan dapat diterima oleh semua orang; laki-laki maupun perempuan, Yahudi maupun bukan Yahudi, anak-anak maupun orang dewasa, hamba maupun orang merdeka, bangsawan maupun rakyat jelata, kaya maupun miskin dan sebagainya.

Inilah asal usul baptisan. Sekali pun berakar dalam tradisi pembasuhan menurut hukum Taurat, namun Tuhan Yesus telah menggenapi dan menyempurnakannya. Oleh karena itu sakramen baptisan yang orang percaya rayakan pada masa kini memiliki makna partisipasi manusia dalam karya keselamatan Allah melalui kematian dan kebangkitan Kristus.

Kedua,orang yang mengalami kuasa kebangkitan Kristus mesti hidup sebagai alat kebenaran Allah (ay. 11-14). Telah disebutkan bahwa setiap orang yang dibaptis telah menerima keselamatan. Tetapi apakah dengan demikian berarti ketika Tuhan Yesus datang kembali, semua orang Kristen pasti masuk surga? Belum tentu! Sebab surga hanya tersedia bagi orang-orang yang tetap menjaga ketaatan kepada Tuhan dan kekudusan hidupnya.

Proses untuk masuk ke surga seumpama orang yang bepergian dengan pesawat udara. Tidak seperti ojekdi mana penumpang membayar setelah diantar, untuk menumpang pesawat udara seseorang sudah harus membeli tiket sebelum naik pesawat. Semakin jauh hari pembelian tiket dengan hari keberangkatan, semakin murah harga tiketnya. Apabila tiket sudah di tangan, berarti ada jaminan bahwa sudah tersedia satu kursi di pesawat.

Tetapi memiliki tiket tidak berarti sudah berada dalam pesawat. Ada tiga syarat yang mesti dipenuhi dulu. Pertama,tidak terlambat check in.Sebab apabila terlambat, sekalipun pesawatnya masih ada di bandara, dia tidak bisa memasukinya lagi. Kedua,nama yang tertera di tiket dan KTP harus sama persis. Sebab kalau tidak sama, dia akan ditolak di meja check in. Ketiga, tidak boleh membawa benda-benda terlarang ke dalam pesawat. Itu bukan saja yang jelas-jelas berbahaya seperti narkoba, senjata api maupun bahan peledak. Benda-benda yang akrab dengan aktivitas sehari-hari seperti parfum botol bertekanan, pemantik gas, gunting kuku, pisau iris tuakdan lain-lain pun dilarang untuk dibawa ke kabin pesawat. Ketika benda-benda itu terdeteksi x-raymaka akan diminta untuk ditinggalkan di bandara. Orang yang tidak mau meninggalkan benda-benda itu beresiko ditahan sehingga tidak bisa masuk ke pesawat.

Surga seumpama pesawat udara. Sedangkan baptisan adalah tiketnya. Tiket itu diberi secara gratis oleh Tuhan Yesus kepada setiap orang yang percaya maupun ahli waris kerajaan. Ini tidak berarti bahwa tiket keselamatan itu murah. Justru sebaliknya, tiket itu sangat mahal karena hanya bisa dibayar dengan tubuh dan darah Kristus melalui penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Jadi kalau di agama lain, seseorang harus mengumpulkan amal sebanyak-banyaknya untuk bisa beli tiket masuk surga, dalam kekristenan Tuhan Yesuslah yang membayar dengan mahal tiket keselamatan itu dan kemudian diberikan dengan cuma-cuma kepada orang-orang yang mau menerima-Nya. Melalui baptisan, tiket keselamatan diperoleh.

Tetapi apakah dengan memiliki tiket keselamatan, seseorang terjamin 100% akan berada di dalam surga? Belum tentu! Seperti pesawat udara, setelah menerima tiket keselamatan setiap orang mesti memenuhi tiga syarat. Pertama,tidak boleh terlambat di hadapan Tuhan. Misalnya, tidak boleh terlambat melayani Tuhan. Tidak boleh terlambat menjadi saksi Injil. Tidak boleh terlambat berbuat baik. Tidak boleh terlambat mengasihi Tuhan dan sesama dengan tulus dan iklas. Tidak boleh terlambat bertobat. Tidak boleh terlambat memberi dan meminta maaf. Tidak boleh terlambat menjadi alat kebenaran Allah. Singkatnya, tidak boleh terlambat untuk hidup kudus dan taat kepada Tuhan karena kesempatan terbatas. Sebab kalau sudah terlambat maka ibarat nasi sudah menjadi bubur; tiket keselamatan yang kita miliki saat pembaptisan menjadi tidak berguna. Tiketnya hangus.

Kedua,seperti nama di tiket dan KTP yang mesti sama persis saat pemeriksaan tiket pesawat, setiap orang mesti datang langsung kepada Tuhan tanpa diwakili oleh siapa pun. Ketika berdoa, setiap orang harus angkat hati kepada Tuhan. Tidak bisa bilang karena yang mendoakan adalah pendeta, tim doa atau hamba Tuhan lalu tidak ikut berdoa sungguh-sungguh. Jadi kalau ada orang yang undang pendeta atau hamba Tuhan untuk ibadah syukur di rumahnya, tetapi ketika doa syafaat dia mengatur makanan di meja, doa syukurnya tidak Tuhan terima. Atau ketika ada orang tua yang memasukkan beban doanya untuk anak yang berulang tahun supaya pendeta mendoakannya di mimbar gereja tetapi anak yang  berulang tahun malah tidur nyenyak di rumah, Tuhan tidak memberkati anak itu. Karena itu sekali pun anak yang berulang tahun sedang kuliah di tempat lain, sebelum orang tua membawa nazar dan nama anaknya untuk didoakan, telepon untuk suruh anaknya supaya beribadah di gereja terdekat. Dengan demikian berkat Tuhan akan melimpah dalam dirinya. Ingat, yang Tuhan inginkan adalah setiap orang mesti datang langsung kepada-Nya tanpa diwakili oleh siapapun. Bagi yang suka diwakili ketika datang kepada Tuhan, tiket keselamatannya hangus.

Ketiga,seperti pesawat, ada juga hal-hal terlarang di surga. Itulah berbagai bentuk perbuatan dosa. Dosa yang dimaksud bukan saja dosa-dosa yang terlihat besar seperti pembunuhan, perselingkuhan, korupsi dalam jumlah milyaran atau kabar bohong/hoaks yang viral di mana-mana saja. Dosa-dosa yang dianggap sepele pun bisa menjadi penghalang bagi seseorang untuk masuk surga.

Seorang pembunuh berdarah dingin dapat membuatnya tidak masuk surga. Tetapi seseorang yang punya kebiasaan memaki atau mengucapkan kata-kata kotor pun dapat membuatnya tidak masuk surga. Seseorang yang berselingkuh selama bertahun-tahun bisa membuatnya tidak masuk surga. Tetapi seseorang yang mulai punya niat untuk menggoda istri atau suami orang pun dapat membuatnya tidak masuk sorga. Atau anak muda yang suka pacaran di tempat yang gelap dan sepi pun bisa membuat mereka tidak masuk surga.

Koruptor besar dengan jumlah milyaran memang terancam tidak masuk surga. Tetapi seorang tukang parkir motor yang setiap hari meminta bayaran tiga ribu Rupiah padahal harusnya hanya dua ribu Rupiah pun terancam tidak masuk surga. Provokator yang suka memicu kerusuhan dengan kabar hoaks terancam tidak masuk surga. Tetapi mama-mama yang tiap hari suka baku cari kutu sambil ngomong orang punya nama juga terancam tidak masuk surga. Penjudi kelas kakap di kasino atau judi onlinedengan jumlah taruhan jutaan Rupiah terancam tidak masuk sorga. Tetapi orang-orang yang setiap hari bermain kartu dengan jumlah taruhan seribu Rupiah pun terancam tidak masuk sorga.

Jadi sekali lagi, ada banyak bentuk perbuatan dosa yang mesti ditinggalkan sebab dapat menjadi penghalang untuk masuk surga. Itu tidak hanya dosa-dosa yang terlihat besar saja. Dosa-dosa yang terlihat sepele atau kecil pun dapat menghalangi kita untuk menikmati sorga yang Tuhan Yesus anugerahkan. Jika dosa-dosa itu tetap dipertahankan maka tiket keselamatan yang sudah diperoleh pun hangus.

Karena itu ingatlah ketiga syarat yang mesti dimiliki oleh setiap orang percaya agar tiket keselamatannya tidak hangus. Jika ketiga syarat ini telah dipenuhi maka tempat yang telah tersedia di surga akan ditempati. Maukah kita menempatinya? Silakan direnungkan. Selamat Paskah. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *