Yesus Menjamu Para Murid (Yohanes 21:1-14) -Pdt. Jahja A. Millu

Pdt. Jahja A. Millu, S.Th.

Injil Yohanes menyebut Danau Tiberias dalam kaitan dengan tindakan Yesus memberi makan, baik untuk mengatasi kelangkaan makanan maupun kegagalan menangkap ikan. Nama Tiberias dijumpai dalam cerita Yesus memberi makan 5000 orang (6:1,23), maupun dalam teks ini ketika Yesus memberi makan tujuh murid di tepi danau setelah kebangkitan. Penyebutan nama Tiberias menunjuk pada wilayah pesisir Galilea yang dibangun Raja Herodes Antipas untuk menghormati Kaisar Tiberius yang sedang berkuasa di Roma.

Kehidupan dan pelayanan Yesus selalu bersentuhan dengan kekuasaan Romawi dan Antipas yang mengendalikan seluruh sistem ekonomi yang berlangsung di danau Galilea. Penangkapan ikan mesti mendapat restu Roma via Antipas. Demikian pula mekanisme penjualan ikan hasil tangkapan harus mengutamakan kebutuhan kaum elit Roma dan Antipas. Hanya kelebihannya yang boleh dipasarkan bagi khalayak umum. Sudah tentu sistem ekonomi Galilea ini dikenakan pajak, seperti yang dilakukan oleh Matias, pemungut cukai yang kemudian menjadi murid Yesus. Catatan banyak penafsir menunjukkan bahwa sistem ini sangat menyengsarakan rakyat. Ia menempatkan banyak nelayan pada level hidup subsisten, yakni hanya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Bahkan tidak sedikit yang menempati strata terbawah masyarakat karena terlilit banyak hutang dan pajak yang memberatkan. Keluarga Yakobus dan Yohanes adalah salah satu keluarga yang bernasib sedikit lebih baik karena memiliki perahu, jala dan orang upahan (Mrk. 1:19-20). Mereka tergolong strata sosial di atas subsisten menurut skala Lenski maupun Friesen, yang meneliti tentang stratifikasi sosial masyarakat zaman Yesus.

Yohanes menggunakan nama danau Tiberias untuk membandingkan dua model kerajaan, yakni Kerajaan Allah dan Romawi. Kaisar Tiberius dan Antipas meminta makan, Yesus memberi makan. Yang satu menciptakan sistem kehidupan yang menarik makanan (baca: hasil tangkapan dan pajak yang berat), yang lain justru menyiapkan makanan dengan murah hati. Kerajaan duniawi menciptakan ketiadaan makanan, kerajaan Sorga justru menyiapkannya dengan berlimpah. Kegagalan mereka menangkap ikan memberi pelajaran bahwa seluruh sistem ekonomi Galilea versi Tiberius dan Antipas tidak mampu menopang ketersediaan pangan dan kehidupan ekonomi yang lebih baik. Sebaliknya, mujizat penangkapan ikan menjelaskan bahwa ekonomi Allah bukan hanya mampu menyediakannya, tetapi juga dengan berlimpah.

Dengan demikian, undangan untuk menjadi murid Yesus yang bangkit, bukanlah sekedar meninggalkan orangtua, keluarga, perahu dan jala. Ini sekaligus merupakan tindakan untuk meninggalkan pekerjaan yang mendukung kebijakan Antipas dan Tiberius yang menyengsarakan rakyat. Demikian pula dengan panggilan Matius, sang pemungut cukai, untuk beralih dari kerajaan Kaisar kepada kerajaan Sorga. Tidak mudah bagi seorang abdi Romawi meninggalkan sistem yang selama ini memberi keuntungan besar baginya. Bila Matius memutuskan untuk mengikut Yesus, ia tentu menyadari konsekuensinya. Hal yang sama terjadi juga dalam panggilan Simon orang Zelot. Sang pejuang dipanggil menjadi murid untuk mengoreksi ideologi dan model perjuangannya. Baik faksi pendukung Roma yang memiskinkan rakyat maupun faksi yang menentangnya, dipersatukan oleh Kerajaan Allah. Kelompok murid yang berbeda ideologi, faksi politik, pekerjaan dan asal usul (Yudea dan Galilea) kini menjadi satu kelompok yang bekerja sama. Kebangkitan memperkuat soliditas keduabelas murid ini menjadi suatu persekutuan yang mengabdi pada kerajaan Surga. Kita dapat belajar dari narasi ini untuk mengembangkan soliditas para pelayan GMIT.

Kita sering mendengar tudingan yang menyalahkan Petrus dan keenam murid karena kembali menjala ikan. Kembalinya mereka ke pekerjaan lamanya dianggap mengkhianati pengutusan mereka sebagai penjala manusia. Di satu sisi, tudingan ini mungkin bermanfaat bagi pekerjaan pelayanan penuh waktu seperti Pendeta. Panggilan kependetaan mengharuskan yang bersangkutan meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut Yesus. Tidak boleh ada pekerjaan lain yang lebih penting daripada panggilan hidup ini. Namun bila tafsiran ini diberlakukan bagi jemaat non pendeta, dibutuhkan kehati-hatian. Mereka adalah murid Tuhan yang bekerja dalam berbagai bidang kehidupan. Mereka tidak meninggalkan pekerjaan mereka untuk mengikut Yesus. Meski menjadi penatua, diaken dan pengajar, atau jenis pelayanan gerejawi yang lain, mereka tetap menggeluti profesi mereka. Perjumpaan Yesus dengan para nelayan di danau Galilea ini dapat menjadi contoh yang baik bagi mereka tentang suatu bentuk reorientasi Yesus terhadap kehidupan sehari-hari. Menangkap ikan tidak dilarang, tetapi kini mesti dilakukan dengan cara baru, yakni dengan membuang jala di sebelah kanan perahu. Ini adalah pendekatan baru dalam menjalankan pekerjaan kita sehari-hari berdasarkan perintah dan cara Tuhan. Setiap pekerjaan tidak hanya bertujuan untuk menjala ikan, yakni mendatangkan efek ekonomi, tetapi sekaligus harus menjadi alat Tuhan untuk “menjala manusia.” Yesus bukan hanya ahli dalam hal kubur, tetapi juga penangkapan ikan. Hanya pekerjaan yang dilakukan berdasarkan perintah dan cara Tuhan yang dapat menghasilkan keberhasilan berupa “tangkapan” yang besar.

Perjumpaan Yesus yang bangkit dengan kelompok nelayan ini juga sangat penting untuk menegaskan bahwa mereka layak menjadi murid-Nya. Profesi nelayan menempatkan mereka sebagai kelompok najis karena asosiasi amis ikan yang melekat pada dirinya. Status ini menyebabkan mereka tak bisa menjadi pemimpin agama. Tidak ada catatan sejarah (sejauh pengetahuan saya yang terbatas) yang menyebutkan bahwa orang Farisi dan ahli  Taurat berasal dari kelompok nelayan. Namun panggilan kepada nelayan untuk menjadi murid di awal pelayanan Yesus, dan penegasannya kembali dalam cerita kebangkitan ini hendak menegaskan bahwa orang dari golongan seperti ini pun dapat menjadi murid Kristus. Bahkan lebih daripada itu, mereka dapat menjadi pemimpin dan sokoguru jemaat. Tuhan menitipkan berita Injil di pundak orang-orang seperti ini. Berita ini sungguh menghibur setiap orang yang berdosa, saya dan saudara, bahwa kita pun dapat menjadi murid dari Kristus yang bangkit. Ditambah lagi dengan pengampunan Yesus terhadap dosa penyangkalan Petrus semakin meyakinkan kita bahwa anugerah menjadi murid tersedia bagi siapapun yang percaya kepada Kristus. Tak ada tembok yang dapat merintangi anugerah Allah ini.

Proses anugerah ini tidak berlangsung secara dogmatis atau liturgis, tetapi melalui hal yang amat lumrah yakni makan bersama. Kebangkitan Yesus diungkapkan dua kali dalam suasana makan. Penulis Injil Lukas dan Yohanes menekankan pentingnya perjamuan kebangkitan. Melalui makan bersama, transendensi kebangkitan yang tak terbayangkan diserap ke dalam tindakan yang paling rutin dan biasa. Seringkali kita beranggapan bahwa perjumpaan dengan Tuhan hanya terjadi dalam peristiwa makan yang sakral dan rohani seperti perjamuan kudus. Namun Injil Yohanes memberi pandangan terbalik. Setiap orang bisa berjumpa Tuhan di saat makan, apapun menu makanannya. Orang percaya bisa bersua dengan Tuhan saat makan roti dan ikan, tetapi juga jagung katemak dan ikan.

Pendekatan lain yang juga bisa digunakan untuk memahami teks ini adalah tafsir metaforis. Rumusan ayat 3 bahwa “malam itu mereka tidak menangkap apa-apa” adalah metafora misi gereja perdana yang seolah “gagal menangkap ikan”. Para pemberita merasakan kelesuan yang luar biasa. Pengabaran Injil berhadapan dengan rintangan besar yang menghambat pertambahan anggota baru, baik oleh keputusan Yahudi tahun 85 M yang melarang bergabungnya orang Kristen di sinagoge, maupun tindakan penghambatan oleh Romawi. Yohanes ingin meyakinkan para pemberita Injil, untuk terus menjalankan misinya, meski tantangan menghadang.

Bila gereja masa kini merasakan pergumulan yang sama, Paul Harvey mengingatkan kita: “Terlalu banyak orang Kristen yang tidak lagi menjadi penjala manusia, namun menjadi penjaga akuarium.” Mujizat penangkapan ikan berfungsi sebagai janji keberhasilan misi. Banyaknya ikan mewakili banyaknya orang yang akan menanggapi pesan para murid untuk mempercayai Yesus. Spurgeon berkata: “Adalah suatu hal yang terberkati melihat Kristus duduk sambil menyaksikan para pemberita injil-Nya membuang jala sambil menyiapkan makanan bagi mereka … jika anda melihat senyum-Nya yang mendukung anda, pasti anda akan bekerja dengan sungguh-sungguh.” ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *