Ucapan Selamat Natal Adalah Soal Kemanusiaan; Bukan Perkara Dogma

“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!“ (Roma 12:15) adalah salah satu realisasi ajaran Kasih di dalam agama Kristiani yang ditulis oleh Rasul Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Roma.

Ajaran kasih dengan dua dimensi yang saling berkaitan erat, yakni Kasih akan Allah dan kasih akan sesama manusia seperti diri sendiri, merupakan jantung ajaran Yesus Kristus dan menjadi tolok ukur setiap keputusan magisterial dan perilaku moral Gereja.

Dr. Markus Solo Kewuta SVD*

Berkaitan dengan ini, rasul Yohanes di dalam suratnya yang pertama di dalam Kitab Suci Perjanjian Baru menulis demikian: “Jikalau seorang berkata: Aku mengasihi Allah dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia. Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya,“ (1 Yoh 4:20-21).

Kata-kata Paulus dan Yohanes di atas kedengaran sederhana tetapi tidak sesimpel itu. Keduanya berbicara tentang solidaritas dan sambung rasa antar sesama umat beragama tanpa perbedaan. Di dalam konteks kebhinekaan sebuah masyarakat, kata-kata di atas memiliki nilai fundamental dan merupakan sebuah nasihat emas, atau paling kurang menginspirasi, menuju satu masyarakat majemuk yang kompak, rukun, damai dan bahagia.

Akan terasa aneh kalau seorang tetangga meninggal dunia, lalu pada saat yang sama tetangga sebelah rumah menggelar sebuah pesta musik dan berbuat seolah-olah tidak ada apa-apa di sekitarnya. Atau ketika seorang sahabat merayakan ulang tahun, sahabat yang lain bermasa bodoh karena alasan tertentu. Atau ketika tetangga atau seorang sahabat lulus sekolah, diwisuda, mendapat sebuah penghargaan, atau sebuah job bergengsi dan orang beramai-ramai memberikan selamat, malah sahabat atau tetangga yang lain melarikan diri ke persembunyian hingga peristiwa itu berlalu. Atau seorang tetangga menang loteri dan bersukaria. Tetangga yang lain malah menangis tersedu-sedu sampai memutuskan relasi.

Bukankah dengan bersikap dan bertingkahlaku demikian, relasi persahabatan dan ketetanggaan akan semakin renggang dan ada rasa “jauh“ di antara mereka?

Lumrah dan Universal

Ucapan selamat adalah sebuah fenomen antropologis yang umum dan universal. Di berbagai masyarakat dan budaya ada kebiasaan mengucapkan selamat hingga saling membagi hadiah. Entah kapan lahir ucapan selamat kepada orang yang sedang berbahagia dan turut berduka bersama mereka yang sedang berduka, tidak ada data valid. Tetapi jelasnya ini sebuah kebiasaan tua.

Di dalam cerita Yunani kuno tentang olimpiade yang dimulai tahun 776 sebelum Masehi, sudah ada ritual ucapan selamat kepada sang pemenang berupa peletakan mahkota atau tiara dari seutas daun laurea di atas kepalanya. Bukan nilai materi yang ditekankan di sini, melainkan tanda solidaritas di dalam rasa gembira bersama si pemenang.

Kegembiraan adalah sesuatu yang indah dan patutlah menyebar luas. Kegembiraan yang dibagi-bagi akan semakin berlipat ganda. Sebaliknya kesedihan yang dibagi-bagi akan semakin berkurang dan meringankan beban hidup. Ini pertama-tama menyangkut rasa. Bukan tentang apa, mengapa dan bagaimana sehingga seseorang bersukacita.

Selamat Natal

Setiap kali merayakan Natal pasti ada sedikit keributan menyangkut ucapan selamat. Tahun ini beberapa sahabat menyampaikan kegundahannya kepada saya dengan nada kesal. Mereka tidak diberikan ucapan selamat. Tetangga dan sahabat yang tahun lalu mengucapkan selamat Natal, tahun ini membatalkan kebiasaan itu. Yang lain bersikap apatis.

Mengucapkan selamat Natal harusnya pertama-tama tidak perlu dilihat dari kacamata dogma. Di dalam lingkup budaya lain, ucapan selamat Natal ternyata tidak banyak dipermasalahkan. Hal ini dipermudah melalui bahasa yang digunakan karena tidak menunjukan keterkaitan langsung dengan perkara dogma.

Di dalam bahasa Inggris orang menggunakan “merry Christmas atau happy Christmas”. Dari beberapa arti yang ada, pada intinya dimaksudkan “Natal yang menyenangkan atau Natal yang membahagiakan”. Bahasa Jerman menggunakan “frohe Weihnachten atau froehliche Weihnachten”. Artinya kurang lebih sama dengan rumusan bahasa Inggris di atas, yakni “Natal yang menyenangkan atau membahagiakan”. Bahasa Italia menggunakan “buon Natale” artinya Natal yang baik, atau Natal yang menyenangkan dan membahagiakan. Yang ditekankan di sana adalah suasana. Bukan apa, mengapa atau bagaimana di balik suasana itu.

Lalu di mana persoalannya dengan bahasa Indonesia? Persoalannya terletak pada interpretasi. Banyak yang menerapkan pemikiran bahwa dengan mengucapkan selamat Natal, orang turut mengakui peristiwa iman yang sedang dirayakan oleh umat Kristiani. Malah ditakuti pula bahwa dengan mengucapkan selamat Natal, iman orang akan luntur dan bisa masuk neraka. Jelas ini interpretasi sepihak saja. Jujur, kalau menanyakan umat Kristiani, apakah mereka mengharapkan hal di atas ketika menerima ucapan selamat dari non-Kristiani, mereka pasti menggelengkan kepala tanda tidak sepakat.

Secara pribadi, setiap kali menerima ucapan selamat Natal dari orang-orang non-Katolik, yang pertama-tama muncul spontan dalam benak adalah rasa terima kasih dan gembira. Saya melihat mereka sebagai orang-orang baik. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang beragama dengan benar dan matang. Saya menaruh rasa hormat kepada mereka. Tidak sulit pula untuk bersahabat dengan mereka. Saya tidak pernah berpikir sedetikpun bahwa ketika mengucapkan selamat, mereka sedang menerima dan mengamini, apalagi turut percaya pada apa yang saya imani.

Bahasa Indonesia tidak mengenal formulasi ucapan lain selain kata “selamat”. Kata “selamat” merupakan kata serapan dari bahasa Arab dengan akar S-L-M (Sin, Lam, Mim) dan berarti kedamaian, kesucian, penyerahan diri, dan ketundukkan. Jadi sebenarnya, dengan mengucapkan selamat kepada orang yang sedang merayakan pesta keagamaan, kita bukan saja turut berbahagia dan bersambung rasa sebagai manusia dan sesama, tetangga, sahabat atau kerabat, melainkan juga menginginkan agar dengan merayakan pesta keimanan itu, mereka lebih merasakan kedamaian, kesucian, penyerahan diri dan semakin tunduk menyembah Tuhan mereka. Ini adalah sesuatu yang khas dan indah yang kita miliki sebagai pengguna kata selamat. Ucapan selamat Natal atau peristiwa keagamaan apapun harus dipaham dalam konteks ini. Tidak ada yang salah.

Tidak Ada Larangan Tertulis

Kita harus akui bahwa Kitab Suci agama-agama tidak memuat larangan secara eksplisit. Artinya Tuhan tidak melarang umatNya untuk saling bersalaman ketika merayakan pesta-pesta keagamaan. Dari sini lahir tafsir dan qiyas (analogi) yang bervariasi. Itulah sebabnya mengapa praktek di kalangan umat beragama dan juga di dalam komunitas agama sendiri juga berbeda-beda.

Berdasarkan fakta ini, sudah harus menjadi pertanyaan bagi setiap pemeluk agama: Apakah Tuhan betul-betul tidak ingin supaya manusia dari agama yang berbeda-beda saling mengucapkan selamat? Kalau demikian keinginanNya, mengapa Dia sebaliknya mendeklarasikan bahwa perbedaan-perbedaan yang ada adalah ciptaan dan kehedakNya agar manusia saling mengenal? Bukankah larangan untuk memberikan selamat kepada umat beragama lain sebagai sarana untuk saling mengenal, kontraproduktif terhadap kehendak Tuhan di atas?

Oleh karena ketiadaan uniformitas sikap dan posisi berkaitan dengan pertanyaan ucapan selamat, pada akhirnya bisa diidentifikasi minimal dua kelompok manusia: pertama, orang-orang yang beragama secara seimbang dan matang akan tetap mengucapkan selamat kepada orang lain yang berbeda agama. Mereka melakukannya semata-mata oleh karena tuntutan kemanusiaan. Mereka tidak mengkuatirkan pengaruh negatip apapun terhadap kualitas iman mereka. Biasanya semakin matang dan seimbang seseorang beriman dan beragama, semakin dia terbuka terhadap orang lain yang berbeda. Kedua, orang-orang yang tidak berakar kuat di dalam iman dan agamanya, atau beriman dan beragama secara tidak seimbang, akan tetap menolak untuk mengucapkan selamat kepada umat beragama lain.

Kelompok kedua di atas lebih suka merawat keputihan dogma daripada berbelarasa dengan sesama. Kalau misalnya mereka sedang berjalan di atas reruntuhan bangunan oleh karena tsunami dan mendengar jeritan seorang yang sedang sekarat dan meminta tolong untuk diselamatkan nyawanya, entahkah mereka akan serta merta menolong menyelamatkan nyawa orang tersebut oleh karena tuntutan kemanusiaan? Ataukah mereka malah bertanya dahulu, apa agama orang itu lalu membolak-balik dogma untuk menemukan keputusan?

Soal Kemanusiaan dan Bukan Dogma

Ketika seseorang mendapat ucapan selamat atas kelulusan dari sebuah ujian, orang yang memberikan ucapan selamat tidak berurusan sedikit pun dengan sah tidaknya kelulusan itu. Dia hanya ingin membagi rasa sukacita dengan dia yang sedang bergembira. Sah tidaknya kelulusan adalah wewenang internal sekolah.

Demikian pula ketika mengucapkan selamat kepada seorang yang berulang tahun, orang tidak bermaksud untuk menyetujui pasangan suami-istri yang melahirkan anak itu, atau mengamini kelahiran orang itu dari pasangan A dan B. Entah orang itu lahir dari siapa, entah dia anak sah atau anak haram, entah dia anak orang kaya atau orang miskin, itu semua bukan merupakan kategori-kategori yang memutuskan.

Dogma atau aqidah adalah kaidah-kaidah atau ajaran-ajaran agama yang bersifat mengikat, unik dan fundamental. Dia memperjelas keunikan identitas sebuah agama dan dengan itu memperjelas pula perbedaan agama tersebut dari agama-agama lainnya. Oleh karena itu dogma selalu bersifat mutlak dan tidak ada tawar-menawar. Akan tetapi perlu dipertanyakan, di manakah dimensi kemanusiaan agama yang universal yang bisa menghubungkan umat beragama yang berbeda-beda? Atau apakah beragama justru ibarat membangun sebuah menara gading?

Sejatinya, misi agama-agama di dunia jauh lebih luas daripada sekedar menjaga dogma. Di dalam perbedaanya, agama-agama harus tetap bisa menunjukan misi kemanusiaan demi terwujudnya persatuan dan kesatuan, kenyamanan, saling pemahaman, rasa saling respek, tali persaudaraan dan persahabatan, relasi kekerabatan dan ketetanggaan yang indah.

Ucapan selamat adalah penerapan dogma keagamaan ke level kemanusiaan yang bersifat universal. Inilah yang disebut “commonalities“ atau nilai-nilai komunal, atau nilai-nilai bersama di dalam agama-agama. Di dalam konteks ini dikenal sebuah prinsip bahwa “commonalities unite rather than separate”, artinya nilai-nilai bersama yang diakui keluhuran dan kebenarannya secara bersama-sama, selalu akan mempersatukan dan bukan mencerai-berai, walaupun di tatanan dogma berbeda.

Di dalam ilmu dialog lintas agama, penerapan nilai-nilai kemanusiaan yang universal di dalam kehidupan sehari-hari ini disebut “dialog kehidupan” (dialogue of life). Artinya, orang-orang dari agama-agama berbeda-beda mengambil inisiatip bebas, tanpa tekanan, tanpa paksaan, tetapi semata-mata dituntut oleh rasa kemanusiaan dan oleh relasi keseharian, untuk saling mengucapkan selamat dan membagi rasa suka dan duka sebagai sahabat, tetangga, kerabat dan kolega. “Bergembira bersama-sama, menangis bersama-sama“; merasa senasib dan sepenanggungan. “Hodie misi, cras tibi“ kata sebuah pepatah Latin. Artinya: Hari ini giliran saya, besok giliran anda.

Mengenal orang lain adalah upaya saling bertemu dan mengetahui pemeluk-pemeluk agama lain dengan lebih jelas agar lenyap segala prasangka dan semua pemikiran negatif lainnya. Dengan saling bersilahturahmi, orang merasa dekat satu sama lain. Di dalam suasana keakraban ini merasa saling menguatkan dan menghibur, menikmati indahnya persaudaraan, persahabatan dan ketetanggaan. Sungguh indah kebersamaan dan persaudaraan di dalam perbedaan. Bukankah rasa sayang satu sama lain lahir dari saling mengenal? Dikenal maka disayang. Demikian pepatah yang kita kenal bersama.

Sikap kritis di dalam beragama boleh. Kejelasan identitas agama itu mutlak. Tetapi kalau segala sesuatu cenderung direduksi ke dalam persoalan dogma, kita tidak akan pernah merasa dekat satu dengan yang lain. Di lain pihak, kita sama-sama tahu bahwa perkara dogma dengan segala teori yang seluk-beluk adalah perkara tinggi yang tidak menjangkau setiap orang, apalagi orang-orang kebanyakan pada tingkat akar rumput.

Dengan melarang mengucapkan selamat kepada pemeluk agama lain dengan alasan dogma, maka di saat yang sama kemanusiaan dikorbankan. Lebih dari itu, akan timbul kekacauan pemahaman dan praktek yang sudah sedang terjadi. Pengaruh-pengaruh negatif lain terhadap relasi-relasi yang baik dan rukun yang sudah ada dan terjalin dengan susah payah pun pasti terasa. Apalagi di negara kita ada banyak keluarga beda agama.

Sikap umat Katolik: Mengucapkan Selamat Tanpa Rasa Takut

Gereja Katolik melalui Dewan Kepausan untuk Dialog antar Umat Beragama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue, PCID) selalu mengirimkan ucapan selamat kepada umat beragama lain di seluruh dunia, tanpa kecuali. Sikap yang terbuka ini didasarkan atas dokumen Konsili Vatikan II bernama “Nostra aetate“ (Dewasa Kita) yang meletakan dasar-dasar teologis dan sosio- antropologis terhadap era keterbukaan baru Gereja Katolik.

Di zaman ini sekat sosial sudah semakin menipis. Frekwensi pertemuan manusia dari berbagai latarbelakang terjadi semakin intensip. Manusia dari berbagai agama dan budaya hidup berdampingan. Tidak ada jalan lain bagi manusia selain membuka diri untuk saling bertemu, saling mengenal, bertukar pikiran dan saling memperkaya. Sesungguhnya kebenaran setiap agama itu mutlak dan eksklusif. Akan tetapi disadari pula bahwa setiap agama memiliki kemampuan untuk memancarkan sinar kebenaran yang turut menerangi dan mengilhami agama-agama lain. Inilah yang disebut oleh “Nostra aetate” sebagai “ray of truth“ atau sinar kebenaran yang mengilhami itu.

Sejak tahun 1967 Sri Paus atas nama Gereja Katolik seluruh dunia, dalam hal ini didaulatkan melalui PCID, tak henti-hentinya mengirimkan Ucapan Selamat Idul Fitri kepada umat Islam di seluruh dunia. Banyak pemuka agama Islam membacakannya di hadapan umat pada perayaan itu, atau ditempelkan pada sebuah tempat strategis agar bisa dibaca oleh banyak orang. Di banyak negara, hal ini sudah menjadi alasan dan motivasi silahturahmi yang sehat dan sangat menyenangkan.

Setelah Idul Fitri berakhir, berbagai surat ucapan terima kasih datang dari tokoh-tokoh Islam di berbagai wilayah dunia. Mereka mengucapkan terima kasih kepada Gereja Katolik, terutama kepada Sri Paus lewat PCID yang sudah memberikan perhatian kepada mereka dan turut bersukacita bersama mereka pada perayaan keagamaan yang penting itu.

Apakah dengan mengucapkan selamat Idul Fitri ini umat Katolik seluruh dunia merasa terganggu atau menderita kelunturan iman? Apakah dengan itu umat Katolik sudah mengakui kebenaran peristiwa turunnya al-Qur’an (nuzul al-Qur’an) di akhir bulan suci Ramadan, dan dengan itu sudah pula mengamini seluruh isi al-Qur’an? Apakah dengan demikian umat Katolik seluruh dunia telah mengalami krisis kelunturan iman berjamaah, atau sedang mencampur-adukan dogma agama? Tidak! Iman Katolik tidak berkurang sedikitpun. Malah bertambah pahala melalui berkat dan rahmat dari Tuhan karena sudah melakukan hal yang baik. Inilah perwujudan dogma Kristiani yang berasaskan ajaran Kasih Yesus Kristus. Kasih tidak mengenal perbedaan. Malah musuh pun dikasihi dan didoakan.

Agama hadir di sini untuk menjadikan kita semua orang-orang baik, seratus persen umat beragama, seratus persen manusia. Agama tidak boleh melunturkan rasa kemanusiaan seseorang, malah sebaliknya memperkuat, mempertebal dan meningkatkannya.

Agama harus juga bisa memberikan kesaksian kepada orang lain bahwa kebenaran iman terbukti bukan karena dia dikunci rapih di dalam peti dogma, atau karena sukses merendahkan dan menginjak martabat orang lain yang berbeda keyakinan, melainkan karena iman yang diyakini kebenarannya itu justru bisa mengkomunikasikan diri dan mengejawantah di dalam nilai-nilai moral yang bisa diterapkan di dalam kehidupan bersama untuk memajukan kesejahteraan orang banyak. Kalau agama belum atau tidak bisa membantu mensejahterakan orang banyak, termasuk yang berada di luar dari komunitas sendiri, maka tidak ada alasan untuk mengklaim bahwa agama tersebut adalah sebuah rahmat atau berkat bagi alam semesta dan manusia sejagad.

Penulis sebagai salah satu anggota Dewan Kepausan di atas yang secara rutin turut mempersiapkan ucapan selamat kepada para pemeluk berbagai agama di dunia, merasa senang dan gembira karena bisa melakukan sesuatu yang indah dan bermanfaat untuk mendukung dan memajukan upaya saling menghormati dan saling memahami. Ada berbagai nilai kemanusiaan universal dan lebih mendesak untuk ditonjolkan di dalam ucapan itu. Nilai kebersamaan, persatuan, rekonsiliasi atau pengampunan, kekeluargaan, solidaritas, kesetiakawanan, dan lain-lain, yang kebetulan sedang dialami dan dirayakan oleh umat beragama tersebut turut didukung secara khusus.

Bukankah nilai-nilai di atas penting untuk diangkat dan didukung sebagai langkah konkret menuju sebuah kehidupan bersama yang lebih sejatera dan makmur? Lebih dari itu, Gereja Katolik biasanya menyampaikan di dalam ucapan tertulis itu pula tema tertentu yang dipandang penting sesuai tuntutan waktu sebagai topik permenungan bersama.

Urusan dogma dan kebenaran agama sejatinya adalah urusan internal agama tersebut dengan Tuhannya. Jelas bahwa isi wahyu dan isi Kita-kitab Suci berbeda-beda. Opini tentang kebenaran agama orang lain juga berbeda-beda. Tak perlu ada diskusi dan debat. Toh masih ada segelintir umat beragama yang cenderung memprotes dan menghina pemeluk agama lain hanya karena mengimani sesuatu yang berbeda. Sebetulnya obyek sanggahan dan kritikan adalah Tuhan. Dari Tuhan pula harusnya mereka yang mengeritik menerima jawaban yang paling sahih. Jawaban itu adalah iman. Kalau tidak seiman, jelas tidak akan paham.

Setiap orang beriman memiliki juga kesempatan dan hak serta kewajiban untuk menjelaskan kebenaran iman dan agamanya kepada orang lain. Akan tetapi hal ini hanya bisa dia lakukan di dalam koridor-koridor linguistik dan gestilukasi yang terbatas. Di lain pihak, aspek misteri Tuhan tidak akan pernah dijangkau oleh manusia. Kedalaman hikmat Tuhan tidak akan pernah bisa diselami oleh manusia. JalanNya bukanlah jalan manusia.

Apakah ketika seseorang merasa bisa menjelaskan Tuhan dengan menggunakan pendekatan matematis atau empiris, orang itu dianggap sudah sukses mengungkapkan dengan sempurna kebenaran tentang Tuhan? Tentu tidak. Yang tidak bisa dibahasakan oleh manusia dan tidak bisa dipaham oleh otak manusia yang kecil, janganlah serta merta dikatakan salah.

Marilah kita berusaha untuk lebih fokus pada kebenaran agama kita masing-masing, menjalankan ajaran agama kita secara benar, jujur dan kaffah sehingga agama kita tidak menakutkan orang lain, melainkan sebaliknya menjadi berkat bagi dunia.

Tanggungjawab Para Pemimpin Agama

Adalah pertama dan utama merupakan tanggungjawab pempimpin-pemimpin agama atau orang-orang publik agamais untuk mengajarkan sikap kedewasaan atau keseimbangan dalam beragama kepada setiap pemeluknya. Yang memiliki massa, entah itu melalui TV, Radio, Surat Kabar, Media Sosial, atau mimbar, jauhkanlah segala ujaran kebencian dan diskriminatif. Hindari pula hoax dan fake news. Di dalam situasi-situasi krisis, setiap kata yang memuat rasa kebencian dan adu domba, akan mudah mendapat gaungnya.

Para pemimpin adalah orang-orang pertama yang paling bertanggungjawab terhadap keimanan orang banyak. Menyadari posisi yang begini penting, setiap kesempatan di dalam masa jabatan seorang pemimpin agama hendaknya dilihat sebagai anugerah Tuhan untuk menabur sebanyak mungkin kebaikan.

Para pemimpin agamalah yang seharusnya mengajarkan kepada umat masing-masing, bahwa mengucapkan selamat kepada orang beragama lain adalah pertama-tama soal kemanusiaan dan bukan aqidah. Dua hal ini berbeda. Mengucapkan selamat adalah sebuah kesempatan yang baik untuk menyampaikan keinginan dan aspirasi secara tidak langsung agar mereka yang sedang merayakannya bisa semakin berkembang di dalam keimanan dan menjadi manusia-manusia saleh.

Indonesia masih dijadikan oleh banyak negara lain sebagai contoh kerukunan dalam keanekaragaman. Bangga kalau bisa dijadikan contoh. Tetapi kalau melihat suhu intoleransi yang semakin naik, ditambah lagi dengan larangan mengucapkan selamat yang cukup meresahkan dan mengganggu rasa satu nusa, satu bangsa, satu bahasa kita, dan bahayanya bisa menjadi seperti “api dalam sekam“ bagi kelompok-kelompok yang selama ini sudah berhaluan lain, entahkah kita masih layak dan berbangga menjadi negara panutan?

Mari terus berjuang untuk memberikan kesaksian kepada dunia bahwa dulu kita tidak pernah mempermasalahkan ucapan selamat kepada satu sama lain. Sekarang juga sikap ini tidak berubah. Yang berpikir dan bertindak lain tidak mewakili sikap dan posisi masyarakat kita pada umumnya.

Kita semua tetap bangga dan bersyukur menjadi orang Indonesia yang selalu merayakan perbedaan. Kita merayakannya karena kita tahu merawat perbedaan-perbedaan kita dan tahu pula memilah-milah masalah dan menemukan solusinya secara damai. Kita tidak dengan mudah memperalat isu-isu SARA yang ujung-ujungnya membawa penderitaan bagi kita semua. Sebaliknya kita lebih menghormati kemanusiaan dan keindonesiaan kita yang merangkul sebagai ibu pertiwi.

Bhineka Tunggal Ika adalah semboyan kita. Walaupun kita berbeda, artinya bahwa kita sama-sama mengakui perbedaan-perbedaan kita sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas kita yang bernama Indonesia, tetapi apapun yang terjadi, kita tidak akan mudah dicerai-beraikan oleh apa dan siapapun, apalagi oleh perbedaan iman dan agama yang sudah ada berabad-abad lamanya.

Kita tetap satu Indonesia yang besar yang berada di atas segala perbedaan. Kita sudah selalu “tertawa bersama mereka yang tertawa, dan menangis bersama mereka yang menangis“. Dan itulah yang sudah membuat kita menjadi bangsa besar dan panutan bagi dunia. Inilah kekhasan dan keunikan Indonesia yang ingin kita terus sumbangkan kepada dunia. ***

*Sumber: https://ansel-boto.blogspot.com/2018/12/ucapan-selamat-natal-adalah-soal.html

**Staf Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama Vatikan 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *