Badan Misi Gereja Protestan Swiss-Mission 21, Bantu Program Pemberdayaan Ekonomi GMIT

Dari kiri ke kanan: Pdt. Yaksih Nuban Timo, Ketua BP-APE Sinode GMIT, Ueli Snecht (pimpinan divisi pemberdayaan M-21, Basel-Swiss, dan Pdt. Joyce Manarisip, koordinator M-21 wilayah Indonesia dan Malaysia, Rabu, (10/7-2019). Foto: wanto/infokomgmit.

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Ueli Knecht, Kepala Bidang pemberdayaan Mission-21 (M-21), sebuah badan misi Gereja Protestan di Basel-Swiss, bersama Pendeta Joyce Manarisip, Koordinator Mission-21 untuk wilayah Indonesia dan Malaysia melakukan kunjungan ke GMIT.

Pendeta Joice menjelaskan kunjungan ini bertujuan melihat secara langsung dua projek kerja sama GMIT dengan M-21 melalui Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) yakni; shelter dan pemberdayaan ekonomi.

“M-21 punya program besar namanya Overcoming Violence Based Gender. Untuk program ini, kami bermitra dengan PGI. Karena M-21 belum punya mitra langsung dengan GMIT, maka selama ini PGI menjadi perantara. Sehingga melalui kunjungan ini kami ingin melihat langsung sejauhmana kerja sama ini berjalan di lapangan,” ujar Pendeta Joyce.

Selama 4 hari berada di Kupang, kedua utusan M-21 ini mengunjungi Rumah Harapan GMIT (unit pelayanan yang menangani korban kekerasan berbasis gender), Yayasan Alfa Omega, dan kelompok-kelompok pemberdayaan ekonomi binaan Badan Pemberdayaan Aset dan Pengembangan Aset (BP-APE) Sinode GMIT di Jemaat Oemathonis Noelsinas dan Kelompok Tenun Jemaat Lopo Matakus Manulai 2, Klasis Kupang Barat.

Ueli Knecht memuji pelayanan holistik GMIT untuk pendampingan korban buruh migran sekaligus pemberdayaan ekonomi melalui pertanian hortikultura sebagai langkah pencegahan warga gereja meninggalkan kampung menjadi buruh migran.

“Saya mendapat banyak hal dari kunjungan ini. Dulu kami pikir dukungan kami khusus untuk shelter bagi para korban buruh migran yang tidak beruntung. Namun dengan dana yang terbatas GMIT juga sudah melakukan langkah pencegahan melalui pemberdayaan ekonomi. Jadi sudah ada kesinambungan penanganan korban mulai dari pendampingan hingga bantu mereka bisa mandiri secara ekonomi melalui struktur yang sudah ada di GMIT. Itu yang kami mau dukung untuk 3 tahun mendatang,” kata Ueli.

Hasil dari kunjungan ini, M-21 berkomitmen untuk memberi dukungan dana selama 3 tahun (2019-2021). Untuk program 2019, M-21 bersedia mendukung pelatihan pemberdayaan ekonomi melibatkan 20 orang pada September mendatang di Yayasan Alfa Omega-Tarus.

Sekretaris BP-APE Pendeta Soleman Uli Loni mengatakan peserta pelatihan terdiri dari para penyintas korban perdagangan orang yang pernah didampingi Rumah Harapan GMIT, dan warga jemaat yang rentan. Materi kegiatan meliputi pelatihan pertanian hortikultura, tenun, kerajinan kain perca dan keramik hias.

Terkait pemasaran produk, Pendeta Joyce mengatakan pihaknya bersedia membantu pemasaran melalui mitra-mitra M-21 di dalam negeri.

“Kalau orang dilatih dan kemudian memproduksi kain tenun dalam jumlah banyak, terus mau dikemanakan? Di Jogyakarta kita punya jaringan pemasaran. Kami bisa bantu.”

Majelis Sinode GMIT menyampaikan terima kasih yang tulus atas kunjungan Ueli Snecht dan Pendeta Joyce Manarisip serta dukungan yang diberikan M-21. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.