Bagaimana Menulis Sejarah Gereja Lokal?

Kupang, www.sinodegmit.or.id, “Supaya masa silam menjadi bermakna, maka perlu dicari, ditemukan, dikumpulkan, dirapikan dan dipelajari. Tujuannya supaya masa silam atau sejarah kita bisa dipahami dan dikenal.”

Pernyataan ini diungkapkan Pendeta Yusak (Yos) Solaiman, Ph.D, dosen sejarah gereja  dari Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT) Jakarta saat menyampaikan materi dalam Seminar dan Lokakarya Penulisan Sejarah Gereja di Aula Fakultas Teologi UKAW-Kupang.

Menurut Ketua STFT Jakarta ini, hingga sekarang, masih banyak gereja di Indonesia yang belum memberi perhatian pada pendokumentasian sejarah. Kalaupun ada, umumnya dokumen-dokumen itu tidak dikelola atau dirawat sebagaimana seharusnya. Melalui lokakarya yang diikuti 30 orang peserta ini, ia berharap jemaat-jemaat GMIT mulai menaruh perhatian pada sejarah jemaat masing-masing minimal mulai dengan mendokumentasikan bahan-bahan yang sudah ada.

Apa saja langkah-langkahnya?

Pertama, Periksalah bahan-bahan apa saja yang sudah ada. Misalnya, arsip surat, buku baptisan, sidi, nikah, sertifikat, risalah, foto, lukisan, sketsa, rekaman suara, dll. Cari tahu kira-kira bahan-bahan yang dibutuhkan ada di siapa dan di mana? Apakah di pejabat gereja tertentu, kantor sinode, perpustakaan, dst-nya.

Kedua, Setelah ditemukan, segeralah kumpulkan dan identifikasi (memilah). Simpanlah dokumen yang memiliki nilai historis saja, lalu buatlah katalog. Misalnya, dokumen A, berupa arsip Surat-Surat Keputusan; Dokumen B, berupa kumpulan khotbah; dokumen C, berupa, foto-foto; dokumen D, berupa hasil sidang/rapat majelis jemaat, dst-nya. Hal ini penting agar mudah dicari. Tanpa katalog, pencarian yang berulang-ulang bisa merusak dokumen.

Ketiga, Menyimpan dengan rapi. Taruhlah dokumen di tempat yang kering, sekitar 25 centimeter dari lantai dan jangan ditumpuk. Guna menghindari rayap, sebaiknya jangan menyimpan dokumen dalam lemari kayu. Jangan disteples karena bisa karat. Juga tidak boleh dilaminating.

Keempat, Mempersiapkan dokumen sebagai sumber yang bisa diakses.

Dengan bahan-bahan yang telah tersedia itu, upaya penulisan bisa dimulai. Jangan menunggu sampai semua dokumen terkumpul. Mulai dari apa yang sudah ada bukan merindukan yang tidak ada.

Teknik penulisan pun tergantung pada siapa pembacanya. Apakah untuk karya ilmiah atau peringatan ulang tahun gereja. Apabila untuk kepentingan hari ulang tahun gereja, periksa juga apakah sudah ada penulisan sebelumnya? Hal ini penting untuk melihat sumber-sumber yang pernah dipakai, sehingga tidak sekadar mengulang apa yang sudah ada.

Agar tidak membosankan, tulisan (buku sejarah) disertakan dengan foto, grafik, tabel, dll.

Pdt. Yusak Solaiman, Ph.D

“Tampilan data yang singkat berupa foto, grafik, tabel menolong pembaca agar mudah diingat. Seringkali kita tulis panjang-panjang, tidak peduli orang mengerti atau tidak. Bukan begitu. Usahakanlah agar tulisan kita bersifat informatif, dimengerti dan mudah diingat poin-poinnya. Peristiwa-peristiwa unik yang pernah terjadi juga merupakan bagian menarik yang perlu ditulis.”

Umumnya, penulisan sejarah gereja lokal ada dua tipe yakni; secara kronologis dan tematik atau kombinasi antara keduanya. Kronologis artinya mengikuti urutan waktu peristiwa dan pelaku sejarah (siapa pendeta/penginjil) pertama, gedung gereja pertama, dst-nya. Kelemahannya adalah pembaca bisa tersesat dalam lautan sejarah yang kadang tidak penting bagi mereka. Sedangkan tematis, sifatnya memilih sisi tertentu saja. Pembaca akan memahami persoalan tanpa harus membaca urutan peristiwa yang mungkin tidak terlalu relevan. Misalnya mengenai konflik perpecahan dalam jemaat. Pembaca langsung tahu, akar persoalannya dan tidak perlu membaca urutan peristiwa.

Seminar dan Lokakarya Penulisan Sejarah Gereja Lokal ini berlangsung pada Kamis dan Jumat (22-23/11). Pdt. Maria Ratu-Pada M.Th, dekan fakultas teologi UKAW mengatakan kegiatan ini bertujuan mendorong minat menulis sejarah gereja di kalangan para mahasiswa, vikaris dan pendeta. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.