Beban Ganda Sekolah GMIT di Masa Pandemi Virus Corona

KUPANG. www.sinodegmit.or.id, Tantangan pendidikan di sekolah-sekolah GMIT kian berat di masa pandemi Covid-19. Pembelajaran online sebagai pengganti tatap muka pun bukan pilihan yang mudah. Pasalnya, banyak sekolah GMIT di pedalaman tidak memiliki jaringan listrik dan internet.

Selain persoalan infrastruktur dasar tersebut, yang tidak kalah pelik pula adalah terbatasnya fasilitas perangkat digital dan kapasitas para pengguna (user) aplikasi-aplikasi pembelajaran online. Belum lagi ongkos operasional pulsa yang masih dirasakan mahal.

Aneka tantangan itu terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) online, bertema “Pendidikan Kristen di Era Pandemi Covid-19”, yang diselenggarakan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UKAW-Kupang bekerja sama dengan Majelis Sinode (MS) GMIT, Sabtu, (23/5).

Menyampaikan suara gembala pada kegiatan tersebut, Ketua MS GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon mendorong para pemangku kepentingan pendidikan GMIT seperti; universitas, yayasan, sekolah, orang tua murid dan gereja untuk bersama-sama mengenali, mengumpulkan daya dan dana, kreatifitas, peluang dan tantangan yang ada. Sambil percaya pada janji penyertaan Tuhan dan kuasa yang diberikan-Nya untuk menghadapi segala tantangan termasuk di dunia pendidikan.

Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber antara lain; Pdt. Dr. Eben Nuban Timo, Pdt. Lintje Pellu, Ph.D, Pdt. Elisa Maplani dan Melkias Manggoa, M.Pd.

Menyampaikan materi berjudul, “Virtual Learning dan Learning From Home di Masa Pandemi Covid-19”, Pdt. Eben memandang situasi pandemi ini sebagai moment blessing disguise. Situasi sulit yang sekaligus membawa berkat. Kalau sebelum pandemi separuh orang tua menganggap guru-guru tidak becus mengajar, kini mulai ‘mata terang’ menghadapi anak-anaknya sendiri.

Sementara bagi para guru, inilah peluang untuk melakukan reformasi dan transformasi pembelajaran. Demikian pula halnya dengan para siswa. Mereka berkesempatan untuk menjadi diri sendiri dengan mengembangkan talenta terbaik yang dimiliki.

Selanjutnya ia menjelaskan perbedaan Virtual Learning dan Learning From Home. Yang pertama menunjuk pada metode yang dipakai sedangkan yang kedua menunjuk pada interaksi antar subjek belajar.

Menurut Pdt. Eben, mengutip Paulo Freire, interaksi antar subjek belajar bertumbuh melalui tiga konsep:

Pertama, guru, murid, orang tua berperan sebagai sesama peserta belajar. Artinya pendidikan tidak diperuntukan bagi murid, tetapi bersama murid.

Kedua, belajar tidak dipahami sebagai proses penguasaan atau penjinakkan, tetapi pembebasan dan pemberdayaan dan pembudayaan (habituasi).

Ketiga, proses pembelajaran bukan saja transfer of knowledge dari guru, orang tua ke murid tetapi juga sharing of knowledge bahkan pencarian makna bersama.

Dengan dasar pemikiran yang demikian, kata Pdt. Eben, tujuan pendidikan di sekolah maupun di rumah tidak melulu akademik, tapi terutama pada pembentukan kepribadian sosial, moral dan spiritual anak.

Sementara terkait virtual learning, Melkias Manggoa menginventarisir sejumlah kebutuhan sebagai syarat keberhasilan pembelajaran. Misalnya, ketersediaan jaringan internet dan perangkat pendukung pembelajaran online. Kendati diakui bahwa model pembelajaran online ini masih sulit dijangkau oleh sebagian besar lembaga pendidikan di NTT namun, menurutnya pandemi Covid-19 ini menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi dengan kemajuan teknologi informasi digital.

Karena itu, para tenaga pendidik dan orang tua murid yang bisa mengakses internet, diajak untuk memanfaatkan sejumlah aplikasi pembelajaran online yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seperti; Rumah Belajar, Meja Kita, Icando, IndonesiaX, Google for Education, Ruang Guru, dll.

Sementara terkait keterbatasan sarana prasarana pembelajaran, Pdt. Lintje menyarankan adanya kemitraan oikumenis dengan lembaga-lembaga pendidikan Kristen yang lebih maju.

Merespon usulan ini, Itje Inabui selaku pimpinan yayasan yang menaungi Sekolah Abdi Kasih Bangsa (SAKB), menawarkan bantuan bagi sekolah-sekolah yang membutuhkan pendampingan peningkatan kapasitas guru maupun model-model pembelajaran yang kontektual.

“Kami sangat terbuka untuk berbagi dengan siapa saja. Silahkan kontak kami,” kata Itje. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.