BELAJAR DARI ORANG MAJUS: KESUNGGUHAN MENCARI DAN MENYEMBAH YESUS (MATIUS 2:1-12).

BELAJAR DARI ORANG MAJUS: KESUNGGUHAN MENCARI DAN MENYEMBAH YESUS (MATIUS 2:1-12)

(Pdt. Elisa Maplani)

Cerita tentang orang majus dari Timur sudah sering kita dengar melalui pelajaran saat sekolah minggu, katekisasi atau melalui khotbah. Siapa orang-orang majus itu, Alkitab tidak mencatat nama mereka. Tradisi menyebut 3 orang yakni Melkior, Baltazar dan Gasper. Bahkan konon juga ada orang majus yang keempat yang namanya Artaban yang terpisah dari ketiga rekan dalam perjalanaan.
Meski teks Alkitab tidak merinci secara jelas nama, asal-usul dan jumlah orang majus namun di saat membaca teks Injil Matius disekitar kisah orang-orang majus ini, beberapa hal positif sebagai bahan refleksi dapat diketengahkan:
Pertama, Para majus memiliki semangat yang besar untuk mengetahui tentang Yesus dan melakukan perjumpaan dengan Yesus dalam hidup (Ay 1-2a).
Bintang yang dilihat adalah tanda kelahiran seorang raja baru. Semangat baru-pun muncul untuk menempuh perjalanan berjumpa dengan raja yang baru lahir itu.
Perjalanan hidup yang ditempuh adalah perjalanan yang jauh, melelahkan dan penuh tantangan. Medan yang sangat berat-padang gurun tandus, menempuh perjalanan yang berliku-liku penuh tantangan dan ancaman. Dapat saja diperjalanan hidup itu mereka mengalami banyak tantangan: Kekurangan makan-minum, sakit, kelelahan, tidur di tempat yang tidak layak. Namun mereka maju terus tanpa kenal lelah atau menyerah hingga tiba pada tujuan: berjumpa dengan Yesus Sang Raja.
Kedua, Para majus menempuh perjalanan hidup dengan memperhatikan petunjuk dari Tuhan (Ay 2b,9-10).
Melihat bintang : Ke mana arah bintang, itulah arah perjalanan hidup. Tidak mengandalkan diri, pengetahuan diri, pengalaman tapi petunjuk Tuhan. Itu kunci mereka tiba pada tujuan hidup yakni perjumpaan dengan Yesus. Tanpa berjalan seturut petunjuk yang nyata mereka akan tersesat dan tidak tiba pada tujuan hidup yang sesungguhnya. Melihat pada petunjuk itu yang memberi pengharapan akan suatu kepastian akan masa depan.
Ketiga, Para majus punya tekad yang kuat untuk sujud dan menyembah Tuhan dalam hidup (2c,11a).
Perjumpaan mereka dengan Yesus dalam hidup tidaklah disia-siakan oleh para majus. Mereka sujud dan menyembah Yesus. Diri atau hidup dipersembahkan kepada Tuhan. Itulah tujuan perjalanan hidup yang sesungguhnya:Untuk menyembah Tuhan dalam hidup. Mereka bukan tipe orang-orang yg munafik dalam mencari dan menyembah Yesus seperti Herodes. Herodes berusaha mencari dan menyembah Yesus dalam kemunafikan karena takut kehilangan kuasa.
Para majus adalah orang-orang yang berkomitmen kuat menyembah Yesus meskipun saat menjumpai Yesus antara harapan atau bayangan dan kenyataan berbanding terbalik. Dalam benak/bayangan para majus, seorang Raja tentu penuh dengan kemegahan dan kemewahan: Tinggal di istana megah, berpakaian mewah dan dikelilingi para pengawal. Bayangan itu yang membuat mereka datang pertama di Yerusalem sebagai suatu kota metropolitan dan daerah para elit pusat pemerintahan Raja Herodes.
Kenyataannya, Sang Raja itu lahir di Betlehem –Efrata,sebuah kota terkecil di antara kaum-kaum Yehuda (Ay 5 Band. Mik 5:1), tidak di istana megah tapi di kandang ternak, tidak berpakain mewah tapi terbungkus lampin, tidak di tempat tidur tapi palungan sebagai tempat tidurnya. Orangtua-Nya (Yusuf dan Maria) adalah rakyat jelata. Namun para majus ini tidak undur dari niat semula: Datang untuk dengan hati yang tulus menyembah Yesus, Sang Raja yang lahir itu.
Empat, Para majus mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan (Ay 11b).
Para majus tidak saja beri diri sujud menyembah tapi mempersembahkan harta mereka yang terbaik kepada Tuhan. Pertama-tama mereka buka hati kepada Tuhan dengan cara sujud menyembah dan kemudian mereka membuka harta mereka dengan cara mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan. Hidup dan apa yang ada pada mereka (Emas, Kemenyan dan Mur) diberikan kepada Tuhan. Mereka telah belajar memberi yang terbaik untuk Tuhan. Dengan persembahan ini menolong Yusuf dan Maria saat ada di Mesir. Persembahan mereka telah menolong kehidupan Maria dan Yusuf tapi juga terwujudnya rencana penyelamatan Allah.
Semangat dan kerinduan berjumpa dengan Tuhan, jalani hidup berdasarkan petunjuk Tuhan, sujud menyembah kepada Tuhan dan mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan, telah mendatangkan dampak besar atau upah bagi hidup orang-orang majus ini. Penulis Injil Matius mencatat upah itu. Tuhan memberitahukan bagi mereka bahaya yg membinasakan dan membuka jalan lain bagi mereka untuk menyelamatkan hidup dari rencana-rencana jahat Herodes (Ay 12).
Herodes boleh berencana untuk membinasakan tapi Tuhan punya rencana untuk menyelamatkan. Orang-orang majus ini telah datang dengan hati yang tulus dan murni kepada Tuhan dan Tuhan tidak akan membuang mereka (Band Yoh 6: 37b).
Cerita dari penulis Injil Matius ini, dapat saja secara alegoris kita ceritakan dengan cara yang sama biarpun dengan beberapa variasi. Namun terelepas dari variasi narasi Matius ada pesan Teologis yang kuat bagi orang percaya perlu di ketengahkan:
1. Dalam perjalanan hidup sebagai orang percaya apapun tantangan yang kita dihadapi tidak boleh melunturkan semangat dan kerinduan berjumpa dengan Tuhan
Seperti orang-orang majus, perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan Iman yang tidak bebas dari masalah dan tantangan; Kekenyangan dan kelaparan, Susah dan senang, Air mata duka dan tawa-ria, kekurangan dan kelimpahan, semua itu pasti terjadi dan akan kita alami. Kendati demikian semangat, kerinduan untuk melakukan perjumpaan dengan Tuhan tidak boleh luntur. Apapun tantangan yang dihadapi, betapapun berat dan pahit masalah hidup tidak boleh hilang semangat untuk perjumpaan dengan Tuhan dalam hidup.
2. Jalani hidup sebagai orang percaya sesuai petujunjuk Tuhan.
Berjalan sesuai petunjuk Tuhan membuat hidup ini tidak akan tersesat dan binasa. Apa itu petunjuk Tuhan bagi kita ? Firman Allah. Raja Daud menyatakan kesaksian bahwa : Firman Allah Itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Barangsiapa menjalani hari-hari hidup dalam terang Firman Allah, ia tidak akan tersesat dan tidak akan kehilangan tujuan perjalanan hidup yang sebenarnya yakni perjumpa dengan Tuhan. Tapi setiap orang yang menjalani hari-hari hidup dengan petunjuk dunia ini, dengan mengandalkan kepintaran, pengetahuan dan pengalamannya semata, ia akan tersesat dan tidak akan berjumpa dengan Tuhan dalam hidup. Lihat dan dengar apa yang Tuhan mau dalam hidup maka perjalanan hidup kita tidak akan tersesat.
3. Dalam segala hal dan dalam segala keadaan, Yesus haruslah jadi satu-satunya Tuhan yang patut disembah dalam hidup.
Pengalaman orang majus dalam perjumpaan dengan Yesus juga dapat menjadi pengalaman orang-orang percaya dalam mengikut Yesus. Terkadang apa yang kita temukan atau hadapi tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan atau bayangkan. Mungkin saja kita mengharapkan hidup bersama Yesus adalah kehidupan yang bebas dari masalah, tantangan dan penderitaan-suatu kehidupan yang mulus, bahagia dan selalu beruntung. Tapi kenyataan justeru sering persoalan dan tantangan silih berganti terjadi dan kita alami. Mungkin hal-hal yang baik atau keberhasilan yang kita harapkan tapi kenyataan justeru kegagalan,kekecewaan dan keputus-asaan yang kita perolleh. Bila semua itu terjadi dan kita alami dalam hidup, ingatlah pada para majus yang tidak undur ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan, yang dengan tulus hati tetap pada tekad perjalanan untuk menyembah Yesus Sang Raja. Yesus haruslah tetap menjadi satu-satunya Tuhan yang disembah dalam hidup
4. Belajar untuk memberi (Mempersembahkan) yang terbaik kepada Tuhan.

Belajarlah dari para majus ini selain hidup mereka jadi persembahan bagi Tuhan mereka juga memberikan yang terbaik pada Tuhan berupa emas,mur dan kemenyan.
Allah telah mempersembahkan yang terbaik bagi manusia dan dunia ini dengan cara merendahkan diri jadi manusia melalui kelahiran Yesus bahkan rela mengorbankan putera Tunggal-Nya Yesus mati tersalib dan bangkit untuk menebus manusia dari kebinasaan karena dosa. Panggilan bagi orang percaya adalah memberi yang terbaik: Hidup dan apa yang kita miliki selaku persembahan yang berkenan kepada Allah.
5. Di dalam dan bersama dengan Yesus selalu terbuka jalan yang baru bagi orang-orang percaya.
Hidup mengikut Yesus tidak bebas dari berbagai kesulitan dan tantangan tapi tidak boleh hilang pengharapan di dalam Yesus. Selalu ada jalan yang lain bagi orang percaya untuk bebas dari kesulitan dan tantangan yang Tuhan mungkinkan terjadi tanpa kita tahu dan duga sebelumnya. Di dalam dan bersama Tuhan dalam hidup selalu terbuka bagi kita jalan yang baru dan masa depan yang baru di tengah-tengah bahaya, kesukaran dan kesulitan yang akan mengancam dan hendak membinasakan.
Mungkin saja, banyak orang selalu memiliki niat yang jahat dunia dan mencari jalan untuk membinasakan tapi Tuhan selalu membuka jalan untuk menyelamatkan. Di dalam Tuhan tidak ada seorangpun dan kuasa apapun yg dapat menutup jalan hidup orang percaya sebab Tuhan selalu membuka jalan yang baru bagi orang-orang yg percaya kepada-Nya. Betapa baiknya jalan Tuhan itu bagi hidup kita asalkan dalam hidup, kita memiliki semangat dan kerinduan untuk berjumpa dengan Dia, berjalan sesuai petunjuk-Nya, sujud menyembah kepada Tuhan dalam hidup dan mau memberi yg terbaik bagi pekerjaan Tuhan.
Soli Deo Gloria

Leave a Reply

Your email address will not be published.