Berhenti Jadi Pilot Angkatan Udara Amerika Sekarang Jadi “Pilot” di UBB GMIT

Mike Brooks bersama istri Eva Brooks/Foto:infokom GMIT

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Di puncak kariernya, pilot angkatan udara Amerika Serikat berpangkat mayor ini mengundurkan diri. Ia memilih bekerja untuk sebuah lembaga misi demi apa yang ia sebut sebagai panggilan Tuhan.

Karena keputusan itu, keluarga dan teman-temannya mengira dia gila. Namun, tekadnya tetap bulat mengikut Tuhan. Bersama istri, Mike meninggalkan Amerika Serikat dan terbang ke Indonesia. Usai mendedikasikan hidup selama 14 tahun di Papua dan Afrika, ia memutuskan bekerja di Unit Bahasa dan Budaya (UBB) Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) hingga sekarang.

Masa Kecil

“Saya lahir di Jerman. Waktu itu Bapak saya bertugas sebagai tentara Angkatan Udara Amerika di sana. Sebelum umur satu tahun Bapak pindah tugas kembali ke New York,” demikian kisah Mike Brooks beberapa bulan lalu saat kami dalam perjalanan peluncuran Alkitab dalam bahasa Wersing di Alor.

Tidak seperti anak-anak yang dibesarkan dalam agama tertentu semisal di Indonesia, Mike tumbuh dalam keluarga yang berpaham sekuler. Dalam budaya sekular, beragama adalah soal privasi. Orang tua umumnya memberi kebebasan kepada anak untuk memilih beragama atau tidak. Hal itu terbawa hingga ia dewasa.

Namun, Mike beruntung, dimasa kecilnya ia seringkali melihat neneknya berdoa. Kebiasaan doa neneknya itu kelak membekas di dalam pikirannya.

“Saya ingat nenek selalu berdoa. Ia bercerita tentang Yesus tapi saya tidak mengerti apa-apa tentang itu semua. Saya juga ingat waktu kecil, pernah ikut sekolah minggu di gereja di pos militer tempat Bapak saya bertugas. Waktu itu guru sekolah minggu meminta kami menghafal ayat Alkitab dari Injil Matius dan saya suka sekali karena dapat hadiah. Saya tidak menyangka, itulah benih Firman yang Tuhan tanam di hati saya sejak kecil,” kenang Mike.

Usai menyelesaikan kuliahnya, tahun 1976 ia mengambil sekolah penerbangan, mengikuti jejak ayahnya. Di tahun yang sama, pacarnya Eva Brooks, meneruskan kuliah masternya di bidang pendidikan. Tahun 1978 mereka menikah dan Mike memulai karier sebagai pilot pesawat pengisi bahan bakar (tangker) untuk kebutuhan militer Amerika disejumlah negara.

“Saya bawa pesawat militer tipe DC 10. Ini pesawat besar yang dikemudian hari menjadi cikal bakal pesawat Boeing sekarang. Jadi, pesawat yang saya bawa mengisi bahan bakar di udara. Pesawat penerima dari arah belakang dan pesawat pengisi (tangker) memanjangkan selang ke tangki dan pengisian dimulai. Biasanya pengisian dilakukan pada posisi 28.000 kaki,” jelasnya.

Lantaran pekerjaan ini, ia mengaku bolak-balik menerbangkan pesawat di mana terdapat pangkalan udara militer USA seperti: Jerman, Inggris, Arab Saudi, Spanyol, Italia, Korea, Okinawa-Jepang dan Filipina.

Berhenti Jadi Pilot Pesawat Militer

“Sebelumnya saya tidak percaya Tuhan. Bisa dibilang saya sekuler. Waktu masih muda ada yang datang memperkenalkan Yesus kepada saya tapi saya tidak percaya. Tapi Tuhan kemudian merubah hati saya. Saya kemudian menerima Dia sebagai Juruselamat. Setahun kemudian istri saya Eva juga terima Yesus dan kami memutuskan untuk saya berhenti setelah 12 tahun bekerja di militer dengan pangkat mayor,” ujar bapak lima anak ini.

Keputusan mengikut Yesus sebagai titik balik dalam hidupnya ini terjadi tahun 1980.

“Setelah saya terima Tuhan Yesus, saya menelpon nenek dan dia sangat bersukacita. Nenek senang sekali dan dia bilang saya sudah lama berdoa untuk Mike dan Eva.”

Tahun 1989, ia melamar ke MAF (Mission Aviation Fellowship). Ini adalah lembaga penginjilan internasional yang bermarkas besar di Amerika SerikatInggris, dan Australia. LSM ini bergerak di bidang penerbangan untuk melayani masyarakat terpencil dan miskin di seluruh dunia, termasuk untuk memberitakan Injil, seperti di HaitiMozambik, Kongo, Lesotho dan Papua Nugini. MAF juga tercatat melayani suku-suku asli seperti Aborigin di Australia, suku-suku Indian Amerika Selatan, dan sebagainya. Di Indonesia, maskapai ini melayani penerbangan perintis ke daerah-daerah terpencil di Indonesia sejak era 1950an, khususnya di Papua dan pedalaman Kalimantan.

Dalam buku sejarah GMIT “Benih Yang Tumbuh 11”, tahun 1972 lembaga ini juga pernah bekerja sama dengan GMIT. Pesawat MAF Cessna 206 dipiloti Mr. Jim banyak membantu transportasi antar pulau baik untuk pelayanan gereja maupun pemerintah provinsi NTT.

Syukur, MAF menerima lamarannya. Tahun 1990 Mike dan Istri terbang ke Indonesia. Guna memperlancar komunikasi, mereka kursus bahasa Indonesia di Bandung selama satu tahun. Usai kursus mereka pindah dan menetap di Papua. Ia menjadi pilot pesawat MAF Cessna 208 dengan kapasitas 5-10 penumpang.

Cerita Unik

“Saya tugas di Papua dari tahun 1991 sampai 1994. Kami membantu orang-orang desa. Kalau ada yang sakitnya darurat, seperti malaria tropika atau ibu hamil yang tidak bisa melahirkan. Mereka pakai radio dan panggil ke pusat dan pusat panggil kami lalu kami jemput pasien untuk dibawa ke rumah sakit. Tapi sehari-hari kami membawa misionaris, penginjil atau pendeta untuk pekerjaan pelayanan gereja lokal. Kami juga membantu mengantar pejabat pemerintah, membawa beras, gaji guru-guru di pedalaman dan bantuan lain-lain,” tuturnya.

Tiga tahun di Papua, ia dipindahkan ke Afrika dari 1994-1998. Lalu balik lagi ke Papua 1998 hingga 2010.

Selama bertugas di Papua, ada kisah yang tidak pernah dilupakan. Peristiwa sesungguhnya menegangkan dan berbahaya tapi sekaligus lucu.

“Saya beberapa kali bertugas mengevakuasi keluarga misionaris yang terjebak karena perang suku di pedalaman Papua. Saya tidak menyangka ketika mendarat, ramai-ramai mereka berhenti perang lalu datang nonton pesawat. Nanti setelah pesawat lepas landas baru mereka lanjut lagi perang. Ini cerita benar-benar terjadi di Papua,” kisahnya sambil tertawa mengenang pengalaman unik ini.

“Ya…, kami senang melayani di Papua. Kami tidak menyesal meninggalkan pekerjaan semula. Kami justru senang Tuhan panggil kami melayani sebelum saya pensiun di Angkatan Udara Amerika, ” katanya lagi.

Pindah ke Timor

Kisah pindah alih tugas Mike dan Eva bermula dari perkenalannya dengan Pdt. Prof. Dr.  Charles Grimes dan Prof. Dr. Barbara Grimes. Kedua suami-istri ini adalah ahli bahasa yang memberi perhatian pada penerjemahan Alkitab dalam bahasa-bahasa lokal khususnya di Indonesia bagian Timur.

“Setelah saya berhenti bekerja di MAF saya masuk di Wicliffe Bibel Translators (WBT).  Lembaga ini punya mitra kerja namanya JAARS (Jungle Aviation And Radio Servise). Saya menjadi direktur dari lembaga ini selama 5 tahun. Kami membantu memfasilitasi para misionaris melintasi daerah-daerah yang sulit dijangkau dengan kendaraan darat maupun laut,” tutur Mike.

Setelah kedua orang tuanya meninggal dan menyusul anak bungsu mereka wisuda tahun 2015, mereka merasa cukup ada kesempatan kembali lagi ke Indonesia untuk melayani, tapi belum tahu pelayanan apa dan di mana? Jadi, mereka melapor ke WBT dan langsung direspon oleh Barbara Grimes dengan meminta mereka bekerja di Unit Bahasa dan Budaya (UBB)  GMIT di Kupang. Lembaga ini mengerjakan terjemahan Alkitab dalam bahasa-bahasa lokal di NTT sebagai wujud kerja sama dengan WBT dan SIL (Summer Institute of Linguistics) Internasional.

Eva berlatar belakang pendidikan guru.  Ia spesialis mengajar anak-anak yang mengalami downsyndrom seperti gagap yang menyebabkan mereka sulit membaca. Ia sempat mengajar selama 8 tahun di Amerika dan 10 tahun di Papua.

“Kalau ada anak yang kesulitan membaca  saya membantu mereka. Saya study khusus untuk membantu anak-anak yang tidak normal  akibat down syndrom. Biasanya anak-anak ini berbicara tidak jelas dan sulit membaca. Saya punya pengalaman untuk hal-hal seperti itu dan saya senang membantu mereka agar bisa membaca,” jelas Eva.

Di UBB GMIT, Eva bertugas menangani produk-produk bacaan untuk anak-anak. Divisi ini menghasilkan buku-buku cerita dalam bahasa-bahasa daerah di NTT.

Berhubung Prof. Barbara Grimes mesti memimpin kantornya sebagai direktur di Australia Timor Grup di Darwin, Mike menggantikan posisinya di UBB GMIT-Kupang.

“Pimpinan UBB GMIT adalah Ibu Barbara, tetapi karena dia tinggal di Australia maka saya menggantikannya di sini. Bisa dibilang saya Kepala Kantor UBB GMIT, atau lebih tepat wakil ketua. Tugas saya adalah memimpin pekerjaan di UBB. Kami senang bekerja dengan teman-teman di UBB GMIT. Mereka komitmen pada pekerjaan mereka dan sangat profesional di bidang mereka masing-masing,”  ujar Mike.

Melayani dari Hal-hal Kecil

Kendati menjabat sebagai pimpinan UBB GMIT di Kupang, Mike tidak merasa terlalu “besar” mengerjakan hal-hal kecil seperti menyiapkan air minum untuk para staff.

“Saya senang ketika melihat teman-teman penerjemah sibuk mengerjakan tugas mereka dan botol-botol air mereka sudah habis. Saya cek dan lari pergi ambil dan bagikan kepada mereka supaya mereka tidak harus keluar ruangan hanya untuk cari air. Saya selalu cek apa keperluan mereka dan saya selalu siap membantu. Termasuk merapikan ruangan. Jadi itu sukacita tersendiri bagi saya. Apa yang orang lain anggap rendah dan mereka tidak lihat sebagai sesuatu yang penting justru itu merupakan hal yang sangat bermakna bagi saya,” ujarnya serius.

Mike sangat mensyukuri panggilan Tuhan dalam hidup keluarga dan pelayananya selama 21 tahun bekerja di MAF dan 8 tahun di WBT.

“Bagi kami panggilan artinya pergi. Tuhan akan atur dengan siapa dan sebagai apa? Dulu Tuhan atur ke MAF sebagai pilot, sekarang kami di WBT. Kami tetap ikut panggilan dari Tuhan. Hati kami tunduk pada tujuan yang Tuhan kehendaki dari kami. Kami percaya dalam panggilan itu Tuhan pasti menolong kami,” katanya merenung.

“Pak Mike mau bekerja di Timor sampai kapan?” tanya Berita GMIT mengakhiri wawancara.

“Kami senang tinggal di sini dan kalau Tuhan mengijinkan kami berencana bekerja di UBB GMIT sampai tahun 2025,” ungkapnya tersenyum. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *