//Gereja-Gereja Asia Tenggara Berkumpul di Kupang, Perkuat Ketahanan Iklim yang Inklusif dan Responsif Gender

Gereja-Gereja Asia Tenggara Berkumpul di Kupang, Perkuat Ketahanan Iklim yang Inklusif dan Responsif Gender

KUPANG, NTT,www.sinodegmit.or.id,– Di tengah ancaman krisis iklim global yang kian nyata, para pemimpin gereja dan lembaga pembangunan dari Indonesia, Timor-Leste, Filipina, dan Australia berkumpul di Kupang pada 2-7 Maret 2026 dalam Workshop SEARO bertema “Strengthening Locally Led, Gender-Responsive Climate Resilience”. Pertemuan ini bertujuan menyatukan langkah gereja-gereja di Asia Tenggara untuk membangun komunitas yang tangguh melalui pendekatan yang dipimpin secara lokal dan inklusif.

Direktur Nasional Uniting World, Sureka Goringe, menyampaikan bahwa di tengah ancaman peperangan dunia, ia mengajak masyarakat global untuk konsisten melakukan kebajikan kecil demi menjaga nilai kemanusiaan. Karena itu kegiatan ini merupakan langkah konkret dalam mewujudkan kasih Tuhan.

“Kita mungkin bukan pemimpin yang berkuasa, dan kita tidak memiliki tentara, tetapi kita memiliki iman, pengharapan, dan kasih. Perjumpaan ini untuk merayakan penyertaan Tuhan dalam pelayanan kita, untuk saling menguatkan, dan belajar satu sama lain untuk misi yang telah Allah siapkan bagi kita,” kata Sureka dalam sambutannya pada pembukaan Wokshop SEARO 2026 di Jemaat GMIT Kota Kupang, Klasis Kota Kupang, Senin (2/3/2026) .

Sementara itu Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, dalam suara gembalanya menyoroti berbagai tantangan kontemporer seperti ketahanan pangan, kesenjangan gender, kemiskinan ekstrem, stunting, hingga dampak peperangan sebagai persoalan krusial yang harus dihadapi gereja saat ini.

Pdt. Semuel menekankan pentingnya pendekatan feminisme interseksional dalam membedah isu-isu tersebut, sebab penindasan yang terjadi memiliki dampak sistemik yang luas.

“Isu-isu tersebut menuntun kita untuk melihat dari sudut pandang feminisme interseksional bahwa kekerasan dan penindasan tidak hanya dialami oleh perempuan, tetapi mengakibatkan kerentanan bagi seluruh makhluk. Karena itu, gereja-gereja perlu memperkuat daya tahan (survive) di tengah kondisi global yang tidak menentu,” tegas Pdt. Semuel.

Ia berharap melalui forum SEARO 2026, gereja-gereja Asia Tenggara bersuara dan melakukan aksi nyata yang mampu memulihkan tatanan dunia.

Workshop ini dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang bagi pelayanan gereja, di antaranya: Transformasi Teologi: Mengintegrasikan isu perubahan iklim ke dalam pelayanan gereja, termasuk aspek gender dan kemiskinan; Pelayanan yang Inklusif: Memastikan kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan difabel mendapatkan perlindungan dan akses sumber daya yang adil karena mereka adalah pihak yang paling terdampak krisis iklim; Penguatan Kelembagaan: Meningkatkan kapasitas mitra dalam mengelola proyek yang berbasis bukti dan akuntabel melalui sistem monitoring dan evaluasi yang kuat.

Sebanyak 40 peserta hadir, terdiri dari pimpinan gereja seperti GMIT, GPM (Maluku), IPTL (Timor Leste), UCCP (Filipina), hingga mitra pembangunan seperti Yayasan FUSONA, TLM, dan MBM.

Agenda selama enam hari tersebut mencakup: Diskusi GEDSI: Membahas mengapa dampak iklim tidak netral gender; Aksi Adaptasi: Sesi berbagi praktik terbaik dan penandatanganan perjanjian kemitraan antara Gereja Uniting di Australia (UCA) dengan GKS Sumba; Kunjungan Lapangan: Observasi langsung ke Desa Oelomin untuk melihat partisipasi kepemimpinan perempuan dalam ketahanan iklim; dan Malam Budaya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan ibadah serta perjamuan kudus yang dipimpin oleh Pdt. Lay Abdi K. Wenyi dan para pendeta dari beberapa sinode yang hadir. *