Dipersatukan Karena Anugerah (Efesus 1:3-14) – Pdt. Dr. Ira D. Mangililo

Pdt. Dr. Ira Mangililo

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Pada tanggal 31 Oktober 1517, 503 tahun yang lalu tepat di hari ini ada seorang rahib/biarawan yang berasal dari Jerman yang memakukan sebuah daftar berisi 95 pernyataan di pintu gerbang gedung gereja di Wittenberg Jerman. Apa yang dikatakannya menjadi pemicu ternyadinya Reformasi Protestan.

Hari ini apa yang dikatakan Martin Luther nama biarawan tersebut masih tetap bergema di seluruh dunia di mana persoalan iman pribadi dikembalikan lagi kepada setiap orang percaya; hal ini berarti bahwa siapa saja tanpa terkecuali diijinkan untuk membaca Alkitab mereka dalam bahasa asli masing-masing dan melalui pimpinan Roh Kudus menemukan kehendak Allah dan kebenaranNya.

Hal ini merupakan sesuatu yang luar biasa pada waktu itu karena pada masa Luther mereka yang berhak membaca dan menafsir Alkitab hanyalah para pemimpin umat mengingat bahwa Alkitab sendiri diterjemahkan dalam bahasa Latin sehingga yang mengerti hanyalah mereka yang belajar khusus di seminari-seminari.

Inti dari pengajaran Reformasi adalah lima Sola yaitu Sola Scriptura (hanya Alkitab), Solus Christus (hanya Kristus), Sola Gratia (hanya anugerah), Sola Fide (hanya iman), dan Sola Deo Gloria (kemuliaan hanya untuk Allah). Ketika disatukan dalam satu pemahaman maka kita dapat katakan bahwa kemuliaan keselamatan hanya milik Allah sendiri dan Alkitab memiliki otoritas sebagai Firman Tuhan bagi kita, bahwa hanya Kristus yang memungkinkan keselamatan kita, dan bahwa orang-orang berdosa dijadikan benar di hadapan Allah hanya oleh kasih karunia dan melalui iman saja. Inilah kabar baik keselamatan itu.

Perjuangan Martin Luther agar semua orang memiliki hak yang sama untuk membaca dan memahami Alkitab didasarkan pada keyakinan yang Luther sendiri mengerti dari berbagai teks dalam kitab suci seperti yang kita baca di hari ini yaitu bahwa Allah dalam Kristus telah menyatukan kita sebagai satu keluarga Allah dalam visi kesatuan, keutuhan dan kedamaian. Hal ini mungkin karena Efesus 1 memproklamasikan bahwa Allah telah memilih kita semua – tidak terkecuali – bahkan sebelum fondasi dunia ini dibangun. Allah telah menakdirkan atau mempredestinasikan kita kita sejak awal untuk diadopsi sebagai anak-anak Allah melalui Yesus Kristus seturut dengan kehendakNya.

Untuk diadopsi oleh Allah adalah suatu hal yang luar biasa dan sebagai orang Kristen kita semua bangga karena masing-masing kita telah ditandai dengan sebuah stemple atau cap yang tidak kelihatan bahwa kita adalah milik Allah. Namun kita diingatkan dalam bacaan kita bahwa kita tidak boleh berbangga diri jika kita dipilih oleh Allah; hal itu bukan karena kita lebih suci, lebih baik, lebih hebat dari orang lain yang dianggap lebih berdosa, lebih kalah, lebih marginal atau terpinggirkan dari kita – mereka yang adalah warga kelas dua dalam masyarakat. Tidak. Kita dipilih oleh Allah bukan karena kehebatan kita yang membuat Allah mencintai kita melebihi cintaNya kepada orang lain.

Sebaliknya, Allah memiliki kita hanya semata-mata karena anugerahNya; karena Ia telah mencintai kita bahkan sebelum dunia apalagi diri kita dilahirkan – mengapa? Karena Allah tahu bahwa kita semua perlu diadopsi/dipilih dan perlu dicintai. Tetapi penting pula untuk diingat bahwa bukan kita sendiri yang dipilih Allah. Angkatlah mata kita masing-masing dan lihat ke samping kiri kanan kita. Setiap orang yang duduk bersama kita di hari ini di dalam gedung gereja ini – mereka pun tanpa terkecuali adalah sama seperti kita sendiri, dipilih Allah sama persis seperti alasan Ia memilih kita yaitu karena Ia mencintai kita. Mereka adalah saudara dan saudari kita – yang meski berbeda namun disatukan dengan kita melalui proses adopsi itu.

Ketika membaca Efesus 1:3-14 tepat ketika kita Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) memperingati 503 tahun Reformasi, 73 tahun umur GMIT dan penutupan Bulan Keluarga maka bacaan ini menolong kita untuk melihat Kembali GMIT yang merupakan Familia Dei atau Keluarga Allah. Kita sadar bahwa sebagai GMIT, kita yang berbeda suku, latar belakang budaya, status sosial, pendidikan, cara pandang teologi, dll disatukan untuk tinggal bersama dalam satu rumah dengan ibu yang sama yang bernama GMIT. Berbagai perbedaan yang saya sebutkan di atas bukanlah merupakan sesuatu yang baru.

Rasul Paulus pun pada masanya ketika ia menulis Surat Efesus ini diperhadapkan dengan konteks bergereja yang di mana dunia yang ditinggalinya terbagi-bagi ke dalam berbagai kotak. Dia menghadapi berbagai prasangka di gereja-gereja yang ia layani. Hampir semua gereja pada zamannya hidup dengan ketegangan antara anggota Yahudi, Yunani dan Romawi. Dari perspektif Yahudi, semua non-Yahudi adalah kafir non-Yahudi. Dari perspektif Yunani dan Romawi, yang lainnya adalah orang barbar yang tidak berbudaya dan tidak beradab. Seperti yang dapat kita semua bayangkan, ini menciptakan beberapa masalah di antara gereja-gereja tersebut. Pembacaan yang cermat atas surat-surat Paulus menunjukkan bahwa Rasul Paulus selalu berurusan dengan satu konflik atau lainnya yang berkaitan dengan perpecahan di dunianya dan hal ini sangat mengganggu kesatuan dalam kehidupan bergereja.

Namun demikian, Rasul Paulus masih bisa membayangkan bahwa semua orang yang terpecah itu dapat hidup – terikat dan terusun rapi sebagai satu tubuh karena tinggal bersama di dalam Kristus. Hal ini mungkin karena Paulus percaya bahwa kematian Yesus di kayu salib telah memungkinkan terciptanya rekonsiliasi di antara bagian-bagian keluarga manusia yang terpecah itu. Dia membingkai ini dari perspektif Yahudi. Menurut Paulus perpecahan yang saat itu terjadi disebabkan oleh berbagai aturan dan regulasi Hukum Yahudi yang kaku terutama berhubungan dengan umat pilihan, apa yang halal dan tidak halal, apa yang kudus dan tidak kudus yang memisahkan orang-orang Yahudi dan non-Yahudi pada zamannya dan oleh karena itu membangun tembok pemisah permusuhan di antara mereka.  Namun Paulus dalam argumennya mengatakan bahwa Kristus yang telah datang dan mati di kayu salib telah membatalkan aturan-aturan yang kaku yang memecah belah masyarakat tersebut.

Di sini saya garisbawahi sekali lagi apa yang dikatakan Rasul Paulus bahwa kematian Kristus telah membawa rekonsiliasi atau pemulihan hubungan di antara manusia dan Allah. Implikasi atau akibatnya bagi kita adalah bahwa ketika relasi atau hubungan antara manusia dengan Allah dapat dipulihkan maka manusia yang mengaku sebagai pengikut Kristus pun harus terbuka untuk mau didamaikan atau dipulihkan relasinya terhadap satu dengan yang lainnya. Di sini, Paulus mengingatkan kita bahwa hal yang menjadi pemisah di antara manusia adalah kebencian yang manusia satu miliki terhadap yang lainnya dan cara untuk mengatasi kebencian ini adalah dengan cinta; karena seperti yang kita ketahui bersama bahwa kebencian tidak dapat diatasi dengan kebencian. Kekerasan tidak dapat diatasi dengan kekerasan. Kita hanya dapat mengatasi kekerasan dengan kedamaian.

Di sinilah Paulus mengingatkan kita bahwa kematian Yesus adalah sebuah tindakan pendamaian guna mengatasi kebencian dan perpecahan dalam kehidupan keluarga manusia. Dengan demikian, Paulus percaya bahwa kedamaian yang dibawa oleh Yesus Kristus mampu menyembuhkan perpecahan dan luka akibat perpecahan itu dalam jemaat yang adalah Tubuh Kristus; dan sebagai bagian dari Tubuh Kristus, kita dipanggil untuk menunjukkan seperti apa bentuk kesatuan itu dalam kehidupan kita bersama sebagai komunitas iman. Di sini, adalah tugas dan tanggung jawab kita untuk menunjukkan anugerah dan belas kasihan Kristus kepada orang lain di dunia ini.

Inilah Firman Tuhan yang datang untuk kita di hari ini. Di hari Reformasi, ulang tahun GMIT dan hari penutupan Bulan Keluarga maka Paulus mengingatkan kita bahwa kita adalah Familia Dei – keluarga Allah di mana kita adalah saudara bersaudara yang telah disatukan dalam proses adopsi yang Allah telah lakukan untuk kita. Di hari ini kita sebagai saudara bersaudara yang disatukan atas nama cinta dipanggil untuk membuka mata hati kita guna tinggal dan menggumuli kehidupan kita bersama selaku umat Tuhan.

Di hari ini kita melihat bahwa mungkin ada di antara saudari perempuan kita yang sangat berbeda cara berpikirnya dari kita, cara dia membawa dirinya, cara berpakaian, ataupun cara bertindak tetapi kita diminta untuk belajar menerima dan memahaminya. Itulah yang Allah – sebagai orang tua kita harapkan dari kita. Di hari ini, kita melihat bahwa mungkin ada saudara laki-laki kita yang sedang bergumul dalam kehidupannya, sulit dalam mencari pekerjaan, berjuang dari nol. Adalah tugas kita untuk mengatakan kepadanya bahwa dia tidak sendiri. Allah – orang tua kita dan kita sendiri mencintai dia. Di hari ini, mungkin ada saudari perempuan kita yang mengalami KDRT atau apapun juga. Adalah tanggung jawab kita untuk mengunjunginya guna menguatkannya; bahwa Allah – orang tua dan kita sendiri merengkuhnya dalam dekapan kasih kita.

Di hari ini, mungkin ada saudara kita yang sedang bergumul dengan persoalan keuangan, mungkin dikeluarkan dari pekerjaan. Adalah panggilan kita untuk bersama-sama dengannya mencari jalan keluar meringankan beban hdupnya. Allah – orang tua kita dan kita sendiri selalu berjalan bersamanya. Di hari ini mungkin ada saudara laki-laki kita yang sakit, terluka dan terpuruk sendiri. Adalah tugas kita untuk menggenggam tangannya dan berjalan bersamanya. Allah – orang tua kita dan kita sendiri tidak ingin dia kehilangan harapan dan mengakhiri kehidupannya dalam keputusasaan itu. Di hari ini, banyak jemaat kita yang sedang bergumul dengan kehidupan mereka. Jangan berjalan melewati mereka begitu saja tanpa menoleh karena berpikir itu bukan urusan kita.

Di hari saya berdoa, agar setiap kali kita ada dalam posisi itu, Roh Tuhan memampukan dan memberdayakan kita untuk melihat sesama kita – terlepas dari apapun latar belakang mereka – sebagai saudara dan saudari kita. Ketika mereka sakit dan terluka, kita juga sakit dan terluka; ketika mereka menderita, kita juga menderita. Di saat mereka menemui jalan buntu, kita bersama mencari jalan keluar karena itulah tanggung jawab kita untuk ada bersama mereka, bertindak bersama dan bagi mereka semampu kita. Dengan melakukan demikian maka kita menghidupi tujuan hidup bergereja yang Paulus anjurkan dalam Efesus 1:10 yaitu “untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun di bumi.” Di hari ini, saya berdoa bagi GMIT sebagai Gereja yang kita cintai bersama ini agar tetap rapi tersusun – diikat di dalam satu kasih yaitu kasih Kristus. Tuhan memberkati dan menolong kita. Amin! ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.