Doa Dalam Kerendahan Hati – Markus 1:40-45

Seorang ibu pernah bercerita tentang anaknya sakit dan keadaannya sangat kritis. Ia harus dirawat di ruang ICU RSU. Para dokter yang menangani anaknya mengatakan bahwa hanya mujizat yang dapat menyelamatkannya. Ia dan suami tidak menyerah. Mereka terus berdoa siang dan malam, yang katanya sampai seperti melayang di udara. Tapi keadaan anaknya bertambah buruk.

Melihat anaknya menderita, suatu siang ia berdoa dengan penuh penyerahan, biar Tuhan yang menentukan. Sambil menangis, ia berdoa, “Kalau Tuhan mau maka berilah kesembuhan. Tapi semua terserah pada Tuhan. Kalaupun anak hamba meninggal, aku tetap percaya pada-Mu.” Ternyata mujizat terjadi. Anaknya sembuh secara ajaib. Ia membuka matanya dan meminta makan.

Sahabat Kristus, Tuhan tahu memberi yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Hanya saja kita perlu memperbaiki konsep kita tentang doa. Memaksa Tuhan untuk menjawab adalah tindakan yang menempatkan kita pada posisi pantas untuk diabaikan oleh Allah. Mengharuskan Tuhan untuk memberikan apa yang kita minta adalah tindakan meninggikan diri sendiri dan merendahkan Tuhan. Logikanya adalah memangnya kita siapa sehingga diperbolehkan memaksa Tuhan? Sayangnya kita sulit membedakan doa yang penuh percaya dan doa yang memaksa. Atas nama iman dan percaya kita berdoa, padahal yang terkandung di hati dan sikap adalah memaksa dan mengharuskan Tuhan. Ada pula yang di dalam doanya menyelibkan kata-kata ancaman kepada Tuhan seperti, ‘kalau Tuhan tidak berikan maka saya tidak akan mempercayai Tuhan lagi.’

Tuhan tempat kita menujukan doa-doa kita adalah Tuhan yang berkuasa. Ia berkuasa untuk menjawab ataupun menolak doa-doa kita. Sikap hati yang benar kala berdoa kepada Tuhan adalah membiarkan Ia menjalankan kuasa-Nya sesuka hati-Nya. Toh Ia tahu apa yang berbaik untuk diberikan bagi kita. Yang paling penting adalah Ia Allah yang mengasihi kita.

Doa yang benar adalah doa yang disampaikan dalam kerendahan hati yang sungguh, seperti doa orang yang sakit kusta. Dalam kesadaran bahwa ia tidak layak menerima kesembuhan, ia tidak layak untuk dijamah oleh Yesus karena ia najiz, ia memohon, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Permohonannya menimbulkan belas kasihan Kristus atasnya. Maka seketika itu juga Yesus menjamahnya dan jadilah ia sembuh. Tidak ada yang terlalu ajaib bagi Tuhan untuk dikerjakannya bagi kita. (LM)

 

Wise Words : Semakin sedikit orang menggunakan akalnya, semakin banyak pula ia akan berkata-kata.

Leave a Reply

Your email address will not be published.