Empat SD GMIT di Kota Kupang Jadi Pilot Project Sekolah Model

Penandatanganan MoU MS GMIT dengan YPKB dan Yapenkris Priskila, Minggu, (31/7).

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Majelis Sinode GMIT dan Yayasan Pelita Kasih Bangsa (YPKB) meneken nota kesepahaman/memorandum of understanding/MoU pengembangan sekolah model GMIT.

Penandatanganan berlangsung pada kebaktian penutupan bulan pendidikan GMIT di Jemaat Imanuel Oepura, Minggu, (31/7).

Empat sekolah yang akan dijadikan pilot project awal sekolah model yakni: SD GMIT Oepura, SD GMIT No. 7 Oebufu, SD GMIT 2 Kuanino dan SD GMIT Oesapa. Sekolah-sekolah ini berada di bawah naungan Yapenkris Priskila, Kota Kupang.

Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Mery Kolimon menyebut MoU ini sebagai tanda komitmen GMIT mewujudkan visinya di bidang pendidikan. 

“Salah satu keputusan penting pada Persidangan Sinode GMIT ke-34 tahun 2019 di Jemaat Paulus adalah kita ingin menghasilkan sekolah-sekolah model. … Mari kita berkomitmen bahwa NTT harus lebih baik, dan itu harus dimulai dari mengurus pendidikan,” katanya saat menyampaikan suara gembala.

Terkait pilihan kerja sama dengan YPKB, kata Pdt. Mery, dilatari oleh kehadiran YPKB yang menaungi Sekolah Abdi Kasih Bangsa (SAKB), yang telah berpengalaman selama 15 tahun di Kota Kupang dan NTT.

Ia berharap MoU ini mengikat komitmen jemaat, klasis dan sinode untuk mendukung sekolah-sekolah GMIT secara berkesinambungan.

Di dalam dokumen MoU disepakati ruang lingkup kerja sama meliputi empat hal:

Pertama, pembinaan dan pelatihan bagi sekolah-sekolah dampingan sehingga dapat memenuhi kriteria sebagai sekolah model yakni sekolah yang menyelenggarakan “Pembelajaran berpusat pada siswa” (student-based learning), melalui program sekolah maupun proses pembelajaran di dalam kelas, sehingga sekolah-sekolah ini dapat menjadi contoh bagi sekolah-sekolah GMIT lainnya.

Kedua, peningkatan kompetensi kepala sekolah dan guru dari sekolah dampingan untuk memfasilitasi dengan pengembangan “Keterampilan Abad-21” (21th Century skills) yang mencakup: literasi-dasar (hard skills), keterampilan belajar dan karakter (soft-skills), yang didasarkan pada tujuan Kurikulum Merdeka Belajar yakni pembentukan Profil Belajar Pancasila.

Ketiga, penyelenggaraan pelatihan bagi para kepala sekolah dan guru dari sekolah-sekolah dampingan tersebut mengenai pembentukan “sekolah positif” dan “kelas positif” yakni mencakup pembelajaran yang aktif, kreatif, edukatif, dan menyenangkan.

Keempat, pembinaan dan pengembangan pendidikan berkarakter Kristiani pada sekolah-sekolah dampingan tersebut melalui pengembangan kultur pendidikan sebagai Sekolah Ramah Anak yang bertolak dari rasa cinta pada anak.

Ketua Badan Pengawas dan Ketua Badan Pengurus YPKB, Pdt. Emr. Dr. Junus Inabuy dan Fainmarinat S. Inabuy, Ph.D, menyampaikan sambutan.

Selain penandatangan MoU antara MS GMIT dan YPKB, ada pula dua dokumen turunanan lainnya yang ditandatangani yakni Perjanjian Kerja Sama (PKS) dan dokumen program kerja para pihak.

Yapenkris Priskila diwakili Ketua Pengurus, Drs. Maxwell Halundaka, dan YPKB oleh Dr. Fainmarinat S. Inabuy.

Usai penandatangan tersebut, Ketua Badan Pengurus YPKB, Fainmarinat S. Inabuy, Ph.D, dalam sambutannya menegaskan bahwa tugas memajukan pendidikan bukanlah hal mudah. Oleh sebab itu momentum kerja sama ini harus dilihat sebagai pekerjaan bersama semua pihak khususnya jemaat-jemaat GMIT.

Penegasan serupa juga disampaikan Ketua Badan Pengawas YPKB, Pdt. Emr. Dr. Junus Inabuy.

“Mari kita bekerja sama membangun kebaikan bagi putra-putri bangsa. Ini mimpi terlalu besar tapi dihadapan Tuhan tidak ada yang mustahil,” ucap Pdt. Inabuy. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.