GMIT di Kota Pahlawan -Pdt. Sendy Meylani, M.Si

Pdt. Sendy Meylani, M.Si (keenam dari kiri) bersama sahabat-sahabat sepelayanan di Jemaat GMIT Hosana Surabaya

KUPANG, www.sinodegmit.or.id,  Berawal dari perkumpulan ibadah  dari satu rumah ke rumah lain, akhirnya tanggal 27 Agustus 2017 GMIT Hosana diresmikan menjadi salah satu Jemaat GMIT yang tergabung dalam Klasis Alor Barat Laut. Jemaat Hosana memiliki 120 kepala keluarga dengan jumlah anggota sekitar 370-an jiwa. Baru saja, 18 Oktober 2019,  GMIT Hosana Surabaya genap berusia 10 tahun.

April 2019 lalu saya ditempatkan sebagai pendeta di Jemaat Hosana. Tugas utama saya adalah menata pelayanan sesuai dengan ‘warna’ GMIT. Sebelumnya pola beribadah dan tata kelola pelayanan di sini semi karismatik. Oleh sebab itu jika ada yang bertanya, sulitkah? Tentu sulit oleh karena saya baru saja ditahbiskan menjadi pendeta GMIT sehingga merasa belum cukup pengalaman mengelola pelayanan.

Saya percaya bahwa semua Jemaat GMIT memiliki ziarah pelayanan yang berbeda, seperti pengalaman kehidupan masing-masing anak dengan keunikannya, ada yang tersesat berulang-ulang, ada yang mendapati karir yang cemerlang di usia muda, ada yang menganggur bertahun-tahun, ada yang cepat menikah dan ada juga yang punya banyak anak, bahkan ada yang hidup sebatang kara. Tentu saja GMIT Hosana Surabaya juga memiliki keunikan yang bisa menjadi inspirasi pelayanan bagi jemaat lainnya atau jadi tantangan dalam membangun pelayanan di Kota Surabaya.

GMIT Hosana bersentuhan langsung dengan banyak denominasi dan agama. Kepelbagaian itu menjadikan Jemaat Hosana semakin kaya dalam perbedaan tetapi juga berpotensi menjadikan Jemaat Hosana mudah terpengaruh dan bisa saja melunturkan identitasnya. Hal itu tampak dari model pelayanan dan tata kelola organisasi yang berjalan sebelum GMIT Hosana dinyatakan mandiri. Tidak bermaksud melupakan jasa para hamba Tuhan yang pernah melayani anggota GMIT Hosana di masa lampau namun keputusan untuk memandirikan jemaat ini bertujuan untuk memastikan komitmen bersama merawat identitas GMIT di mana ia hadir.

Ruang kebaktian Jemaat GMIT Hosana Surabaya

Tidak hanya dengan denominasi, saudara-saudari umat Muslim yang menjadi mayoritas di Surabaya juga menjadi tantangan tersendiri. Di beberapa wilayah pelayanan GMIT Hosana, kami boleh bebas beribadah, bernyanyi dan memuji Tuhan, namun tidak di wilayah lainnya. Di daerah Rungkut dan Gadel Sari misalnya, warga setempat tidak mengijinkan untuk beribadah. Warga yang tinggal di kos-kosan juga dilarang beribadah oleh pemilik kos. Itulah risiko bagi kami yang tinggal di tengah-tengah komunitas yang belum mau menerima perbedaan sebagai kekayaan. Perbedaan bagi mereka sesuatu yang asing. Keduanya tidak dapat hidup bersama-sama apalagi mau bersaudara. Padahal, perbedaan semacam itu di Timor merupakan hal yang senantiasa dirayakan bersama-sama.

Semut di antara gajah

Kota Surabaya juga membuat kami menjadi penggemar Persebaya. Jika arek-arek Suroboyo ada dalam sebuah semboyan Salam Satu Nyali, wani…!  namun sebagai warga Kristen yang jumlahnya tak banyak di kota ini kadang kami kehilangan nyali, bahkan bagi saudara-saudara yang seiman kami merasa tak ada apa-apanya. Kami bagaikan semut yang berada di antara gajah. Seperti semut yang salah membuat sarangnya di daerah larangan para gajah. GMIT Hosana, ada dalam keadaan demikian.

Hingga saat ini kami belum punya rumah ibadah tersendiri. Kami beribadah menggunakan salah satu ruangan di kampus Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII). GMIT Hosana juga belum punya rumah pastori jadi saya tinggal di sebuah ruangan di kampus dan membayar sewa setiap bulannya. Anggota jemaat  juga tidak penghasilan besar. Rata-rata mereka berpendapatan menengah ke bawah. Sebagain besar bekerja sebagai satpam, karyawan pabrik dan asisten rumah tangga. Sedikit sekali yang bekerja dengan standar UMR Kota Surabaya. Jemaat umumnya tinggal di kos-kosan dalam keadaan serba sederhana. Itulah realita sosial keluarga kecil dari rumah besar GMIT yang merantau di kota ini.

Ibarat semut di antara gajah yang berpindah tempat ke sana ke mari, toh, semut-semut masih bisa menikmati berkat remah-remah. Dan yang terpenting adalah kami tidak saling meninggalkan dalam situasi apapun. Kami hidup dalam ikatan persaudaraan yang kuat. Bersama itu indah. Itu semboyan kami Jemaat Hosana.

Ketika tinggal jauh dari rumah besar, selalu ada kerinduan untuk bertemu dengan saudara lainnya. Tatkala anggota keluarga yang tinggal berdekatan bisa saling memperhatikan, menolong dan menghibur secara langsung, kami yang tinggal jauh hanya bisa saling memberi kabar dan berkunjung sewaktu-waktu. Tetapi itulah indahnya punya keluarga yang berjauhan: yang satu akan merindukan yang lain dan pertemuan akan memiliki arti yang lebih dalam.

Kerinduan untuk tinggal berdekatan selalu ada, namun tanggung jawab untuk menjalankan amanat kerasulan pun harus terus di jalankan. Ketika kita saling bertemu, mari kita berbagi cerita agar kekeluargaan tetap terjalin dan para semut ini bisa membangun sebuah sarang yang kokoh.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *