Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang (Yohanes 15:9-17) – Pdt. Mery Kolimon

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Memiliki sahabat adalah sebuah kebutuhan jiwa manusia. Apakah saudara punya sahabat? Dalam hidup kita butuh teman berbagi. Sahabat adalah orang yang kita percayai, yang dengannya kita dapat berbagi hal-hal yang tidak dapat kita bagi dengan semua orang.

Kita punya banyak kawan atau teman di tempat kerja atau di gereja, namun tidak semua teman atau kawan itu adalah sahabat bagi kita. Bahasa Indonesia sangat kaya, bahasa Inggris hanya satu kata, friend. Dalam bahasa Indonesia dibedakan antara teman kawan dan sahabat. Kita biasa bilang itu teman kantor atau kawan sekolah saya, tapi jarang kita bilang itu sahabat kantor atau sahabat sekolah. Kita punya kawan Paduan Suara atau teman main sepak bola dsb, tetapi ketika kita memakai kata sahabat, kita menunjuk pada relasi persahabatan yang lebih dalam. Dalam persahabatan ada keakraban dan rasa saling percaya.

Pdt. Dr. Mery Kolimon

Sahabat adalah orang yang kita percaya. Rahasia pun rela kita bagi kepadanya karena kita tahu dia sungguh memahami kita dan akan mau mengerti keadaan kita walaupun belum tentu dia menyetujui pilihan-pilihan kita. Pendekatan terhadap seseorang yang kita kategorikan sebagai sahabat, kita berani menjadi diri sendiri, tampil apa adanya tanpa polesan dan mengupayakan penciptaan kesan tertentu. Kita berani tampil esensial dihadapan orang yang menjadi sahabat. Amsal 17:17 mengatakan, ”Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu dan menjadi saudara dalam kesukaran”. Sahabat adalah seorang yang mengasihi kita saat kita berhasil atau gagal, saat kita beruntung atau rugi. Seorang sahabat menerima kita apa adanya, mendukung kita tanpa pamrih bahkan bersedia berkorban bagi kita. Saat orang lain meninggalkan kita karena kesalahan yang kita buat, yang lain mungkin menghujat, seorang sahabat tetap berada di sisi kita. Sahabat adalah anugerah; Sahabat sejati adalah pemberian Tuhan.

Seorang sahabat dengan sukacita mendengar cerita keberhasilan kita tanpa merasa iri, seorang sahabat sejati akan menangis bersama ketika kita gagal, dia menegur dengan jujur ketika kita salah, dia tidak menghujat dan menertawakan ketika kita jatuh atau kalah. Seorang sahabat sejati akan mendukung kita dan harapan. saat terpuruk ia berkata, “Jangan putus asa masih ada jalan keluar dari masalahmu. Matahari masih akan terbit. Masih ada harapan.” Sungguh sahabat adalah anugerah. Sahabat sejati adalah karunia dalam hidup.

Dalam kebaktian natal ini kita telah mendengar firman Tuhan dari injil Yohanes 15:9-17, secara khusus ayat 14 dan 15, telah menjadi dasar dari tema nasional yang dirumuskan oleh KWI dan PGI “Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang”. Ketika merefleksikan tema saya merasa ada sebuah harapan yang sangat tinggi. Mungkinkah kita bisa menjadi sahabat bagi semua orang? Menjadi teman barangkali. Tetapi bisakah kita menjadi sahabat bagi semua orang? Karena untuk menjadi sahabat perlu ada kesediaan saling mengenal, membuka diri dan membangun rasa saling percaya. Bisakah kita menjadi sahabat bagi semua orang termasuk mereka yang membuat kejahatan kepada kita, yang merancangkan hal-hal yang tidak tulus kepada kita, dapatkah kita menjadi sahabat bagi lawan-lawan politik kita? Bisakah kita menjadi sahabat bagi mereka yang menghina kita bahkan merendahkan kita, yang melecehkan iman kita? Bisakah kita menjadi sahabat bagi semua orang tanpa sekat? Kita harus berhati-hati agar tema ini tidak menjadi slogan semata. Waktu susun kabinet yang dekat-dekat dapat di lingkaran yang basah, yang dulu tidak dukung kau siap-siap ke ujung pulau. Bisakah kita menjadi sahabat bagi semua orang?

Kedua ayat ini ada di bawah perikop Perintah Supaya Saling Mengasihi. “Ini adalah perintah-Ku kepadamu agar kamu saling mengasihi” (ay.12). Dan untuk memahami ayat 9-17, kita perlu melihat ayat 1-8, ayat 1-8 berbicara tentang tinggal di dalam aku, remain in me, abide me. Sedangkan ayat 9-17 berbicara tentang tinggal di dalam kasihku. Abide in my love, remain in my agape. Ada beberapa hal yang harus kita garis bawahi dari bacaan ini.

Pertama, Kristus mencintai kita. Ia berkenan menjadi sahabat bagi kita. Bahkan di dalam Kristus, Allah Yang Maha Tinggi Pencipta segala sesuatu berkenan menjadi Sahabat kita. Ia menyapa kita, “Aku menyebut kamu sahabat karena Aku telah memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang telah aku dengar dari Bapa-Ku. Melalui natal tidak ada lagi yang dirahasiakan, tidak ada yang disembunyikan Kristus kepada para muridNya. Semua yang penting dan perlu dibagikan kepada sahabat-sahabat-Nya telah diberikan-Nya. Yesus mengambil inisiatif, membagikan sesuatu kepada umat, dan memperlakukan umat sebagai sahabat-Nya. Di natal kita merayakan betapa terhormatnya umat beriman.

Bukan kita yang melamar menjadi umat-Nya. Dia yang memilih kita menjadi sahabat-sahabat-Nya. Dia memilih kita untuk diceritakan kepada kita rahasia-rahasia yang besar. Lebih dari itu dia memberikan nyawa-Nya bagi kita sahabat-sahabat-Nya. Pertanyaannya Apakah kita menjadikan Yesus sebagai Sahabat kita? Sungguhkah kita juga rela membuka semua rahasia kepada-Nya? Maukah kita memberitahukan kepada-Nya pergumulan-pergumulan kita? Mereka yang menyebut diri kaum milenial sekarang, kalau ada masalah bukannya berdoa dan membuka persoalannya kepada Yesus, tapi pasang status di Facebook (media sosial, red). Bahasanya seperti doa tapi kalau baca baik-baik, kita bilang “dia ada sindir siapa e?” Berdoa sambil menyindir saudaranya.

Natal adalah panggilan untuk menyambut dan mencintai Kristus sedemikian rupa dan kemudian berangkat dari spiritualitas yang berpusat pada Kristus, kita saling mencintai satu sama lain setulus-tulusnya dan semurni-murninya. Dengan begitu kebahagiaan, damai dan rahmat Kristus akan menjaga hati kita, menggenggam hidup kita dengan kebaikan serta menumbuhkan segala macam buah kebaikan dari perjumpaan rahmat dan iman, yaitu rahmat Allah bagi kita dan iman kita kepada Allah.

Kedua, dalam refleksi natal ini adalah kita diundang untuk tinggal dalam kasih Allah. To abide in God’s love. Tinggallah dalam kasih-Ku. Kasihlah yang memungkinkan Allah menjadi sahabat bagi manusia. “Aku tidak lagi menyebut kamu hamba, Aku menyebut kamu sahabat.” Kata “kasih” yang digunakan di sini adalah agape. Di dalam Yesus melalui peristiwa natal, Allah bersedia menjadi sahabat bagi manusia dan mengundang manusia untuk tinggal di dalam kasih-Nya. Agape adalah kasih sayang yang dinyatakan dalam tindakan tanpa maksud memperoleh balasan. Kasih agape adalah memberi bukan untuk mendapat. Kalau beta kasih hadiah ini, supaya saatnya dia membalas. Kalau orang NTT bikin pesta, siap buku. “Karena ingat e, kalau ini kali beta bawa kambing, lain kali kalau beta pung anak urusan nikah jangan lupa. Maka nanti giliran waktu itu tiba, babi yang dia bawa belum teriak, dia korek supaya orang tahu bahwa babi sudah datang dan dicatat dalam buku.”

Dalam peristiwa natal kita berjumpa dengan kasih agape Allah. Kasih yang rela berkorban bagi selamat manusia. Dalam Kristus Putera-Nya Allah mengosongkan diri mengambil rupa seorang hamba untuk selamat manusia. Pesan natal bagi kita umat Kristiani di NTT adalah menjadi sahabat bagi semua orang, dengan kasih yang dinyatakan oleh Tuhan Allah melalui Yesus Kristus Putera-Nya. Dalam peristiwa Natal Allah membuka lengan-Nya menyatukan kembali manusia yang berdosa untuk memperoleh pengampunan dan berdamai dengan Allah. Semua kita yang merayakan natal menerima daya untuk berdamai dengan Allah dan berdamai dengan sesama.

Mari kita tinggal dalam kasih agape Allah. Mari kita jadikan agape sebagai spirit hidup kita, tinggal dalam kasih, menikmati kasih Allah bukan untuk diri sendiri melainkan agar kita yang telah mengalami kasih Allah itu dapat berbagi dengan sesama.

Dalam konteks hidup berbangsa umat kristiani di Indonesia diutus untuk berbagi kasih agape dengan semua anak bangsa. Mari kita bangun NTT, kita bangun Indonesia dengan semangat agape. Kira rawat persaudaraan antar gereja, suku, ras dan agama dengan kasih agape Allah. Dalam 1 Korintus 13:4-7, rasul Paulus berkata, Kasih itu sabar, kasih itu murah hati, ia tidak cemburu, ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong, ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Tema natal menegaskan, “Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang”. Mungkinkah kita bisa menjadi sahabat bagi semua orang? Ini sebuah tugas mulia sekaligus tidak mudah. Di NTT Tuhan ijinkan kita hidup dalam keragaman pulau, bahasa, budaya, adat istiadat dan sebagainya. Kita biasa memiliki hubungan saudara yang didasarkan pada darah, perkawinan, ikatan suku dan agama. Natal memberikan sebuah agenda iman untuk tidak saja membangun relasi persaudaraan tetapi juga relasi persahabatan. Membuka ruang perjumpaan, mengurai prasangka, kebencian, mengatasi curiga dan membangun rasa percaya. Dalam konteks kemajemukan bangsa komitmen menjadi sahabat bagi semua orang akan memungkinkan kita merawat Indonesia tetap lestari. Terutama di tengah ancaman radikalisme, konservatisme dan ekstrimisme bahkan terorisme bermotif agama kita perlu menjaga ketulusan hidup sebagai sesama anak bangsa yang saling menghargai. Mungkin kita belum berhasil menjadi sahabat bagi semua orang namun kita perlu berusaha untuk tidak saling menyakiti dan merugikan. Perlu ada kebesaran jiwa untuk saling mengakui dan menerima sebagai saudara dan sahabat dalam bangsa ini. kita berbeda agama dan denominasi namun kita sama-sama manusia yang diciptakan Allah menurut gambar dan rupa-Nya.

Terakhir, dalam suara gembala natal 2019 dan tahun baru 2020 Majelis Sinode GMIT ingin mengajak umat untuk memperluas horizon persahabatan dengan manusia dan juga persahabatan dengan alam. Syukur beberapa hari terakhir ini Kupang turun hujan yang cukup lebat. Dan kita musti berhenti mengatakan cuaca tidak bersahabat. Karena kalau turun hujan itu tanda cuaca bersahabat dengan kita. Sepanjang 2019 NTT dilanda el nino. Hingga pertengahan Desember curah hujan belum stabil di berbagai wilayah di NTT. Hal ini berpengaruh pada minimnya ketersediaan air dan rapuhnya kesehatan lingkungan masyarakat. Keadaan ini mengingatkan kita pada komitmen iman, untuk merawat lingkungan sekitar melalui gerakan tanam pohon, gerakan tanam air, mengurangi praktik tebas bakar dan membersihkan tanah dari sampah plastik.

Kita musti punya rasa malu. Kupang adalah kota religius tetapi juga juara satu dalam sampah plastik. Kita semua umat yang merayakan natal musti merasa malu. Terima kasih kepada paroki ini yang menyediakan pohon natal hijau dari aneka sayuran dan buah. Kita kurangi sebisa mungkin pohon natal plastik. Kita kembangkan kreatifitas. Natal kiranya membuka ruang perjumpaaan dalam masyarakat yang mengalami krisis air untuk bersama-sama memperbaiki kondisi lingkungan.

Mungkin tahun-tahun mendatang selesai kebaktian oikumene seperti ini kita tanam pohon bersama. kita tentukan satu kebun dan itu menjadi kebun oikumene kita dan kita tunjukan bahwa kalau mau belajar di NTT ini contohnya. (tepuk tangan dari jemaat).

Kami juga mengingatkan jemaat untuk menghindari perayaan natal dan tahun baru dnegan kembang api yang berlebihan. Beberapa studi menunjukan bahwa penggunaan kembang api berbahaya bagi lingkungan. Ada zat perklorat yang apabila terhirup manusia akan terserap oleh kelenjar tiroid. Zat itu berbahaya bagi organ tubuh yang lain bahkan juga berbahaya bagi janin. Bisa merusak metabolisme tubuh dan perkembangan mental. Mencermari air dan berbahaya bagi burung-burung. Hal-hal yang kelihatan canggih tetapi merusak alam. Waktu saya kecil, waktu natal orang tua pukul gong dan moko, sekarang kita rasa itu tidak canggih lagi. Beli minyak tanah dan bikin meriam bambu. Memang itu bikin bulu mata habis, tapi saya rasa itu lebih ramah bagi alam. Kita ingat saudara-saudara kita di Jakarta yang susah karena menyambut tahun baru di tengah genangan air. Kita mendoakan mereka dan pihak-pihak yang menolong para korban. Ini jadi peringatan bagi kita di NTT.

Akhirnya dengan kasih agape Allah, umat lintas gereja dan denominasi mari berdiri bersama untuk menjadi sahabat satu dengan yang lain, menjadi sahabat bagi segenap anak bangsa. Tidak apa-apa kalau ada orang yang tidak mau mengucapkan selamat natal, aman saja. Mari berbagi kasih agape, membangun NTT, membangun Indonesia dalam pershabatan lintas suku, ras, denominasi, dan agama. Bahu-membahu merawat alam, agar bumi sungguh menjadi ekumene, rumah yang layak didiami oleh semua ciptaan. Selamat Natal dan Tahun Baru. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published.