HIKMAT MENGELOLA ALAM (Ayub 28:1-28).

Pdt. Elisa Maplani, M.Si

Ayub 28: 1-28, merupakan syair Ayub yang sangat indah dan mengagumkan. Syair  ini mengemuka di antara percakapan bahkan debat yang tidak biasa yang mendominasi di sekitar masalah penderitaan. Bila dicermati Nampak bahwa mulai pasal 1-27 dan 29-37, selalu diisi dengan percakapan atau debat terkait masalah penderitaan. Tema-tema di sekitar penderitaan dan faktor penyebab terjadinya penderita yang mengemuka dalam percakapan Ayub dan sahabat-sahabatnya (Elifas, Bildad, Sofar dan kemudian Elihu) seolah-olah berhenti sejenak. Mungkin saja pikiran telah lelah dan sudah buntu karena energi terkuras dalam diskusi dan debat disekitar misteri penderitaan hidup manusia.  Dalam kebuntuan pikiran akan misteri derita hidup manusia, Ayub, Sang konglomerat dari Us, menyampaikan syair hikmat di sekitar kehebatan akal budi dan keuletan manusia serta hikmat Allah yang tidak tertandingi dan terselami oleh nalar manusia yang terbatas.

Cermatan kritis terhadap Syair Kitab Ayub pada pasal 28 ini, memperlihatkan dua (2) hal penting:

  1. Pujian dan rasa kagum pada kecerdasan dan keuletan manusia dalam mengelola sumberdaya alam (Ay 1-14).

Manusia cerdas dan ulet dalam mengelola sumberdaya alam. Ayub kagum kepada kehebatan dan keuletan manusia terutama para penambang batu dengan cara pemurnian perak dan emas, penggalian biji besi,peleburan tembaga, penambangan lazurit dan lainnya. Ia kagum pula atas penyelidikan yang sedalam-dalamnya dari manusia untuk menemukan sumberdaya alam di lokasi-lokasi yang sulit dan tidak terjangkau yang bernilai ekonomis tinggi seperti Emas, Perak, Besi, tembaga dan benda berharga lainnya.

Begitu cerdas dan ulet manusia mengelola sumberdaya alam, bagi mata Ayub telah menempatkan kedudukan manusia lebih tinggi, jauh melampaui kehebatan burung dan binatang yang terkuat sekalipun. Ketajaman dan kejelian mata burung elang dan keberanian singa masih kalah dengan kecerdasan dan keuletan manusi sebab maanusia dapat masuk pada lubang-lubang yang paling dalam dan gelap untuk menemukan batu-batu berharga.

Namun kecerdasan dan keuletan manusia mengelola sumberdaya alam tidak bebas dari  dampak buruk bagi alam dan seisi alam itu sendiri :

  • Kedaulatan pangan masyarakat terancam. Tanah berupa lahan milik masyarakat yang selama ini dikelola dan menjadi sumber pangan dikeruk dengan tekhnologi untuk mendapatkan batu yang bernilai ekonomis sehingga berubah menjadi tandus. Kedaulatan pangan tidak lagi terjamin karena eksploitasi manusia yang tak terkendali dan melenyapkan segala yang hidup di atas permukaan tanah. Ayub menggambarkan betapa parahnya kerusakan tanah sebagai sumber penghasil pangan seperti api yang melahap dan melenyapkan segala sesuatu (Ay 5).
  • Gunung-gunung yang menjulang tinggi dan menampilkan pesona yang indah digali bukan saja rata dengan tanah tapi sampai kedalaman di bawah permukaan tanah. Lapisan-lapisan batu yang tertanam di bawah permukaan tanah dikeruk habis meninggalkan lubang-lubang besar dan terowongan yang menganga lebar (Ay 9-10). Kita dapat membayangkan jika gunung-gunung yang menjulang tinggi di bongkar sampai akar-akarnya hal itu berarti bentangann hutan yang luas membungkus gunung-gunung dan menjadi tempat berbagai makhluk hidup berubah menjadi padang belantara yang tandus. Terjadi laju deforestasi (Penghilangan atau penggundulan) hutan yang begitu tinggi akan membuat binatang dari berbagai spesies melakukan migrasi ke tempat lain bahkan mati dan punah.

Bagi Ayub, faktor utama penyebab kerusakan alam yang parah tidak terletak pada kecerdasan akal budi dan keuletan manusia mengelola sumberdaya alam tapi pada sikap manusia yang tidak takut akan Tuhan. Sikap tidak takut akan Tuhan bertalian erat dengan aspek ketiadaan hikmat dalam diri manusia. Pengelolaan sumberdaya alam yang bertumpu pada mengandalkan kecerdasan akal budi dan keuletan manusia tapi mengabaikan hikmat Tuhan hanya akan mendatangkan malapetaka bukan saja bagi manusia tapi seisi alam.  Karena itu betapa penting manusia membutuhkan hikmat Tuhan untuk menuntun kecerdasan dan keuletan manusia dalam mengelola sumberdaya alam yang ada.

  1. Pengakuan bahwa Allah adalah Sumber hikmat yang sejati (Ay 20-28).

Ayub dengan tegas menyatakan hikmat itu ada pada Allah. Allah itu sumber hikmat. Bagi Ayub, manusia dengan kecerdasan akal budi dan keuletan sanggup menemukan lokasi sumberdaya alam yang begitu berharga tapi tidak sanggup menemukan lokasi dari hikmat.  Bahkan alam ciptaan Tuhan (Samudera raya dan laut)  jujur berkata pada diri sendiri hikmat tidak ada pada mereka (Ay 14-15).

Ayub mengajukan pertanyaan yang bersifat retoris  tentang asal dan tempat hikmat serta akal budi (Ay 20). Ternyata asal dan tempat hikmat serta akal budi ialah Tuhan (Ay 28: Band. Ayub 12:13).  Tidak ada seorangpun mengenal jalan menuju hikmat. Hanya Allah yang mengenal tempat kediaman hikmat (Ay 23). Ini tidak berarti hikmat merupakan kuasa tersendiri di luar Allah sehingga Allah akan pergi menemui hikmat. Allah menemukan hikmat yang tertinggi di dalam diri-Nya. Karena itu hikmat itu menjadi milik Allah semata. Di mata Ayub, hikmat itu begitu penting kedudukannya. Sangat berharga. Manusia tidak mungkin dapat memperoleh atau membeli atau membandingkan dengan emas murni atau emas tua, permata, mutiara, perak dan hasil sumberdaya alam lain yang berharga yang diperoleh dari kecerdasan dan keuletan kerja manusia (Ay 12-19).

Kendati hanya Allah yang mengetahui jalan menuju hikmat atau hanya pada Allah ada hikmat, bagi Ayub, manusia dapat memperoleh hikmat Allah. Ayub memberi tahu kunci atau rahasia memperoleh hikmat dan akal budi yakni: “hidup takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan” (Ay.28).  Ya… Hikmat dan akal budi  tidak dapat diperoleh di luar Tuhan sebab Tuhan adalah sumber segala harta hikmat dan pengetahuan (Band. Kolese 2:3). Hikmat Allah itu terbuka bagi kita dan membuat agar hikmat itu terjangkau. Takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, itulah yang membuat kita penuh hikmat.

Melalui syair Ayub ini, ada pesan yang kuat bagi orang percaya masa kini bahwa Allah itu sumber hikmat. Siapa yang kekuarangan hikmat hendaknya ia berdoa meminta kepada Allah yang sanggup memberikan kepadanya hikmat untuk menjalani hidup dan berkarya. Caranya sederhana: ”Takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan”.

Seluruh usaha manusia mengelola sumberdaya alam tanpa hikmat Tuhan akan bermuara pada kehancuran dan kebinasaan alam dan semua yang hidup di dalamnya. Kecerdasan dan keuletan dalam kerja mengelola sumberdaya alam baik untuk pemenuhan kebutuhan hidup itu perlu.  Namun lebih dari itu, kita butuh hikmat Tuhan dalam menjalani hidup dan kerja termasuk dalam pengelolaan sumberdaya alam sehingga dapat mengelola sumber daya alam ini secara baik dan bertanggungjawab.

Soli Deo Gloria!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *