Ibadah Syukur Hidup, Pelayanan dan Meninggalnya Pdt. Emr. Dr. Thobias Arnolus Messakh

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Mengenang karya pelayanannya selama 33 tahun di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Majelis Sinode GMIT mengadakan ibadah syukur meninggalnya Pdt. Dr. Thobias Arnolus Messakh.  

Ibadah dilakukan secara virtual pada Jumat, 13 Agustus 2021, dipimpin Pdt. Emr. Semuel Nitti, M.Th.

Merefleksikan pengalaman Rasul Paulus di dalam penjara sebagaimana tertulis dalam Filipi 1:12-26, Pdt. Nitti mengungkapkan bahwa, Pdt. Thobias Messakh telah menghasilkan buah-buah pelayanan bagi Kristus dan bagi GMIT selama masa pengabdiannya.  

“Sejak ditangkap oleh Kristus dan menerima hadiah buah karya Kristus, Rasul Paulus merayakan kehidupan dengan belajar untuk memberi buah yang utama bagi sesamanya yaitu keselamatan, dan buah yang utama bagi Kristus yaitu kemuliaan Kristus.

Bu Thobi telah mengakhiri sebuah kembara panjang, … bukan kembara demi menghasilkan buah bagi diri sendiri tetapi kembara untuk terus memuliakan Kristus, dan memberi buah keselamatan bagi banyak orang melalui karya abdinya.”

Menyampaikan suara gembala pada ibadah syukur tersebut, Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Mery Kolimon mengatakan bahwa ibadah ini dilakukan sebagai tanda syukur GMIT kepada Tuhan yang telah mengutus Pdt. Thobi menjadi berkat bagi GMIT selama 30-an tahun.

“Kita bersekutu secara virtual untuk memuliakan Tuhan yang menganugerahkan Bapak Thobi dengan segala kelebihan dan kekurangannya bagi keluarga, gereja, masyarakat, dan bangsa. Kita berhimpun sekarang, tentu, tidak untuk memuliakan hamba Tuhan ini, tapi kita memuliakan Tuhan yang memberinya bagi gereja kita,” kata Pdt. Mery.

Pdt. Thobias Messakh, lahir di Rote-Thie, 25 Mei 1947. Ia adalah alumni SD GMIT Manumuti-Tarus. Ketua MUI NTT, H. Abdul Kadir Makarim, adalah teman sebangkunya saat menempuh pendidikan di SMEA Negeri Kupang tahun 1963-1966.

“Saya dan Pak Thobi teman satu kelas dan satu bangku di SMEA. Dia teman saya yang paling setia. Kami dua termasuk ‘nakal’ juga di zaman itu. Pernah kami dapat hukuman kerja potong kayu sampai di Oinlasi. Itu zaman Pak Ataupah almarhum. Saya masih ingat juga, Sartji, istrinya, itu pacarnya waktu masih sekolah. Setelah itu, kami menempuh jalan hidup masing-masing. Beliau Jadi Ketua Sinode GMIT dan saya menjadi Ketua MUI NTT. Pernah dalam satu tugas, kami satu tempat tidur di Kalimantan Barat. Karena persahabatan itulah, ketika terjadi kerusuhan Kupang, alhamdulilah bisa cepat diatasi.” ungkap Abah Makarim.

Pdt. Thobi ditahbiskan menjadi pendeta GMIT pada tahun 1974. Ia memulai pelayanan perdananya di Jemaat Kuanino sebagai pendeta kedua pada tahun 1975. Pada penghujung tahun yang sama, ia dimutasikan ke Kantor MS GMIT pada bidang komisi Pekabaran Injil dan Perlengkapan Jemaat.

Lima tahun sejak ditahbis menjadi pendeta, ia terpilih menjadi Ketua Majelis Sinode GMIT, tepatnya tahun 1979. Saat itu usianya baru menginjak 32 tahun. Ia memimpin GMIT selama 3 periode berturut-turut yakni; 1979-1983, 1983-1987 dan 1987-1991.

Setelah itu ia kembali melayani di Jemaat Imanuel Oepura. Tahun 1993 ia melanjutkan studi Pascasarjana di Universitas Satya Wacana-Salatiga.

Suami dari Sartjie Hannah Messakh-Lolo ini, terpilih lagi menjadi Ketua Majelis Sinode GMIT keempat kalinya pada tahun 1999 untuk periode 1999-2003. Dengan demikian ia termasuk yang paling lama memimpin GMIT.

Mendiang mengakhiri masa pelayanannya sebagai pendeta aktif di Yayasan UKAW Kupang pada tahun 2007.

Usai mengabdi di GMIT, ia mendapat kesempatan menjadi staf pengajar di STT Moriah-Tangerang hingga 2021.

Ayah dari Sanfia Tesabela Messakh dan Artha Muliana Messakh ini meninggal dunia di Jakarta dalam usia 74 tahun pada 5 Juli 2021 karena sakit. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.