Kali Bikno’i-Naikoten: Dulu Panen Udang Sekarang Panen Sampah

Karyawan kantor MS GMIT bersama warga RT 12-13 Kelurahan Naikoten 1 membersihkan sampah plastik di Kali Bikno’i.

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, ‘Ada udang di balik batu’ bukan hanya sekadar pepatah bagi Yermias Banunu. Lelaki berusia 72 tahun warga RT 13, RW 5, kelurahan Naikoten 1, Kota Kupang ini, benar-benar mengalami masa-masa seru menangkap udang di balik batu.

“Dulu kalau mau makan udang, kami turun di kali ini. Namanya Kali Bikno’i. Udang di sini besar-besar. Kami potong pakai parang,” kenang Yermias sambil memungut sampah-sampah plastik di bantaran kali yang sudah tak ada udangnya karena tercemar limbah sejak lama.

Bersama-sama puluhan karyawan kantor Majelis Sinode GMIT yang melakukan kegiatan pembersihan sampah di sekitar bantaran kali, tadi pagi, Jumat, (25/11), Yermias mengisahkan pengalaman masa mudanya yang sebagian ia habiskan di kali ini. Berenang, mandi, cuci, pikul air, tangkap udang, belut dan sebagainya.  

“Dulu,” lanjutnya bercerita,”ini batu-batu tempat bersarang lebah-lebah. Jadi, kami biasa ambil madu. Kera juga banyak berkeliaran di sekitar sini.”

“Itu tahun 70-an, waktu saya masih sekolah di STM. Sekarang udang sudah tidak ada lagi. Kera juga tidak ada. Yang ada tumpukan sampah di mana-mana,” ujar pensiunan pegawai PT Pelabuhan Indonesia 3 ini.

Yermias Banunu (kanan) dan Kristofel Lafu (kiri), Warga Jemaat Silo Naikoten ikut membersihkan Kali Bikno’i.

Senada dengan Yermias, Kristofel Lafu (62 thn), warga setempat yang juga ikut dalam pembersihan tadi pagi, menyesalkan perilaku sebagian warga yang suka membuang sampah ke dalam kali. Padahal, menurutnya mata air di kali ini menjadi alternatif jika sumber air bersih dari PDAM macet.

“Sampai sekarang kalau air leding macet, kami ambil air di sini. Ini mata air sudah ada sejak waktu kami masih kecil,” ujar Kristofel sambil menunjuk dua buah mata air persis di pinggir kali.

Kini, Kali Bikno’i yang berhulu di kelurahan Fatukoa dan hilir di pantai Terminal Kupang ini, menjadi batas wilayah antara kelurahan Naikoten dan Kelurahan Bakunase 2.

Dahulu sebagaimana cerita Yermias dan Kristofel, kali ini menyediakan sebagian kebutuhan dasar warga mulai dari mandi, cuci, siram, minum, makan dan bermain. Namun, seiring bertambah padatnya penduduk, terutama pembangunan permukiman di bantaran kali, justru menjadi tempat pembuangan sampah terpanjang di Kota Kupang.  

Yanuar Dally, SH., Asisten Administrasi Umum Sekda Kota Kupang, yang hadir dalam kegiatan Bulan Lingkungan GMIT ini, menyampaikan terima kasih kepada Majelis Sinode GMIT yang turut mendukung program kebersihan kota.

“Kami menyambut gembira apa yang dilakukan Majelis Sinode GMIT. Selama ini Pak Penjabat Walikota mencari stakesholder yang mau sama-sama melakukan upaya untuk membersihkan kota ini. Dan hari ini sinode sudah ulurkan tangan persahabatan. Kalau Sinode GMIT menggaungkan ini sampai ke jemaat-jemaat maka akan jadi kekuatan yang sangat besar untuk kita sama-sama memerangi sampah di kota ini,” kata Yanuar.

Khusus untuk warga di bantaran Kali Bikno’i, ia himbau agar tidak lagi membuang sampah ke dalam kali. Ia juga meminta para ketua RT dan RW setempat untuk mengajak warga melakukan kerja bakti berkala dengan menghubungi Dinas Kebersihan Kota agar memfasilitasi mobil truck pengangkut sampah. ***  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *