KRISTUS MEMANGGIL KITA UNTUK TURUT DALAM PELAYANAN-NYA

Renungan Pemuda dan Kaum Bapak GMIT

Minggu I Februari 2019

(Lukas  5.1-11)

Pdt. Yahya Millu (Ketua UPP Pemuda dan Kaum Bapak, MS-GMIT)

Sejatinya, cerita ini adalah mujizat yang sungguh-sungguh terjadi saat Yesus melayani di dunia. Penulis injil Lukas mengetahui hal ini dengan persis sebab ia telah menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama (psl. 1:3). Tetapi untuk menjawab pergumulan yang dialami jemaat, penulis merasa perlu memasukkan cerita ini dalam injilnya. Penulis ingin menggunakan cerita mujizat ini guna menjawab kebutuhan teologis pembacanya. Saya akan membahas teks ini dari pendekatan yang disebutkan terakhir.

Saat Injil Lukas ditulis, keputusan untuk mengikut Yesus sedang mengalami krisis. Orang Kristen bukan Yahudi seperti Teofilus menghadapi tantangan yang signifikan terhadap iman mereka. Penganiayaan Nero terhadap orang-orang Kristen di Roma menciptakan ketakutan luas bahwa penganiayaan mungkin menyebar ke seluruh kekaisaran. Dalam situasi demikian, keputusan untuk mengikut Yesus adalah keputusan berani mati.

Banyak orang mendengar pemberitaan Injil, tetapi belum berani memutuskan untuk menjadi kristen. Mereka takut dengan penganiayaan yang mungkin akan dialami. Kondisi ini digambarkan dengan baik dalam teks ini. Disebutkan bahwa banyak orang mengikuti Yesus dan mendengar pengajaran-Nya (ay. 1). Tetapi mereka hanyalah murid potensial, tetapi bukan yang sebenarnya. Tidak ada keterangan apakah mereka mengikut Yesus atau tidak.

Penganiayaan juga menyebabkan tantangan tersendiri bagi para pemberita Injil. Kata-kata Simon bahwa “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa” adalah metafora misi gereja perdana yang seolah “gagal menangkap ikan”. Para pemberita merasakan kelesuan yang luar biasa. Pengabaran Injil berhadapan dengan rintangan besar yang menghambat pertambahan anggota baru.

Berhadapan dengan kedua kelompok ini, baik kaum kristen baru maupun para pemberita injil, Lukas menggunakan kekuatan mujizat sebagai pintu masuk. Lukas menulis cerita mujizat ini kepada Teofilus, dan orang-orang Kristen non Yahudi seperti dia, yang mungkin baru percaya Kristus, untuk memperkuat iman mereka yang masih hijau . Ia ingin meyakinkan mereka agar berani mengakui Yesus sebagai Tuhan.

Lukas ingin mereka belajar dari tanggapan Simon terhadap mujizat Yesus. Teks menyebutkan bahwa mujizat menyebabkan Simon mengalami tranformasi iman tentang Yesus. Pengakuannya terhadap Yesus berubah, dari guru menjadi Tuhan (ay. 5, 8). Lukas menyajikan pengakuan Petrus untuk mengajak semua murid yang masih ragu-ragu agar membuat pengakuan yang sama. Keberanian untuk mengakui ketuhanan Yesus dibawah ancaman penganiayaan adalah indikator utama seorang murid sejati.

Bagaimana Simon dapat membuat pengakuan sehebat itu? Lukas mencoba menyajikan perkembangan tentang kepatuhan Simon (ay. 3-5). Cerita dimulai dengan permintaan Yesus kepada Simon agar berhenti membersihkan jaring. Padahal pekerjaan ini penting untuk bisa melaut lagi nanti malam. Lalu Yesus menyuruh menolak perahunya sedikit lebih jauh dari pantai agar Ia dapat berkhotbah. Ia meminta Simon menggeser perahunya ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jala. Semua permintaan Yesus terkesan merupakan suatu pemaksaan, dan keberatan Simon menjelaskan bahwa dia tidak yakin akan mendapat ikan. Tetapi Simon belajar untuk taat kepada Yesus. Ketika mujizat tangkapan terjadi, Simon begitu kewalahan oleh banyaknya ikan sehingga ia mengakui kuasa ilahi dalam Yesus, yang sekarang dipanggilnya Tuhan (kurios).

Sedangkan bagi kelompok pemberita Injil, Lukas ingin meyakinkan mereka untuk terus menjalankan misinya, meski dihadang tantangan. Mujizat penangkapan ikan berfungsi sebagai janji keberhasilan misi. Banyaknya ikan mewakili banyaknya orang yang akan menanggapi pesan para murid untuk mempercayai Yesus. Charles Spurgeon berkata: “Adalah suatu hal yang terberkati melihat Kristus duduk di atas perahu sambil menyaksikan anda (para pemberita injil-Nya) membuang jala…jika anda melihat senyum-Nya yang mendukung anda, pasti anda akan bekerja dengan sungguh-sungguh.”

Yesus lalu meminta Simon untuk menjadi penjala manusia. Untuk memahami konsep penjala manusia, terdapat beberapa hal yang mungkin merupakan konteksnya (lih. Reynolds, 2016:86-101).

(a) Eisler menyebutkan bahwa pekerjaan nelayan sering dikaitkan dengan praktek pemujaan Orphic dan Dionysian. Lukas ingin mengubah model iman ini. Yesus lebih berkuasa atas dewa-dewa mereka dan atas alam semesta. Ia lebih pantas dipercaya dan diimani.

(b) Tradisi Yunani-Romawi menyebutkan adanya perbedaan antara nelayan dan sofis (kaum bijak). Nelayan berburu makhluk liar di air dan sofis berburu makhluk jinak (manusia ditempatkan dalam kategori ini) di darat. Dengan demikian, sofis adalah semacam penjala manusia. Tetapi Lukas melampaui pemahaman ini. Tugas seorang penjala manusia bukan hanya berkaitan dengan makhluk jinak, tetapi semua kategori manusia. Ini terlihat dari konsep keselamatan yang ditawarkan dalam seluruh injil Lukas: keselamatan ditujukan bagi semua orang, terutama bagi orang-orang berdosa.

(c) Ada juga cerita Lucian, dimana nelayan disajikan secara positif, tetapi ikannya bersifat negatif. Ikan hanya mau ditangkap dengan umpan emas dan ketenaran . Bisa jadi Lukas menggunakan gambaran ini untuk mengingatkan ikan kristen bahwa kepercayaan kepada Yesus tidak boleh ditentukan oleh emas dan ketenaran. Mengikut Yesus mesti lahir dari motivasi yang benar. Hanya dengan begitu, iman mereka mampu bertahan, bahkan berkembang, kala menghadapi tantangan.

Selain konteks, kita juga dapat memahami makna penjala manusia dari aspek arti kata Yunaninya. Ada yang menafsir makna menjala sebagai menangkap, yakni “menangkap hidup-hidup dan menangkap seumur hidup.” Ini menolong kita untuk memahami bahwa seluruh karya misi kita bertujuan untuk menangkap orang lain sedemikian rupa sehingga memberi kehidupan dan bukan justru menghilangkan kehidupan. Proses menjala manusia ini, apalagi dalam kondisi penganiayaan seperti ini, hanya bisa dilakukan dengan cinta dan karunia dan belas kasihan. Ini berbanding terbalik dengan cara dunia yang terus menghambat Injil dengan ancaman, hukuman dan intimidasi.

Kita akan selalu berhadapan dengan Program Tuhan dan Program Iblis. Menurut Edwards, program Tuhan adalah menangkap manusia mati menjadi hidup, sedang program setan ialah menangkap manusia hidup menjadi mati. Kedua pihak sama-sama ingin merekrut kita untuk terlibat dalam programnya. Tidak ada jalan tengah, kecuali terlibat dalam salah satu program.”

Semoga Sang Penjala Agung, yang mengenal setiap hati, terus membisikkan programnya di telinga kita dan semoga kita memiliki telinga untuk mendengar dan hati yang tergerak untuk menjala manusia.***

Leave a Reply

Your email address will not be published.