LINANGAN AIR MATA IRINGI MUTASI PDT. BENDELINA DOEKA-SOUK

Kupang, www.sinodegmit.or.id, Kebaktian serah-terima Ketua Majelis Jemaat GMIT Ebenhaezer Matani, Pdt. Bendelina Doeka-Souk, MM kepada Pdt. Bengngu Djira dari jemaat Maranatha Oebufu diwarnai suasana haru. Sejumlah jemaat tampak meneteskan air mata semenjak kebaktian di mulai.

“Mama Lin sudah seperti keluarga kami sendiri. Karena itu, jujur dari hati, kami belum mau lepaskan mama pendeta. Tapi mau bilang apa, ada waktu untuk bertemu dan ada waktu untuk berpisah. Selama di sini Mama Lin selalu perhatikan para lansia dan anak-anak. Itu selalu melekat dalam hati kami dan menjadi motivasi untuk membawa kami ke depan menjadi lebih baik,”  ucap Marisa Tosi-Toy, (46) sambil terisak.

Mama Lin, sapaan akrab Pdt. Bendelina Doeka-Souk, adalah mantan sekretaris Majelis Sinode GMIT (2007-2011). Usai bertugas di lingkup sinode, ia ditempatkan di jemaat Ebenhaezer Matani, klasis Kupang Tengah. Pelayanan holistik yang menjadi jargon pada periode tugasnya di Majelis Sinode, ia teruskan di jemaat. Aneka rupa pelayanan diintegrasikan dengan menggalang semua potensi yang tersedia dalam jemaat. Mulai dari membangun kerja sama dengan pemerintah kabupaten agar jemaat bisa mengakses air bersih, melibatkan para medis dan petugas kesehatan untuk penyuluhan dan peningkatan gizi balita, pemberdayaan ekonomi melalui beternak, koperasi, peningkatan fasilitas dan kualitas pendidikan PAUD, kursus beberapa mata pelajaran bagi murid SMP dan sejumlah program unggulan lainnya.

Membekas dalam benak Tedy Nabunome (20) anggota pemuda setempat, pelayanan diakonia yang menjadi perhatian Pdt. Lin. “Mama Lin terlalu baik buat kotong di sini. Mama Lin sangat memberi perhatian pada pendidikan anak-anak. Yang beta dapat pelajaran dari Mama Lin itu, kotong harus berani membangun persekutuan dalam jemaat. Mama juga sangat aktif mendukung kegiatan-kegiatan pemuda. Salah satu kegiatan unggulan pemuda yang Mama Lin sangat dukung yaitu bedah rumah bagi jemaat yang kurang mampu. Dalam dua tahun terakhir sudah enam rumah yang kami bedah, sekarang satu masih dalam proses.”

Kebaktian serah terima yang berlangsung pada Minggu, 22/10-2017, pukul 8:00 WITA dipimpin Pdt. Dina Dethan-Penpada. Terkait perayaan bulan keluarga, HUT GMIT dan Reformasi, dalam khotbahnya Pdt. Dina menandaskan bahwa Tuhan bekerja dalam diri banyak orang. Bukan hanya para reformator tapi juga dalam diri para pendiri GMIT termasuk bekerja juga melalui Pdt. Lin dan Pdt. Bengngu Djira. Karena itu jemaat perlu belajar dari siapa pun pendeta yang datang dan pergi.

Pdt. Lin dalam pesan dan kesannya menyampaikan terima kasih dan permintaan maaf kepada Majelis Jemaat dan seluruh jemaat atas kekurangan tetapi juga dukungan  dan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya selama satu periode pelayanan. Pdt. Lin dimutasikan ke jemaat GMIT Emaus Liliba untuk periode 2017-2021. Secara khusus ia berharap program pendidikan yang telah dimulainya dilanjutkan dan ditingkatkan oleh Pdt. Djira.

Turut hadir dalam acara serah terima ini, Camat Kupang Tengah dan anggota MS GMIT, Pnt. Liven Rafael. Dalam suara gembala, Pnt. Liven menegaskan pentingnya ketaatan pendeta dan kesadaran jemaat terkait periode pelayanan pendeta sebagaimana diatur dalam tata gereja GMIT yakni 2 periode saja di satu jemaat dan atau 3 periode dalam satu klasis.

“Peristiwa pergantian pendeta itu sesuatu yang normal dalam GMIT. Karena itu apa pun yang dikerjakan oleh pendeta sebelum dan sesudahnya mesti menjadi pengalaman bersama. Saya berharap kedua sahabat pelayan satu nada dalam pelayanan,” tutup Pnt. Rafael. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.