Memaknai Jumat Agung dan Paskah dalam Konteks Wabah Covid-19 – Pdt. Prof. Dr. Emanuel Gerrit Singgih*

www.sinodegmit.or.id, Perayaan Jumat Agung dan Paskah adalah upaya orang beriman Kristiani untuk memaknai misteri Ilahi, sekaligus misteri kehidupan, dan kalau disebut misteri, maka kita hanya bisa meraba-raba saja secara samar-samar, apa artinya dua kutub kehidupan, yaitu kesejahteraan dan penderitaan/sakit, atau yang biasanya kita sebut sebagai hidup dan mati.

Manusia, bahkan seluruh alam semesta, hidup dan mati (Covid-19 juga!). Tetapi yang sering membuat kita bingung dan galau adalah kalau ada di antara kita yang mati bukan karena mati tua, melainkan mati karena sakit, karena kecelakaan, dan karena kekerasan. Waktu itu kita bingung, apalagi kalau ada yang menghakimi, dan menyatakan bahwa kalau Anda atau keluarga Anda mengalami hal-hal itu, maka itulah tanda keberdosaan atau ketidak-beresan. Padahal warisan yang kita peroleh dari pendahulu-pendahulu kita, yaitu perayaan hari Jumat Agung dan Paskah, sejatinya bisa membuat kita memaknai kemalangan dengan lebih tenang, meskipun saya akui tidak bisa tenang sepenuhnya. Tetapi lebih baik daripada bingung dan panik, kemudian menyalah-nyalahkan semua yang lain.

Perayaan Jumat Agung dan Paskah didasarkan atas peristiwa Yesus, yang disiksa dan dibunuh di kayu salib. Apakah Dia salah, berdosa? Semua yang ada di sekitar salib menganggap demikian, dan mengolok-olok Dia (Luk. 23:35-39). Kecuali satu orang, yaitu salah satu penjahat yang disalib bersama Yesus. Dia yakin bahwa Yesus tidak bersalah (Luk. 23:41). Atas keyakinannya itu, Yesus menganugerahkannya Firdaus.

Pdt. Prof. Dr. Emanuel Gerrit Singgih

Dalam konteks Lukas pasal 23, Firdaus adalah anugerah bagi mereka yang percaya bahwa Yesus yang dibunuh itu, tidak bersalah. Kemudian dalam Kisah Para Rasul (yang juga ditulis oleh Lukas), terdapat kotbah Petrus pada hari raya Pentakosta (Kis. 2:22-24), di hadapan penduduk Yerusalem, yang menyampaikan bahwa Yesus dari Nazaret, yang mereka bunuh, justru adalah Mesias, yang tidak bersalah. Itulah sebabnya Allah membangkitkan Dia. Ada rencana Allah bagi Dia, yang dapat kita lihat pada kata “diserahkan”, tetapi persisinya bagaimana kita tidak tahu. Yang kita tahu adalah bahwa dosa dan kemalangan tidak mempunyai hubungan sebab dan akibat.

Itulah yang mau ditekankan oleh Injil Lukas-Kisah para Rasul. Ada orang benar yang menderita, baik dulu dan sekarang. Kalau ada wabah covid 19, dan kita terkena, itu bukan berarti kita berdosa, meskipun benar, bahwa masyarakat Indonesia bisa berjudi, bisa selingkuh, bisa korupsi, bahkan bisa membunuh. Penulis-penulis Perjanjian Baru (Yohanes) dan para teolog pasca Perjanjian Baru (Abelard) kemudian menjelaskan sedikit dari misteri ini dengan menyatakan bahwa Tuhan Yesus mengorbankan Diri-Nya demi kasih Allah kepada dunia ini, seperti kata Injil Yohanes 3:16, yang kita semua sudah hafal sejak sekolah minggu. Maka demikianlah kita memaknai pengorbanan Yesus atau karya pendamaian Allah (atonement) pada masa kini, yaitu dari perspektif Jumat Agung dan Paskah. Tetapi kiranya keduanya jangan dilihat sebagai berhubungan sebab dan akibat, Jumat Agung menyebabkan Paskah, melainkan sebagai tonggak-tonggak perspektif kita dalam memaknai misteri kehidupan ini.

Banyak pendapat di media sosial mengenai asal usul Covid-19. Ada yang mengatakan bahwa China memproduksikan virus covid-19 sebagai senjata biologis, kemudian terjadi kesalahan, sehingga virusnya jatuh ke pasar hewan, hinggap pada kelelawar dan kelelawar menularkan Covid-19 kepada manusia. Ada juga yang mengatakan Amerika (USA) yang menularkannya di China, lengkap dengan tayangan video tentara USA di atas truk yang menyebarkan virus tersebut.

Menurut saya itu semua termasuk dalam teori konspirasi, oleh karena teori konspirasi selalu bisa menunjuk siapakah biang keladi dari semua prahara. Film-film yang berdasarkan teori konspirasi laku besar, baik di Barat maupun di Timur, oleh karena manusia jaman now, tidak bisa hidup dengan misteri, selalu harus ada penjelasan, bahwa 1 + 1 = 2. Ada juga penjelasan-penjelasan ilmiah yang mencoba menerangkan mengapa Covid-19 bisa terjadi. Saya pikir, kita mengandalkan pada penjelasan-penjelasan ilmiah ini sajalah, meskipun bisa jadi tidak bisa dibuktikan secara empirik.

Noval Harari, penulis terkenal itu, membuat catatan penting mengenai wabah di masa lampau, yang semua bisa diatasi dengan upaya ilmiah, misalnya penyakit cacar. Memang sekarang kita masih menunggu vaksin covid. Ada yang bilang sudah ada, tinggal dibeli dan dikirim ke sini, ada juga yang bilang itu obat, yang berbeda dari vaksin. Masih ada perbedaan pendapat, namun yang penting kita semua bekerja sama dan percaya kepada pakar-pakar kedokteran yang menangani virus, dan membantu serta menolong mereka, membuat suasana menjadi lebih kondusif. Tanpa kerja-sama dengan mereka, pasti mereka akan kewalahan. Daripada mencari-cari siapa yang bersalah, sehingga covid ini bisa mengglobal, lebih baik kita akui bahwa wabah itu ada, dan sedang mengancam kehidupan bersama kita.

Secara teologis, saya tidak menganggap bahwa wabah, dalam hal ini covid, adalah hukuman Tuhan. Wabah covid adalah bencana, sama seperti semua bencana yang lain. Teologi wabah atau teologi bencana yang kita pegang selama ini adalah wabah sebagai hukuman Tuhan kepada orang berdosa, atau kepada mereka yang bukan umat Tuhan, sama seperti bencana alam, sakit penyakit, dan disabilitas. Maka kalau ada warga gereja terkena covid, dia malu sekali, atau keluarganya malu sekali, apalagi kalau dia pendeta, atau kalau banyak warga dari gereja yang sama, terkena covid. Wabah adalah aib. Teologi wabah seperti ini menyebabkan orang diam, tidak memberi informasi, dan cenderung memberi alasan penyakit lain kalau warganya terkena covid, misalnya kena tipus atau serangan jantung (bisa benar sebagian, karena biasanya orang yang sudah punya penyakit kronis, amat rentan terhadap covid. Tetapi alasan itu sendiri akhirnya menutupi adanya serangan covid).

Pemahaman mengenai wabah covid 19 sebagai aib yang memalukan ini perlu kita balikkan 180 derajat. Wabah, termasuk Covid-19, bukan aib, bukan hukuman Tuhan. Itu ancaman, tantangan bagi umat manusia untuk diatasi, dan bukannya tidak bisa diatasi. Sekarang tidak atau belum ada obatnya, namun dengan berkat dan perkenan Tuhan, kiranya obat atau vaksin akan segera bisa diciptakan. Tuhan tidak ada di balik Covid-19, Tuhan ada di balik upaya para pakar virulogi dan para tim kesehatan yang menolong kita di rumah sakit. Tidak usah malu, itu ada, dan mengancam kita, maka kita perlu bersatu menghadapinya.

Dalam rangka itu kita memerlukan keterbukaan, baik mengenai mereka yang sudah sakit, maupun mengenai mereka yang berada dalam pengawasan. Tetapi yang paling penting adalah membuang jauh-jauh pendapat, bahwa orang lain bisa sakit, namun saya tidak. Kita kembali saja ke kesadaran bahwa kita semua adalah ciptaan yang fana, yang rentan, yang bisa sakit. Dalam masa pra Paskah, kita biasanya meletakkan dosa pada diri kita manusia. Kita berdosa, dan Yesus yang tidak berdosa, mati untuk keselamatan kita. Tetapi terlebih dulu kita perlu mengakui, bahwa kita ciptaan yang fana, dan karena itu bisa melakukan dosa atau salah, baik kepada sesama manusia maupun kepada Tuhan.

Dengan demikian kita tidak perlu meletakkan dosa itu kepada orang lain, yang tidak menerima Yesus, tetapi tetap pada diri kita, yang sudah menerima Yesus. Kita yang menerima Yesus adalah tetap manusia ciptaan yang fana, yang bisa sakit. Kemarin, Minggu, 22 Maret 2020, pendeta Klokke dari GPIB Marga Mulia Yogyakarta, berkhotbah dalam ibadah live streaming jam 9, mengenai perkataan Yesus yang keempat di kayu salib, yaitu, “Ya Allahku, mengapa Kau meninggalkan aku?”. Dia mengatakan, bahwa itu suara kita semua sekarang, pada waktu kita bingung, terancam wabah covid yang belum ada obatnya. Pak pendeta Klokke menempatkan kegalauan kita dalam perspektif Jumat Agung dan Paskah. Orang yang berseru: mengapa? kepada Tuhan, bukan orang yang tidak beriman, melainkan yang yakin bahwa tetap ada harapan, yaitu yang diberikan oleh Paskah.

Sejak mewabah dari Wuhan sampai ke Italia, kita telah melihat betapa keras upaya yang dilakukan oleh dokter, perawat dan staf rumah sakit. Mereka bersedia menanggung risiko terkena wabah, dan tidak jarang, karena kelelahan dan ketiadaan alat-alat penangkal covid yang cukup untuk semua, mereka sakit dan meninggal. Kita berutang budi kepada mereka semua, yang meniru Yesus, yang bersedia mengorbankan nyawa untuk keselamatan yang lain. Tetapi kita perlu mengubah teologi korban kita, yaitu melihat Yesus sebagai dikorbankan, menjadi Yesus yang karena cinta kasih, bersedia mengorbankan nyawa. Mengorbankan diri dan dikorbankan merupakan kriteria yang berbeda.

Seorang teman saya, Savitri Prasetyo, yang berasal dari keluarga dokter, merasa bahwa seksi kesehatan sepertinya dijadikan “korban sembelihan”. Artinya mereka sepertinya dikorbankan, dipaksa mengatasi wabah, di luar kemampuan mereka yang terbatas. Saya amat memahami perasaannya. Kita hanya bisa membalik paham korban yang lama ini, kalau kita semua menjaga diri kita, agar tidak jatuh sakit, dan itu berarti patuh kepada ketentuan-ketentuan yang telah diberikan, yang didasarkan atas penemuan ilmu pengetahuan mengenai wabah.

Kalau wabah cacar atau wabah SARS bisa dipadamkan, kita perlu tetap optimis dengan jalan mengikuti secara cermat, social distancing. Itu bukan untuk membuat kita terasing satu kepada yang lain. Itu justru perlu, demi untuk menyelamatkan nyawa, nyawa kita dan nyawa orang lain. Tentu tidak semua pekerja kesehatan yang bersedia bekerja keras dan menanggung resiko. Saya membaca di medsos mengenai keluhan-keluhan bahwa orang yang ingin dites covid harus menunggu berjam-jam atau bahkan tidak dilayani, ditolak atau di “pingpong” ke sana kemari. Tetapi tidak semua seperti itu, banyak yang tidak seperti itu. Sekali lagi dalam masa wabah covid ini, mari semua segmen bekerjasama, atau seperti kata presiden kita, ayo kita bergotong royong, saling percaya dan saling bekerja sama.

Kita mengakui bahwa Tuhan Yesus mengorbankan DiriNya untuk keselamatan dunia. Kita menyaksikan semangat pengorbanan pada tim-tim kesehatan di berbagai negara termasuk Indonesia. Tadi sudah dikatakan bahwa kita dapat menolong mereka dengan mensukseskan social distancing. Tetapi khususnya orang-orang muda juga bisa menolong mereka dengan menggerakkan masyarakat menyumbang dana maupun keperluan-keperluan bagi mereka, misalnya pakaian antivirus. Kasihan melihat viral staf perawat di Makassar, yang hanya menggunakan jas hujan plastik sebagai pelindung.

Orang-orang muda milenial di Italia dituduh sebagai salah satu penyebab maraknya covid, karena mereka bandel. Sudah disuruh tinggal di rumah, malah dugem dan clubbing. Mungkin tuduhan itu berat sebelah, tetapi saya berharap anak muda Indonesia tidak seperti itu. Orang-orang muda, terlebih-lebih lagi yang berada di persekutuan-persekutuan, mungkin bisa lebih kritis terhadap pelbagai macam pandangan yang tidak bernalar, dan yang tidak bertanggung-jawab, misalnya teologi wabah yang sudah disebut di atas, yang menempatkan ritual di atas segala-galanya, juga di atas keselamatan nyawa manusia.

Penganut teologi wabah ini lupa pada teladan Yesus, yang mengatakan bahwa hari Sabat (ritual) adalah untuk manusia, dan bukan manusia untuk hari Sabat. Mereka inilah yang nekat mau tetap melaksanakan ibadah Minggu, meskipun presiden, gubernur dan wali kota sudah mengimbau agar beribadah di rumah saja. Selain itu orang muda bisa mematahkan ideologi rasis yang menganggap orang Indonesia lebih unggul dari orang di China atau Singapura. Banyak ujaran pra pengumuman presiden mengenai adanya penderita covid di Indonesia pada tanggal 2 Maret yang lalu, yang nadanya seperti itu. Iklim kita lebih baik, model kehidupan kita lebih baik, anatomi atau susunan biologi tubuh kita lebih unggul daripada orang China yang ateis dan orang Singapura yang mata duitan. “Buktinya”, mereka terserang covid, kita tidak. Setelah kita juga diserang covid, bahasa semacam itu menghilang, tetapi bisa muncul lagi, dalam wujud yang lebih hebat, yaitu mempersalahkan atau mengkambing-hitamkan segolongan orang sebagai penyebab malapetaka.

Tugas gereja, dan tugas orang muda adalah mematahkan model pemikiran yang mengkambing-hitamkan orang atau golongan lain. Dan akhirnya, orang muda bisa memelopori kehidupan dan pergaulan lintas agama yang berhenti menghakimi yang lain, termasuk LGBT. Waah covid menyerang semua penganut agama dan semua yang berorientasi seksual tertentu tanpa kecuali. Itu seharusnya membuat penganut agama menjadi rendah hati dan terbuka bagi komunikasi serta pergaulan dengan yang lain (tentu tidak di masa social distancing ini, tetapi sesudah itu, Anda sudah tahu apa yang harus diperbuat).

Wabah covid membuat kita orang beriman Kristiani kembali kepada prinsip proporsionalitas dalam memberi bobot kepada “objek-objek” iman kita. Mungkin tadinya kita mengira bahwa ritual-ritual (dan saya memasukkan kotbah sebagai bagian dari ritual juga) yang membentuk agama. Ternyata tidak, iman lebih daripada melaksanakan ritual-ritual agama. Iman lebih besar daripada agama. Tetapi iman juga tidak perlu dilihat sebagai bekal, obat, jimat atau penangkal bala, sebab banyak orang yang bertahan pada pelaksanaan kebaktian Minggu, mengalaskan pandangannya pada iman. Artinya iman bisa menangkal covid.

Di jemaat GPIB Marga Mulia Yogyakarta, pasca pengumuman presiden 2 Maret di atas, dari atas mimbar saya mengajak jemaat agar tidak berjabat tangan ketika bersalaman, karena ada bentuk salaman yang lain, yang kontekstual, misalnya namaste atu menjura. Tetapi ada majelis yang melaporkan saya kepada pak pendeta Klokke, dan ada pula yang secara keras mengatakan: saya punya iman, jadi saya tetap berjabat tangan. Berarti yang lain tidak punya iman. Bukan dalam pengertian itu saya berbicara mengenai iman, melainkan iman sebagai keluasan wawasan orang beragama.

Dale Cannon seorang pakar agama menyebutkan bahwa ada enam cara beragama, dan ritual hanya salah satunya. Saya tidak mau menerangkan semuanya, cukup salah satunya, yaitu jalan mistik (Yang ingin tahu lebih lanjut silakan melihat postingan vicaris GPIB, Neles Tamawiwy MA, di facebook). Istilah mistik di Indonesia sudah amat bermakna negatip, disamakan dengnan klenik. Banyak orang beragama memandang mistik sebagai antitesa dari agama. Menurut saya antitesa ini semu adanya. Ada makna mistik yang positip, yaitu masuk pada inti hubungan kita dengan Tuhan, yaitu cinta. Menurut para mistikus Tuhan tidak ada di gereja, di mesjid, dan di kelenteng. Dia ada di hati manusia, dan hati berhubungan dengan alam, dan alam berhubungan dengan Tuhan. Kedengarannya keras dan anti agama, tetapi sebenarnya tidak. Mereka hanya mau mengarahkan kita sehingga menjadi proporsional: beragama atau beriman berarti menghargai semua, tetapi semua tidak bisa mengganti Tuhan. Mana yang penting, gambran kita mengenai Tuhan, teologi kita mengenai Tuhan, atau Tuhan? Kita kan tidak bisa menyatakan cinta kepada gambaran, kepada teologi. Kita hanya bisa mencintai Tuhan. Kalau kita bisa mencintai Tuhan, maka ada harapan. Sama sepoerti kalau kita mencintai seseorang, ‘kan ada harapan? Tuhanlah harapan kita. Dalam diri Yesus Kristus, Tuhan tampak dalam wujud yang lemah di kayu salib pada hari Jumat Agung. Seperti kata pendeta Klokke di atas, seruan Yesus, mengapa Kau meninggalkan aku, merupakan seruan kita semua.

Tuhan Yesus memang mengutip Mazmur 22:2, tetapi semua orang Yahudi pada saat kritis, mengutip ayat itu, Tuhan Yesus yang adalah orang Yahudi, juga mengutip ayat itu yang sekaligus merupakan pengungkapan hati dan percayanya. Tetapi pada waktunya, kita semua juga akan berseru: Kristus sudah bangkit, Dia sungguh-sungguh sudah bangkit! Dan kit akan berseru demikian, meskipun masa tanggap darurat covid akan berlangsung terus smpai kepada hari Paskah, bahkan sampai melewati hari Paskah. ***

*Pdt. Prof. Dr. (hc) Emanuel Gerrit Singgih, Ph.D. mahaguru biblika pascasarjana teologi UKDW Yogyakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *