Memasuki Tahun Baru 2022, Dua Pendeta GMIT Tutup Usia

Ibadah Penguburan Pdt. Emr. Leeke Muni Sjioen-Nisnoni di Jemaat Pniel Sikumana-Kupang

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Memasuki tahun baru 2022, Tuhan Sang Pencipta berkenan memanggil pulang dua orang pendeta GMIT. Kedua hamba Tuhan itu adalah Pdt. Yelly Erta Luisa Catarina Tunmuni-Loebaloe, S.Th., (54 tahun) dan Pdt. Emr. Leeke Muni Sjioen-Nisnoni, S.Th., (67 tahun).

Pdt. Yelly adalah pendeta aktif di Jemaat Imanuel Nifukani, Klasis SoE sejak 2016. Sebelumnya ia penah melayani di Jemaat Wilayah Bijaepunu-Klasis Mollo Utara (1996) dan Jemaat Kuale’u-Klasis Mollo Barat (2003).

Mendiang menikah dengan Simon Tunmuni dan dikaruniai 1 orang anak atas nama Sanny Kurnia dan 3 orang anak angkat yakni: Apris Nenobasan, Apren Nameni dan Bramsi Tse.

Pdt. Yelly meninggal dunia pada 1 Januari 2022 karena sakit. Jenasahnya dikuburkan pada Senin, 3 Januari 2022.

Sementara Pdt. Emr. Leeke Muni Sjioen-Nisnoni meninggal dunia karena sakit pada 3 Januari 2022. Mendiang adalah istri dari almarhum Pdt. Fredrik Sjioen atau yang akrab disapa Pdt. Feky Sjioen, seorang pelatih paduan suara gereja.  

Mendiang mempersembahkan 35 tahun hidupnya untuk melayani di GMIT. Ia memulai tugasnya sebagai pendeta di Kantor Sinode GMIT bagian keuangan, tahun 1985. Selanjutnya ia pernah melayani di Jemaat Gloria Kayu Putih (1987), Jemaat Kefas Kampung Baru (2000) dan terakhir di Jemaat Sion Oepura (2008).

Dari rahim pelayan setiawan ini, Tuhan mengaruniakan 3 orang anak yakni: Grace Lifens, Sinyo Hansel dan Suthia Leira. Grace mengikuti jejak orang tuanya menjadi pendeta.

Menyampaikan suara gembala pada kebaktian pemakaman di Jemaat Pniel Sikumana-Kupang, (5/1), Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Mery Kolimon menyampaikan turut berdukacita dan terima kasih kepada keluarga atas dedikasi mendiang bagi GMIT.

Berpulangnya orang tua menurut Pdt. Mery merupakan kesempatan bagi anak-anak untuk tumbuh dewasa dalam kehidupan iman.

“Saat Tuhan panggil pulang orang tua, kita belajar menjadi dewasa dalam mengambil keputusan-keputusan hidup. Kualitas hidup berdoa dan beriman kita naik kelas saat orang tua kita pergi. Tentu mereka tidak sempurna, tapi kita belajar dari mereka, mana yang baik dan mana yang mulia sebagai pegangan dalam hidup kita.” ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.