Mengelola Emosi demi Peningkatan Kinerja Individu dan Organisasi

Oleh: Pdt. Oktofianus Nenohai

 

Abad ke 21 merupakan abad  persaingan bangsa-bangsa diberbagai sektor termasuk disektor bisnis. Untuk memenangkan persaingan, setiap organisasi baik organisasi provit maupun organisasi non provit perlu memiliki keunggulan kompetitif tertentu dibandingkan dengan pesaingnya. Keunggulan kompetitif dibentuk melalui berbagai cara seperti menciptakan produk dengan desain yang unik, penggunaan teknologi modern, desain organisasi dan  pengelolaan sumber daya manusia secara efektif. Pemimpin organisasi, manajer, para teknolog perlu meningkatkan kecerdasan emosi agar mampu mendayagunakan SDM secara optimal dalam mencapai kinerja, sehingga mampu mendudukan perusahaan pada posisi persaingan pasar yang lebih kuat.

Hasil penelitian Daniel Goleman tahun 2000 menyimpulkan bahwa” Pencapaian kinerja suatu organisasi ditentukan hanya 20 % dari IQ sedangkan 80 % ditentukan oleh kecerdasan emosi ( EQ-Emotional Quotient ). Selain  Goleman, disimpulkan pula oleh Joan Beck bahwa IQ seseorang sudah berkembang 50 % sebelum usia 5 tahun, 80 % sebelum 8 tahun dan hanya berkembang 20 % sampai akhir masa remaja sedangkan kecerdasan emosi ( EQ ) dapat dikembangkan tanpa batas waktu. Frederick Perls dalam bukunya Psycho-analisa yang mengembangkan pendekatan “gestalf” berpendapat bahwa kematangan emosi terletak pada bagaimana seseorang membuka “ego boundary” yakni “pagar egoisme” terhadap orang lain. Oleh karena itu, pimpinan dan manajer suatu organisasi jika mengharapkan pencapaian kinerja maksimal di organisasinya, maka upaya yang paling tepat adalah bagaimana membina diri dan membina SDM orang-orang yang dipimpinnya untuk memiliki kecerdasan emosi yang baik. Kecerdasan emosi yang baik adalah suatu keadaan yang  mampu memahami diri dan orang lain secara benar, memiliki jati diri, kepribadian dewasa mental, tidak iri hati, tidak benci, tidak sakit hati, tidak dendam, tidak memiliki perasaan bersalah berlebihan, tidak cemas, tidak mudah marah dan tidak mudah frustrasi.

Mengelola emosi dalam rangka meningkatkan kinerja individu dan organisasi mutlak diperlukan dalam suatu organisasi baik itu organisasi. Karena itu amatlah penting bagi kita untuk memahami   “apa itu emosi”, apa itu kinerja, bagaimana  mengelola emosi dan  apa manfaatnya bagi relasi dalam hubungan dengan peningkatan kinerja  suatu organisasi.

 

Apa itu emosi?

Anwar Prabu Mangkunegara dalam bukunya Evaluasi Kinerja SDM merumuskan emosi sebagai keadaan yang berlangsung lebih dalam yang menggerakkan kita atau memperingatkan kita apakah kita sadar tentang itu atau tidak. Pada saat ketegangan emosi seseorang naik maka penggunaan energi juga ikut meningkat dan peredaran darah menjadi lebih cepat. Dalam situasi seperti ini, sbaiknya kita mengarahkan kembali energi emosi yang timbul untuk mengerjakan kegiatan yang tidak ada hubungan dengan penyebab timbulnya emosi. Kita mengalihkan pikiran pada kegiatan lainnya yang mampu “melupakan” agar emosi menjadi normal, misalnya menarik nafas dalam-dalam, mengingat kasih setia Tuhan yang memelihara, melindungi, menaungi, menyertai serta  meditasi atau berdoa. Dengan melakukan hal-hal itu diharapkan kita bisa mampu mengendalikan emosi kita.

 

Kinerja individu dan organisasi

  1. Kinerja individu

Dalam bukunya Manajemen dan evaluasi kinerja ( 2005 )  Prof. Dr. Payaman J.Simanjuntak  berpendapat bahwa kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan tugas tertentu. Kinerja individu adalah tingkat capaian hasil kerja individu atas pelaksanaan tugas tertentu dalam organisasi. Kinerja setiap orang dipengaruhi oleh banyak faktor, tiga faktor dintaranya adalah kompetensi individu, dukungan organisasi dan dukungan manajemen.

Kompetensi individu adalah kemampuan dan ketrampilan melakukan kerja. Kompetensi individu dipengaruhi oleh beberapa faktor, dua diantaranya yaitu: kemampuan dan ketrampilan kerja serta motivasi dan etos kerja. Kemampuan dan ketrampilan kerja setiap orang dipengaruhi oleh kebugaran fisik dan kesehatan jiwa individu, pendidikan, akumulasi pelatihan dan pengalaman kerjanya. Kebugaran fisik membuat orang mampu dan tahan bekerja keras dan lama. Karyawan yang kekurangan gizi akan cepat lemah dan lelah serta tidak mampu melakukan pekerjaan berat. Sedangkan gangguan kejiwaan akibat rasa frustrasi dan masalah-masalah sosial ekonomi membuat  orang tidak konsisten dan tidak konsentrasi melakukan pekerjaan.

Pendidikan dan pelatihan merupakan bagian dari investasi sumberdaya manusia. Semakin lama waktu yang digunakan seseorang untuk pendidikan dan pelatihan, semakin tinggi kemampuannya melakukan pekerjaan dan dengan demikian semakin tinggi kinerjanya.

Motivasi dan etos kerja sangat penting mendorong semangat kerja. Motivasi dan etos kerja dipengaruhi oleh latar belakang keluarga, lingkungan masyarakat, budaya dan nilai-nilai agama yang dianut seseorang.

Kinerja setiap orang juga tergantung pada dukungan organisasi dalam bentuk pengorganisasian, penyediaan sarana dan pra-sarana kerja, pemilihan teknologi, kenyamanan lingkungan kerja serta kondisi dan syarat kerja. Pengorganisasian dimaksudkan untuk memberi kejelasan bagi setiap unit/badan dan setiap orang tentang sasaran yang harus dicapai dan apa yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran tersebut. Disamping itu setiap orang perlu memiliki dan  memahami uraian jabatan dan  tugas yang jelas. Demikian juga penyediaan sarana dan alat kerja langsung mempengaruhi kinerja setiap orang. Penggunaan peralatan dan teknolongi maju sekarang ini bukan saja dimaksudkan untuk meningkatkan kinerja, akan tetapi untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan kerja. Kondisi kerja mencakup kenyamanan lingkungan kerja, aspek keselamatan dan kesehatan kerja, syarat-syrat kerja, sistem penggajian dan jaminan sosial serta kemampuan dan keharmonisan hubungan antar karyawan. Syarat-syarat kerja memuat hak dan kewajiban karyawan serta kewenangan dan kewajiban manajemen akan memberikan kepastian bagi karyawan untuk melaksanakan tugasnya dengan baik dan penuh tanggungjawab.

Pemberian kompensasi yang adil dan layak melalui sistem penggajian akan mendorong setiap karyawan meningkatkan kinerja. Pemberian pengharagaan kepada yang berprestasi dan sanksi kepada karyawan yang tidak menunjukkan kinerja optimal merupakan salah satu cara meningkatkan kinerja seseorang. Kinerja organisasi dan kinerja setiap orang juga sangat bergantung pada kemampuan manajerial para manajemen baik dengan membangun sistem kerja dan hubungan kerja yang aman dan harmonis maupun dengan mengembangkan kompetensi kerja, menumbuhkan motivasi dan mobilisasi karyawan untuk bekerja secara optimal. Dalam rangka pengembangan kompetensi kerja manajemen dapat melakukan antara lain: mengidentifikasi dan mengoptimalkan pemanfaatan kekuatan, keunggulan dan potensi yang dimiliki setiap karyawan, mendorong karyawan untuk terus belajar meningkatkan wawasan dan pengetahuannya, membuka kesempatan yang seluas-luasnya kepada karyawan untuk belajar baik secara pribadi maupun melalui pendidikan dan pelatihan yang dirancang dan diprogramkan dan membantu setiap orang yang menghadapi kesulitan dalam melakukan tugas, misalnya memberikan bimbingan, penyuluhan, pelatihan atau pendidikan

 

  1. Kinerja organisasi

Kinerja organisasi adalah tingkat pencapaian hasil dalam rangka mewujudkan tujuan organisasi. Kinerja organisasi merupakan akumulasi kinerja semua individu yang bekerja di dalamnya. Kinerja organisasi adalah argregasi  kinerja unit-unit/badan dan masing-masing individu. Kinerja organisasi sangat dipengaruhi oleh dukungan organisasi antara lain dalam penyusunan struktur organisasi, pemilihan teknologi dan penyediaan pra sarana dan sarana kerja. Penyusunan struktur organisasi  berjenjang dapat menimbulkan masalah birokrasi, yaitu kelambatan dalam proses penyampaian informasi dari pimpinan lingkup terluas sampai ke lingkup yang  terbatas  dan sebaliknya penyampaian informasi dari lingkup terbatas ke lingkup terluas juga demikian. Akibatnya timbul kelambatan dalam pelaksanaan operasional dan dalam proses pengambilan keputusan yang sifatnya mengikat seluruh  karyawan dan komponen terkait lainnya dalam  organisasi. Di pihak lain upaya memperpendek jenjang struktur organisasi menimbulkan konsekuensi untuk memperluas rentang kendali pengawasan yang dapat mengakibatkan pengawasan menjadi kurang efektif. Penyusunan struktur organisasi yang kurang cermat juga dapat menimbulkan masalah tumpang tindih  yaitu tugas atau pencapaian sasaran tertentu dilaksanakan oleh beberapa orang di beberapa unit/badan. Hal ini bukan saja mencerminkan pemborosan daya dan waktu, akan tetapi sering menimbulkan gesekan dan konflik antara unit/badan yang kalau tidak dikelola dengan baik akan  menghambat kelancaran pencapaian tujuan organisasi

 

Cara  Mengelola Emosi

Mengelola emosi berarti memahami kondisi emosi dengan situasi yang sedang kita hadapi. Emosi merupakan hasil dari interaksi antara pikiran, perubahan fisiologis dan perilaku. Dengan demikian, mengelola emosi dapat dilakukan dengan mengelola faktor-faktor yang terkait dalam interaksi yang menyebabkan timbulnya emosi. Patricia Patton menjelaskan beberapa cara dalam hal kita mengelola emosi sehingga membawa manfaat besar  bagi kita dan orang lain sbb:

  1. Belajar mengidentifikasi apa yang biasanya  memicu emosi dan respon apa yang biasa kita berikan. Hal ini akan memberikan informasi tentang tingkah laku kita yang perlu diubah
  2. Belajar dari kesalahan. Ketika kita melihat bahwa emosi yang tidak pas terjadi pada kita, maka kita perlu mengubah hal itu
  3. Belajar membedakan segala hal disekitar kita yang dapat memberikan pengaruh dan yang tidak memberikan pengaruh sehingga memperoleh keharmonisan batin yang lebih baik
  4. Belajar untuk bertanggungjawab terhadap setiap tindakan agar dapat mengendalikan emosi
  5. Belajar mencari kebenaran, bukan membenarkan diri dengan memahami dan menerima kenyataan untuk menyadari kebutuhan  untuk berubah
  6. Belajar memanfaatkan waktu secara maksimal untuk menyelesaikan suatu masalah dengan segera. Hal ini  akan membebaskan kita dari rasa tertekan
  7. Belajar menggunakan kekuatan dan kerendahan hati dengan tidak merendahkan orang lain

Selain pendapat Patricia Patton mengenai cara mengelola emosi  juga    pikiran seorang Psikolog yaitu Carolyn Saari kita angkat dalam rangka memperkaya pemahaman kita mengenai cara mengelola emosi. Menurut Carolyn EQ adalah bagian dari kompetensi Emosi yang bertitik berat pada sifat-sifat adaptif dari pengalaman emosional seseorang. Karena itu untuk bisa dikatakan kompeten secara emosional, seseorang harus mengembangkan beberapa ketrampilan yang berhubungan dengan konteks sosial yaitu:

Ketrampilan Contoh
·  Pemahaman tentang keadaan emosi yang dialami ·      Dapat membedakan apakah dia sedang sedih atau gelisah
· Mendeteksi emosi orang lain

 

·      Paham bahwa orang lain sedang sedih
· Menggunakan kosakata yang berhubungan dengan emosi dengan tepat pada konteks sosial dan budaya tertentu ·      Dapat menggambarkan situasi sosial dengan tepat dalam budaya tertentu ketika mengalami kesusahan
· Sensivitas empati dan simpatik terhadap pengalaman emosional orang lain ·  Dapat bersifat sensitif kepada orang lain yang merasakan emosi negatif
· Memahami bahwa keadaan emosional di dalam tidak harus selalu berhubungan dengan ekspresi yang tanpak di luar · Menyadari bahwa seseorang yang merasa marah bisa mengatur ekspresi emosinya sehingga kelihatan lebih netral
· Coping adaptif terhadap emosi negatif dengan menggunakan strategi selfregulatory yang dapat mengurangi durasi dan intensitas dari emosi tersebut · Mengurangi kemarahan dengan menghindari situasi yang mengganggu dan melibatkan diri pada aktivitas yang dapat membuat diri bisa melepaskan pikiran terhadap situasi mengganggu tersebut
· Menyadari bahwa ekspresi emosi memiliki peranan yang penting dalam hubungan interpersonal · Mengetahui bahwa terlalu sering mengekspresikan kemarahan kepada seorang teman dapat mengganggu hubungan pertemanan tersebut
· Memandang bahwa keadaan emosi diri adalah cara seseorang mengatur emosinya · Individu ingin merasa bahwa dia bisa dan mampu melakukan coping secara efektif terhadap stres

 

Salah satu masalah dalam mengelola emosi adalah komunikasi. Seringkali  orang gagal menyampaikan apa yang mereka pikirkan dan yang mereka rasakan. Komunikasi bukan sekedar hanya menyampaikan informasi, tetapi suatu kegiatan yang amat penting dalam satu organisasi. Jika komunikasi dilakukan dengan baik, maka hal itu mendorong pelaksanaan pekerjaan lebih baik. Dengan komunikasi yang baik karyawan akan memahami pekerjaan mereka lebih baik dan lebih akrab dalam melaksanakannya. Komunikasi yang baik menolong menurunnya angka kemangkiran, keluhan, meningkatkan kepuasan kerja dan produktivitas.  Karyawan akan lebih termotivasi dan lebih efektif dalam melaksanakan pekerjaan jika komunikasi dari pimpinan lancar dan cocok. Karena itu seorang pemimpin organisasi hendaklah menyusun strategi kerja untuk menyediakan waktu yang rutin menemui karyawannya dan berbicara dengan mereka. Dengan bertemu karyawan baiklah pemimpin menanyakan masalah dan hambatan  dengan pekerjaan sekaligus mengetahui kemajuan dan prestasi kerja karyawan dan dapat saja pemimpin menyampaikan pujian sehubungan dengan  prestasi kerja yang dicapai. Seorang pemimpin seyogyanya membuka kesempatan dan memberi izin karyawannya bertemu dan menyampaikan keluhan dan masalah mereka tanpa tertekan karena hal itu akan membawa manfaat antara lain: meningkatnya semangat kerja, terciptanya hubungan yang baik dan harmonis. Seorang pemimpin supaya aktif berkomunikasi dengan karyawannya. Kamunikasi yang lancar akan membuat karyawan menyayangi pimpinannya. Untuk itu setiap orang  membutuhkan ketrampilan berkomunikasi secara cerdas emosional. Patricia Patton  berpendapat bahwa berkomunikasi secara cerdas emosional berarti:

  • Menggunakan emosi untuk memberikan kedalaman dan kekayaan terhadap diri sendiri sebagai seorang pribadi dan membawa kehidupan diri pada tindakan
  • Mengatur diri sedemikian rupa untuk dapat bertindak sesuai dengan pesan yang disampaikan.
  • Mengetahui cara membaca emosi orang lain untuk memperlancar alur komunikasi
  • Menyeimbangkan apa yang kita rasakan dengan yang kita lakukan, sehingga keduanya saling melengkapi. Kata-kata kita adalah perbuatan kita
  • Memahami perasaan orang lain dan melihat orang lain berdasarkan perspektif mereka sebelum melakukan tindakan

Emil H Tambunan dalam bukunya “Kunci sukses” berpendapat bahwa untuk menjaga kelancaran komunikasi seorang pemimpin dengan  karyawannya di lingkungan organisasi dan lingkungan kerja  perlu memperhatian beberapa hal dalam  berkomunikasi  antara lain:

  1. Kendalikan lidah baik-baik. Katakan lebih sedikit dari pada yang terdapat dalam pikiranmu
  2. Buatlah janji sedikit mungkin dan berusaha menepatinya
  3. Jangan liwatkan kesempatan menyatakan sesuatu untuk mendorong seseorang. Pujilah yang baik dan jangan pilih bulu
  4. Berilah perhatian kepada  karyawan, perhatikan pekerjaannya, kesejahteraan rumah tangganya. Betapa rendahpun status karyawanmu, anggap dia seorang penting
  5. Tunjukkan dirimu seorang optimis, bergembira selalu dan lemparkan senyum setiap hari. Sembunyikan rasa dongkol yang terdapat dalam hatimu dan juga kekuatiranmu dan kekecewaanmu.
  6. Terbukalah menerima saran atau kritikan dari karyawanmu. Bicarakan permasalahan yang menyangkut pekerjaan atau disiplin tetapi usahakan untuk tidak berdebat.

Dalam mengelola emosi diri dan orang lain  sebagai  upaya meningkatkan kecerdasan emosi untuk peningkatan kinerja individu dan  produktivitas organisasi dapat kita lakukan melalui beberapa cara sebagaimana yang ditawarkan Patricia Patton berikut ini:

Ø Jangan meruntuhkan kerja orang lain  dengan mengabaikan prestasi mereka

Ø Jangan menggunakan intimidasi dan ancaman sebagai sarana pengembangan semangat

Ø Jangan memberikan pelayanan dengan cara mengabaikan keberadaan orang lain

Ø Jangan menciptakan harapan yang tidak realistik dengan orang lain

Ø Jangan menggunakan manipulasi dan pemaksaan untuk mengendalikan orang lain agar patuh

Ø Jangan ingkar janji dengan orang lain sebaliknya berusahalah memenuhi setiap janji kepada orang lain.

 

Manfaat  Mengelola Emosi

Manfaat dari upaya mengelola emosi dalam kaitan dengan kehadiran sebagai pimpinan, manajer dan karyawan dalam sebuah organisasi dalam rangka meningkatkan produktifitas lembaga adalah: adanya kemampuan membangun hubungan interpersonal yang sehat dan efektif, mampu mengendalikan diri dari perilaku orang lain yang berpotensi memicu emosi, adanya sikap obyektif dan mawas diri yang kuat, adanya kemampuan  mengendalikan diri dalam menghadapi situasi apapun, mampu membangun relasi kerja sehingga iklim kerja dalam organisasi tetap  kondusif, membangun saling percaya dan  saling mendukung melalui program kerja dan struktur organisasi efektif dan efisien.

Pimpinan dan manajer yang brilyan sekalipun, jika tidak memiliki ketrampilan berkomunikasi yang efektif dan produktif dalam membangun hubungan kerja, maka mereka sulit mencapai tujuan organisasi. Agar tercipta hubungan kerja yang harmonis dan efektif pimpinan dan manajer perlu melakukan beberapa hal antara lain:

  1. Menciptakan lingkungan kerja yang mendukung sinergitas dan partisipasi karyawan
  2. Menyusun aturan dan kebijakan yang layak dan adil yang tidak menimbulkan pertentangan antara karyawan dan pimpinan
  3. Menghilangkan bias prasangka terhadap individu dan karyawan lainnya
  4. Meluangkan waktu untuk mempelajari aspirasi-aspirasi emosional karyawan dan bagaimana mereka berhubungan dengan sesama karyawan
  5. Memilih orang-orang  sesuai peran dan mengangkat pimpinan unit atau badan yang memiliki kemampuan profesional dan kecerdasan emosional baik
  6. Memberikan penghargaan kepada yang berkinerja baik dan sanksi kepada yang berkinerja buruk
  7. Menciptakan suasana saling memperhatikan dan memotivasi kreativitas
  8. Mengembangkan mentalitas “pelayanan sepenuh hati” dalam hubungan dengan karyawan dan mereka yang dilayani.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.