Mereka akan Menamakan Dia Imanuel (Matius 1:18-25) – Pdt. Gusti Menoh

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Dalam tradisi Protestan, natal merupakan momen paling meriah dibanding hari-hari gerejawi lainnya. Dibanding Paskah misalnya, natal biasanya dirayakan lebih spektakuler, riuh, dan penuh gegap gempita. Namun tahun ini, momen sukacita itu terpaksa dirayakan dalam keheningan dan kesunyian akibat pandemi covid-19 yang masih terus merongrong kehidupan seluruh umat manusia.

Wabah corona itu terus memaksa kita membatasi seluruh ruang gerak kita, termasuk dalam merayakan momen natal yang penuh kegembiraan dan sukacita. Ada himbauan agar perayaan natal kali ini lebih dilaksanakan dalam wujud aksi diakonia daripada seremoni liturgis yang menghimpun kerumuman. Pertanyaannya, masih adakah makna natal  ketika ia dirayakan dalam kesunyian dan kesederhanaan ini? Bacaan dari Injil Matius menolong kita untuk memaknai natal secara lebih kongkrit. Ada sejumlah catatan reflektif dan aplikatif.

Pertama, Natal adalah karya agung Allah yang maha kuasa bagi manusia. Dunia medis mengatakan bahwa hanya ketika sel telur dan sel sperma bertemu, baru terjadi pembuahan. Manusia lahir dari hasil perkawinan lak-laki dan perempuan. Tetapi ayat 18 mengatakan, bahwa Maria mengandung dari Roh Kudus, sebelum ia hidup sebagai isteri dari Yusuf. Ini berarti Yesus, sang natal itu lahir dari sebuah karya besar Allah. Apa yang dapat kita maknai? Di tengah ancaman wabah corona dan berbagai persoalan hidup, penyakit, penderitaan, percayalah bahwa Allah yang kita imani di dalam Kristus itu maha kuasa dan agung karya-Nya. Oleh karena itu, percayalah kepada-Nya dan bersandarlah kepada-Nya.

Kedua, Natal adalah ajakan untuk bekerja sama. Allah dalam mewujudkan karya agungnya, Ia mengajak kerja sama dengan Yusuf dan Maria. Keduanya diajak terlibat dalam rencana keselamatan bagi seluruh umat manusia. Apa yang dapat kita maknai? Dalam menghadapi bahaya pandemi covid-19 mau pun berbagai krisis kehidupan, dibutuhkan kerja sama dari kita semua. Kita mesti taat pada protokol kesehatan dan bergandengan tangan untuk mengatasi berbagai persoalan yang muncul. Juga dalam rumah tangga, dunia kerja mau pun pelayanan, perlu untuk membuka diri dan mau bekerja sama dengan orang lain sehingga beban-beban kerja dan pelayanan menjadi ringan.

Ketiga, Natal adalah ajakan untuk menerima orang lain, apa pun keadaannya. Dalam cerita Matius, setelah Yusuf tahu bahwa tunangannya mengandung, ia berniat menjauhi Maria (ay.19). Hatinya sakit akibat tunangannya diketahui mengandung. Dalam tradisi Yahudi, tunangan itu sudah mengikat secara yuridis. Namun Yusuf ingin pergi. Tetapi Malaikat hadir bagi Yusuf dalam mimpi dan mengingatkan dia untuk tetap menerima Maria dan bertanggung jawab atasnya. Itu berarti, natal adalah ajakan bagi kita untuk menerima sesama, apa pun latar belakang dan keadaannya, dan mau hidup berdampingan/bersama mereka. Hidup bersama dalam keluarga, persekutuan, persahabatan, mau pun pertemanan selalu indah.

Keempat, Natal memulihkan hubungan yang terluka. Dalam bacaan tadi, Yusuf berniat meninggalkan Maria. Bayangkan kalau Maria tahu rencana Yusuf yang mau meninggalkannya, tentu Maria sakit hati. Tetapi perintah Tuhan melalui malaikat supaya Yusuf tidak meninggalkan Maria (ay.20). Apa maknanya? Maknanya adalah bahwa Allah tidak menghendaki ada hubungan yang terluka. Dalam kehidupan ini, baik dalam rumah tangga, dalam masyarakat, lingkungan kerja, seringkali terjadi konflik yang meninggalkan luka. Merayakan natal berarti kita diajak untuk memulihkan relasi yang terluka agar kita dapat merasakan damai sejahtera. Segala macam kepahitan akibat luka dalam hati mesti dipulihkan dengan memaafkan dan bersedia bekerja sama.

Kelima, Natal adalah kerinduan Allah untuk senantiasa ada bersama kita. Sang natal dinamai Imanuel, yang berarti Allah menyertai kita. Artinya dengan kelahiran Yesus, Allah ingin senantiasa hadir bagi kita. Natal adalah undangan Allah bagi kita untuk merespon kerinduan Allah yang mau senantiasa ada bersama kita. Pertanyaannya, apakah kita pun mau senantiasa bersama Allah? Kadang-kadang, kita sendiri yang mau menjauh dari Allah. Kita hanya mau datang kepada Tuhan ketika ada dalam pergumulan, atau di masa natal dan paskah. Akibatnya hidup kita terasa hampa dan sia-sia. Allah Imanuel adalah Allah yang maha kuasa, yang telah bersedia mau senantiasa hadir bagi kita. Maka, di tengah-tengah kehidupan yang penuh pergumulan akibat pandemi covid-19 mau pun berbagai persoalan lainnya, percayalah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita.

Tetapi kita pun mesti memastikan diri mau senanantiasa menghadirkan Allah dalam hidup kita. Berarti kita selalu mau berserah kepada-Nya, dan mengijinkan kebenaran-Nya berkuasa dalam hati kita. Firman-Nya menetap dalam hati kita dan menjadi pengendali perilaku kita. Dengan itu, kita takut berbuat dosa dan kejahatan karena kebenaran-Nya yang menetap dalam hati kita itu selalu mengingatkan kita.

Keenam, Natal mmerintahkan kita melakukan kehendak Allah. Diceritakan bahwa ketika bangun dari tidurnya, Yusuf melakukan apa yang diperintahkan malaikan Tuhan kepadanya (ay.24). Itu berarti, merayakan natal, mengajak kita untuk setia mendengarkan kehendak Tuhan dan melakukannya dalam hidup ini. Kadang-kadang, karena kesibukan dan rutinitas, kita tidak sanggup mendengarkan suara Tuhan lagi. Kita pun acuh tak acuh terhadap perintah Tuhan sehingga tidak mau melakukan-Nya.

Ketujuh, Natal adalah pengorbanan. Allah berkorban, dengan meninggalkan singgasana-Nya dan turun ke dunia yang penuh resiko untuk melepaskan manusia dari kuasa dosa. Maria berkorban memberikan rahimnya bagi bayi natal. Yusuf berkorban dengan menahan segala ego dan gengsinya sebagai laki-laki sejati yang harus bertanggung jawab atas perempuan yang tidak dihamilinya. Para majus berkorban dengan mempersembahkan mas, kemenyan dan mur. Para gembala berkorban dengan meninggalkan ternak mereka di padang guna menghampiri sang natal. Murid-murid berkorban dengan meninggalkan pekerjaan mereka untuk mengikuti Yesus, dan lain seterusnya. Kita telah berulang-ulang merayakan natal. Pertanyaannya, apa pengorbanan kita bagi Allah dan sesama?

Adakah waktu dan tenaga, pikiran dan hati, harta kekayaan, yang sungguh-sungguh kita persembahkan bagi Allah sebagai pengorbanan kita? Atau malahan pengorbanan kita selalu kalkulatif dan penuh motif-motif pribadi yang terselubung? Mereka yang telah dipilih Allah untuk terlibat dalam karya keselamatan, berkorban dengan tulus sehingga rencana Allah pun terwujud.

Dalam masa pandemi covid-19 ini, kita pun diajak untuk mau berkorban bagi Allah dan sesama. Mereka yang terpinggirkan, lapar, sakit, miskin, menderita, membutuhkan uluran tangan pengorbanan kita agar mereka bisa menikmati sukacita dan damai sejahtera. Kita yang telah menerima pengorbanan Kristus, dipanggil untuk hidup dalam kemurahan hati dan kerelaan untuk berkorban juga. Selamat natal, dan rayakanlah natal itu setiap hari sebagaimana dimaknainya hari ini. Tanpa merayakan natal sebagaimana dimaknai hari ini, maka hidup keagamaan kita sesungguhnya belum bermakna. Kiranya damai dan sukacita natal senantiasa menetap dalam hidup kita. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.