Mereka Yang Mati Pun Harus Dihormati

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, “Pelajaran kita di Jumat Agung adalah Pekalah dengan derita sesamamu. Jadilah sesama yang mendukung mereka yang menderita. Apapun suku dan agamanya manusia bukan barang. Manusia tidak boleh dijual. Bahkan mereka yang mati pun tetap harus dihormati sebagai ciptaan Allah yang mulia.”

Demikian pesan khotbah yang disampaikan Pdt. Dr. Mery Kolimon, Ketua Majelis Sinode GMIT, pada kebaktian Jumat Agung di jemaat GMIT Kemah Ibadat Airnona-Kupang, Jumat pagi (30/3).

Pesan tersebut merupakan refleksi dari bacaan Markus 15:33-47 yang menyoroti peran Yusuf Arimatea, salah satu anggota sanhedrin yang juga seorang murid Yesus. Setelah Yesus disalibkan, ia memberanikan diri menghadap Pilatus dan meminta jasad Yesus diturunkan dan dimakamkan dikuburan miliknya sebagai tanda kasih dan hormat kepada guru-Nya.

Tindakan Yusuf Arimatea kata Pdt. Mery menunjukan sebuah penghargaan yang tinggi kepada manusia sebagai ciptaan Allah termasuk dalam matinya sekalipun. Siapapun dia dan apapun latar belakangnya.

“Dari Yususf Arimatea kita belajar tentang kasih dan ketulusan. Harga manusia begitu tinggi. Bahkan Dia dan mereka yang dicap sebagai pemberontak dan manusia kelas dua mereka tetaplah ciptaan Allah yang berharga. Dalam tiga tahun belakangan ratusan jenasah TKI dan TKW pulang sebagai kargo di Bandara El-Tari-Penfui  (Kupang-NTT, red.) banyak di antara mereka dengan tubuh yang diobras. Banyak diantara mereka yang datanya dipalsukan. Nama depan diubah, fam diganti bahkan agama pun diganti… Manusia bukan barang. Manusia tidak boleh dijual. Bahkan mereka yang mati pun tetap harus dihormati sebagai ciptaan Allah yang mulia.”

Refleksi iman lain yang disampaikan Pdt. Mery adalah: Belajar tentang ketaatan dan kesetiaan dari Yesus Putera Allah. Penolakan, fitnah, caci-maki, cambuk dan salib tidak membuat Yesus lari dari ketaatan kepada Allah.

“Seringkali manusia hanya mau menerima yang enak, mudah dan menyenangkan. Banyak orang tidak mau menanggung resiko sebuah ketaatan dan kesetiaan dalam pelayanan. Waktu pertama diperhadapkan sebagai Majelis Jemaat atau kepanitian dalam pelayanan, bersemangat luar biasa. Namun kemudian semangat mulai kendor. Terutama ketika merasa diri direndahkan mulai menolak untuk melayani, menarik diri dari kawan tim sekerja Allah. Banyak kali kita hanya mau dipuji. Tak jarang kita berburu penghormatan dalam pelayanan.”

Sementara itu, terkait peran perempuan-perempuan seperti Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, Yoses dan Salome serta perempuan lainnya, yang mengikuti Yesus dan senantiasa berada di dekat salib, Pdt. Mery mengajak jemaat agar tidak menjauhi sesama yang menderita.

“Pesan Jumat Agung dari bacaan ini mengajak kita untuk tidak hanya hadir ketika sesama kita sedang senang. Ada uang susi di sayang, tak ada uang susi tampias. Para TKW yang pulang bercerita, “Mama, kalau kotong (bhs. Kupang: kita, red.) bawa uang pulang dari luar negeri, semua orang hormat kotong. Tapi kalau kotong ada masalah, biasanya orang mencibir kotong. Kadang-kadang kita cepat menghakimi saudara kita yang mengalami musibah dan bencana. Dari Yesus dan iman para perempuan ini kita belajar bahwa, bahkan mati sekalipun kita adalah pahlawan iman, jika hati kita bersih.” tutup Pdt. Mery. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.