PASKAH DAN PEMUDA*

Oleh: Pdt. Dr. John Campbell-Nelson

Ada seorang muda yang pada waktu itu hanya pakai sehelai kain lenan untuk menutup badannya, mengikuti Dia. Mereka hendak menangkapnya, tetapi ia melepaskan kainnya dan lari dengan telanjang.” (Markus 14:51-52)

Peristiwa yang aneh ini terjadi di taman Getsemani setelah Yesus di tangkap oleh sekelompok preman yang diutus oleh para pemimpin agama untuk mendampingi Yudas. Sebagaimana biasa dengan preman, mereka membawa pedang dan pentung.; mereka cukup menakutkan sehingga para murid Yesus langsung melarikan diri. Rupanya pemuda ini masih enggan meningggalkan Yesus sehingga nyris tertangkap juga oleh para preman. Mereka sudah memegang kain yang dipakainya tetapi dia melepaskan pakaiannya dan luput dari marabahaya, walaupun dalam keadaan telanjang.

Sudah lama para pakar memikirkan siapakah pemuda ini, dan mengapa peristiwa yang singkat ini diceritakan dalam Injil Markus? Kalau ayat 51 dan 52 dihilangkan tidak ada sesuatu yang terputus dalam alur cerita. Ada yang mengingat bahwa Yususf juga meninggalkan pakaiannya dalam tangan istri Potifar ketika melarikan diri dari godaantapi apa hubungannya dengan cerita yang sekarang?Mungkin hanya bahwa seperti Yesus juga Yusuf ditangkap dengan fitnah dan tuduhan yang palsu. Ada juga yang menduga bahwa si pemuda adalah Markus sendiri, yang memasukan sebuah pengalaman pribadi dalam narasinya. Ada juga tafsiran alegoris yang menganggap si pemuda sebagai lambang dari jiwa para orang percaya, yang seolah-olah ditelanjangi berhadapan dengan kenyataan penangkapan dan penyaliban Yesus sebagai ganti kita di kayu salib. Memang secara iman, tafsiran itu benar: kita yang luput dari hukuman oleh karena Yesus. Kita tidak boleh berlaga sebagai orang-orang yang benar. Di hadapan Tuhan, kita semua berdiri telanjang.

Entah apa yang merupakan tafsiran yang benar, barangkali kita harus menunggu hari Tuhan ketika segala rahsia terbongkar baru kita dapa mengetahuinya. Namun masih ada beberapa hal yang dapat kita simpulkan dari dua ayat yang misterius ini. Pertama, perikop ini menunjukan dengan jelas bahwa ada pemuda di antara para pengikut Yesus. Ini penting, karena dalam bayangan banyak orang Kristen (dibantu oleh lukisan-lukisan dalam kalender dan buku-buku sekolah minggu) yang mengikuti Yesus dalam pelayanannya hanya laki-laki yang dewasa atau setengah baya, khususnya kedua belas murid. Gambaran ini secara sadar atau tidak mendukung tafsiran bahwa Yesus mendirikan sebuah agama barudan kedua belas murid adalah calom pendeta dan penatuanya. Penelitian Alkitab yang terkini lebih menekankan bahwa Yesus membangun sebuah gerakan pembaharuan sosial yang secara sosiologis hampir dapat dipastikan lebih menarik dukungan dari generasi muda daripada generasi tua. Terlebih lagi, Yesus jelas memberi perhatian khusus pada kelompok-kelompok marginal (pemungut bea cukai, perempuan “berdosa”, orang-orang miskin) yang diantaranya banyak orang muda.

Cukup banyak indikator bisa kita ajukan untuk kehadiran kaum muda yang signifikan di antara para pengikut Yesus, tapi untuk sementara kami mengangkat satu contoh saja. Dalam Matius 10:35-36, Yesus menggambarkan dampak dalam keluarga kalau seorang pemuda menjadi pengikutnya: “sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Dalam sebuah keluarga Yahudi yang patriarkal, tidak konflik kalau sang ayah menjadi pengikut Yesus, atau di antara ibu dan anak perempuan kalau ibunya ikut Yesus. Generasi muda akan taat pada orang tua. Tetapi kalau yang ikut Yesus adalah anak, maka konflik yang besar akan timbul kalau orang tua tidak setuju.

Hal ini kami tekankan bukan untuk mendorong konflik dalam rumah tangga. Yang kami rindukan ialah supaya para pemuda dalam gereja memahami diri sebagai pengikut Kristus dan anggota gerejannya sepenuhnya. Bukan bakal calon anggota, bukan pasukan kerja bakti, bukan kader, bukan “masa depan gereja.” Pemuda adalah gereja sekarang juga.

Kalau masih kurang yakin, kami mengajak para pemuda untuk membaca kembali keempat Injil dengan perspektif bahwa anda hadir seperti pemuda Markus ini dan Yesus berbicara kepada anda juga-bukan hanya kepada orang tua, seolah-olah anda hanya boleh mengintip lewat jendela.

Hal kedua yang kita pelajari dari pemuda di taman Getsemani adalah bahwa kemungkinan besar dia adal;ah orang yang miskin. Memang kebanyakn pengikut Yesus barangkali bisa digolongkan miskin, tapi bahwa pemuda ini hanya ada sehelai kain untuk menutup badan menempatkan dia dalam posisi orang gelandangan. Gaya hidup komunal yang Yesus kembangkan dalam persekutuannnya akan menarik banyak orang seperti ini,  karena di situ mereka akan mendapat makanan dan persahabatan.

Yang menjadi pertanyaan bagi pemuda gereja masa kini adalah, apakah pemuda seperti ini masih akan tertarik untuk bergabung dengan persekutuan kita? Ataukah ia akan merasa tidak pantas karena kemiskinannya, pakaiannya yang tidak layak, apalagi keren? Atau ia merasa gereja tidak relevan dan hanya membuang waktu karena dia harus peras keringat setiap hari untuk mencari nafkah? Ada banyak pemuda di kota yang mendorong kereta di pasar, pungut uang parkir, kerja sebagai buruh kasar, yang tidak akan terdapat di antara perkumpulan pemuda di gereja. Pelayan Yesus merangkul pemuda seperti ini pada zamannya tapi bagaimana pelayanan kita sekarang? Kami kuatir bahwa pemuda jemaat merupakan langkah awal dalam proses stratifikasi sosial, di mana “orang baik-baik” mulai memposisikan diri dalam jenjang sosial, dan “anak-anak jalanan” sudah dijauhi. Belum tentu pemuda dalam Injil Markus ini masih terdapat di jemaat kita sekarang.

Hal yang ketiga yang perlu kami catat dari cerita Markus ini adalah suasana yang berbahaya dan menakutkan di sekitar Paskah yang pertama. Orang yang melarikan diri dengan telanjang adalah orang yang benar-benar takut. Mereka yang mengikut Yesus pada waktu itu sungguh berhadapan dengan bahaya maut. Salah satu maksud dari pola ibadah yang kita ikuti sampai sekarang adalah bahwa kita juga diperhadapkan dengan kuasa maut pada Jumat Agung, bahwa kita turut merenungkan makna dan risiko dalam panggilan kita sebagai pengikut Yesus. Bersama dengan Dia di taman Getsemani, kita diperhadapkan dengan pertanyaan, “Untuk prinsip apa atau untuk siapa saya berani mati?”

Di berbagai tempat di Indonesia telah terjadi konflik di antara kelompok beragama, di mana bisa saja ada orang yang mengaku berani mati demi Kristus. Namun, kalau kita melihat dengan lebih jujur, lebih banyak “laskar Kristen” ternyata hanya berani membunuh untuk Kristus. Bukan bahwa kita tidak boleh membela diri atau keluarga atau kampung kita; tapi kita jangan mengklaim bahwa kita membela Kristus dengan kekerasan.

Dalam kenyataan, berhadapan dengan bahaya maut mungkin saja kebanyakan kita akan lari terpontang-panting seperti “pengikut” Yesus yang lain. Hanya dengan penghayatan yang demikian, kita akan siap untuk menyambut kebahagiaan fajar paskah dengan penuh hikmah. Mereka yang tidak datang pada Paskah melalui penghayatan Golgota dinasehatkan untuk menahan diri dari pawai.

Hal yang terakhir dari yang kami mau angkat di sini memang bersifat spekulasi. Menarik untuk diperhatikan bahwa keempat Injil masing-masing menyampaikan cerita yang berbeda-beda tentang peristiwa Paskah. Menurut Matius dan Yohanes, muris Yesus yang datang ke kuburan disambut oleh malaikat (satu di Matius, dua di Yohanes). Menurut Lukas ada dua laki-laki dengan pakaian yang mengkilat. Tapi menurut Markus saksi yang pertama tentang kebangkitan Kristus adalah seorang pemuda yang memakai jubah putih (16:5).

Jangan sampai pemuda itu adalah pemuda kita yang tadinya melarikan diri dengan telanjang. Saya harap begitu. Biar dia menjadi lambang bahwa pemuda yang menjadi saksi-saksi kebangkitan, dan terpanggil untuk bersaksi terus melalui karya dan pelayanan yang menghadirkan tanda-tanda “hidup baru” di tengah-tengah gereja dan masyarakat yang sudah mapan.

Dan saya juga senang untuk membayangkan bahwa si telanjang itu sudah mendapat pakaian baru. ***

*dikutip dari Majalah Jaring Pemuda GMIT edisi I/Maret-2007

Leave a Reply

Your email address will not be published.