Pdt. Dr. Andreas Yewangoe: Menuju Indonesia Tahun 2045

Pdt. Dr. Andreas Yewangoe.

KUPANG, www.sinodegmit.or.id, Mengapa tahun 2045? Karena Indonesia pada tahun itu mencapai usia 100 tahun. Itulah Indonesia Emas. Kita akan memanfaatkan betul yang disebut bonus demografi saat ini. Tetapi pertanyaannya adalah, apakah Indonesia masih ada pada waktu itu?

Kalau masih ada, apakah itu Indonesia yang dicita-citakan para pendiri bangsa yaitu yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945? Jawaban atas pertanyaan tersebut sangat tergantung pada aksi yang dilakukan pada saat ini.

Sementara itu Prof. Yuval Noach Harari, penulis dua buku best seller Sapiens dan Homodeus meramalkan bahwa pada tahun 2050 umat manusia akan mengalami lompatan peradaban yang mencengangkan. Hal itu ditegaskannya dalam bukunya yang baru terbit, “21 Lessons fo 21st Century”. Sebagaimana kita ketahui sekarang ini kita sedang berada dalam Revolusi Industri 4.0 yang dicirikan oleh gejala artificial intelligence (kecerdasan buatan). Ini tidak bisa dianggap main-main. Revolusi Industri 1.0 ditandai dengan penemuan mesin uap oleh James Watt pada abad ke-19. Revolusi ini telah menggoncang tatanan-tatanan masyarakat yang dianggap mapan, termasuk agama (baca: gereja). Maka muncullah 3 ideologi besar yaitu: komunisme, fasisme, dan liberalisme. Komunisme dan fasisme sudah mati karena saling mematikan. Liberalisme yang selama ini dianggap berjaya sedang mengalami jalan buntu.

Setelah lebih dari 100 tahun, timbullah Revolusi Industri 2.0 yang ditandai dengan temuan mesin-mesin yang memakai BBM. Tetapi kurang dari 100 tahun kita sudah memasuki Revolusi Industri 3.0. Artinya masa peralihan dari 2 ke 3 makin pendek. Revolusi Industri 3.0 ini ditandai dgn temuan komputer. Dalam jarak waktu yang lebih pendek lagi dari Revolusi Industri 3.0 kita sekarang telah memasuki Revolusi Industri 4.0. Diramalkan bahwa jarak waktu untuk memasuki Revolusi Industri 5.0 akan lebih pendek lagi. Konon, Jepang sekarang telah memasuki Revolusi 5.0 itu. Kita bisa membayangkan ketika memasuki tahun 2050 kita sdh berada di era Revolusi Industri 6.0 atau malah 7.0. Indonesia pada waktu itu sudah berusia 105 tahun. Bagaimanakah penampakan Indonesia pada waktu itu?

Jelas kita harus berpikir ke depan. Bukan lagi mundur ke belakang, ke era padang pasir atau ketika kuda masih menggigit besi. Maka, sekali lagi peletakan dasar sangat penting agar Indonesia selamat. Apakah itu? Saya hanya menyebutkan 3 hal. Pertama, rasa dan praksis kebangsaan kita harus terus-menerus diperkuat. Artinya ideologi Pancasila harus terus-menerus menjadi pandangan hidup kita. Artinya identitas kebangsaan kita tidak boleh tergerus oleh datangnya berbagai ideologi baru dari luar yang jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan kita. Kedua, penyediaan infrastruktur yang memadai yang memenuhi tuntutan kemajuan. Tidak mungkin perekonomian dibangun tanpa adanya infrastruktur yang baik. Menurut prediksi di tahun 2050 itu Indonesia akan menduduki peringkat ke-3 ekonomi terbesar di dunia. Ketiga, adanya kepemimpinan nasional yang mempunyai visi jauh ke depan. Artinya seorang pemimpin yang optimis dan mampu mendorong rakyatnya untuk optimis juga. Bukan pemimpin yang selalu terikat dengan masa lampau alias pesimistis.

Saya kira masih ada syarat-syarat lainnya, tetapi bagi ruangan kita yang tdk terlalu besar ini, cukuplah 3 hal itu dikemukakan. Maka pilpres kali ini menjadi sangat penting untuk memilih pemimpin yang punya cukup visi jauh ke depan. Merdeka! ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.