Perencanaan Program Pelayanan Berbasis Analisa Sosial di GMIT (bagian III)

Foto bersama kegiatan Training of Trainers bagi para pendeta se-teritori Rote, di Jemaat GMIT Paulus Busalangga, Klasis Rote Barat Laut. Selasa, (18/6).

KUPANG, sinodegmit.or.id, Tahap kedua setelah analisis sosial adalah refleksi teologis. Ia merupakan jembatan yang menghubungkan analisis sosial dan aksi sosial/pastoral gereja.

Pendeta Dr. John Campbell-Nelson salah satu pemateri pada Training of Trainers perencanaan pelayanan GMIT mengatakan refleksi teologis merupakan aspek yang membedakan langkah-langkah perencanaan program oleh gereja dan lembaga non gereja.

Ia memperkenalkan enam pendekatan yang bisa dipakai dalam melakukan refleksi teologi:

Pdt. Dr. John Campbell-Nelson

Pertama, Missio Dei: Metode ini dapat diterapkan dengan satu pertanyaan pokok: apa yang Tuhan mau? Sebagai contoh: ada anak-anak muda yang terjerumus pergaulan bebas dan terjadi kehamilan di luar pernikahan. Cara menyelesaikannya bisa dengan siapkan alat KB. Pertanyaanya adalah apakah hanya itu cara gereja untuk menangani masalah kehamilan? Bisa saja efektif tapi kita berefleksi terlebih dulu. Kita bertanya, Tuhan punya mau apa dalam kondisi ini?

Kedua, Pendekatan Tema Alkitab: Pendekatan ini dilakukan dengan cara mencari sejumlah perikop dalam Alkitab yang sesuai dengan peristiwa yang dihadapi untuk dikhotbahkan atau didiskusikan dalam kelompok

Ketiga, Pendekatan Doa. Doa adalah wadah berteologi. Semisal, ada calon legislatif, minta didoakan supaya menang dalam pemilu, padahal dia tahu ada calon lain yang minta doa yang sama. Ketika kita berdoa meminta dua-duanya bisa lolos padahal kita tahu bahwa hanya satu yang dapat suara terbanyak, maka kita tidak jujur dengan Tuhan dalam doa.

Contoh lain: Ada orang sakit yang menuju kematian dan minta doa supaya sembuh. Boleh saja. Tapi sulit. Dia perlu siap untuk menghadapi maut dari pada pegang harapan semu untuk sembuh. Doa mana yang harus kita angkat?

Jadi salah satu pola yang bisa kita pakai adalah tenangkan hati dan berdoa mengenai masalah-masalah itu. Selesai berdoa kita berdiskusi bersama jemaat dari doa itu apa yang kita temukan dan apa yang bisa kita lakukan, supaya doa itu terwujud.”

Keempat, pendekatan pembebasan, yakni menemukan tema tertentu mengenai pembebasan Allah kepada kaum yang lemah dan tertindas, misalnya, pembebasan dari Mesir, Babel, dan pernyataan Yesus ketika berkhotbah di Nazaret (Luk. 4).

Kelima, Pendekatan Metaforis. Pendekatan ini mengajak peserta untuk menemukan metafora Allah dalam budaya lokal. “Gandhi pernah bilang untuk orang lapar kadang-kadang Tuhan hanya bisa nampak dalam bentuk roti ketimbang dalam sebuah doa. Orang sudah mau mati tapi kita hanya doakan dia dan tidak upayakan obat. Padahal, ada saat di mana Allah hadir dalam bentuk perawatan atau pengobatan.”

Keenam, pendekatan hukum dan Injil. Metode ini mempertemukan aspek hukum dan anugerah. Misalnya, dalam menghadapi kebiasaan mabuk minuman keras, ada amarah Tuhan namum ada juga anugerah Tuhan. Apa yang bisa gereja lakukan untuk membatasi kejahatan yang membuat Tuhan marah dan apa yang bisa gereja lakukan untuk menunjukan anugerah Allah. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *