Perjuangan Untuk Menjadi Doktor Teologi – Pdt. Dr. Andreas Yewangoe (2)

Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe

www.sinodegmit.or.id, Bagaimanakah status studi saya? Hanya orientasi saja? Atau juga untuk memperoleh gelar akademik? Rupanya hal itu dibahas oleh sebuah komisi di Belanda. Tentu saja mereka mempertimbangkan almamater saya STT Jakarta yang selama ini telah menghasilkan orang-orang bermutu.

Untuk itu kepada saya diminta mengirimkan karya tulis terakhir saya di STT Jakarta. Sistem studi di STT Jakarta dulu masih gaya lama. Belum ada sistem kredit. Yang ada adalah sistem naik tingkat. Lama studi 6 tahun. Karya tulis atau skripsi terdiri atas dua yaitu Biblika dan yang kedua bidang lainnya. Untuk biblika saya memilih PL dan saya menulis Mazmur 29. Ini dibimbing oleh Dr. Arie de Kuiper yang juga adalah penerjemah di LAI. Skripsi kedua saya pilih Teologi Sistimatika dengan penekanan pada Apologetika. Topiknya Humanisme dibimbing oleh Dr. Lendeert Oranje, dosen STT Jakarta. Kedua karya tulis ini dikirim ke Belanda dan dibaca oleh Prof. A.G. Honig, Guru Besar di Kampen. Dulunya ia dosen di STT INTIM Makasar. Makanya ia lancar berbahasa Indonesia. Penilaiannya positip sekali.

Rekomendasinya kepada Komisi saya bisa studi untuk mencapai gelar. Tetapi bagaimanakah derajad S.Th. dari Jakarta itu di hadapan Perguruan Tinggi di Belanda? Komisi menilainya sebagai setara dengan “Candidat” Belanda. Maka untuk memperoleh Drs. Teologi harus studi lagi selama 2-3 tahun. Perlu diingat bahwa Drs. Belanda ini tidak sama dengan Drs. Indonesia. Drs. Belanda malah lebih tinggi dari Master dalam sistem Amerika. Mereka yang punya derajad ini bisa langsung menulis disertasi. Singkat kata, status saya sekarang jelas. Setidak-tidaknya saya akan mencapai Drs Teologi nanti.

Bagaimana pelaksanaannya? Sudah pasti saya mengambil Dogmatika sebagai vak pokok (Hoofdvak). Saya bertemu dengan Koordinator Studi, Drs. Mr. P. Estie. Ia menyarankan saya bertemu dgn Prof. Dr. J. Veenhof, Guru Besar bidang ini. Prof ini sangat ramah. Setelah ia tahu bahwa saya mengambil vak itu, ia menyarankan saya belajar bahasa Jerman juga sebab banyak buku ditulis dlm bahasa tersebut. Kalau bisa bahasa Latin juga. Waduh, tentu ini berat juga. Dulu di SMA Kristen Waikabubak memang saya belajar bahasa Jerman. Malah buku pegangannya saya masih ingat: Deutsche Sprachlehre fuer Auslaender. Tetapi tidak pernah dipakai dalam praktek. Jadi sudah lupa. Sekarang saya mulai dari nol dengan mengikuti kursus bahasa Jerman. Targetnya minimal bisa membaca buku dalam bahasa Jerman. Untungnya bahasa Jerman “dekat” dengan bahasa Belanda, seperti “kedekatan” bahasa Mamboru dengan Kambera. Selebihnya ya lihat kamus.

Bagaimana dengan bahasa Latin? Ini lebih berat lagi karena di STT dulu juga fakultatip. Namun saya ikut juga kursus bahasa ini pada malam hari. Tagetnya agar bisa membaca naskah dari bapa-bapa gereja. Terus terang karena tidak pernah dipakai lagi bahasa ini saya sudah lupa sekarang. Untung bahasa Yunani dan Ibrani dianggap sudah memadai berkat “bekal” dari STT Jakarta dulu.

Dengan ketentuan-ketentuan ini saya mulai berstudi. Prof. Veenhof memberikan paket buku-buku yang harus dibaca dan dilaporkan. Ia mempercayakan asistennya, Jan Greeven mendampingi saya. Tetapi baru sebulan Greeven sudah mendapat pekerjaan baru sebagai redaktur surat kabar Trouw. Di samping itu saya juga mengikuti kuliah-kuliah dan berbagai “werk colleges” (kuliah kerja). Ini sangat membantu untuk memperlancar bahasa Belanda.

Dari paket buku yang diberikan Prof. Veenhof kepada saya, beliau meminta saya membaca lebih dahulu Magnalia Dei karangan Dr. H. Bavinck. Buku ini tebal sekitar 500-an halaman. Sesungguhnya buku ini semacam “ringkasan” dari seri 4 jilid buku Gereformeerde Dogmatiek oleh penulis yang sama. Mungkin maksud beliau saya fahami dahulu garis berpikir Bavinck sebelum saya nanti membaca buku-buku serinya yang tebal-tebal itu. Herman Bavinck sendiri adalah dogmatikus terkemuka di kalangan gereja-gereja gereformeerd tetapi yang pengaruhnya cukup besar ke mana-mana termasuk di Indonesia ini. Mula-mula dia Guru Besar di Theologische Hogeschool di Kampen, lalu kemudian pindah ke Vrije Universiteit di Amsterdam.

Maka saya mulai membacanya. Seperti saya katakan dalam tulisan sebelumnya, kendati saya sudah “lulus” kursus Bahasa Belanda, tidak dengan sendirinya mumpuni membaca dan memahami buku-buku teologi. Ternyata tidak mudah membacanya. Saya memakai kamus. Tdk mudah juga sebab idioms dan gaya bahasa harus sungguh-sungguh dikuasai. Setelah sekian jam membaca ternyata saya baru berhasil membaca 1 halaman. Kadang-kadang 1 setengah halaman. Bayangkan dari pagi sampai sore saya hanya berhasil membaca 1 sampai 1 setengah halaman. Saya hitung-hitung 500 halaman bisa 1 tahun saya membacanya. Itu baru satu buku. Lalu bagaimana dengan buku-buku lainnya? Kapan studi ini bisa selesai? Setengah putus asa saya menelpon Prof. Veenhof. Saya secara terus terang mengatakan, saya mau pulang ke Indonesia. Bahasa Belanda saya gagal. Tidak bisa baca buku. Tentu saja beliau sangat kaget. Wah mengapa begitu? Beliau bertanya. Saya ceriterakan duduk soalnya. Reaksi beliau cukup menenangkan. “O ya, saya faham”, katanya. Tidak apa-apa. Sabar saja. Baca saja sejauh anda mampu. Hari ini satu halaman. Besok bisa lebih cepat dapat 2 halaman. Dan seterusnya. Akhirnya anda bisa baca 1 buku satu hari, dstnya. “Tidak usah terlalu terburu-buru,” kata beliau.

Kembali rasa optimisme saya bertumbuh. Benar yg beliau katakan. Membaca makin lama makin cepat. Idioms dan gaya bahasa makin dikuasai. Membaca makin menjadi sesuatu yang nikmat. Saya juga beruntung sebab saya dibantu oleh Dr. Sy. Rosjen. Dia dulu dosen filsafat di UKSW Salatiga. Beliau tinggal di Harderwijk. Sekali seminggu saya ke rumah beliau untuk berdiskusi dan mengecek pemahaman saya.

Setelah saya membaca 3 atau 4 buku saya melakukan pertemuan dgn profesor saya. Sebenarnya ini semacam tentamen juga karena pada akhir percakapan diberi nilai. Ia bertanya kepada saya, apakah saya mau berbahasa Belanda atau Inggris? Saya menjawab, bahasa Belanda saja karena sekaligus saya mau melatih dan mencek ketrampilan berbahasa Belanda saya. Ternyata diskusi itu berjalan baik, kendati tentu saja bahasa Belanda saya tidak sempurna betul. Tokh Profesor saya senang sekali. Di kertas nilai saya sesudah percakapan itu selesai, ia mencantumkan angka 89 sebagai nilai. Saya meninggalkan kediamannya di Stadionweg 111 dengan gembira dan optimisme. Sejak itu saya sudah bisa membaca buku-buku dengan lancar.

Bagaimana dengan bijvakken (vak pelengkap)? (bersambung)

*Artikel ini dikutip dan diedit seperlunya dari akun Facebook Andreas Anangguru Yewangoe, atas ijin penulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published.