Perjuangan Untuk Menjadi Doktor Teologi (1)

Pdt. Dr. Andreas Yewangoe

www.sinodegmit.or.id, Narasi ini saya buat bukan untuk menonjolkan diri, melainkan sebagai catatan pengalaman, siapa tahu bermanfaat bagi siapa saja yang berjuang di jalan yang sama.

Bermula dari penunjukan saya oleh GKS utk menjadi dosen teologi pada Akademi Teologi Kupang yang baru dibuka pada 8 Februari 1971. Dalam kerjasama dgn GMIT proyek bersama itu telah direncanakan lama oleh kedua gereja. GKS “menuntut” mata kuliah Dogmatika dibawakan oleh dosen GKS. Saya tidak tahu alasannya. Mungkin ini hanya mengikuti kebiasaan di Belanda saja.

Sesungguhnya sdr Pdt Nikolaas He yang semula diharapkan menjadi dosen. Namun beliau menolak karena belum terlalu lama menjadi pendeta jemaat Waingapu. Maka saya yang baru saja pada 1969 tamat dari STT Jakarta didaulat utk menggantikan posisi Pak Niko. Masa vicariat saya dipercepat, dimulai di GKS Payeti, berpindah ke SGI Lewa, lalu ke GKS Waingapu. Di jemaat inilah saya dithabiskan sebagai pendeta setelah sebelumnya menjalani ujian peremptoir. Jemaat ini pulalah yang mengutus saya menjalankan pelayanan umum sebagai dosen pada AThKupang. Jadi jabatan kependetaan saya terikat pada GKS Waingapu. Saya menikah pada Desember 1970 dan setelah itu berangkat ke Kupang.

Di Kupang, Akademi yang baru dibuka itu dipimpin oleh Pdt. L. Radja Haba. Beliau baru saja menyelesaikan tugas sebagai Ketua Sinode GMIT. Dosen-dosen yang lain adalah Drs. H. Reenders (utusan GKN), Ds. C.W.Oppelaar (utusan NHK). Sedangkan dosen tidak tetap adalah, Rev. Stephens (Australia), Rev. D. Tieman (Australia), Pdt. Chr. Banoet (GMIT). Pak Banoet waktu itu masih menjadi rektor Sekolah Teologi Tarus yang dalam proses penutupan. Dosen-dosen tdk tetap lainnya, Ibu Mia Noach (Sejarah), Chr. Ndaomanu ( bhs Indonesia dan musik), Titus Ully (Kewarganegaraan), Rudy Leiwakabessy (olah raga). Karena orientasi ATK adalah masyarakat pedesaan, Pak Frans (PLKK, skrg Ya. Alpha-Omega) menjadi pembimbing tetap.

Sesuai dengan kesepakatan, saya ditugaskan mengajar Dogmatika. Tetapi krn baru tingkat 1, maka dogmatika blm diberikan. Dimodifikasi menjadi Ajaran Kristen. Kendati demikian, dasar-dasar dogmatika sdh terkandung di dalamnya. Mantan mahasiswa saya memberi “kesaksian” bhw Ajaran Kristen itu sangat membantu mereka kemudian. Hal itu antara lain dikatakan oleh John Haba alm. yang belakangan menjadi Profesor Riset di LIPI. Mantan mahasiswa pertama saya yang lain adalah antara lain Leonard Halle, sekarang dosen di STT Cipanas.

Sebenarnya di STT Jakarta, Dogmatika bukanlah matakuliah yang terlalu digemari, walaupun tidak dibenci juga. Hal itu disebabkan antara lain karena cara penyampaian dosen yang tidak menarik. Dogmatika seakan-akan merupakan vak yang mati. Kendati demikian, di ujian akhir STT Jkt saya memperoleh nilai 90. Karena ditugaskan membawakan vak ini, saya mendalami kembali buku-buku Dogmatika dan buku-buku lain yang punya sangkut-paut dengan itu.

Pada 1972 Pak Radja Haba harus melanjutkan studi di Negeri Belanda. Timbul masalah, siapa yang akan menjadi Rektor ATK? (Dulu pimpinannya disebut Rektor). Orang asing tdk boleh menjadi rektor sesuai peraturan pemerintah. Harus orang Indonesia. Satu-satunya org Indonesia yang ada, ya saya. Tetapi saya masih sangat muda. Usia saya baru 27 tahun. Itulah sebabnya banyak anggota Yayasan skeptis. Ttp karena tdk ada jalan lain, sayapun diangkat menjadi rektor. Ternyata saya dapat menjalankan tugas itu dengan baik. Diadakan penyesuaian-penyesuaian kurikulum sehingga tamatan ATK yang waktu itu mempunyai derajad Sarjana Muda bisa memperoleh kesempatan melanjutkan ke tingkat sarjana entah di Jakarta atau di Yogyakarta. Saya juga pernah diwawancarai oleh surat kabar Trouw dari Belanda. Berita tentang saya di beri judul di halaman muka, “De jongste rector in de wereld” (Rektor termuda di dunia).

Pada 1976 saya mendapatkan kesempatan melanjutkan studi di Negeri Belanda.

Berita bahwa saya bisa melanjutkan studi di Belanda diterima dari Sectie Oostelijk Indonesie, Zending van de Gereformeerde Kerken in Nederland. Badan inilah yang mensponsori studi saya nanti di Vrije Universiteit Amsterdam. Berita itu saya terima dengan gembira dan sekali gus gelisah. Gembira sebab berstudi di luar negeri waktu itu masih langka. Apalagi, konon sejak Sutarno menyelesaikan studi di VU pada 1970 belum pernah ada lagi orang Indonesia ke universitas tersebut. Gelisah sebab saya sama sekali tidak tahu bahasa Belanda. Saya diberitau bahwa semua kuliah dan diskusi nanti dalam bahasa Belanda. Waktu itu perguruan-perguruan tinggi di Belanda masih sangat konvensional. Bahasa Belanda adalah bahasa utama.

Di STT Jakarta dulu memang ada kursus bahasa Belanda dipimpin Ibu Sudarmo. Namun sifatnya fakultatip. Karena itu lebih banyak saya bolos. Lagi pula tidak pernah terbayang bahwa suatu waktu nanti saya akan studi di Belanda. Alhasil, hasil akhirnya nol besar. Selain itu ada juga yang nyinyir, seakan-akan kami yang berasal dari generasi sesudah perang pasti gagal kalau studi di Belanda karena tidak menguasai bahasa tersebut. Namun dosen saya Prof. Ihromi memberikan rasa optimisme. Ia bilang kepada saya: “Tidak ada bahasa manusia yang tidak bisa dipelajari.” Kegelisahan lain adalah ketidakjelasan status saya. Zending mengatakan, anda nanti studi orientasi saja. Tidak ada janji untuk mencapai gelar akademik. Ini juga punya sangkut-paut untuk membawa keluarga atau tidak. Waktu itu kami mempunyai seorang putra berusia 3 tahun. Singkat ceritera kami berangkat bersama sebagai keluarga sedangkan status studi saya nanti dibicarakan di Belanda setelah bertemu dengan Guru Besar Pembimbing.

Kami berangkat ke Belanda pada bulan Februari 1976. Ini masih musim dingin. Tentu baru buat kami. Di sana-sini masih ada bekas-bekas salju. Kami berangkat dengan Singapore Airlines. Penjemput kami di Schiphol, Pdt. Piet van Berge salah faham. Dia mengira kami naik KLM. Karena itu ketika dia tidak melihat kami ia menyangka kami belum jadi datang. Jadi dia pulang saja. Ternyata kami baru mendarat 2 jam kemudian. Tentu saja kami bingung karena tidak ada jemputan. Jadi kami ambil taksi saja menuju Zendigshuis di Oogstgeest. Inilah alamat yang biasanya dituju oleh orang Indonesia. Ini adalah kantor dari Zendingsraad der Nederlandsch Hervormde Kerk. Tetapi sekaligus juga ada tempat menginap di situ. Akhirnya semua berjalan baik.

Pdt. Piet van Berge adalah Sekretaris Sectie Oostelijk Indonesie. Dulu dia Pendeta Utusan (Misionaris) di Sumba. Lalu menjadi dosen teologi di STT INTIM Makasar. Dialah yang terus-menerus membantu kami dalam proses studi itu. Kami beruntung karena begitu banyak mantan-mantan misionaris yang dulu bekerja di Sumba. Mereka selalu tampil membantu kami.

Kesibukan pertama saya adalah belajar Bahasa Belanda. Saya diberi kesempatan belajar intensip bahasa Belanda selama 3 bulan di Fakultas Sastra Vrije Universiteit. Sungguh-sungguh intensif, setiap hari kecuali Sabtu dan Minggu, mulai jam 9 pagi hingga jam 5 sore. Pesertanya dari seluruh dunia. Menarik juga melihat orang Israel duduk berdampingan dengan orang Siria atau Iran. Banyak pemuda pengungsi dari Chili mengikuti kursus ini. Rupanya terjadi pergolakan politik di Chili pada waktu itu. Presidennya, Allende berorientasi sosialis. Konon Amerika Serikat tidak berkenan dengan ini. Allende terbunuh atau dibunuh. Konon, CIA terlibat dalam peristiwa ini. Maka terjadilah krisis politik. Banyak orang lari ke luarnegeri, antara lain ke Belanda. Kembali ke kelas bahasa itu, setiap orang dilarang memakai bahasa lain selain bahasa Belanda. Jadi masing-masing membawa kamus Belanda dgn bhsnya sendiri. Saya masih ingat pembimbingnya, namanya Mevr. Marijke. Setelah 3 bulan saya dinyatakan lulus. Namun itu tidak berarti bahwa kita dengan sendirinya lancar membaca buku-buku teologi. Lancar mungkin untuk pergaulan sehari-hari tetapi untuk diskusi yang mendalam ada pergumulannya sendiri lagi.

*Artikel ini dikutip dari akun FB Andreas Anangguru Yewangoe, atas ijin penulis.

Leave a Reply

Your email address will not be published.