Renungan Pemuda dan Kaum Bapak GMIT (Minggu III Feb. 2019)

KERAGAMAN KARUNIA UNTUK PELAYANAN

1 Korintus 12.1-11

Pdt. Jahja A. Millu, Sekbid Pemuda dan Kaum Bapak MS. GMIT

Perikop “karunia” ini merupakan surat Paulus kepada jemaat di Korintus yang amat terpikat pada karunia luar biasa seperti mujizat, penyembuhan, dan terutama berbicara dalam bahasa roh. Setiap orang menginginkan apa yang mereka anggap sebagai karunia yang lebih tinggi. Asumsi superioritas terhadap karunia spiritual tertentu ini menyebabkan pesan Injil tersubordinasi oleh tanda-tanda pneumatik (Lampe, 1991:21).

Kepemilikan karunia telah menjadi tanda elitisme spiritual di dalam jemaat. Kecenderungan elitisme ini terlihat dari adanya kebanggaan bila memiliki karunia tertentu. Sementara karunia pemberitaan Injil atau mereka yang hanya dapat melakukan “pelayanan kecil” diperlakukan sebagai orang Kristen kelas dua. Orang lain memandang rendah peringkat mereka. Mereka dianggap bukan kristen karismatik. Terjadilah kecemburuan, pertikaian, dan fragmentasi dalam jemaat. Tidak ada yang ingin “mencuci piring” lagi.

Melalui surat ini, Paulus ingin membingkai ulang pemahaman dan praktek bergereja di Korintus. Paulus menentang perpecahan jemaat akibat penyimpangan teologis tersebut. Ia memerangi kecenderungan skismatik ini dan dampak etis dari pemahaman yang keliru tentang karunia.

Disebutkan dalam ayat 4-6: “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang” (ay. 4-6). Poin utama yang Paulus tekankan adalah bahwa Allah Tritunggal – yang merupakan contoh persatuan dan keragaman – bermaksud menjadikan kesatuan dan keragaman sebagai realitas operasional dalam Gereja (Lindsay, 2012). Pribadi  Bapa, Anak dan Roh Kudus yang memiliki peran berbeda-beda, menyatu dalam kesatuan yang sempurna. Ini adalah contoh dari kemitraan perikoretik ilahi yang sedang bekerja dalam persatuan dan keragaman.

Tekanan kemudian bergeser ke peran Roh Kudus (ay. 8-11). Di balik semua pluralisme karunia rohani di dalam gereja, Paulus menegaskan bahwa hanya ada satu Roh sebagai sumbernya. Roh Kudus memberkati umat-Nya dengan karunia yang berbeda, sesuai jenis pekerjaan dan pelayanan tiap orang/jemaat. Sementara kita sama dalam beberapa hal, kita sama sekali berbeda dalam hal yang lain. Roh dengan sengaja menjadikannya demikian. Itu berarti karunia tidak boleh dijadikan alasan untuk memandang rendah orang lain.

Prinsip ini dipertegas oleh makna kata pneumatika  (ay. 1) dan charisma (ay. 4) yang diterjemahkan sebagai “karunia”. Meski memiliki perbedaan, kedua istilah ini mengacu pada hal yang sama yakni apa yang diberikan Roh dengan bebas dan dengan murah hati kepada seseorang. Kepemilikan karunia adalah anugerah pemberian Roh. Memperlakukan karunia seolah-olah itu adalah milik pribadi atau sesuatu yang diperoleh dengan usaha sendiri, tidak sesuai dengan prinsip Alkitab. Terlebih lagi bermegah dengan kualitas spiritual diri sendiri dan meremehkan karunia orang lain.

Paulus lalu menawarkan jalan keluarnya. Perbedaan karunia akan berdampak positif bila digunakan untuk mencapai tujuan yang sama. Ada dua tujuan menurut  Paulus. Pertama, mengaku Yesus adalah Tuhan (ay. 3). Semua manifestasi supernatural dan karya-karya yang luar biasa harus diuji dari apakah praktek itu dimaksudkan untuk meninggikan Yesus Kristus sebagai Tuhan. Dengan kata lain, Roh bekerja secara efektif ketika karunia-karunia itu “menunjuk pada Ketuhanan Kristus.”

Kedua, kepentingan bersama (ay. 7). Sementara pengakuan “Yesus adalah Tuhan” melambangkan orientasi vertikal dari pemberian karunia, arah horizontalnya ialah memfungsikan karunia-karunia itu demi kepentingan bersama. Tidak ada manifestasi Roh yang diberikan untuk kepuasan pribadi, tetapi untuk kebaikan bersama. Penganugerahannya kepada individu, tetapi manfaatnya adalah bagi semua orang. Juga dunia yang kepadanya kita diutus.

Kedua tujuan tersebut amat vital untuk membedakan karunia Roh Tuhan dan yang bukan. Pengalaman orang Korintus sebelum bertobat menunjukkan bahwa tidak hanya orang-orang Kristen, orang-orang kafir pun bisa mengalami “kepenuhan roh” (ay. 2-3). Kultus Dionysus dan kultus-kultus lain, yang mereka anut sebelumnya, juga berlatih berbicara dalam bahasa roh. Tidak ada jaminan bahwa itu bersumber dari Roh Kudus dan bukan roh-roh lain.

Pengalaman ekstatik itu sendiri tidak memberi tahu apa pun tentang kedekatan seseorang dengan Tuhan. Diperlukan tanda otentik dari karunia yang khas kristen. Indikatornya ada dua sebagaimana telah disebutkan di atas. Hanya pengakuan akan ke-Tuhanan Yesus yang membuat orang yang pneumatik sungguh-sungguh menjadi orang Kristen. Dan kemudian itu disusul dengan kriteria lain, yaitu pemanfaatan karunia guna kepentingan bersama, gereja dan dunia.  Dari sini jelas bahwa pembagian gereja menjadi gereja-gereja karismatik dan non-karismatik, sangat tidak Alkitabiah.

Gereja dibangun diatas tulang punggung keragaman karunia yang dianugerahkan Tuhan bagi tiap anggotanya. Kita patut bersyukur atas warisan multi karunia ini. Mosaik keragaman ini ibarat warna pelangi yang begitu mempesona. Semua ini membentuk wajah gereja, mempengaruhi cara beribadah, bahkan teologi dan spiritualitas kita.

Namun, patut pula diakui bahwa perbedaan karunia ini dapat melahirkan ketegangan dan mengancam kesatuan gereja. Banyak anggota gereja mengalami ketegangan yang tidak mudah, bahkan mungkin lebih parah dari masa sebelumnya. Pertanyaannya ialah apakah ketegangan ini merupakan sesuatu yang sehat saat kita ingin mengembangkan keragaman sebagai anugerah dan kekayaan kita? Ataukah justru menyebabkan lebih banyak kesalahpahaman dan perpecahan?

Teks ini kiranya menolong kita.  Ketegangan dalam  keragaman bukan saja persoalan masa kini. Ini sudah berlangsung sejak berdirinya gereja. Pada hakekatnya gereja bersifat multi karunia. Setiap orang percaya mesti siap untuk menerima fakta ini dan belajar menghargai keragaman tersebut. Para presbiter perlu mempersiapkan diri agar dapat bekerja dalam konteks seperti ini. Mereka perlu membekali diri dengan pengetahuan, sikap dan ketrampilan untuk melayani ladang Tuhan yang beragam. Juga model pelayanan Pendetasentris mesti ditinggalkan agar tiap anggota jemaat dapat menyumbangkan karunianya bagi kebaikan bersama, gereja dan dunia. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *