Roh Tuhan Menjadikan dan Membaharui Segenap Ciptaan (Mazmur 104:23-30)

Pertama;  Pemazmur 104 mencermati, mengalami dan mengahayati alam semesta lalu ia tiba ada pengakuman bahwa Tuhanlah yang mencipta dan memelihara alam semesta. Kita bertanya apakah setiap orang yang mencermati, mengalami dan menghayati alam semesta bisa tiba pada pengakuan dan pujian yang sama? Belum tentu. Mengapa karena masih bergantung pada dorongan yang mendorong orang itu untuk mencermati dan mengalami. Apabila seseorang mencermati dan mengalami alam semesta dengan dorongan memiliki dan disponsori oleh roh kepentingan diri sendiri, maka dia tidak akan tiba kemana-mana, hanya tiba pada dirinya sendiri.

Pdt. Emr. Dr. Thobias A. Messakh

Tidak semua orang bisa, dengan mencermati alam semesta lalu mencapai Tuhan dalam perlindungannya. Mengapa? Oleh karena bila orang memandang alam semesta dengan rasa memiliki yang didorong oleh rasa cinta pada diri sendiri maka dia tidak akan tiba kemana-mana, hanya tiba pada pada dirinya sendiri.

Kita harus berhati-berhati jangan membiarkan diri kita dipenjara oleh cinta diri sendiri. Karena kita tidak akan pernah bisa memandang lebih jauh dari apa yang mata kita dapat lihat lebih jauh. Kita tidak bisa lihat apa yang lebih jauh dari diri kita sendiri. Pemazmur mencermati dan mengagumi melampuai apa yang dapat diamati oleh indra biologisnya. Indra iman mendorongnya untuk memandang dan memikirkan lebih jauh dari kepentingan dirinya. Lebih jauh dari apa yang ia alami, secara visi teologis dan saat itulah ia bertemu Tuhan dan karena itu ia bermazmur bagi Tuhan.

Kedua; Alam semesta ini dalam pemeliharaan Tuhan yang dicermati Pemasmur seperti apa? Kita menemukan 5 lapisan dari alam semesta;

Pertama, apa yang tampak seperti bumi, angin, air, gunung, lembah, dst.

Kedua, fungsi dari masing-masing yang tampak. Angin berhembus, air mengalir, matahari dan bulan menjadi penentu waktu.

Ketiga, relasi fungsioanal antara ciptaan yang satu dengan yang lain. Air diminum binatang, burung bersiul dari antara dedaunan, rumput tumbuh untuk untuk dimakan binatang, tumbuhan-tumbuhan dimakan manusia,a burung-burung bersarang di pohon dan bukit batu menjadi tempat berlindungnya kambing domba.

Keempat, semua yang hidup mendapat makanannya dari Tuhan.

Dan lapisan kelima, hidup sendiri adalah pemberian langsung dari Tuhan. Jadi meskipun semua yang hidup termasuk manusa memperoleh dan mengonsumsi semua yang dibutuhkan bagi hidupnya namun dia hidup karena Tuhan bukan dia hidup karena apa yang dia makan. Karena hidup langsung dari roh Tuhan.

Bagian ketiga; Tuhan setia mencipta dan memelihara. Ada dan terpeliharanya semua ciptaaan bergantung pada Tuhan yang setia mencipta dan memelihara. Tindakan pemeliharaan Tuhan tidak terpisahkan dari tindakan penciptaan, demikian pula tindakan penciptaan Tuhan tidak pernah tanpa tindakan pemeliharaanNya. Sampai di sini saya ingat, kita di NTT atau Kupang ini pandai sekali membangun tapi memeliharanya kurang. Kalau saya lihat di daerah-daerah lain yang saya pernah kunjungi, saya lihat mereka hebat memelihara. Jadi membangun dan memelihara itu satu. Bisa dibedakan tapi satu. Untuk Tuhan. Dalam tindakan pemeliharaan Tuhan ada tindakan pendamaian dan pembaharuan. Tuhan dengan setia mencipta dan memelihara semesta, menuju kesempurnaan yang Ia kehendaki. Kita yang hidup di alam semesta ini jangan pernah berpikir bahwa alam tidak punya tujuan. Dalam rencana Tuhan alam semesta punya tujuan. Pemazmur menegaskan bahwa dalam pemeliharaan Tuhan ia memberi makan dan hidup kepada semua yang hidup. Tuhanlah yang memberi makan dan hidup kepada semua yang hidup.

Manusia dan binatang kalau tidak makan dalam waktu tertentu pasti mati. Makanya puasa juga ukur-ukur, tidak bisa puasa selama-lamanya. Tetapi sekali lagi Pemazmur tidak peduli akan hal itu. Bagi dia pikirannya hanya tertuju pada Tuhan sendiri bukan pada apa yang mereka makan. Sampai di sini saya berefleksi bahwa betul juga ya, kita makan-makan terus tapi kalau mati ya mati ‘kan? Siapa yang bisa bertahan dengan makan terus-terus dan tidak akan mati? Sebab kalau begitu hidup ini bukan milik saya, bukan milik kita. Tapi milik yang lain yang pada waktunya Dia minta, selesai. Kita boleh punya segalanya tapi hidup tidak pernah menjadi milik saudara dan saya. Oleh karena itu kita harus hidup dalam pengakuan itu. Bahwa, Tuhan, hidup ini milikMu. Saya hanya menggunakannya selama Tuhan inginkan.

Oleh karena itu sebaiknya kita manusia yang hidup, harus menghargai hidup kita. Dan mempertanggungjawaban perilaku hidup kita kepada Tuhan. Jadi kita tidak hidup untuk lidah. Tapi kita hidup untuk memelihara hidup yang sekarang kita punya. Semua yang hidup terutama manusia sepenuhnya bergantung pada pemeliharaan Tuhan. Kuasa pemeliharaan Tuhan melalui RohNya mampu menghidupkan yang mati. Ayat 30: siapa yang mati? Yang mati adalah dia yang ketiadaan Roh Tuhan. Dengan demikian setiap orang dapat saja hidup secara biologis tapi secara spiritual dia sedang mati karena ketiaan Roh Tuhan.

Saya ingat kata Tuhan Yesus kepada Jemaat di Smirna: Wahyu 3:1-6, dikatakan, “Kamu rasanya hidup tapi sesungguhnya kamu mati”. Namun Tuhan senantiasa mengirim RohNya untuk menghidupkan yang mati. Jadi yang mati tidak usah berputus asa karena Tuhan senantiasa mengirimkan RohNya untuk menghidupkan … itu berarti setiap kesempatan bagi kita adalah kesempatan untuk bangkit dari kematian spiritual, karena Roh Tuhan senantiasa menghidupkan kita.

Dari kesaksian Pemazmur 4 saya menemukan pelajaran iman sebagai berikut: Pertama, hambatan terhadap pertumbuhan iman kita terutama berasal dari diri kita sendiri. Saat kita menjadikan diri kita dan kepentingan diri sendiri menjadi ukuran tunggal untuk menilai dan menghargai yang lain, kita justru sedang memenjarakan diri kita. Kita sedang memenjarakan diri kita dalam spirit egosentris kita. Dan lanjutannya, kadang-kadang kita sibuk melayani Tuhan tapi kalau ditelusuri, kita sebenarnya sibuk melayani diri sendiri. Hati-hati itu. Kita sibuk sekali, seperti saya, sibuk berkhotbah, tapi jangan-jangan motivasinya adalah diri sendiri. Itu yang susah. Jadi hati-hati supaya jangan terpenjara dalam roh egosentris kita. Bukan hanya dari alkitab saja tapi dari psikologi juga sama, misalnya Eric Fromm yang menulis buku To Have and To Be, orang yang memenjarakan diri dalam roh egosentrisnya tidak bisa maju. Saya beri contoh Pak gubernur kita. Kalau dia penjarakan dirinya dalam kesusahannya pada jaman dulu, saya kira kita tidak akan pernah punya gubernur seperti dia sekarang. Tapi dia keluar dari dirinya untuk sesuatu yang lebih baik dan lebih maju. Karena itu saudara-saudara Tuhan Yesus katakan, barang siapa yang mau mengikutNya hendaklah menyangkal diri. Itu saja sebenarnya.

Atau sebagai contoh yang lain misalnya perumpamaan dari pemungut cukai dan orang Farisi: orang Farisi berdoa: Tuhan, saya ini tidak sama dengan orang lain, apa yang saya tidak lakukan dari aturan Tuhan, karena itu saya datang menghadap. Sebaliknya si pemungut cukai dari jauh-jauh dia berdoa dengan kalimat yang sangat sederhana. “Ya Tuhan kasihanilah hamba orang berdoa ini.” Doa mana yang dikabulkan? Yang kedua bukan? Kenapa, karena orang yang pertama, dia berdoa bertemu dirinya sendiri, tidak bertemu Tuhan.

Pelajaran kedua: pengakuan pemasmur 104 sebenarnya adalah juga pengakuan kita, karena setiap minggu kita ucapakan Pengakuan Iman Rasuli, aka percaya kepada Allah Bapa, Pencipta langit dan bumi. Pertanyaannya ialah apakah yang kita ucapkan setiap hari minggu membentuk diri kita atau tidak. Menurut Paul Tillick, apa yang kita ucapkan terhadap seseorang tidak hanya membentuk orang itu tapi ikut membentuk diri kita.  Nah, itu kita ucapkan kepada Tuhan. Apakah kita mengelola alam semesta dengan penghormatan dan pengakuan kepada Tuhan sebagai pemilik? Bahwa alam semesta dicipta untuk semua manusia, dari generasi ke generasi. Apakah generasi yang sekarang memikirkan generasi yang berikut? Saya ingat ucapan dari Mahatma Gandhi: orang Hindu tapi dia sangat Kristen. Dia bilang, bumi mempunyai cukup untuk memberi makan kepada setiap anaknya tapi tidak pernah akan cukup untuk anak-anaknya yang serakah.

Tuhan setia memelihara semua yang Dia cipta, karena itu kita adalah partisipan dalam penyelenggaraan pemeliharaan Tuhan. Berhadapan dengan kerusakan alam termasuk kerusakan manusia jangan putus asa, sebaiknya kita terus berjuang sebagai partisipan dalam karya Tuhan. Menyempurnakan ciptaanNya menuju tujuan yang dikehendakiNya. Daya juang kita tidak akan pernah layu hanya bila kita selalu memohon Roh Tuhan menghidupkan kita perorangan maupun persekutuan. Dan, saudara-saudaraku kenapa saya tekankan persekutuan? Menurut Reinhold Niebur seorang ahli etika, kalau egoisme itu hanya perorangan tidak soal, masih bisa diatur. Tetapi kalau egoismenya itu kelompok, sangat-sangat brutal. Oleh karena itu kita atur diri masing-masing tetapi kita juga atur persekutuan di mana kita ada. Amin.

*Khotbah disampaikan pada kebaktian pembukaan Persidangan Sinode GMIT XXXIV, Selasa, 15 Oktober 2019 di Jemaat GMIT Paulus Kupang.

Leave a Reply

Your email address will not be published.