Saat Rumah Roti Tak Lagi Menyediakan Roti (Rut 1:1-22) – Pdt. Jahja A. Millu

Pembacaan terhadap kitab Rut memperlihatkan bahwa kitab ini mengisahkan tragedi keluarga yang amat memilukan, namun ditulis dengan sangat indah. Keindahan tersebut memberi ruang tafsir yang amat luas, termasuk bagi teks ini. Saya coba membicarakan beberapa aspek diantara luasnya spektrum tafsir tersebut.

Relevansi Tuhan dan Penderitaan Manusia

Kisah ini berlangsung pada zaman para hakim memerintah. Itu menyiratkan bahwa Israel telah berdiam di tanah perjanjian, yang digambarkan penuh dengan susu dan madu. Namun cerita keluarga Elimelekh menunjukkan fakta berbeda. Tanah perjanjian ternyata mengalami kelaparan hebat. Entah karena kekeringan, atau karena hukuman Tuhan atas dosa Israel. Saking hebatnya hingga ada keluarga Israel yang bermigrasi ke daerah Moab.

Latar ini menggoda kepercayaan Israel terhadap Yahwe. Apakah mereka akan tetap setia pada-Nya ataukah harus menyembah Baal, dewa Kanaan atau Kemosh, dewa Moab yang memberi kesuburan dan kemakmuran. Sikap yang Israel pilih, menurut Anderson, seringkali seperti ini: “Kepada Yahwe mereka akan melihat pada saat krisis militer, kepada Baal mereka akan berubah menjadi sukses di bidang pertanian (Atkinson, 1985:23-25).

Kita pun terbiasa menurunkan kemahakuasaan Allah hanya pada bidang tertentu. Bahkan banyak bidang kehidupan dijalani dengan menghindari campur tangan Allah. Kita melihat bagaimana sistem politik, ekonomi dan bidang kehidupan lainnya dijalankan tanpa kompas moral dan spiritual. Lalu lahirlah pemisahan antara sakral dan profan dalam pembidangan hidup kita.

Isu Gender

Kisah janda Naomi, Rut dan Orpa dalam teks ini hendak memperlihatkan pandangan zaman itu bahwa perempuan tanpa suami dan anak lelaki tidak memiliki prospek masa depan. Perkataan Naomi dan sikap Orpa membuktikan kebenaran pandangan ini (ay. 11,14).

Sikap Rut adalah tandingan terhadap pandangan umum tersebut. Ia tahu bahwa perempuan marginal seperti dia dan Naomi dapat mengatasi kepahitan hidup bila mereka menggabungkan kekuatan. Kesendirian dan keterpisahan perempuan marginal akan semakin memperburuk situasi.

Penggabungan kekuatan itu mencakup cinta, etnis dan agama. Itulah sebabnya Rut berkata: “… ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku (ay. 16). Atau seperti dikatakan Fewell, ungkapan Rut ini menunjukkan kesediaan dan kemampuannya untuk melintasi batas-batas spasial, sosial dan eksistensial apapun. Termasuk mengakui otoritas Yahwe atas kematian suami, ipar dan mertuanya (Decker, 2019:921). Iman dan ketabahan seperti inilah yang menyebabkan perempuan marginal seperti mereka dapat tetap eksis.

Bukti pandangan Rut dapat dilihat dari kegigihan perjuangan para janda di sepanjang zaman. Kegigihan mereka untuk memperoleh sesuap nasi bagi keluarganya sungguh luar biasa. Mereka harus menjadi orangtua tunggal yang membesarkan anak-anaknya dan membanting tulang untuk membiayai pendidikan mereka. Mungkin sebagian kita adalah anak dari ibu hebat seperti ini, yang kehilangan ayah saat masih kecil dan dibesarkan hanya oleh semangat pantang menyerah dari ibu kita.

Tugas gereja ialah menemukan jalan terbaik untuk menyatukan kekuatan cinta, etnis dan agama. Masalah imigran gelap, ketimpangan gender, kepahitan hidup perempuan marginal, krisis atau kemiskinan, bukanlah persoalan etnis atau agama tertentu saja. Ini adalah persoalan bersama yang dihadapi semua etnis dan agama. Pengkotakan agama dan etnis adalah upaya pihak tertentu untuk melemahkan umat manusia dalam memerangi persoalan kemanusiaan. Semua agama dan etnis tidak boleh terjebak agar mampu berkontribusi bagi kebaikan bersama. Mengasihi Tuhan dan sesama mesti melampaui demarkasi etnis dan agama.

Human Trafficking

Krisis seringkali menghasilkan kaum migran. Keluarga Elimelekh merupakan salah satu contohnya. Penduduk Betlehem (rumah roti) ini mengalami kelaparan hebat karena “rumah roti” tidak mampu menyediakan roti bagi penduduknya. Keluarga ini harus bermigrasi antar negara yakni dari Betlehem ķe Moab.

Migrasi Naomi dan keluarganya ke Moab ternyata tidak mengubah hidup mereka menjadi lebih baik. Malah kepahitan hidup semakin bertambah akibat kematian suaminya Elimelekh serta kedua anaknya Mahlon dan Kilyon. Naomi kemudian memutuskan kembali ke kampung halamannya di Betlehem. Menantunya Rut mengikuti dia, tapi Orpa tetap tinggal di Moab.

Kisah ini mengingatkan kita akan nasib para buruh migran. Maksud hati bermigrasi untuk memperbaiki nasib, banyak dari mereka justru pulang dengan tangan hampa. Bahkan sebagian dipulangkan dalam kondisi cacat fisik atau tak bernyawa lagi. Catatan Rumah Harapan GMIT menunjukkan bahwa hingga bulan September 2021, kargo jenazah para migran mencapai 90 orang.

Menarik bahwa teks ini menekankan kata “pulang” hampir dalam setiap ayatnya. Menurut Gladson, kata “pulang” dalam kitab Rut hendak menekankan “perlunya karakter untuk menemukan cara keluar dari pengasingan, kelaparan, kehilangan keluarga, dan kehilangan masa depan, kepada kepenuhan atau keutuhan” (Decker, 2019:912).

Setiap keluarga yang mengalami krisis, termasuk para buruh migran perlu memiliki cara untuk “pulang”, yakni keluar dari situasi buruk yang dialami. Cerita Rut menunjukkan bahwa keputusan itu mesti diambil segera, baik oleh Naomi, Rut dan Orpa. Terlambat mengambil keputusan akan berakibat fatal.

Faktor penting lainnya ialah motif kembalinya Naomi. Ia memutuskan pulang ke kampung halamannya karena telah terjadi pemulihan di Yehuda. Krisis telah berlalu dan memberi harapan akan hidup yang lebih baik. “Tuhan telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka” (rakyat Yehuda – ay. 6).

Pemulihan suatu daerah mesti menjadi intisari dari seluruh upaya mencegah migrasi ilegal. Pemerintah, gereja dan semua pihak mesti menjadi agen Tuhan untuk memulihkan situasi yang dapat memicu terjadinya migrasi. Daerah yang selama ini menjadi spot perdagangan orang harus mendapat perhatian serius dalam program pemerintah dan pelayanan gereja.

Masyarakat juga perlu dididik untuk memiliki sikap seperti Boaz. Keramahannya menerima kembali para migran yang pulang ke kampung halamannya adalah sikap yang sangat positif. Itu memberi harapan bagi kaum migran untuk mengembangkan hidup di negerinya. Tanpa itu, kita tidak akan mampu membendung arus migrasi ilegal dengan segala konsekuensinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.