Tuhan Ada – Lukas 17:20-21

Juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu.” (Lukas  17:21)

Seorang teman menulis di facebook, “Tuhan itu tidak pernah ada. Tuhan itu tidak ada, dan tidak akan ada.” Saat membacanya, pikiran kami mulai bercabang memikirkan berbagai kemungkinan yang menjadi alasan tulisannya itu. Bisa jadi karena beban hidupnya yang berat dan ia seperti tidak menemukan Tuhan yang memberinya jalan keluar dan mengangkat bebannya sehingga ia mulai meragukan keberadaan Tuhan. Bisa jadi juga ia hanya sekedar main-main dan mengundang perdebatan.

Apapun alasannya, tulisan ditulis oleh anggota gereja dan semua orang tahu identitasnya. Oleh karena itu deapat berdampak pada penilaian yang salah terhadap Tuhan. Sekalipun dalam rangka bercanda atau sekedar mengundang perdebatan namun tulisan-tulisan bernada meragukan kuasa dan kehadiran Allah, juga pesan-pesan yang bernada melecehkan Allah, dapat menempatkan kita sebagai seorang penyesat.

Mengomentari status facebook itu, saya menulis, “Tinus (nama samaran) itu tidak pernah ada. Tinus itu tidak ada. Dan tidak akan ada.” Sengaja saya menulis demikian untuk memberi penegasan bahwa meragukan kehadiran Allah sama dengan meragukan kehadiran diri anda.

Bagaimana mungkin kita, yakni manusia ini, dapat ada kalau Tuhan itu tidak ada? Sebenarnya melihat kehadiran Tuhan dan memandang wajah Tuhan dapat dilakukan dengan melihat dan memandang diri kita sendiri dan juga sesama kita.

Tuhan ada di dalam diri setiap manusia dan semua makluk bahkan seluruh alam semesta yang diciptakannya, sebab, pertama, manusia diciptakan dengan gambar dan rupa Allah. Kenyataan ini menjadikan manusia sebagai tanda kehadiran dan keberadaan Allah. Maka pada saat seorang manusia membutuhkan uluran tangan Allah untuk menolongnya, berdoalah dengan menengadah ke atas tapi kemudian lihat sekeliling dan temukan tangan Tuhan yang menolong melalui sesama dan alam semesta.

Yang jadi masalah paling banyak adalah diri manusia itu sendiri. Masing-masing orang sebenarnya adalah orang yang kuat dan jalan keluar dari setiap beban masalah adalah diri sendiri, sayangnya tidak sedikit orang suka menempatkan diri sebagai makluk lemah dan berharap tangan Tuhan yang terulur untuk menyuapkan makanan langsung ke mulutnya atau menghadirkan jalan keluar di depan matanya. Saat ditimpa kesedihan maka orang memilih menangis tanpa henti lalu berdoa supaya Tuhan memberikan penghiburan dan menguatkan hati tapi ia sendiri tidak mau berhenti menangis. Lalu siapa yang harus bertanggung jawab atas masalah seperti ini? Kesedihan akan berhenti kalau orang mau meneguhkan hati untuk menerima kenyataan bahwa Tuhan selalu baik untuk setiap perkara, bahwa Tuhan sedang menolongnya. Air mata dan kesedihan yang dibiarkan larut dan menguasai menyebabkan orang tidak memiliki kepekaan untuk melihat kebaikan Allah.

Berhentilah mempertanyakan kehadiran Tuhan di dalam masalahmu dan pandanglah jalan keluar melalui sesama dan alam. Teguhkan hati untuk mengalami dan menerima apapun juga yang ditawarkan dunia sebab saudara adalah orang yang kuat dan mampu melakukan hal yang ajaib.

Kedua, Tuhan memberikan Roh-Nya kepada setiap orang yang diciptakannnya. Kisah penciptaan manusia pertama bercerita bahwa setelah Allah membentuk tubuh manusia, Ia meniupkan Roh-Nya kepada manusia sehingga manusia hidup. Roh Allah yang ada di dalam diri manusia tidak pernah hilang karena Roh itulah yang memungkinkan manusia hidup. Sekalipun manusia belum mengenal Allah atau mengabaikan kehadiran Allah namun Roh Allah tetap setia untuk ada dan menolong manusia.

Itulah sebabnya manusia di dalam dirinya selalu ada kebutuhan akan keberadaan Tuhan. Maka saat Injil belum menyentuh suku-suku tertentu, mereka mulai menciptakan agama dengan bentuk-bentuk penyembahan dan aturan hidupnya. Kebutuhan akan kehadiran Allah didorong oleh Roh Allah di dalam diri manusia yang selalu berusaha mencari sumber-Nya yakni Allah. Sayangnya banyak kali orang mengabaikan dorongan Roh Allah yang ada di dalam dirinya untuk selalu mendekat kepada Allah.

Saat manusia memutuskan untuk semakin menjauhi Allah maka akan memedihkan Roh Allah yang ada di dalam diri manusia dan mendiamkannya sehingga semakin sulit manusia mendengar Roh Allah. Pada saat itu manusia mengira bahwa Allah tidak ada padahal bukan Allah tidak ada. Allah sebenarnya ada di dalam diri manusia namun manusia yang mendiamkan Roh Allah. Manusia yang berusaha menjauhi Roh Allah.

Supaya bisa merasakan dan mengalami kehadiran Allah, yang harus dilakukan bukan mencari ke sana ke mari melainkan carilah di dalam dirimu. Kembangkan kepekaan untuk bisa merasakan dan mendengar Allah. Hati yang peka hanya dapat dimiliki oleh mereka yang mau hidup dalam ketaatan dan kesetiaan. Bertumbuhlah juga di dalam iman bahwa Allah ada dan Ia tidak jauh darimu.

Saudara, Tuhan ada di mana-mana. Kehadiran-Nya tidak bisa dipungkiri dan diabaikan. Dunia tidak mungkin ada tanpa Allah. Manusia tidak mungkin ada tanpa ada seorang pencipta yang begitu hebat. Ia bahkan Allah yang mau menyatakan diri secara langsung kepada manusia melalui Yesus Kristus. Saat orang berkata bahwa Allah hanya hadir dengan Roh-Nya, kehadiran-Nya tak terlihat secara kasat mata, Ia hanya bisa dirasakan dan diimani. Peristiwa hadirnya Allah di tengah-tengah konteks kehidupan manusia secara natal melalui peristiwa kelahiran Yesus Kristus adalah cerita bahwa Allah hadir sebagai manusia yang dapat dilihat, disentuh, dan didengar suara-Nya secara langsung.

Kehadiran Allah dalam tubuh manusia adalah jaminan pasti bahwa Allah menyatakan secara terbuka bahwa Ia benar-benar ada, Ia mau merendahkan diri dan mengambil jalan yang sulit demi membuktikan kepada manusia bahwa Ia rela melakukan apapun demi ciptaan yang dikasihi-Nya yakni manusia. Kalau sudah begitu bagaimana boleh kita meragukan kehadiran Allah? (LM)

Wise Words : Saya percaya matahari ada sekalipun awan pekat menutupinya. Saya percaya Allah ada sekalipun saya tidak dapat melihat-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.