Tuhan Akan Datang (Kisah Para Rasul 1: 1-11) – Pdt. Gusti Menoh

www.sinodegmit.or.id, Kebebasan adalah kebutuhan dasar manusia. Tak ada manusia yang rela dikuasai dan dijajah. Namun penjajahan tak terelakkan. Itulah yang menjadi pengalaman umat Israel. Mereka sudah berabad-abad dijajah. Karena itu, mereka merindukan kemerdekaan.

Ketika Tuhan Yesus muncul sebagai Mesias, mereka menaruh harapan besar. Mereka memahami Mesias, raja Yahudi dalam arti politis semata, yaitu raja yang memerdekakan mereka dari penguasa Roma. Namun harapan umat Israel, termasuk para murid pupus karena ternyata Yesus selama hidupnya tidak mendirikan kerajaan politis. Yesus bahkan mati di tangan penguasa politis dunia waktu itu. Ini membuat para murid kehilangan harapan dan mulai putus-asa.

Tetapi akhirnya Yesus bangkit dari kematian. Kebangkitan Yesus rupanya memberi harapan bagi pemulihan Israel. Setelah berulang kali Yesus menampakan diri bagi para murid, nampaknya para murid mulai bangkit lagi dari ketakutan dan mereka ingin Yesus segera mendirikan kerajaan Israel. Apa lagi waktu itu, Yesus menyuruh para murid tetap tinggal di Yerusalem. Yerusalem bukan hanya pusat keagamaan tetapi juga menjadi pusat pemerintahan bangsa Israel ketika Daud dan Salomo menjadi raja. Oleh karena itu, ketika Yesus menyuruh para murid tetap berada di Yerusalem, mereka berpikir bahwa kerajaan Israel politis pasti segera didirikan Yesus, Para penjajah Roma akan diusir sehingga umat Israel menikmati kebebasan. Keinginan para murid itu terungkap dalam ayat 6 ketika mereka bertanya kepada Yesus: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Dengan kata lain para murid bertanya, “Yesus, maukah Engkau mengusir penjajah, mendirikan kerajaan Israel, agar kita hidup dalam kemerdekaan tanpa rasa takut lagi?” Pertanyaan para murid membuat Yesus tersadar bahwa mereka belum memahami arti Mesias sejati, dan tujuan kedatangan Yesus ke dalam dunia.

Sebab sesungguhnya Mesias adalah juruslamat yang mau menyelamatkan manusia dari kuasa dosa. Yesus datang ke dunia untuk memulihkan gambar Allah yang rusak pada manusia, sehingga manusia kembali bernilai dan berharga. Maka kemerdekaan yang ditawarkan Yesus bukan hanya menyangkut nasib hidup jasmani, tetapi juga jiwa dan roh manusia. Yesus hendak menyelamatkan manusia dari kuasa dosa agar manusia selamat dan hidup dalam kemerdekaan sejati di dalam Kristus.

Yesus bangkit, dan akan naik ke surga, untuk membuktikan bahwa Ia berasal dari Allah bapa. Ia tidak mau tetap di dunia ini, karena dunia ini bersifat sementara, dan sudah dikuasai oleh dosa. Yesus naik ke surga, untuk menunjukkan bahwa kehidupan sejati adalah bersatu dengan Allah Bapa. Itulah sebabnya Yesus sendiri naik surga, untuk kembali ke kehidupan bersama Allah. Ia bangkit dan naik surga agar merdeka dari belenggu maut. Maka sesungguhnya, kenaikan Yesus adalah sebuah undangan bagi orang percaya untuk berjalan melampaui batas-batas kemanusiaan, batas-batas dunia, untuk pergi menyatu dengan Allah Bapa.

Itulah arti kenaikan. Maka ketika kita merayakan kenaikan Tuhan Yesus ke surga, sesungguhnya kita diajak, diundang untuk berjalan, bergerak, menuju kepada Allah. Melalui kenaikan Yesus, kita diajak untuk tidak lagi berfokus pada dunia ini, melainkan mesti mengarahkan hati, pikiran, jiwa dan raga kepada Allah. Dengan kenaikan, kita diajak untuk tidak melekatkan diri pada dunia dan kenikmatannya, lalu lupa berjalan menuju Allah dan bersatu dengan-Nya. Ketika kita masih hidup dalam kemanjaan terhadap dosa-dosa kita, pementingan diri sendiri, egoisme, kedagingan kita, cinta akan harta, lalu mengabaikan Tuhan dan kehendak-Nya, tidak melakukan firman Tuhan, maka sesungguhnya kita masih mau dibelenggu oleh kuasa dosa. Padahal Kristus sudah memerdekakan kita, dan mengajak kita untuk bergerak menuju Allah untuk menyatu dengan-Nya.

Berita kenaikan Yesus, yaitu ajakan kepada Allah itu harus diberitakan oleh para murid kepada dunia. Para murid diminta untuk bersaksi: mengajak umat manusia untuk percaya kepada Yesus sebagai jalan dan kebenaran dan hidup. Para murid dipanggil untuk mengajak sesama untuk bergerak menuju Allah. Kesaksian itu dimulai dari Yerusalem, Yudea, Samaria sampai ke ujung Bumi. Mengapa mulai dari Yerusalem? Ada dua arti. Pertama, Yerusalem, adalah pusat peribadatan bangsa Yahudi. Di pusat-pusat ini, banyak orang beragama tetapi tidak sungguh-sungguh beriman. Misalnya orang-orang Farisi, ahli-ahli taurat, para imam. Mereka rutin melakukan aktivitas rohani, tetapi semata-mata sebagai seremoni agama. Sedangkan mereka tidak sungguh-sungguh menghayati imannya dan melakukan kehendak Tuhan. Oleh karena itu, kesaksian para murid mesti meliputi orang-orang ini. Artinya, ajakan untuk mengarahkan diri kepada Allah meliputi juga orang-orang yang sudah merasa dekat dengan Allah. Orang-orang Farisi, ahli-ahli taurat, para imam, perlu diajak untuk sungguh-sungguh mengarahkan hati dan pikiran kepada Allah.

Kedua, kita tahu bahwa Yerusalem adalah pusat ibadah. Maka dengan mengatakan, mulai dari Yerusalem, Yesus hendak menekankan bahwa tugas kesaksian para murid hanya dapat dilakukan dengan baik kalau persekutuan dengan Allah (ibadah) dibangun terlebih dahulu. Sebab keintiman dengan Allah akan memampukan kita untuk bersaksi. Sepuluh hari setelah kenaikan Tuhan Yesus, para murid berdiam di Yerusalem, untuk bersekutu dengan Allah, berdoa, mendalami firman Tuhan, sebelum nantinya bersaksi. Koinonia, baru marturia. Bersekutu dengan Allah, agar memahami kehendak Allah, lalu disaksikan kepada dunia dan sesama.

Yudea. Yudea, adalah tempat asal beberapa murid. Dengan kata lain, Yesus ingin agar para murid memberitakan tentang Yesus bagi keluaga dan tetangga. Para murid mesti mengajak terlebih dahulu keluarganya untuk bergerak menuju Allah. Ketiga, Samaria, bangsa yang dianggap kafir. Pemberitaan injil harus menjangkau mereka yang belum mengenal Kristus. Ujung Bumi, berarti harus bersaksi kepada semua bangsa, siapapun, sepanjang abad. Mereka diminta menjadi saksi dari dalam rumah sampai ke ujung bumi, dari keluarga dekat hingga kepada orang-orang asing sekali pun.

Kesaksian itu mesti terus dilakukan hingga Tuhan datang kembali. Maka sesungguhnya setiap pengikut Kristus, memiliki tanggung jawab mengajak sesama untuk datang kepada Allah, hingga Tuhan datang kembali.

Beberapa hal dapat kita pelajari dari bacaan ini. Pertama, Yesus adalah juruslamat kita, Ia telah membebaskan kita dari kuasa dosa. Oleh karena itu, jangan biarkan hidup kita dikuasai oleh dosa lagi. Sebab kita adalah orang-orang yang sudah dimerdekakan.

Kedua, Yesus naik ke surga, adalah sebuah ajakan bagi kita untuk senantiasa mengarahkan diri kepada Allah. Hidup di dunia ini sementara, maka tidak perlu menghabiskan seluruh hidup kita hanya untuk mengejar segala kekayaan dunia dan lupa Tuhan.

Ketiga, kita pun dipanggil untuk menjadi saksi Kristus, artinya hidup kita harus menjadi sebuah ajakan kepada sesama untuk mencintai Tuhan dan mau datang kepada-Nya. Kita perlu merenungkan: apakah hidup kita membuat orang mau datang kepada Allah, atau justru, kita menjadi penyebab orang menjauh dari Tuhan.

Keempat, kita mesti membangun persekutuan yang sungguh-sungguh dengan Allah, melalui doa, pembacaan firman, ibadah, agar kita dipenuhi roh kudus sehingga kita mampu bersaksi. Mulailah kesaksian itu dari dalam rumah, dari keluarga, tetangga, sahabat, teman bahkan kepada siapapun. Kita semua memiliki tanggungjawab mengajak orang-orang sekitar kita untuk mencintai Allah dan mengarahkan diri kepada-Nya. Artinya ajaklah, dan undanglah semua orang, dari dalam rumah, orang tua, suami, isteri, anak-anak, tetangga,  hingga orang yang belum kita kenal sekali pun, untuk datang Yesus.

Keenam, kedatangan Tuhan adalah sesuatu yang pasti namun rahasia. Oleh karena itu, tetaplah berjaga-jaga, setialah di jalan Tuhan, tekunlah dalam persekutuan dengan-Nya, agar kapan pun Tuhan datang, kita akan selamat. Dalam ancaman wabah corona seperti saat ini, kita tidak boleh menyerah dan menjauh dari Tuhan. Tuhan adalah penolong kita, yang selalu rindu dekat kepada kita untuk menolong kita. Amin. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published.