
SABU RAIJUA, www.sinodegmit.or.id, — Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) meresmikan dan mentahbiskan Gedung Kebaktian Jemaat Bermata Jemaat Seba Barat-Mata Jemaat Efata Ramenahaga, Klasis Sabu Barat Raijua, pada Selasa (22/9/2026). Peresmian rumah ibadah yang rampung setelah proses pembangunan selama enam tahun ini dihadiri oleh jajaran Majelis Sinode, Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua, Majelis Klasis Sabu Barat Raijua, para Pendeta GMIT, serta jemaat setempat.
Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Y. Ena Blegur bertindak sebagai Pendeta Penahbis menjalani prosesi penahbisan yang diawali dengan pembukaan selubung papan nama gereja, penandatanganan prasasti, pengguntingan pita, hingga penyerahan kunci gedung kepada koster. Setelah itu, pintu gereja dibuka untuk menyambut jemaat yang masuk melaksanakan ibadah syukur bersama.
Dalam pemberitaan Firman yang didasarkan pada Kitab Zakaria 4:1–14, Pdt. Saneb menekankan bahwa berdirinya gedung kebaktian ini merupakan wujud nyata kerja sama jemaat yang dihidupkan oleh Roh Allah. Pembangunan yang dimulai sejak peletakan batu pertama pada 27 Agustus 2020 ini berhasil diselesaikan di tengah berbagai tantangan kekeringan dan keterbatasan ekonomi.
“Gedung ini harus dimaknai sebagai monumen kerendahan hati atas pekerjaan Tuhan, bukan ajang kesombongan atas pencapaian manusia. Berdirinya bangunan fisik menandai dimulainya pembangunan jemaat yang hidup melalui doa, diakonia, dan kesaksian iman,” ujar Pdt. Saneb dalam khotbahnya.

Sementara itu, Bendahara Sinode GMIT, Pnt. Yefta Sanam, menegaskan pentingnya beralih fokus dari pembangunan fisik menuju pembangunan kapasitas sumber daya manusia.
“Selesainya pembangunan fisik menuntut peralihan fokus ke pembangunan manusia yang berlandaskan dua prinsip utama, yaitu partisipatoris dan emansipatoris. Pendekatan partisipatoris mendorong keterlibatan aktif jemaat, sedangkan pendekatan emansipatoris bertujuan mengangkat taraf hidup jemaat agar sederajat dan tidak tertinggal,” kata Pnt. Yefta Sanam.
Ia menambahkan bahwa pembangunan manusia membutuhkan disiplin, keteladanan, dan komitmen yang didasari penghargaan terhadap martabat manusia sebagai gambar Allah. Melalui penahbisan ini, pelayanan gereja diharapkan makin terbuka dan berdampak bagi masyarakat luas.
Mata Jemaat Efata Ramenahaga yang berdiri sejak 21 Juli 1971 ini saat ini melayani 238 kepala keluarga atau sebanyak 1.039 jiwa. Sebagian besar warga jemaat menggantungkan hidup sebagai penyadap nira, petani lahan kering, dan tukang batu koral. *











